
Hari telah menjelang malam, langit yang berwarna jingga kekuningan nampak membentang dengan anggunnya diufuk barat. Sang Surya akan segera pamit pergi menuju peraduannya dan akan kembali lagi tepat pada waktunya di esok pagi. Seorang gadis tak henti-hentinya menatap maha karya Sang pencipta yang begitu indah, sudah sedari tadi dirinya berdiri terpaku diatas balkon sebuah ruko berlantai dua, gadis itu memang Aleea, sejak dari kecil dia sangat menyukai senja, dia akan selalu meluangkan waktunya sejenak untuk menikmatinya dikala senja tiba. Karena dari senja Aleea belajar sebuah kesetiaan, senja tak pernah ingkar untuk kembali lagi tepat pada waktunya di esok hari, saat dirinya berpamitan pergi dikala sore hari.
Derap langkah terdengar semakin mendekat, suara bariton terdengar menyapanya,
"Apa kau tidak ingin melakukan kesibukan lain dibanding hanya berdiri disitu?"
Suara Barra terdengar menyapa Aleea dengan begitu datar, bahkan kelewat datar dan dingin. Barra sudah berdiri satu meter dibelakangnya dengan kedua tangannya yang ia lipat diatas perut berototnya dan satu bahunya yang bersandar di pintu balkon itu.
Aleea menoleh dan mencebik melihat cowok yang mengganggunya sedang menikmati senja itu "kau sudah bangun?" sahut Aleea yang berbalik bertanya pada Barra, karena setelah Aleea mengobati lukanya tadi siang mereka dan gengnya memutuskan untuk pergi ke basecamp mereka, yaitu ruko lantai dua yang menjadi rumah kedua bagi Barra, ia membeli ruko itu dengan uangnya sendiri hasil dari menang berbagai lomba balap motor, karena Barra juga beberapa kali mengikuti event balap motor resmi, namun secara sembunyi-sembunyi karena Ayahnya akan marah saat tau Barra tetep menekuni hobby balapannya.
Karena ayah nya tidak ingin Barra menjadi pembalap melainkan ingin Barra fokus kuliah dan mengelola perusahaan Adikara grup, karena dirinya adalah pewaris tunggal.
Sebenarnya Barra adalah anak yang cerdas, namun dirinya hanya malas saja diatur oleh ayahnya yang tidak pernah memiliki waktu untuknya.
Karena itu Barra memilih pergi dari rumah utama yang penuh akan kenangan tentang ibunya, dia lebih memilih hidup mandiri disebuah apartemen mewah dan menjadi dirinya sendiri, melakukan hal yang ia sukai.
Walaupun Barra pewaris tunggal ia jarang sekali menggunakan uang pemberian Ayahnya di kartu kredit no limit yang Barra punya, dia lebih suka memakai uangnya sendiri dari hasil balap motor, bahkan Barra sudah memiliki tabungan sendiri dari hasil menekuni hobby balapannya itu, ya walaupun nilainya tak seberapa jika dibanding uang jatah dari Ayahnya, namun Barra bangga bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada ayahnya.
"Aku lapar, masaklah sesuatu untukku" titahnya pada Aleea yang berdiri dibalkon
"baiklah, kau ingin makan apa?"
"terserah yang penting enak dan tidak membunuh ku" jawab Barra asal
"memang nya aku akan meracunimu?"
"siapa tau kau memiliki dendam padaku"
"ya memang aku sangat dendam padamu dan ingin menghabisi mu"jawab Aleea terkekeh dengan sikap cowok devil yang selalu seenaknya ini.
Dengan kesal Aleea berjalan menuju dapur dan sengaja menabrak salah satu bahu Barra yang masih berdiri tenang didepan pintu balkon itu, dia melewati Barra sambil menjulurkan lidah kecilnya mengejek Barra.
__ADS_1
Melihat Aleea menjulurkan lidahnya Barra justru sangat menyukai itu, kenapa Aleea terlihat sangat manis saat menjulurkan lidahnya, otak Barra traveling kemana-mana, dia teringat bagaiman manisnya saat dia mengecap lidah itu saat mereka berciuman kemarin. Barra tersenyum tipis sambil memegangi bibir sensualnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Barra mengikuti Aleea turun kelantai bawah dan menuju dapur, di lantai bawah sudah ada anak-anak gengnya yang sedang berkumpul mengotak-atik motor mereka, begitulah kegiatan mereka sehari-hari setelah pulang dari kampus, mereka akan sekedar berkumpul bersama dibasecamp atau mengotak-atik mesin motor mereka.
Barra mengurungkan niatnya mengikuti Aleea kedapur dan memilih untuk ikut bergabung dengan teman-temannya di garasi,
"Barr, besok ada event balap motor resmi, apa kau tidak tertarik mengikuti nya? Sapa Bagas yang datang menghampiri mereka.
"Boleh juga, atur semuanya untukku, aku akan mempersiapkan diriku!! titah Barra santai dengan wajah datar nya,
Memang seperti itulah sifat Barra, seluruh teman-temannya sudah mengerti, mereka sangat menghormati Barra karena setiap dari mereka memiliki hutang Budi pada Barra, namun bukan karena itu mereka setia pada Barra, melainkan Barra yang tak pernah menganggap dirinya ketua dan merangkul semua teman-teman satu gengnya seperti keluarganya, Barra juga seperti ayah yang siap membela dan membantu mereka digarda terdepan saat mereka menghadapi masalah atau kesulitan hidup.
Sebenarnya Barra memiliki sisi positif dalam dirinya namun selalu dia tutupi dengan sikap dinginnya dan penampilan yang terkesan urakan. Namun begitulah cara Barra menjalani hidup nya tanpa berpura-pura dan tetap menjadi dirinya sendiri. Bebas tanpa terkekang oleh penilaian orang, selama dirinya benar dan tidak merugikan orang lain, its'okay.
Setelah beberapa saat bercengkrama dengan teman-teman gengnya, Barra teringat kembali pada Aleea, ia ingin melihat gadis itu didapur.
Aleea terkejut saat tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar diperutnya, dia menoleh dan wajah Barra sudah berada tepat didepannya, Barra meletakkan dagunya dibahu Aleea, dia memeluk Aleea yang sibuk mengaduk supnya dari belakang.
Pipi Aleea merah merona saat wajahnya hampir menyentuh bibir sensual Barra, dia langsung memalingkan wajahnya dan kembali berpura-pura fokus mengaduk sup dihadapannya. Sesungguhnya jantung Aleea berdetak tak karuan, sekuat tenaga ia berusaha menutupi nya dari Barra dan berusaha tetep terlihat tenang.
"Apakah supnya sudah matang,hmmm??" bisik Barra lembut tepat ditelinganya, nafasnya yang begitu hangat terasa sangat menggelikan bagi Aleea.
Aleea menggeliat geli dan mendorong tubuh Barra menjauh darinya,
"apa kau tidak bisa untuk tidak membuatku terkejut?"
"bukankah kau suka aku membuat mu terkejut?" sahut Barra menggoda
"kau lupa, tidak ada kontak fisik didalam kesepakatan kita" kata Aleea mengingatkan Barra
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar lupa, bagaimana?" jawab Barra yang terus menggoda Aleea
"Dasar devil"
Barra sungguh terhibur melihat Aleea yang merasa jengkel olehnya, dunianya kini jadi lebih berwarna sejak bertemu Aleea, akankah ia sanggup berpisah saat 3 bulan ini berlalu dan Aleea meminta untuk bebas darinya. Apalagi jika Aleea mengetahui jika sebenarnya dirinya dan Barra tidak pernah melakukan penyatuan dimalam pertama kali saat mereka bertemu diclub itu. Akankah Aleea akan marah karena dia telah mempermainkan nya, sejenak terbesit ketakutan dalam hati Barra.
...---------------...
Makan malam telah siap, setidaknya ada 6 menu yang telah dimasak oleh Aleea malam ini, dia Barra dan semua anggota geng berkumpul di meja makan yang cukup besar itu, mereka makan malam bersama dengan hangat, sudah seperti satu keluarga yang harmonis saja.
Teman-teman Barra sungguh menyukai kehadiran Aleea ditengah-tengah mereka, mereka berharap Aleea dan Barra akan memiliki hubungan yang serius, karena mereka bisa melihat sorot mata Barra yang memiliki perasaan terhadap Aleea. Barra bukan tipe cowok yang mudah menaruh hati pada gadis yang ia temui, namun Barra menjadi berbeda saat bertemu dengan Aleea, dia menjadi terlihat bergairah menjalani hari-harinya.Hal itulah yang teman-temannya lihat walaupun Barra tak pernah mengungkapkan nya dan tetap menutupinya dengan sikap kulkasnya itu.
"hmmm...nikmat sekali masakan kakak ipar ini!!" celetuk Bagas membuat Aleea terbelalak dan mencebik kesal
"kapan aku menikah dengan kakakmu?"
"sebentar lagi kakak, jangan terburu-buru, kau dan kak Barra ku kan harus menyelesaikan kuliah dulu" sahut Bagas menggoda Aleea.
"iya , jangan terburu-buru, lagi pula nikmati dulu masa-masa indah kalian yang Serasa dunia sudah milik berdua, kami hanya remahan rengginang yang mengontrak!!"
celetuk salah satu anggota geng lainnya yang dibarengi dengan tawa dari semua anggota geng yang sedang menikmati makan malam bersama dimeja itu.
"Dasar kalian, para pengikut devil" Aleea mendengus sebal, sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya yang cemberut itu.
Barra hanya tersenyum melihat Aleea sebal digoda oleh teman-temannya itu tanpa ingin memberi pembelaan untuknya, dan malah sangat menikmati momen dihadapannya itu sambil terus melahap makan malamnya.
Bersambung
Happy reading 😍,
Mohon dukungannya untuk karya pertama author, dengan tinggalkan jejak like, komen, dan votenya terimakasih,🙏🙏
__ADS_1
mohon maaf bila masih banyak kekurangan dan tutur kata yang tidak tepat, mari sama-sama belajar dengan saling mengingatkan 🙏🙏🙏