
Pagi datang dengan ditandai hadirnya sang surya di ufuk timur, semakin meninggi dan cahayanya selalu membawa kehangatan dalam dinginnya udara pagi.
Barra membuka matanya, yang merasa silau oleh kehadiran cahaya matahari yang memaksa masuk menerobos celah-celah jendela rumah Aleea, dia menggeliat dengan malasnya, namun dia tersenyum sangat manis saat menatap Aleea tidur sambil terduduk disampingnya, dia mengingat kejadian semalam, dan merasa kasihan pada Aleea yang telah tertidur dengan keadaan duduk dari semalam karena ulahnya yang ingin tidur dipangkuan Aleea.
Barra mengangkat tubuh Aleea, dan membawanya masuk kedalam kamar Aleea, Barra meletakkan dengan pelan tubuh ramping Aleea yang masih tertidur lelap di atas kasur. Sejenak Barra memandangi wajah cantik Aleea, sesekali ia mengelus pipi mulus Aleea, dan menyelipkan rambut Aleea yang menutupi wajahnya ke anak telinga Aleea. Barra sungguh dibuat candu oleh Aleea, rasanya cinta nya pada Aleea sudah tumbuh begitu besar tanpa ia sadari, dia bahkan tak peduli jika Aleea dan Mike sudah menjadi kekasih, dia akan membuat Aleea mencintainya dan tergila-gila hanya kepadanya, sehingga Aleea dengan sendirinya akan datang kepadanya tanpa harus dia minta. Barra tersenyum smirk memikirkan rencana jahatnya itu.
Barra bergegas berjalan menuju dapur, ia ingin memasak sesuatu untuk sarapannya dan Aleea, dia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga memiliki sisi yang hangat, bukan benar-benar cowok devil seperti yang Aleea selalu katakan padanya.
Dengan cekatan dan terampil Barra memasak di dapur, setidaknya sudah ada 4 menu yang Barra sajikan diatas meja makan, dengan celemek yang melekat ditubuhnya Barra sangat terlihat manis, Mungkin saja jika ada orang yang melihatnya akan meruntuhkan predikat cowok kulkasnya.
Aleea menggeliat dan menguap malas, dia membuka matanya perlahan, hidungnya mencium aroma yang begitu sedap sehingga seketika menggugah selera makannya, cacing-cacing diperutnya pun berteriak-teriak seketika.
Aleea sungguh penasaran siapa yang memasak didapur, apakah ibunya sudah pulang, dia bergegas turun dari tempat tidurnya, dengan rambutnya yang masih acak-acakan khas orang bangun tidur Aleea keluar dari kamarnya dan pergi kedapur.
Aleea sungguh terkejut melihat Barra dengan menggunakan celemeknya yang berwarna merah muda itu, dia tampak cekatan memasak , sungguh pemandangan yang tak pernah Aleea bayangkan. Aleea mengucek matanya beberapa kali, memastikan jika yang ia lihat benar-benar kenyataan dan bukan sekedar mimpi, ia menepuk pipinya dan mencubit dirinya sendiri.
"auu...sakit..ternyata ini memang benar, bukan mimpi" gumam Aleea setelah dirinya merasa kesakitan saat ia mencubit lengannya sendiri dengan keras
"Pagi Baby...kamu sudah bangun? Hmmm...?"sapa Barra lembut saat menatap Aleea yang masih berdiri di belakang nya
"ehhhm...iya, aku baru bangun, maaf ya aku bangun kesiangan"
"It's okey baby, tidak masalah, aku sudah memasak makanan kesukaan mu"
greepp...
Barra memeluk Aleea dari belakang dan menciumi rambutnya, Aleea selalu dibuat tersipu dan berdebar saat Barra melakukan kontak fisik dengannya, meski Barra selalu terlihat dingin, namun sentuhannya selalu terasa lembut dan hangat untuknya. Aleea selalu tak kuasa menolaknya.
"rambut mu wangi sekali baby, apa shampo yang kau pakai, aku juga mau memakai shampo yang sama denganmu" gumam Barra sambil menciumi rambut Aleea dan tak melepaskan pelukannya sama sekali.
"kamu mandi dan gosok gigi gih, lalu kita sarapan bersama setelah itu aku akan mengantarkan kamu ke kampus" titah Barra lembut pada Aleea,
"sungguh Barra selalu sesuka hatinya dalam bersikap. Kadang dingin dan kejam seperti devil, kadang manis dan lembut seperti pangeran dalam sebuah dongeng, dasar cowok labil" pikir Aleea dalam hati sambil berjalan kekamar mandi
Setelah selesai membersihkan dirinya dan sudah merasa segar Aleea menuju meja makan, disana Barra sudah menunggunya.
Aleea datang menghampiri Barra dan duduk berhadapan dengannya.
"hmmm...kamu semua yang masak sebanyak ini?" tanya Aleea yang kaget melihat berbagai makanan yang terhidang di meja makan.
"iya dong baby, ini semua makanan kesukaan kamu kan, aku belajar dari bibi waktu itu" sahut Barra santai sambil membantu Aleea mengambil nasi.
Diam-diam Aleea mulai mengagumi Barra, dua bulan bersama Barra tanpa terasa sudah menumbuhkan benih cinta dalam hati Aleea, semua berawal dari rasa nyaman saat berada didekat cowok devil ini, dan ternyata Barra tak seburuk yang ia pikirkan, Barra adalah laki-laki yang istimewa. Dia memiliki cinta dan kehangatan yang begitu besar dalam dirinya yang terlihat dingin itu. Begitulah yang dipikirkan Aleea tentang Barra saat ini.
__ADS_1
...----------------...
Setelah mengantar kan Aleea kekampus, Barra memacu motornya menuju kampusnya sendiri, seperti biasa Barra menuju taman di halaman belakang kampus Adikara grup, sebelum mata pelajaran dimulai, karena semua anggota gengnya juga akan selalu ada disitu saat jam kosong dikampus.
Saat berjalan menuju halaman belakang, tiba-tiba Barra melihat Ayahnya berjalan dari ujung koridor menuju kearahnya.
"Barra..., disini kau rupanya, apa kau baru datang jam segini?" sapa Ayah Barra saat melihat anaknya itu,
Barra berhenti sejenak, dan menyapa Ayahnya yang sudah lama tidak ia temui, karena Ayahnya memang tidak pernah berada dirumahnya, karena ia selalu sibuk melakukan perjalanan bisnis.
"selamat pagi pak tua, bagaiman kabarmu" sapa Barra dengan sikap dinginnya itu tanpa menjawab pertanyaan ayahnya tadi.
"Kau masih saja dingin rupanya? Apa kau tidak merindukan pak tua mu ini?" sambil merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Barra,
"Apa-apaan kau pak tua, aku bukan bayi mu lagi, berhenti bersikap seperti itu padaku" Barra sungguh kesal pada Ayahnya yang selalu memeluknya tiba-tiba ditempat umum.
Ayah Barra dulu adalah sosok yang begitu hangat dan perhatian kepada Barra dan ibunya, namun semenjak ibunya meninggal Ayah Barra menjadi sedikit tertutup dan selalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya untuk menutupi kesedihannya yang begitu dalam saat ditinggalkan ibu Barra pergi untuk selama-lamanya.
Sejak ibunya meninggal Barra kehilangan sosok kedua orang tuanya, dia jadi kekurangan kasih sayang dan memilih untuk hidup dengan caranya sendiri asal membuat dia bahagia.
"Ayah sungguh merindukanmu Barra, mari kita pulang dan tinggallah bersama Ayah lagi, kita mulai semua nya dari awal"
"kenapa, apa kau berkata seperti ini karena kau akan menikah dan memiliki pengganti ibuku?" tanya Barra ketus, sudah menebak arah pembicaraan Ayahnya.
"cih, sungguh munafik kau pak tua, jangan menjadikan aku alasan, katakan saja jika kau ingin menikah lagi karena kau sudah melupakan ibuku"
"terserah apa yang kau katakan Barra, tapi Ayah sudah terlalu lama memberikanmu kebebasan, pulanglah dan turuti apa kata Ayahmu ini, aku ingin nanti malam kau datang kerumah , karena calon ibu dan adikmu ingin berkenalan dengan mu, jangan kecewakan Ayah"
Barra hanya berlalu begitu saja mendengar kan permintaan Ayahnya, dia sungguh tidak tertarik untuk menuruti permintaan Ayahnya itu.
...----------------...
Sepulang dari kampus Aleea segera bergegas menemui Barra, karena ia ingin secara langsung meminta izin pada Barra jika hari ini dia tidak bisa menemani nya karena harus menemani ibunya datang kerumah calon suaminya, berbeda dengan Barra, Aleea sangat mendukung ibunya menjalin hubungan dan akan menikah lagi dengan seseorang yang mencintai ibunya, dia ingin melihat ibunya bahagia, setelah masa-masa sulit yang mereka lalui ketika ayahnya meninggal.
"Barra...ini makanan yang kau pesan" seperti biasanya sepulang kuliah Aleea akan selalu membawakan makanan dan cemilan untuk Barra,
Barra akan selalu berada di basecamp nya bersama teman-teman geng motornya, mereka sedang menyiapkan motor mereka untuk mengikuti event balap motor resmi yang akan diadakan dua pekan lagi.
Aleea selalu berada dibasecamp itu untuk melayani kebutuhan Barra, atau sekedar menonton mereka mengotak-atik mesin motor mereka, tak jarang Aleea akan memasak untuk mereka semua. Itu sudah menjadi rutinitas Aleea selama dua bulan ini selama menjalani kesepakatan nya dengan Barra.
bruggh...
Aleea meletakkan beberapa kantong makanan dan cemilan yang dia beli saat menuju basecamp tadi.
__ADS_1
Barra hanya menatap sekilas kedatangan Aleea, karena dirinya masih sibuk mengotak-atik mesin motornya.
"Barra...aku mau mengatakan sesuatu, tapi kau jangan marah" kata Aleea sambil mendekati Barra yang tengah sibuk
"hmmm. Katakan" jawab Barra datar dan dingin
"Aku mau izin pergi kesuatu tempat hari ini"
Mendengar ucapan Aleea, seketika Barra menoleh dan menatap tajam pada Aleea, hal itu membuat Aleea sedikit menciut ketakutan.
"Apa kau akan pergi dengan om-om itu?" tanya Barra ketus dan penuh selidik
"om-om?"Aleea dibuat kebingungan oleh pertanyaan Barra, dia merasa tidak memiliki kenalan om-om.Seketika dia tersadar jika Mike lah yang dimaksud Barra,
"dasar cowok devil, Mike yang ganteng dan dewasa seperti itu dia sebut om-om" gerutu Aleea dalam hati sambil memicingkan sebelah matanya menatap Barra
"kenapa? Kau tidak terima jika aku menyebut om pada laki-laki yang menyatakan perasaannya di konser kemarin? Dasar kekanak-kanakan" ucap Barra sambil tersenyum mengejek pada Aleea
"kenapa? Bukankah itu sangat romantis?" sahut Aleea tak terima saat Barra mengejeknya
"Cih, romantis apanya? Dasar semua wanita menjadi tidak waras saat tergila-gila pada laki-laki!! Ucap Barra ketus, ia merasa kesal sekaligus cemburu saat mendengar Aleea membela Mike.
Author POV: Padahal dirinya saat ini juga dibuat tidak waras karena tergila-gila pada Aleea, bisa-bisanya dia mengatakan wanita menjadi tidak waras karena tergila-gila pada laki-laki, sungguh Barra yang tak tau diri.
"aku tidak mengizinkan mu pergi kemanapun, sebelum jam 10 malam nanti, tetap disini dan lakukan tugasmu dengan baik" titah Barra ketus, dia akan melakukan apapun agar Aleea tidak memiliki waktu untuk pacarnya itu.
"Tapi aku tidak akan pergi dengannya, aku akan pergi menemani ibuku untuk makan malam bersama keluarga calon suaminya, presdir Adikara grup"
Deghhh.....
Seketika Barra menghentikan aktifitas nya dan menatap Aleea, dia tidak salah dengar kan,
" Adikara grup itu adalah nama keluarganya, apakah calon ibu dan adik tiri yang ingin ayah kenalkan tadi adalah Aleea dan ibunya? Apakah calon istri Ayahnya adalah ibu Aleea? Jika benar, apakah Aleea akan menjadi keluarganya sekaligus adiknya?" seketika pertanyaan-pertanyaan itu membuat Barra merasa frustasi
"Bagaimana? Apa kau akan mengizinkan aku pergi?" pertanyaan Aleea membuyarkan lamunan Barra
"hmmm"
Barra hanya menjawab singkat pertanyaan Aleea, karena dirinya belum bisa menerima dengan apa yang telah ia dengar barusan.
Bersambung
Happy reading 😍
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya, karena dukungan sahabat readers adalah motivasi terbesar bagi author untuk terus berkarya dan berproses menjadi lebih baik lagi, terimakasih 🙏🙏