
Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk sarapan bersama, Bu Sarah dan pak Genta tampak berseri, tak bisa dipungkiri, wajah mereka memancarkan aura kebahagiaan yang teramat besar. Gelak tawa dan suasana yang begitu hangat menyelimuti meja makan itu. Hanya Barra yang masih saja bungkam seribu bahasa, dia tampak seperti biasanya dengan wajah datar dan dinginnya. Namun es kutub itu seketika mencair saat Aleea datang menuju meja makan yang menurut Barra sangat membosankan itu.
Sebuah senyuman tipis terlihat disudut bibir Barra, dia menatap Aleea dengan tatapan mautnya, dia ingin memberi isyarat pada Aleea untuk duduk disampingnya, namun Aleea malah melenggang melewati Barra dan duduk bersebelahan dengan sepupu Barra.
Barra mendengus kesal menatap Aleea yang berani mengacuhkan dirinya, melihat wajah Barra, justru membuat Aleea terkekeh, wajah kesal Barra sungguh menghibur Aleea, kapan lagi dia bisa menggoda cowok devil ini, karena didepan anggota keluarga besarnya Barra tidak akan bisa bersikap seenaknya sendiri kepadanya.
Aleea tersenyum, dia menikmati sekali wajah Barra yang tampak tertekan seolah tak berdaya sama sekali. Barra semakin kesal melihat senyuman diwajah kekasih rahasianya itu, pasti dia akan menelan Aleea saat dia memiliki kesempatan nanti.
Setelah sarapan selesai, akhirnya keluarga kecil yang baru diresmikan itu pulang menuju mansion, Pak Genta meminta Barra untuk tinggal dimansion mulai sekarang. Seandainya jika bukan demi bisa dekat dengan Aleea, Barra lebih memilih tinggal di apartemennya.
Setelah sampai di mansion Barra melenggang menuju kamarnya, Aleea pun juga mengikuti Barra menaiki tangga untuk menuju kamarnya juga. Sementara pak Genta dan Bu Sarah masih bercengkrama di ruang keluarga, mereka merasa senang melihat Barra dan Aleea yang terlihat sangat akur.
Melihat hal itu pak Genta ingin Aleea pindah ke kampus milik Adikara grup, ia berharap dengan adanya Aleea yang kuliah dikampus itu bisa mengawasi Barra agar kuliah dengan benar dan tidak terus balapan.
"sayang, bagaimana kalo Aleea kita pindahkan saja ke kampus Adikara group??" tanya pak Genta pada Bu Sarah
"iya mas, nanti coba aku tanyakan padanya"sahut Bu Sarah sembari menyeruput secangkir teh dihadapannya.
"Barra dan Aleea tampak akur ya mas, aku merasa lega melihat mereka yang tidak mempermasalahkan pernikahan kita mas, mereka sungguh anak-anak yang penuh akan pengertian" ucap Bu Sarah yang merasa bangga dengan kedewasaan anak-anaknya.
"iya sayang, tampaknya kita harus bersyukur memiliki anak-anak yang yang begitu pengertian" sahut pak Genta yang juga merasakan hal yang sama dengan istrinya itu.
Sedangkan di kamarnya Aleea tengah sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, sebagai mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Aleea memanglah mahasiswa yang terbilang pintar dan cerdas.
Aleea tampak serius dengan laptopnya, sehingga dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Barra. Barra masuk kekamar Aleea begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Greeppph....
Barra memeluk Aleea dari belakang, tampaknya pelukan dari belakang yang tiba-tiba sudah menjadi ciri khasnya saat menyapa Aleea, dia selalu ingin dekat dengan kekasih rahasianya itu, seolah ingin mengungkapkan perasaan cintanya yang begitu besar pada Aleea melalui pelukan hangatnya.
"Barra, kau membuat ku terkejut, kenapa masuk tanpa mengetuk pintu dulu??" ucap Aleea dengan nada kesal pada Barra yang selalu seenaknya.
"Barra?? Siapa itu baby?? Hmmm....!!"sahut Barra yang tak kalah kesal karena panggilan Aleea kepadanya, tanpa melepaskan pelukannya bibir cowok devil itu terus menjelajahi tengkuk dan pundak Aleea, Barra sangat menyukai aroma tubuh wanitanya ini.
"apakah pacar ku ini mengidap amnesia dadakan??" tanya Aleea menggoda Barra yang berpura-pura lupa dengan namanya sendiri.
Barra terkekeh mendengarnya, dia memutar kursi belajar Aleea dan berjongkok dihadapan gadis yang baru saja menyebut dirinya sebagai pacarnya, Barra sangat senang mendengar kata-kata Aleea barusaja.
"baby bilang aku pacarmu?? Kenapa baby manis sekali!!" ucap Barra sembari meraih pinggang ramping Aleea dan menggendongnya ala bridal style, lalu mendudukkannya dibibir tempat tidur Aleea, Kemudian Barra merebahkan dirinya dan meletakkan kepalanya dipangkuan Aleea,
"ahhh...kenapa paha baby nyaman sekali dijadikan bantal"
__ADS_1
"Barra, jangan begini, nanti ada mama masuk kamar " ucap Aleea merasa cemas dengan kelakuan Barra, ia khawatir seseorang melihat mereka. Namun Barra sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"panggil aku baby juga, kenapa sulit sekali mengajarimu mengucapkan satu kata saja Aleea Khumaira" ucap Barra merasa jengah
Aleea tersenyum mendengar Barra yang terus memprotes tentang panggilannya,
" Baby, itu terdengar berlebihan, bagaimana kalau sayang??" tawar Aleea sembari tangannya membelai lembut rambut Barra,
"Sayang....??"
"hmmm....boleh juga, kedengarannya tidak terlalu buruk" sahut Barra sembari mengulang-ulang kata sayang.
"sayang.. sayang.... bukankah begitu sayang??"
"heem, mulai sekarang kita saling panggil sayang saja" Pinta Aleea pada Barra
"tentu saja, kau boleh memanggilku sayang, tapi aku ingin tetap memanggilmu baby, itu terdengar sangat menggemaskan untuk ku!!"
Aleea memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya, nampaknya Barra selalu ingin melakukan hal yang ia sukai saja, namun hal itu justru membuat Aleea semakin jatuh cinta pada laki-laki yang tengah berbaring manja di pangkuannya itu, Barra memang laki-laki yang memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah untuk mempengaruhi pria devil ini.
"ya...ya... terserah kamu sayang, lakukan hal yang kamu sukai" kata Aleea sembari mencium kening Barra singkat, dan hal itu membuat Barra merasa sangat hangat, sentuhan-sentuhan kecil yang dilakukan atas inisiatif Aleea sendiri terhadapnya selalu membuat Barra merasa diperlakukan spesial, dia sangat mencintai dan menghargai Aleea.
"Baby..."Barra tiba-tiba meraih tangan Aleea dan meletakkannya tepat di dadanya,"Apa baby bisa merasakannya?? Sesuatu terasa berdenyut didalam sini!!, tiba-tiba dadaku merasa hangat" gumam Barra sembari tersenyum menatap Aleea, Aleea terpaku melihat senyuman Barra yang terlihat sangat tulus dan manis itu, Aleea dapat melihat dengan jelas bagaimana sosok Barra yang sebenarnya, dia sungguh pria yang memiliki banyak cinta, sangat jauh berbeda dengan apa yang ia perlihatkan selama ini didepan orang-orang.
"Mulai sekarang kau dapat dengan puas melihat wajah tampan ku ini, hmmmm" Barra kembali menunjukkan senyuman manisnya itu, Aleea pun terkekeh melihat tingkah cowok devil yang sudah berubah 180 derajat,
"kenapa kamu lebih terlihat seperti seekor anak kucing yang menggemaskan saat memasang wajah dan mata yang seperti itu, sangat menggemaskan dan terlihat imut" gumam Aleea sembari tertawa.
Barra sekita melepaskan kedua tangan Aleea, dia tidak terima dikatakan imut dan menggemaskan oleh Aleea.
"Enggak baby....."greppphh... tiba-tiba Barra meraih pinggang Aleea sehingga keduanya kini saling berdekatan tanpa jarak sama sekali. Tiba-tiba raut wajah Barra yang terlihat menggemaskan dan imut seketika berubah menjadi serius, tatapan mautnya kini menghujam jantung Aleea "Aku tidak imut baby, aku ini pria dewasa yang perkasa dan penuh gairah?? Apa baby mau melihatnya...hmmm..?? Aku akan menunjukkan bagaimana perkasanya diriku ini" kata Barra sembari terus menatap dalam Aleea dan mendekatkan wajahnya pada wajah Aleea. Seketika Aleea mendelik melihat tatapan Barra yang seolah sudah siap menelan habis dirinya, jantungnya tak kalah berdenyut dengan jantung Barra barusan.
Barra terus mendekatkan wajahnya sehingga kini wajah keduanya sudah menempel tanpa jarak, Barra menempelkan keningnya pada kening Aleea bahkan hidung mancung mereka juga saling bersentuhan, Aleea menelan salivanya, seperti nya dia akan lebih berhati-hati saat berbicara dengan Barra nanti, karena seringkali karena kesalahannya mengatakan sesuatu dia selalu berakhir ditelan oleh Barra.
Barra tersenyum dengan senyuman mautnya yang khas itu saat menyadari Aleea menelan salivanya, seolah itu sebuah panggilan untuk Barra semakin mendekat, Kini bibir keduanya sudah hampir saling bersentuhan satu sama lain.
Tok.... tok...... Tiba-tiba pintu kamar Aleea diketok, hal itu membuat Aleea melonjak kaget dan segera berdiri, sedangkan Barra membuang nafasnya kesal, dengan tenang dia tetap duduk dibibir tempat tidur itu tanpa merasa panik sama sekali. Dia lebih merasa kesal karena seseorang mengganggu dirinya yang ingin menelan Aleea.
"Sayang...gawat ada yang datang, sepertinya itu mama, kamu harus bersembunyi, ayolah cepat...!! Aku akan membuka pintunya, oke!! Titah Aleea sembari berjalan menuju pintu kamarnya, namun bukannya bersembunyi Barra justru berjalan menuju meja belajar Aleea dan memainkan handphonenya.
ceklekk....
__ADS_1
"mama...ada apa ma..??"
"iya sayang, kamu sedang apa ?? Mama boleh masuk? Ada sesuatu yang ingin mama bicarakan padamu nak!!" kata Bu Sarah sembari melangkah masuk kedalam kamar putrinya itu.Aleea pun mengikuti langkah ibunya masuk kedalam kamar.
Betapa terkejutnya Aleea melihat Barra yang tengah asyik bermain handphonenya sambil duduk di meja belajarnya,
"kenapa dia masih disitu? Bukannya bersembunyi, dasarrr....." Aleea mengumpat dalam hatinya, dia merasa cemas jika ibunya merasa curiga.
Begitupun dengan Bu Sarah yang juga merasa terkejut melihat keberadaan Barra didalam kamar putrinya, namun dengan tenang Barra menyapa Bu Sarah tanpa ada rasa takut dan cemas sama sekali.
"Bibi..., selamat malam....!!" ucap Barra sopan sembari berdiri dan menundukkan setengah kepalanya.
"Iya nak Barra, kenapa kamu ada disini nak?" tanya Bu Sarah penuh dengan tanda tanya.
"ini Bibi, aku ingin Aleea membantuku mengerjakan tugas kuliahku bibi, aku dengar dia mahasiswa paling pintar dikampusnya" kata Barra sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"oh begitu, sepertinya kamu terlalu berlebihan, Aleea pintar karena di rajin belajar saja nak, bibi percaya kamu pun tak kalah pintar jika kamu mau berusaha" ucap Bu Sarah menyemangati Barra,
Sedangkan Barra hanya meresponnya dengan anggukan kepalanya.
"kelihatannya pas sekali ya, maksud kedatangan bibi kemari juga ingin memberitahu Aleea, jika besok Aleea akan kami pindahkan ke kampus Adikara group, bibi harap kamu membantunya saat menyesuaikan dengan keadaan disana ya nak?? Jangan biarkan adikmu ini mengalami kesulitan" kata Bu Sarah pada Barra sembari mengusap lembut punggung Aleea yang berdiri disampingnya.
"iya Bibi...!!" sedangkan Barra hanya menjawab singkat dengan anggukan dikepalanya.
Sedangkan Aleea yang merasa terkejut dengan perkataan ibunya, dia ingin protes karena ia tidak ingin pindah dari kampusnya saat ini. Dia sudah merasa senang dapat kuliah dikampusnya saat ini berkat usahanya sendiri, walau mengandalkan beasiswa namun dirinya merasa bangga setidaknya dia bisa berjuang sendiri tanpa bergantung pada orang lain, sedangkan jika dia kuliah di kampus Adikara group yang notabennya milik keluarga Barra, meski kampus itu adalah kampus ternama dan terbaik di kota itu namun, Aleea hanya akan merasa dirinya menjadi parasit yang mengandalkan orang lain.
"Ma...tapi aku gak bisa pindah ma, aku sudah senang dapat kuliah dikampus ku saat ini" ucap Aleea protes
"iya sayang mama tahu, kamu pasti tidak ingin merepotkan paman kan? Tapi ini kehendaknya, dia ingin memberikan yang terbaik yang ia bisa kepadamu, toh disana kamu bisa belajar lebih giat lagi, disana juga ada program beasiswa sayang!! Kamu bisa bekerja keras untuk mendapatkannya!!"
"Tapi ma...Aleea mendesah berat, dia merasa berat meninggalkan teman-teman dikampusnya, dia malas jika harus menyesuaikan diri lagi di tempat baru.
Barra hanya menatap penuh pertanyaan melihat Aleea yang tampak berat meninggalkan kampusnya, dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan "apakah karena Mike??"
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️,
dukungan readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar untuk author menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏♥️
__ADS_1
Maaf jika masih terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan karya maupun typo yang tidak tepat, mari kita sama-sama belajar dengan saling mengingatkan 🙏♥️💜