
..."jika ada yang lebih indah dari senja, itu adalah sipit matamu saat tertawa"...
..._Aleea said_...
Akhirnya jam mata pelajaran dikampus telah usai. Hari ini Kegiatan dikampus begitu padat, Aleea merasa sangat lelah dan ingin segera pulang kerumah, rasanya ia ingin segera berendam air hangat lalu menikmati semangkuk ramyeon yang pedas dan lezat.
"ah... membayangkannya saja sudah membuat perutku merasa keroncongan" gumam Aleea sembari berjalan melewati koridor kampus, dia ingin segera pulang dan sampai dirumah, hari ini ibu dan pamannya sedang berada di Paris, jadi Aleea merasa bebas saat ingin makan makanan yang ia sukai, karena jika ada ibunya dirumah pasti dia akan melarangnya untuk makan makanan siap saji yang menurut ibunya tidak baik untuk kesehatan itu.
Aleea terus melangkah tanpa memperdulikan sekelilingnya, dia tidak menyadari jika dari ujung sana Zico telah memperhatikan dirinya sejak tadi.
Seorang sopir telah siap menunggunya didepan gerbang kampus dengan sebuah mobil mewah, pria bertubuh tegap itu dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Aleea, dan beberapa waktu berselang mobil itupun melaju meninggalkan kampus Adikara group.
Zico segera memacu motor sportnya mengikuti kemana arah mobil yang ditumpangi Aleea itu pergi.
Ada hal yang membuat Zico merasa penasaran dengan Aleea, gadis yang diam-diam ia sukai itu.
Jalanan sore ini tampak lengang, tak seperti biasanya yang selalu padat merayap, Aleea menikmati perjalanannya, ia menatap keluar jendela dan melihat pemandangan sore hari yang begitu indah dikota itu, langit sore yang tampak jingga kekuningan sungguh terlihat anggun dan mempesona, namun tiba-tiba maniknya menatap kearah spion mobil, tampak seseorang yang tidak asing sedang mengikutinya dari belakang dengan motor sport miliknya.
"apa yang dia lakukan? Apakah dia memata-matai aku? Ishh...dasar...?", gumam Aleea sembari memicingkan sebelah matanya saat mengetahui Zico membuntutinya.
"pak nanti aku berhenti di supermarket depan komplek saja, bapak silahkan pulang terlebih dahulu, masih ada sesuatu yang harus aku beli, nanti aku akan pulang sendiri", titah Aleea pada sopirnya, ia tak ingin Zico mengetahui jika dirinya tinggal dimansion milik Barra.
Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya mobil Aleea berhenti disebuah supermarket, Aleea turun dan masuk kedalam supermarket itu, dia mengambil beberapa cemilan dan ramyeon instan, setelah selesai membayarnya Aleea menyeduh ramyeon kesukaannya itu di tempat yang telah disediakan dan segera menikmatinya.
"wahh... aromanya sungguh menggoda", gumam Aleea sembari lekas menikmati ramyeon dihadapannya.
"coba yang ini, ini lebih enak" ucap seseorang sembari menyodorkan satu cup ramyeon yang memiliki merek berbeda dari ramyeon yang sedang dimakan Aleea.
Seketika Aleea menengok dan dia melihat Zico yang telah duduk disampingnya tanpa ia sadari. "kamu?...apa yang kamu lakukan disini?",
"aku..? Aku disini ingin makan ramyeon seperti mu, cobalah milikku, ini yang paling enak di supermarket ini, aku sudah mencoba semua jenis ramyeon yang mereka jual disini", Kata Zico acuh sembari mulai menyeruput ramyeon panas yang ada dihadapannya menggunakan sebuah sumpit.
"benarkah? Kapan kau memiliki waktu untuk melakukan semua itu? kau pasti berbohong",
"beneran, aku tidak berbohong, hampir setiap hari aku makan ramyeon disini, kapanpun aku ingin, aku akan datang kesini,"
"makan ramyeon instan setiap hari tidak bagus, lebih baik kau hanya memakannya sesekali saat kau ingin saja," ucap Aleea mengingatkan Zico.
"yaa...aku tau itu, tapi aku menyukainya," Zico menatap Aleea dan tersenyum kepada gadis itu.
"Dimana rumah mu? Apakah disekitar sini?" tanya Aleea merasa penasaran karena Zico berkata dirinya hampir setiap hari ke supermarket ini,
"yaah...rumah ku berada di kompleks sebelah sana, tidak jauh dari sini," kata Zico sembari menunjukkan kesuatu arah, memang benar rumahnya berada tak jauh dari kompleks tempat mansion Barra, karena dia juga merupakan seorang pewaris tunggal seperti Barra, namun kekayaan keluarga Zico masih berada dibawah Adikara group.
"lalu kau sendiri? Apakah rumah mu juga disekitar sini?",
"enggak....aku hanya sedang kebetulan ada perlu didaerah sini", kata Aleea berbohong namun Zico tak akan percaya begitu saja dengan ucapan Aleea.
"benarkah??", tanya Zico memastikan
"iya, sungguh", Aleea menganggukkan kepalanya, ada keraguan yang dapat dilihat oleh Zico, pria itu hanya tersenyum melihat tingkah Aleea.
__ADS_1
Sementara itu dari ujung jalan Barra memacu motor sportnya, saat ia ingin masuk ke gerbang kompleks Barra melihat Aleea yang sedang berada di supermarket bersama Zico, sontak hal itu membuat Barra mengurungkan niatnya dan berbalik arah menuju supermarket itu untuk menghampiri Aleea.
"Aleea..." Panggil Barra dengan suara baritonnya, matanya menatap tajam kearah Aleea dan Zico,
"Barra..?? Kenapa kamu disini? Bukankah tadi kau bilang pergi ke basecamp??",
"aku sudah selesai, ayo pergi dari sini, jangan dekat-dekat dengan bedebah ini", ucap Barra sembari melirik Zico
Zico hanya tersenyum smirk sembari membalas tatapan tajam Barra, ia tahu jika Barra tidak suka dirinya mendekati Aleea, namun hal itu justru terlihat menarik bagi Zico, itu seperti sebuah tantangan yang akan ia mainkan dengan senang hati.
Greppphh.... Zico menggenggam tangan Aleea yang sudah berdiri disampingnya, sontak saja Aleea berhenti dan mengurungkan langkah kakinya, dia juga terkejut dengan hal spontan yang dilakukan Zico, dia menatap Zico mencoba mencari tahu tujuan pria ini.
"Duduk dan makanlah ramyeon kesukaanmu, bukankah kau sangat menyukainya? Habiskan dulu lalu kau bisa pergi, aku sudah mengeluarkan uang untuk membeli itu untukmu", Ucap Zico dengan tatapan tajamnya, dia sengaja memancing emosi Barra menggunakan Aleea.
Seketika Barra merasa tersulut, ia segera menghampiri Aleea dan meraih tangan Aleea dari genggaman Zico. Barra menarik Aleea pergi meninggalkan Zico, sambil berkata "habiskan sendiri ramyeon yang telah kau beli, sayang sekali uang yang telah kau keluarkan untuk membelinya, pacarku harus segera pergi ", ucap Barra mempertegas kepemilikannya.
Zico hanya menatap nanar kepergian Aleea dan Barra, dia tak akan menyerah begitu saja tentang Aleea, dia pasti akan terus berusaha mengejar gadis yang ia sukai itu, meskipun harus berhadapan dengan Barra, musuh bebuyutannya.
...----------------...
Barra memacu motor sportnya menuju mansion dengan kecepatan tinggi, dia sangat merasa kesal dengan sikap Zico yang sengaja ingin bermain-main dengannya.
Sedangkan Aleea yang berada di jok penumpang merasa ketakutan, karena Barra mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia memeluk Barra erat dari belakang tak ingin dirinya sampai terjatuh karena ulah Barra yang kekanak-kanakan ini.
Sesampainya di mansion Barra memarkirkan motor kesayangannya itu di garasi, Aleea segera bergegas turun dari jok penumpang dan berusaha melepaskan helmnya namun begitu sulit, akhirnya Barra melihat itu dan membantu Aleea melepaskan helmnya.
"ckck..bukan begitu, kenapa kau payah sekali, kenapa melepaskan helm saja tidak bisa," ucap Barra sembari membantu Aleea membuka helmnya.
"kenapa kau diam saja," tanya Barra ketus pada Aleea
"lalu aku harus menjawab apa?", sahut Aleea yang tak kalah ketus
"sudahlah, lupakan saja...", kata Barra sembari berlalu pergi meninggalkan Aleea.
Dia melangkah masuk kedalam mansion, sedangkan Aleea yang bingung dengan sikap Barra ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengikuti Barra masuk kedalam mansion, Barra menuju kamarnya sedangkan Aleea juga menuju kamarnya sendiri. Keduanya sama-sama merasa kesal, Barra merasa kesal karena melihat Aleea yang tampak akrab dengan Zico, sedangkan Aleea juga merasa kesal karena Barra bersikap ketus padanya tanpa alasan yang Aleea ketahui.
Setelah berendam air hangat membuat Aleea sedikit merasa rileks dan moodnya kembali membaik. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur, pikirannya kembali mengingat ketika ia makan ramyeon bersama Zico di supermarket tadi, mungkinkah Barra merasa kesal dan bersikap ketus padanya karena itu, tampaknya Aleea mulai menyadari kesalahannya.
Akhirnya ia bergegas bangun dari tempat tidurnya dan ingin menghampiri Barra untuk meminta maaf dan menjelaskan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
Saat sampai didepan pintu kamar Barra Aleea berhenti, ia merasa ragu untuk masuk ke kamar Barra, "apakah ini tidak apa-apa?" pikir Aleea dalam hati. Ia ingin mengetuk pintu kamar Barra namun ia mengurungkan niatnya itu, akhirnya ia hanya terdiam berdiri didepan pintu kamar Barra.
Sedangkan Barra yang menyadari kehadiran Aleea didepan pintu kamarnya merasa senang, ia tidak menyangka Aleea memiliki inisiatif untuk menemui dirinya dikamar, atau mungkin karena Aleea tau jika orang tuanya tidak berada dirumah.
Barra masih menunggu Aleea mengetuk pintu dari balik pintu kamarnya, dia berharap Aleea benar-benar mengetuk pintu itu, namun sudah beberapa menit Barra menunggu, Aleea tak kunjung mengetuk pintu kamarnya juga, akhirnya karena merasa jengah Barra membuka pintu dan menarik Aleea masuk kedalam kamarnya.
"kenapa kau masih saja berdiri disitu? Apa kau tidak tau kaki ku pegal dari tadi menunggu mu mengetuk pintu?", ucap Barra kesal pada Aleea yang justru merasa tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Barra. Dia malah diam dan masih terlihat bengong.
"a...apa maksud mu? Apa kau tahu jika aku berdiri didepan pintu dari tadi??"
"yaa...aku ingin keluar kamar tadi, tapi ternyata aku melihat mu berdiri didepan pintu kamar ku", kata Barra sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
__ADS_1
"iya... a..aku, sebenarnya emm...ingin minta maaf padamu", ucap Aleea dengan kepala tertunduk.
"minta maaf?? untuk apa??", sahut Barra yang masih jual mahal
"itu, karena aku tadi tidak sengaja bertemu Zico di supermarket,"
"emmm....lalu apa hubungannya dengan ku?",
"ayolah Barra, jangan marah-marah seperti ini, sungguh aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi, aku hanya ingin makan ramyeon, tapi ternyata Zico juga sering makan ramyeon disitu?",
"hmmm...begitu, jadi kalian sudah saling bertukar cerita? sampai kau tau dia sering makan ramyeon disitu? bahkan Zico lebih dulu mengetahui jika ramyeon adalah makanan kesukaanmu, sedangkan aku malah tidak mengetahuinya", sahut Barra yang masih merajuk karena merasa cemburu.
"aigooo...bukan begitu, bagaiman aku harus menjelaskannya jika kamu selalu memutar balikkan fakta seperti ini?", ucap Aleea yang mulai merasa frustasi dengan sikap merajuk Barra.
"kamu harus dihukum" ucap Barra cepat
"apa? Kenapa aku harus dihukum?",
"iya, karena kamu telah melanggar aturan dariku yang tidak memberikan izin padamu untuk mengobrol pada laki-laki manapun? Apa kau melupakannya? ",
"enggak, aku mengingatnya ", sahut Aleea sembari menggelengkan kepalanya lalu mengangguk.
"buatkan aku ramyeon seperti yang kau makan dengan Zico tadi, aku juga ingin makan itu",
"Sekarang??", tanya Aleea yang merasa bingung dengan permintaan Barra yang tiba-tiba.
"iya sekarang..masak besok, aku tunggu di balkon kamarku ya... kalau ramyeon nya sudah jadi bawa kekamar", titah Barra seenaknya
Sedangkan Aleea menuruti keinginan Barra, ia segera pergi ke dapur dan membuat kan ramyeon permintaan Barra. Untung tadi ia membeli untuk stok dirumah.
Setelah beberapa waktu berkutat didapur akhirnya dia mangkuk ramyeon yang pedas dan lezat telah Aleea sajikan, dia segera membawanya ke kamar Barra sesuai permintaan pria devil itu.
Sesampainya di kamar Barra, ia melihat Barra yang sedang termenung menikmati sebuah cakrawala jingga kemerahan yang terbentang luas dihadapannya, rupanya sang Surya sudah benar-benar ingin berpamitan pulang keperaduanya. Aleea yang sudah berdiri di balkon kamar Barra juga merasa sangat terpesona dengan keindahan senja yang selalu berhasil membius matanya.
"Apa kau juga menyukai senja?", tanya Barra yang menyadari kehadiran Aleea
"heem..aku sangat menyukainya, sejak kecil aku selalu meluangkan waktu untuk sejenak melihat dan menikmati senja, itu sangat indah",
"ooOO....jadi senja telah mengalahkan aku dihatimu??", apakah aku sama sekali tidak terlihat indah daripada senja itu? Coba lihat aku....", pinta Barra pada Aleea untuk melihat dirinya berdiri membelakangi langit merah itu.
"jika ada yang lebih indah dari senja, itu adalah sipit matamu saat tertawa", ucap Aleea spontan dengan matanya yang dibuat terpaku saat melihat senyuman Barra yang ingin dibandingkan dengan senja.
Blushhh.... Tiba-tiba pipi Barra memerah mendengar ucapan spontan Aleea padanya, ia sungguh tak menyangka jika Aleea akan mengucapakan kata-kata itu padanya, seperti seorang gadis yang merasa tersipu-sipu pipi Barra begitu nampak memerah.
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️
Selamat malam dan selamat beristirahat readers tercinta, mari kita sambut hari esok lebih semangat lagi 🙏♥️ jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, karena itu adalah hal yang terpenting bagi kita, tetap sehat dan jangan sakit ya , see you ♥️💜
__ADS_1