
"mama... Barra..."
Sontak keduanya yang dipanggil sama-sama menoleh.
"sayang, anak gadis jam segini koq baru bangun" sapa Bu Sarah mama Aleea , tangannya masih sibuk mengaduk tiga gelas susu yang ada dihadapannya. Wanita paruh baya ini masih terlihat begitu mempesona, di usianya yang sudah menginjak kepala empat.Sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah bulan sabit di wajahnya, tampak manis dan bersahaja.
Sambil membawa tiga gelas susu hangat disebuah nampan, bu Sarah melenggang menuju meja makan dan meletakkan nampan ditangannya.
"Ayo sini kita sarapan sama-sama, mama sudah memasak makanan kesukaan mu Aleea" pinta Bu Sarah agar anaknya itu segera duduk di kursi disebelah Barra.
"Mama kapan pulangnya?" tanya Aleea sembari menarik kursi yang ia duduki.
Matanya menatap Barra yang sudah duduk dengan tenang disampingnya.
"Sungguh cowok devil ini kenapa akhir-akhir ini hidupku dibuat tidak tenang oleh nya, kenapa dia selalu datang dan pergi sesuka hatinya " pikir Aleea dalam hati.
Barra yang melihat Aleea menatapnya ia langsung melempar kan senyuman maut, yang sulit ditebak apa artinya . Sungguh senyuman Barra itu membuat Aleea cemas.
"selamat pagi baby" sapa Barra lembut dengan nada yang dibuat-buat, agar Bu Sarah mendengar.
Aleea memicingkan sebelah matanya mendengar sapaan lembut Barra, setelah beberapa hari mengenal Barra, ia tahu betul cowok devil disampingnya ini memiliki banyak tipu muslihatnya.
"Aduuh sungguh manis sekali kalian ini, mama sungguh iri melihatnya" celoteh Bu Sarah seketika melihat kedua anak muda didepannya itu.
"Aleea, kamu ini bagaimana tidak mengenalkan pacar kamu ini pada mama" tanya Bu Sarah menggoda Aleea.
"Pacar?" Aleea merasa bingung, namun seketika ia langsung tersadar dan melirik sinis pada Barra, Aleea yakin jika cowok devil ini telah berbicara yang tidak-tidak pada ibunya.
"maaf bibi, kami memang baru menjalin hubungan jadi mungkin Aleea belum sempat memperkenalkan saya pada bibi" Barra mengambil alih pertanyaan itu dan menjawabnya dengan sopan dan diikuti dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
"oh begitu ya, manis sekali calon menantuku ini" ibu Sarah pun tampaknya dibuat meleleh oleh senyuman manis Barra.
"Dasar rubah"Aleea mendengus kesal
Justru hal itu membuat Barra semakin terkekeh.Dia sungguh menikmati sekali saat mengganggu Aleea.Rasanya berada didekat Aleea sudah menjadi candu untuknya, bahkan sepagi ini Barra sudah ingin menyatroni gadis mainannya ini.
"Ayo kita mulai sarapan nya, cobain masakan bibi nak Barra, dijamin kamu pasti suka, ini adalah makanan kesukaan Aleea" jelas bu Sarah pada Barra sembari menyodorkan sepiring masakannya pada Barra.
"Aleea, kamu sebagai gadis harusnya bangun lebih pagi, masak kalah sama nak Barra ini, dia sudah datang menjemputmu sepagi ini tapi kamu malah masih tidur" Omelan Bu Sarah sungguh membuat Aleea mati kutu, seketika harga dirinya jatuh didepan cowok devil ini. Aleea hanya bisa pasrah dan mendengus kesal mendengarkan Omelan ibunya.
Sementara Barra terkikik dalam hati mendengar Aleea diomeli, sejenak ia merasakan kehangatan seorang ibu yang sudah lama tidak ia rasakan, dia jadi teringat akan mendiang ibunya yang telah meninggal sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Sejenak suasana dimeja makan itu hening, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.
"Apa pekerjaan Mama diluar kota sudah selesai" tanya Aleea memecah keheningan dimeja makan itu.
"Belum sayang, mama hanya pulang sebentar untuk mengambil berkas yang ketinggalan, nanti sore mama akan berangkat lagi" jelas Bu Sarah seraya terus melahap makanannya
"Kemarin mama bertemu teman lama mama, dia menawarkan pekerjaan pada mama untuk bekerja di perusahaan cabangnya, mama pikir tidak ada salahnya untuk mencobanya sayang, lagi pula keadaan kita saat ini sedang membutuhkan uang untuk menebus Toko bunga mama itu kan?, kamu tenang saja mama disana baik-baik saja sayang" jelas Bu Sarah panjang lebar pada Aleea. Sedangkan Aleea hanya manggut-manggut saja meski dirinya berat dengan keputusan ibunya, namun itu jalan terbaik karena memang Aleea juga tidak ingin kehilangan toko bunga pemberian ayahnya disita.
Melihat wajah anaknya yang ditekuk, Bu Sarah sadar jika Aleea berat jauh darinya namun mau bagaimana lagi, ini adalah kesempatan untuknya bisa bekerja lagi dikantor, setelah dulu ia sempat resign dari kantor demi menjadi ibu rumah tangga yang baik. Namun saat ini Aleea sudah beranjak dewasa tidak ada salahnya untuk mengajari Aleea hidup mandiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri, walaupun Bu Sarah akan selalu memantau anak gadisnya itu dan tetap memenuhi semua kebutuhan Aleea.
...----------------...
Setelah acara sarapan selesai, Barra mengantarkan Aleea pergi ke kampus nya.
Namun bukan Barra namanya jika tak membuat Aleea terkejut, bukannya mengantarkan Aleea ke kampusnya Barra malah membawanya kesebuah lapangan Basket di pinggir kota, pasalnya tempat itu adalah tempat Barra menyendiri dan meluapkan segala keluh kesah nya saat dirinya tidak baik-baik saja.
"Barra, kenapa kau membawaku kesini, aku harus pergi ke kampus, 1 jam lagi ada jam mata kuliah" Aleea dibuat kesal oleh Barra yang justru menghentikan motornya dan menyuruhnya turun. Tanpa menjawab pertanyaan Aleea Barra justru melangkah masuk kelapangan basket itu, dan melepaskan jaket kulitnya serta melemparkan nya sembarang ke wajah Aleea.
Aleea pun dibuat gelagapan menangkap jaket yang tiba-tiba mendarat diwajahnya itu.
__ADS_1
"Tunggu aku sebentar dibangku itu, nanti akan ku antar kau kekampus!!" titah Barra dengan wajah datarnya. Sungguh menjengkelkan batin Aleea, "dasar cowok devil yang sulit ditebak, kenapa tadi dirumah dia sangat manis dan kenapa sekarang dia tiba-tiba dingin, dasar cowok devil yang sulit ditebak " Aleea menggerutu sambil mengikuti perintah Barra duduk manis disebuah bangku.
Aleea menatap Barra yang lekas mendribble bola basket, perlahan dan lama-lama menjadi sangat cepat, berapa kali Barra melemparkan bola basket itu ke arah ring. Dia semakin dibuat terpukau oleh kelihaian Barra menggiring bola basket nya, dan melemparnya tepat dilubang ring meski dari jarak yang begitu jauh. Hampir setengah jam berlalu Aleea masih setia menunggu Barra yang belum bosan mendribble bola basket nya. Akhirnya Aleea melihat Barra terkapar dan tidur terlentang ditengah lapangan basket itu dengan nafasnya yang memburu, dadanya naik turun berirama, peluh nya membasahi seluruh tubuhnya, sehingga pakaiannya pun basah oleh keringat.
Aleea datang menghampiri Barra dan menyodorkan satu botol air minum yang kemana-mana ia bawa didalam tas rangselnya.
"Apa kau butuh air?" Tanya Aleea seraya menyodorkan air minum pada Barra.
Tanpa mengucap sepatah kata pun Barra bangkit dan duduk, ia mengambil air minum yang disodorkan Aleea dan langsung meneguknya hingga tandas tak tersisa. Dan menyerahkan botol minum yang telah kosong itu pada Aleea.
Aleea mengamati botol minum yang telah kosong itu dengan heran,
"kau menghabiskan nya, kenapa kau minum seperti orang kesurupan?" tanya Aleea setengah kesal karena Barra tak menyisakan air minum setetespun untuknya, padahal Aleea juga merasa sangat haus.
"kenapa? Apa kau ingin meminta nya kembali?" tanya Barra dengan senyum menyeringai
Seketika senyuman itu membuat Aleea jadi merinding.
"tidak...mmmmmpphhhh... Belum sempat Aleea melanjutkan perkataannya bibirnya telah dilumat habis oleh Barra, Aleea ingin sekali memberontak tapi Barra menarik kuat tengkuknya sehingga membuatnya tak bisa bergerak. Akhirnya Aleea pun hanya pasrah menerima ******* dan hisapan bibir Barra.
Setelah beberapa menit ciuman itu diakhiri oleh Barra karena lagi-lagi Aleea yang mulai tersengal kehabisan napas.
"Kenapa ciumanmu payah sekali" kata Barra menggoda Aleea, "Kau harus belajar terus denganku" titah Barra seenaknya.
Padahal dalam hatinya Barra sangat memuji ciuman Aleea, diam-diam Barra mulai dibuat candu oleh bibir tipis itu, dan sejenak melupakan masalahnya. Barra merasa sedikit lega setelah meluapkan emosi nya saat mendribble bola basket tadi dan ditutup dengan ciuman Aleea.
Karena sejujurnya pagi ini Barra sedang tidak baik-baik saja, perasaannya dibuat kacau oleh ayahnya yang semalam menelepon dirinya, Ayahnya mengatakan bahwa dirinya akan menikah lagi, sejujurnya Barra tidak masalah, namun ia kaget dan teringat ibunya. Sejak ibunya meninggal ayahnya menjadi super sibuk dan tidak pernah ada waktu untuknya, apalagi nanti setelah menikah lagi mungkin Barra akan benar-benar dianggap tidak ada lagi dikehidupan ayahnya. Namun Barra hanya bisa memendam semua itu tanpa memiliki tempat untuk bercerita. Tapi mungkin setelah Barra bertemu Aleea akan lain lagi ceritanya, Aleea akan jadi tempat ternyaman untuk Barra berbagi hal apapun.
Bersambung
__ADS_1