Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 42. Hampir gila karena mu


__ADS_3

Setelah berbicara dengan kedua orangtuanya Barra pergi naik ke lantai atas, ia ingin memeriksa Aleea yang semalam demam tinggi, Barra sangat mencemaskan keadaan Aleea, namun langkah kaki Barra terhenti ketika Bu Sarah dan Ayah nya menghentikannya.


"Diam dan jangan langkahkan kakimu masuk kedalam kamar adikmu, jadilah kakak sebagai mana mestinya", Ucap pak Genta dengan suara baritonnya dari arah belakang Barra.


Sontak saja Hati Barra terasa nyeri mendengar ucapan Ayah nya, seolah ribuan anak panah menghujamnya, langkah kakinya terhenti begitu saja. Namun Aleea sudah terlanjur melihat dirinya dari dalam kamarnya, Barra melihat jelas tatapan sendu Aleea kepadanya, sepertinya Aleea juga mendengar ucapan ayahnya baru saja, tergambar jelas perasaan cemas dan khawatir dari sorot mata itu, Barra sungguh tak tega jika Aleea merasa tertekan dengan keadaan saat ini. Akhirnya Barra tetap melangkah kan kakinya masuk kedalam kamar Aleea, sementara itu pak Genta berteriak memperingatkan Barra. Namun Barra tak menghiraukannya dan tetap melangkah masuk menemui Aleea.


"Jangan berbuat sesuka hatimu, atau papa akan mengirim mu belajar ke luar negeri", ucap Pak Genta dengan nada mengancam.


Lagi-lagi kata-kata ayahnya sangat melukai hati Barra, Seketika Barra merasa jika ini sungguh tidak adil, kenapa dirinya harus jatuh cinta pada adik tirinya, ketika dia menemukan sosok yang membuatnya merasa nyaman dan memiliki alasan untuk hidup dengan lebih baik lagi, namun kenyataan pahit selalu menjadi akhirnya.


Perasaan Barra sangat kacau, ia tak tau harus bagaimana, namun ia berusaha tetap tenang dan memasang senyuman di sudut bibirnya saat menemui Aleea.


"Apa kau tidak apa-apa? Apa paman dan mama marah kepada mu?", tanya Aleea pada Barra


"aku baik-baik saja, jangan cemas, justru seharusnya kau mencemaskan dirimu sendiri, bagaimana keadaan mu, hmmm..??",


"aku sudah tidak apa-apa, aku sudah tidak demam, benar, coba periksa lah", sahut Aleea sembari menarik tangan Barra menyentuh keningnya, ia tak ingin Barra semakin mencemaskan keadaannya


"beristirahatlah dokter akan segera datang kemari, aku harus pergi untuk beberapa hari, ada event balap motor jadi aku harus tetap berada di basecamp untuk berlatih",


"Benarkah??...kenapa harus pergi, kamu bisa setiap saat datang ke basecamp tanpa harus pergi dari sini kan? Apa ucapan paman baru saja benar? Apa dia benar-benar ingin mengirim mu ke luar negeri? Apa itu karena hubungan kita akan membuat pergi jauh dari sini?", Dengan penuh kekhawatiran Aleea terus melontarkan pertanyaan pada Barra yang hanya diam saja dengan tatapan dan senyuman mautnya.


"jawab aku, jawab, kenapa kau hanya diam, apa benar kamu akan pergi?? Aku akan bicara pada paman, biar aku saja yang pergi dari rumah ini, kenapa dalam keadaan seperti ini kau masih saja tersenyum seperti itu?", ucap Aleea yang mulai terdengar frustasi.


"kamu tenang saja baby, jangan cemas, kemanapun aku pergi, tujuan ku hanya satu, yaitu kamu, jadi tenang saja dan beristirahatlah, lagi pula aku hanya akan ke basecamp, kenapa kau seperti ini??",


Barra mengecup singkat bibir Aleea, dan mengusap lembut pucuk kepala Aleea, Barra tak tahu harus berbuat apa untuk saat ini, namun yang jelas dia bukan pergi untuk menghindar, dia pasti akan mencari jalan keluarnya agar bisa bersatu dengan Aleea, gadis yang sudah menjadi separuh nyawanya.


"aku pergi dulu baby, jaga dirimu dan temui aku dibasecamp jika sudah sembuh", ucap Barra sembari mengerlingkan sebelah matanya.


 Aleea hanya pasrah menatap kepergian Barra keluar dari kamarnya tanpa mencoba menghentikannya.


Brakkk......


Barra menutup kembali pintu kamar Aleea. Rasanya percuma dia memaksakan kehendaknya dalam situasi seperti ini, dirinya masih dipenuhi perasaan yang bercampur aduk, dia tak bisa mengendalikan emosinya jika terus berada dirumah ini.


"Dasar anak begundal, apa papa pernah mengajarimu untuk jadi anak pembangkang dan selalu sesuka hatimu seperti ini? Papa sudah memutuskan untuk benar-benar mengirim mu belajar keluar negeri, bersiaplah", Ucap Pak Genta dengan ekspresi dan nada yang penuh kemarahan saat melihat Barra keluar dari kamar Aleea.


"jika itu mau mu silahkan pak tua, bukankah sejak dari dulu kau memang tak menginginkan anak berandalan seperti aku, kirim saja aku kemana pun yang kamu mau, tapi ingat satu hal, aku tidak akan berubah, aku akan tetap mencintai Aleea" ucap Barra kepada Ayahnya dengan tatapan tajam dan sikap dinginnya. Barra akhirnya memutuskan untuk pergi dari mansion itu untuk sementara waktu, dia tidak ingin ayahnya berbuat lebih nekat lagi jika dirinya masih memaksa untuk tetap dekat dengan Aleea.


Kemudian saat melewati Bu Sarah Barra menghentikan langkahnya dan berpesan kepada ibu tirinya itu.


"Bibi, jaga Aleea, semalam dia demam tinggi, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa keadaannya",


Bu Sarah hanya mengangguk sambil menatap Barra yang berlalu pergi, dalam hati kecilnya Bu Sarah merasa bersalah atas kepergian Barra dari mansion, dia sama sekali tak menginginkan hal ini terjadi, namun dia juga tak ingin Barra mendekati Aleea dengan perasaan sebagai mana seorang laki-laki dewasa kepada seorang wanita, dia hanya ingin Barra dan Aleea saling menyayangi sebagai mana seorang adik dan kakak. Namun tampaknya cinta sudah tumbuh begitu besar diantara kedua anaknya.


...----------------...


Sudah beberapa hari berlalu sejak Barra pergi meninggalkan mansion dan kembali tinggal diapartemennya. Setiap hari Barra menyibukkan dirinya berlatih mengendara untuk event lomba balap motor yang akan ia ikuti beberapa hari lagi, Sejak hari dimana Barra pergi dari mansion Aleea pun juga belum terlihat masuk ke kampus, Barra sangat merindukan Aleea, namun tak mungkin ia kembali ke mansion. Beberapa kali Barra mencoba menelpon Aleea namun nomornya tidak aktif, karena memang sejak saat itu mama nya mengambil handphone milik Aleea. Tampaknya kedua orang tua mereka benar-benar tidak ingin kedua anaknya menjalin sebuah hubungan terlarang dan tabu menurut pandangan masyarakat.


Dengan kecepatan tinggi Barra memacu motornya di sebuah sirkuit. Hari ini sudah tiba event balap motor resmi itu, para penonton sudah memenuhi bangku di sekeliling sirkuit pada siang hari yang terik itu, mereka datang untuk memberikan dukungan pada pembalap idola mereka, sorak Sorai terdengar mengiringi setiap deru mesin motor balap para peserta. Dari sirkuit mata tajam Barra menyapu sekeliling berharap menemukan sosok yang ia rindukan hadir memberikan dukungan untuknya, namun tampaknya Aleea tak akan hadir atau [justru papa dan bibi mengurungnya didalam mansion, pikir Barra.]

__ADS_1


Meskipun begitu Barra tetap berusaha fokus memacu mesin motornya, ia akan menjadi pemenangnya dan menjadi pembalap kelas internasional kelak, ia akan mengukir karirnya dan jalan hidupnya sendiri, dia tidak ingin ayahnya mengendalikan dirinya.


Beberapa putaran telah Barra lewati dengan baik, ia berhasil mempertahankan posisi nya tetap berada di urutan pertama, tinggal satu putaran lagi dan Barra akan menjadi juara. Motor Barra melesat bak sebuah roket, semua orang takjub dan tak percaya melihat motor Barra yang melesat dengan cepat. Sorak Sorai penonton terdengar begitu riuh ketika Barra sampai digaris finish.


Bagas dan seluruh tim Barra pun merasa bangga dan terharu melihat kemenangan pembalap mereka, sungguh semuanya tak menyangka jika Barra akan memenangkan event ini dengan mudah dan tanpa halangan apapun, ini adalah langkah yang sangat bagus untuk Barra dalam meniti karirnya menjadi seorang pembalap internasional, satu tangga telah berhasil Barra lewati, kemenangannya pada event ini akan membuat dirinya dikenal sebagai pembalap pendatang baru yang kemampuannya dapat diperhitungkan.


Sorak-sorai para penonton bagai euforia yang memenuhi sirkuit, saat Barra dan juara lainnya naik ke podium antusias para penggemar pun sangat tinggi, apalagi sosok rupawan Barra yang berdiri dengan gagahnya diatas podium, sudah pasti membius ratusan kaum hawa yang menyaksikannya, Bahakan tak jarang kamu Adam pun juga takjub melihat wajah rupawan Barra.


Sedangkan Barra berdiri dengan perasaan risaunya ditengah-tengah euforia orang-orang yang ikut berbahagia atas kemenangannya, justru Barra terlihat masih menunggu dan mencari-cari seseorang melalui maniknya yang masih saja sibuk menyapu setiap sudut lautan penonton didepannya.


Wajahnya seketika berseri ketika tatapannya menemukan sosok yabg dari tadi ia tunggu-tunggu dan sangat ia rindukan, Aleea berdiri diantara kerumunan penonton, dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Barra yang berada diatas podium untuk menerima piala. Kehadiran Aleea sungguh melengkapi hari bahagia Barra.


Setelah penyerahan hadiah dan piala usai, Barra bergegas menuju tempat Aleea berdiri, dia berlari dan langsung memeluk Aleea dengan erat, tubuh kecil itu ia rengkuh dan ia tenggelamkan kedalam dada bidangnya, pemandangan itu seketika menarik perhatian orang-orang yang berada disitu, namun Barra tak menghiraukannya sama sekali, yang ia tau ia hanya ingin memeluk Aleea yang sudah ia rindukan selama beberapa hari ini.


"Barra...sudah lepaskan, semua orang menatap kita", bisik Aleea


"Biarkan saja, aku takkan melepaskannya sebelum aku puas", sahut Barra sembari mempererat pelukannya.


"aku hampir kehabisan nafas, apa kau ingin membunuh ku?" ucap Aleea sembari terengah-engah karena sesak


Mendengar nafas Aleea yang terengah-engah Barra segera melepaskan pelukannya,


"maaf baby, aku membuatmu sulit bernafas, ini karena aku sangat merindukan mu, bukannya baby yang ingin membunuhku dengan tidak memberikan kabar sama sekali padaku?", kata Barra kesal, dia menatap Aleea dengan penuh cinta dan kerinduan.


"benarkah?? Apa aku bisa membunuhmu hanya dengan cara seperti itu?", sahut Aleea menggoda Barra sembari menampakkan senyum gummy nya.


"apa kau bangga dengan hal itu....hmmmmma?? kenapa kau sama sekali tidak merasa bersalah karena itu?, apa baby tidak merindukan aku juga?", ucap Barra dengan mulut manyunnya, sembari melipat kedua tangannya diatas perut, Barra memalingkan tubuhnya membelakangi Aleea dengan kesal.


Aleea memeluk Barra dari belakang.


"Aku juga sangat merindukanmu, Barra ramadittya adikara, sicowok devil ku",


Mendengar ucapan dan melihat Aleea yang sudah berani memeluknya atas inisiatifnya sendiri membuat Barra sangat tersentuh dan merasa sangat dicintai oleh Aleea, seketika Barra berbalik dan menangkupkan kedua tangannya pada pipi mulus Aleea, dia bermaksud ingin mencium Aleea, namun Aleea menahan tubuh Barra yang sudah ingin mencium dirinya.


"tahan sebentar baby, disini bukan tempat yang tepat untuk itu", bisik Aleea dengan nada nakalnya.


"hmmmm....", seketika Barra tersenyum dan menahan keinginannya ketika mendengar Aleea memanggilnya dengan sebutan baby dan dengan nada yg menggoda pula.


"Benarkah? Baiklah aku akan menahannya sebentar baby, setelah ini kita cari tempat yang tepat untuk itu, oke", ucap Barra dengan nada penuh semangat.


Aleea mengangguk dan keduanya sama-sama tersenyum, nampaknya kehadiran Aleea sudah menjadi euforia tersendiri untuk Barra, dia terlihat sangat bahagia bahkan lebih nampak bahagia saat melihat Aleea jika dibandingkan dengan saat ia memenangkan balapannya tadi.


...----------------...


Setelah menyelesaikan urusannya, Barra berpamitan pada Bagas dan timnya, yang masih berada di sirkuit tadi. Barra ingin segera pulang dan menagih sesuatu yang dijanjikan Aleea tadi.


Barra memacu motornya membelah jalanan sore hari, Aleea memeluk Barra erat dari jok penumpang, sesekali ia menyandarkan kepalanya dipunggung kekar Barra, Aleea juga merasakan hal yang sama dengan Barra selama beberapa hari ini, dia juga sangat tersiksa ketika merindukan Barra dan tak dapat mengetahui kabar pria nya ini.


Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai diapartemen Barra, dengan bergandengan tangan keduanya masuk kedalam apartemen itu, Aleea tampak berbeda dari biasanya, dia lebih terlihat manja dan berani pada Barra, sejak berjalan dari parkir apartemen tadi Aleea selalu memeluk dan menyandarkan kepalanya pada pundak Barra, ini sangat berbeda dari Aleea yang biasanya selalu malu-malu saat melakukan kontak fisik dengan Barra.


Usai menutup pintu apartemen, Barra langsung menggendong tubuh Aleea ala bridal style dan merebahkan nya diatas sofa,

__ADS_1


Barra memandang lekat wajah cantik gadis yang sudah berada dibawah Kungkungannya itu, hanya beberapa hari tidak melihat wajah ini seakan Barra hampir dibuat gila karenanya. Barra mengusap lembut pipi mulus Aleea dengan penuh kerinduan, matanya terus menatap dalam gadis itu, sesekali ia tersenyum karena merasa bahagia dan lega karena dapat bertemu dengan gadis pujaannya yang sangat ia khawatirkan selama beberapa hari ini.


"Kenapa baby menatap ku seperti itu?", tanya Aleea lembut


"Aku hanya merasa bahagia, aku tak percaya saat ini baby berada dihadapanku, apa kau tahu aku hampir gila karena merindukan mu?",


"aku tahu...", jawab Aleea dengan nada bangga


"hmmm....baby bangga sekali",


"iya dong, aku harus bangga karena bisa membuat pria ku hampir gila hanya karena tidak melihat ku dalam beberapa hari saja, apalagi pria ku adalah pembalap nomor satu, yang begitu rupawan, wanita mana yang tidak bangga baby",


"baby....aku suka sebutan itu keluar dari bibirmu, terus panggil aku seperti itu", ucap Barra sambil tangannya mengusap lembut bibir tipis Aleea.


Mmmmmmphhh......


Tanpa aba-aba dan basa-basi lagi Barra ******* habis b*bir tipis itu, lid*h keduanya saling melilit didalam sana. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menjadi liar dan penuh gair*h, keduanya saling megecap dan *******, sesekali suara lenguhan terdengar dari mulut Aleea ketika Barra menggigit lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikannya, kedua tangan Aleea memeluk erat tengkuk Barra dan sesekali ia mengelus lembut kepala pria itu, sedangkan tangan Barra sudah menjelajah liar di dua buah bukit kembar milik Aleea, tautan itu berlangsung cukup lama, hingga keduanya sama-sama kehabisan nafasnya dan tersengal.


"manis sekali...", bisik Barra sembari mengusap lembut bibir Aleea.


"Bagaimana aku tidak gila saat aku merindukamu baby, kamu sudah seperti candu bagiku", ucap Barra sembari bibirnya terus mengendus setiap inci leher jenjang Aleea.


"Benarkah?? Jika aku sudah seperti candu bagimu, apa hanya dengan ini sudah cukup melepaskan kerinduan mu..hmmm? Apa baby tak menginginkan yang lebih dari ini?", Tanya Aleea dengan nada yang menggoda. Tangannya pun kini sudah berani membelai dada bidang Barra dan semakin turun menyentuh perut kotak pria itu. Seolah Aleea ingin menuntun Barra membangkitkan sesuatu dibawah sana.


"maksud baby....?", Barra justru merasa aneh mendengar ucapan Aleea yang tidak seperti biasanya, walau sentuhan Aleea sudah berhasil membangunkan adik kecilnya, namun Barra selalu bisa menahannya, tapi kenapa kali ini justru Aleea berbicara kearah sana, bukankah biasanya dia tidak ingin ada penyatuan diantara mereka, cukup dengan ciuman mesra Barra sudah merasa puas. Tapi kali ini tampaknya Aleea menginginkan hal yang lebih.


"Aku ingin penyatuan", bisik Aleea ditelinga Barra.


Justru hal itu membuat Barra membulatkan matanya, dia terkejut dan tak menduga jika Aleea menginginkan hal seperti itu, Barra justru merasa ada sesuatu yang tidak beres, ini bukan gaya Aleea sama sekali.


Barra tertawa terkekeh, dan mengusap pucuk kepala Aleea, dia sama sekali tak menganggap serius permintaan Aleea baru saja. Hal itu membuat Aleea merasa kesal dan malu, padahal Aleea sudah berusaha keras untuk mengatakan hal memalukan itu.


"kenapa baby tertawa, apa aku terlihat lucu", ucap Aleea kesal dan cemberut


"iya baby, kamu sangat lucu sekali",sahut Barra sembari tertawa terbahak dan terdiam tiba-tiba lalu Barra kembali berkata "jangan bercanda dengan hal yang seperti itu,aku bisa menelanmu sungguhan", ucap Barra dengan tatapan mautnya, dan senyum seringainya.


"benar aku tidak bercanda, silahkan menelanku, dengan senang hati", ucap Aleea dengan polosnya.


"Baby, kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku, ini sama sekali bukan gayamu, apa terjadi sesuatu? Katakan padaku?"


"enggak, kenapa memangnya, aku merindukanmu, aku inginkan hal itu",


"iya baby, tapi tidak untuk saat ini, itu pasti, tapi nanti jika mereka sudah merestui hubungan kita, aku akan mencari cara untuk itu", ucap Barra meyakinkan Aleea.


Namun Aleea hanya tertunduk lesu, sebelum itu terjadi mungkin dirinya sudah pergi jauh dari kota ini, bahkan dari negara ini, karena demi Barra Aleea telah membuat kesepakatan dengan paman dan ibunya, biar dia saja yang pergi ke luar negeri dan menetap disana tanpa sepengetahuan Barra.


Bersambung


Happy reading 😍


mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️

__ADS_1


__ADS_2