Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 47. menjadi aktris


__ADS_3

Aleea panik melihat Barra yang terkulai tak sadarkan diri, orang-orang yang melihat kecelakaan itu segera membantu Aleea membawa Barra ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Barra langsung mendapatkan perawatan dari dokter, namun kelihatannya luka Barra tak begitu parah, ia hanya syok dan pingsan.


"Bagaimana dokter keadaannya?", tanya Aleea dengan nada penuh kecemasan ketika melihat dokter selesai memeriksa Barra.


Dokter itu tampak tersenyum melihat Aleea yang begitu cemas.


"tenang saja, dia baik-baik saja, hanya sedikit syok dan pingsan, sebentar lagi juga siuman, dan dapat beristirahat dirumah, tidak perlu rawat inap", kata dokter itu menjelaskan.


"huftt...", Aleea menghela nafasnya lega, dia tidak mau jika terjadi hal yang buruk pada Barra, "terimakasih dokter", ucap Aleea pada dokter yang memeriksa Barra.


Setelah dokter itu berlalu pergi, Aleea bergegas menemui Barra yang masih berada diruang UGD, Aleea menatap lekat wajah Barra yang masih menutup rapat matanya, tampaknya Aleea terpaksa harus membawa Barra pulang kerumah omanya, mana mungkin ia tega mengusir Barra pergi dengan keadaan yang seperti ini.


Barra merasakan usapan lembut tangan Aleea pada keningnya, dia perlahan membuka matanya, dan melihat sosok Aleea berada dihadapannya. Sejenak Barra mengingat-ingat apa yang sudah terjadi, dia tersenyum ketika mengingat kejadian yang ia alami, dia justru sangat berterima kasih pada pengendara motor yang telah menyerempetnya tadi, Karana berkat dia Aleea pasti tidak akan mengusirnya untuk pergi.


"kamu sudah bangun?", tanya Aleea pada Barra yang tengah asyik dengan pikirannya sendiri.


"a-au..", Barra berakting kesakitan dengan memegangi kepala nya,


"apa ada yang sakit?", tanya Aleea mulai panik


"kepala ku, kenapa kepalaku sakit sekali, apa ini terluka sangat parah?", sahut Barra dengan raut wajah yang seolah kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"yang mana, coba aku periksa", Dengan sigap Aleea langsung mendekat pada Barra dan memeriksa kepala Barra, dengan teliti dan lembut Aleea memperhatikan kepala Barra, ia ingin memastikan luka di kepala Barra.


Namun setelah Aleea memeriksa setiap inci kepala Barra, ia tidak menemukan luka apapun disana.

__ADS_1


Greppphh......Barra memeluk Aleea yang sedang sibuk memeriksa kepalanya.


"Sepertinya kepala mu baik-baik saja, tidak ada luka disana", ucap Aleea yang sudah menyadari akal Barra, dia berusaha melepaskan pelukan Barra yang semakin erat.


"lepaskan Barra, jika kau sudah tidak sakit lebih baik segeralah pulang",


"sebentar saja, tolong diamlah, biarkan aku memelukmu seperti ini sebentar saja, aku sangat merindukanmu",


Aleea ingin melepaskan pelukan itu, namun Barra memeluknya semakin erat, akhirnya untuk beberapa menit Aleea diam dan membiarkan Barra meluapkan rasa rindunya, yang tidak bisa Aleea pungkiri ia juga merasakannya, kerinduan yang teramat dalam akan dekapan Barra.


"ini sudah hampir 5 menit, apa kau ingin membunuh ku dengan melihat ku kehabisan nafas karena pelukanmu?", celetuk Aleea yang ingin Barra melepaskan pelukannya, karena dirinya sudah mulai merasa engap dan sesak.


"maafkan aku sudah membuatmu merasa sesak?", ucapa Barra sembari melepaskan pelukannya dan menatap Aleea dengan tatapan berbinar-binar, karena dia merasa Aleea juga menikmati pelukannya.


"Apa baby juga merindukan aku? Hmm..?",


"tidak mau", ucap Barra spontan dengan menggelengkan kepalanya "aku sudah memutuskan untuk disini bersama mu, lagi pula aku sudah tidak memiliki siapapun yang mengkhawatirkan ku disana, papa sudah mencabut semua fasilitas nya padaku, dan aku juga sudah memutuskan pergi dari rumah," sahut Barra


Aleea sedikit terkejut mendengar pengakuan Barra, ia berharap setelah keputusannya untuk pergi akan membuat hubungan Barra dan ayahnya kembali membaik, bukan malah seperti ini. Aleea menjadi semakin penasaran dengan kehidupan Barra selama 2 bulan ia tidak berada disisinya, mungkinkah Barra hidup dan makan dengan baik tanpa fasilitas dari ayahnya, Aleea menahan semua rasa penasarannya, dia tidak ingin menunjukkan itu semua pada Barra lagi.


"itu bukan urusanku lagi, aku sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu", ucapan Aleea dengan nada dingin, ia sama sekali tak menatap Barra


"kenapa baby sangat kejam padaku?, jika baby sudah tidak mau menganggap ku sebagai kekasih mu, setidaknya aku adalah kakak mu, aku adalah saudaramu", ucap Barra meraih tangan Aleea


"walaupun saudara yang berbahaya", imbuh Barra sembari meraih dagu Aleea yang duduk dikursi disamping bad nya, "tatap aku, tatap saudara tiri mu yang sangat tergila-gila pada adiknya ini", ucap Barra denga tatapan mautnya ketika mata mereka saling beradu.


Aleea benar-benar tidak bisa menahannya lagi, ingin rasanya dia berhambur dalam pelukan pria dihadapannya itu, namun ego dan kecemasannya mengahalangi gadis itu untuk meluapkan semua kerinduannya.

__ADS_1


Aleea berusaha berpaling, dan menghindari tatapan Barra yang membuat dirinya jadi gila, namun Barra menahannya dan kembali meraih dagu Aleea, tanpa aba-aba Barra mengecup bibir tipis Aleea, dia raih tengkuk gadis itu dengan kuat, Barra ingin memastikan jika Aleea juga memiliki kerinduan yang sama dengan dirinya, Aleea berusaha menolak, namun Barra telah mengunci gerakan gadis itu, ciuman Barra perlahan terasa lembut, Aleea yang awalnya terus memberontak akhirnya dia terhanyut dalam pagutan Barra, gadis itu memejamkan matanya dan mulai menikmati sentuhan bibir sensual itu.


merasakan Aleea yang sudah tidak ada perlawanan Barra semakin berani, dia menggigit lembut bibir tipis itu, lidahnya menerobos masuk dan saling melilit didalam sana, saat ini Aleea sudah benar-benar menikmati ciuman itu, dia membalas semua pagutan Barra, keduanya saling ******* dan menghis*p dengan penuh gairah, sesekali bibir Barra turun menyusuri leher jenjang Aleea dan kembali meraup bibir mungil yang selama dua bulan ini sangat ia rindukan.


tidak cukup disitu, satu tangannya berusaha menyusul kedalam kemeja Aleea dan meremas kedua benda sintal yang ada didalam bungkusan kain berbentuk angka delapan, jari-jari Barra dengan lihai meremas dan memainkan pucuk merah jambu itu sehingga membuat Aleea merasakan sensasi bergetar diarea sensitive nya, suara lenguh*an dan d*sahan sesekali terdengar dari bibir Aleea, yang kini tubuhnya sudah meremang dan menggeliat seperti cacing, karena ulah tangan Barra yang tak cukup dengan dua buah benda sintal itu, kini jari-jari nya sudah berada didalam kain segitiga milik Aleea, tanpa melepaskan pagutannya Barra terus memainkan jari-jarinya pada milik Aleea yang sudah mulai basah.


aahh...ugh.... Aleea menggigit bibir bawahnya saat Barra sudah berhasil membuka kancing-kancing kemeja Aleea dan membenamkan wajahnya diantara dua buah bukit kembar yang ukurannya sangat pas bagi Barra, Barra semakin gila dan meraup kedua benda kenyal itu dengan bibirnya , sesekali lidahnya memainkan benda merah jambu yang berada di pucuk gunung kembar Aleea, ketika mendengar suara kenikmatan dari bibir Aleea, Barra semakin bergairah dan menyusu bak bayi yang sangat kelaparan.


Setelah beberapa waktu kegiatan panas itu akhirnya usai, dengan nafas yang terengah-engah Aleea merapikan kemaja dan roknya yang berantakan karena ulah kakak tirinya itu, sedangkan Barra tersenyum-senyum menatap Aleea, dia kini sudah merasa lega saat melihat Aleea yang tidak bisa menolak sentuhannya, dia masih sama seperti dulu, Barra sudah yakin jika Aleea hanya berpura-pura dingin dan ketus padanya, namun didalam hatinya dia juga memendam kerinduan dan perasaan yang sama besarnya dengan dirinya.


"masih sama, rasanya sangat manis seperti dulu", ucap Barra sembari mengusap lembut bibir Aleea,


Aleea yang masih sibuk merapikan bajunya sontak berhenti dan memegang tangan Barra, dia menatap tajam Barra menyingkirkan tangan kekar Barra yang mengusap lembut bibirnya,


"sudah puas?, kamu sudah mendapatkan yang kamu inginkan, jadi segera pergi dan jangan menggangguku lagi", ucap Aleea dengan nada dinginnya


Namun Barra justru tersenyum melihat ekspresi Aleea yang dibuat-buat agar terlihat galak, "baby sekarang jago berakting, apa baby tidak ingin masuk agensi dan menjadi aktris terkenal?? Hmmm", ucap Barra sambil tersenyum menggoda Aleea.


Seketika wajah Aleea menjadi kecut, karena aktingnya telah terbongkar, dia merutuki dirinya sendiri yang masih saja bodoh dan terlena oleh sentuhan Barra, jika sudah begini Barra pasti tidak akan mempercayai aktingnya lagi.


Akhirnya setelah menyelesaikan administrasi dirumah sakit terpaksa Aleea membawa Barra lelang kerumah omanya, dia juga tidak tega membiarkan Barra pergi dengan keadaan yang masih lemah karena kecelakaan tadi.


Nampaknya kemanapun Aleea pergi, Barra akan selalu berhasil menemukannya, karena sesungguhnya hati keduanya sudah tidak bisa dipisahkan lagi.


Bersambun


Happy reading 😍

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️


__ADS_2