
Setelah beradegan ciuman ditengah lapangan basket itu, Barra memutuskan untuk mengantarkan Aleea pergi ke kampusnya, karena memang Aleea sudah hampir terlambat mengikuti jam mata kuliahnya.
Tak butuh waktu lama untuk pembalap seperti Barra, hanya dalam beberapa menit ia telah sampai dengan selamat di depan kampus Aleea.
"terimakasih telah mengantarkan ku"ucap Aleea sambil buru-buru turun dari motor sport Barra.
"hanya itu?"
"lalu? Maksudnya?" sejenak Aleea berusaha mencerna perkataan Barra
"Nih..." Barra menunjuk sebelah pipinya dengan jari telunjuk nya.
"isshhh...dasar mesum" Aleea mencebik pada Barra dan langsung memutar tubuhnya untuk berlalu pergi meninggalkan Barra tanpa memperdulikan permintaan Barra.
Barra hanya bisa menggeleng kan kepalanya menatap Aleea yang berlalu pergi sembari melambaikan tangan nya diudara tanpa menoleh pada Barra, ada senyuman tipis diwajah Barra, tipis sekali bahkan tak ada yang bisa menyadarinya.
Saat Barra hendak menancap gas motor nya, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sosok laki-laki dewasa yang memanggil Aleea sambil berjalan menuju tempat Aleea berdiri, laki-laki itu terlihat tampan dan berwibawa.
Maniknya menatap tajam laki-laki yang tak lain adalah dosen Mike, ia sedang menyapa Aleea, tangannya mengusap pucuk kepala Aleea dengan hangatnya, terdengar suara Aleea yang memanggil laki-laki itu dengan sebutan kakak.
Sontak saja Barra tak bisa meredam rasa ngilu dalam hatinya, entah perasaan apa itu, tapi rasanya sangat tidak nyaman. Rasanya Barra ingin menghampiri mereka dan menyingkirkan tangan laki-laki itu dari kepala Aleea, tapi mengapa Aleea sangat terlihat nyaman dan apa maksud dari panggilan kakak itu. Barra berusaha mengontrol dirinya untuk tetap tenang, seperti biasanya akan sangat mudah untuk tidak peduli pada apapun, namun kenapa kali ini rasanya sangat sulit.
Mungkinkah ini rasa cemburu.
Akhirnya Barra memutuskan untuk pergi menuju kampusnya saja, sedangkan Aleea pun masuk kelas bersama dosen Mike yang sangat ia dipuja-puja.
...----------------...
Setelah jam mata kuliahnya usai, Aleea berencana untuk mencari pekerjaan Part time, dia ditemani oleh Sindy ke sebuah kedai pizza milik teman Sindy, Aleea ingin melamar pekerjaan disitu.
drrrttt.... drrrttt.... drrrtt....
Ponsel Aleea berbunyi, ada nama cowok devil disana, siapa lagi kalo bukan telvon dari Barra. Aleea malas menjawab telepon itu, namun berkali-kali ponselnya tetap berbunyi.
"Hallo,ada apa?" jawab Aleea ketus
terdengar suara dingin diseberang sana, Barra memerintahkan Aleea untuk datang ke kampus nya dan membawakan berbagai makanan untuknya , Barra meminta ini dan itu banyak sekali ,
__ADS_1
"memang aku kantong Doraemon, bisa mengabulkan ini dan itu?" jawab Aleea sambil mendecih sebal.
sedangkan Seseorang yang mendengar itu dari sambungan telepon diseberang sana hanya tersenyum puas karena dirinya sangat senang mempermainkan gadis polos ini.
"Sin, sepertinya lain kali saja kita pergi ke kedai pizza nya, aku ada urusan mendadak!!" ucap Aleea pada Sindy seraya melambaikan tangannya dan pergi meninggal Sindy yang belum sempat bertanya ada apa, Aleea sudah menghilang masuk kedalam taksi yang telah menunggu dari tadi.
"pak tolong ke kampus milik Adikara grup ya" ucap Aleea pada sopir taksi yang ia tumpangi.
"baik nona"
Akhirnya taksi itu melaju membelah keramaian jalanan siang ini, sesekali Aleea meminta berhenti di beberapa kedai dan supermarket untuk membelikan beberapa makanan yang dipesan oleh Barra, yang menjadi tuannya dikala siang hari dan akan menjadi bossnya dimalam hari, sungguh nasib Aleea yang malang ditangan Barra.
Setelah sampai disebuah kampus terbesar dan ternama dikota X, yaitu kampus milik Adikara grup, yang tak lain adalah milik Ayah Barra. Saat tiba di halaman kampus, Aleea tampak kagum menatap bangunan kampus yang megah dan indah, ia berandai-andai jika dirinya kuliah dikampus ternama dan bergengsi ini.
Namun Aleea segera menyadarkan dirinya dari lamunan itu, dia tetap senang kuliah dikampusnya saat ini, karena disana ada pak Mike yang begitu tampan pikir nya.
Dengan menenteng kantung-kantung yang berisi makanan dikiri dan kanan tangannya Aleea mencari-cari dimana tempat taman belakang kampus yang ditunjukkan Barra saat Mereka bicara ditelevon tadi. kampus itu sangat besar, Aleea sungguh dibuat kuwalahan jika harus mengelilinginya, akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya pada beberapa mahasiswa yang Aleea temui.
Dengan susah payah Aleea akhirnya menemukan dimana Barra dan gengnya sedang berkumpul di sebuah taman dihalaman belakang kampus.
"bruukkkhh...Aleea jatuh tersungkur, saat hendak berjalan menuju tempat Barra. Rupanya Sebuah kaki telah sengaja menghalangi langkahnya.
Aleea menerima uluran tangan itu namun cowok itu tak benar-benar ingin menolongnya, dia menarik tangannya saat Aleea mengulurkan tangannya, akhirnya untuk yang kedua kalinya dia jatuh tersungkur.
Cowok itu tersenyum sinis, ia begitu puas mempermainkan Aleea, cowok itu tak lain adalah Zico, dia sengaja melakukan itu karena dirinya memang tertarik pada Aleea sejak ia melihat Aleea pertama kali di club malam itu.
"yaaak...kenapa kau? Sepertinya sengaja melakukan ini padaku?" tanya Aleea kesal
"jika memang iya, lalu bagaimana?" jawab Zico santai
"isshhh...kau harus minta maaf padaku"
"haruskah aku meminta maaf padamu?" Zico mendekat kepada Aleea, secara tiba-tiba ia menarik tangan Aleea dan mencengkeram pinggang kecil milik gadis itu.
"Maafkan aku" bisik Zico lembut pada telinga Aleea yang sudah berada dalam pelukannya.
Senang sekali Zico meladeni gadis polos ini, Zico memang sengaja menarik perhatian gadis ini, begitulah caranya mendekati Aleea, karena memang Zico sebelas dua belas dengan Barra, mereka sama-sama cowok dingin yang kadang gengsi untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan jujur, makanya mereka selalu menggunakan cara mereka sendiri untuk mengungkapkan dan menarik perhatian seseorang.
__ADS_1
Barra mendengar keributan diujung sana, dia sepertinya mendengar suara yang tak asing sedang berdebat diujung sana, ya suara Aleea, Barra hafal betul suara lembut itu, dia mencoba memeriksa kegaduhan itu.
Matanya seketika membulat dan amarahnya tersulut melihat Zico yang menarik paksa Aleea kedalam pelukannya.Barra berjalan menuju tempat Aleea dan Zico berdiri, derap langkahnya terdengar begitu cepat.
Tanpa aba-aba Barra menendang Zico hingga terpental
Brugghhh....
"ahhgg..." Aleea juga tersentak kaget dengan tindakan Barra
tanpa berkata apapun Barra langsung mencengkram erat Krah baju Zico, dia melayangkan tinjunya tepat diwajah Zico, begitupun Zico yang tidak terima ia pun membalas pukulan Barra, perkelahian diantara mereka tidak bisa ter elakkan, adegan saling tendang dan saling tinju pun terjadi, kini mereka telah sam-sama babak belur.
Keduanya sama-sama tersulut emosi, Barra yang terbakar oleh api cemburu dan Zico yang merasa dirinya diserang tanpa sebab, karena memang Zico tidak mengerti sama sekali tentang Barra dan Aleea. Jadi dirinya tidak merasa mengganggu milik siapapun.
"Sudah Barra hentikan!!" pinta Aleea dengan wajah yang begitu cemas. Ia menarik lengan Barra memisahkan keduanya yang tetap tak mau kalah satu sam lain.
Zico yang melihat itu seketika sadar jika ada sesuatu diantara mereka berdua, kenapa hatinya tiba-tiba merasa sakit memikirkan jika Barra dan gadis yang ia sukai memiliki hubungan.
Aleea menarik Barra pergi meninggalkan Zico,diikuti dengan anggota geng Barra, sedangkan Zico menatap nanar kepergian Aleea yang tampak sudah saling mengenal dekat dengan Barra, seketika ia lupa akan rasa sakit memar dan lebam ditubuhnya, diapun menolak bantuan dari anggota gengnya dan berlalu pergi dengan perasaan yang sangat jengkel dan marah. Kenapa harus Barra , kenapa semua hal yang dia inginkan selalu lebih dulu dimiliki oleh Barra.
...----------------...
Aleea tak habis pikir kenapa cowok devil ini Suka sekali membuat dirinya terkejut dengan semua tindakannya yang tak terduga. beberapa kali dia harus berkelahi karena dirinya.
"kenapa kau suka sekali berkelahi? Apa kau merasa sudah paling hebat? Apa kau pikir kau memiliki tujuh nyawa sekaligus?' geram Aleea dan terus mengomel sambil membersihkan luka diwajah Barra.
Barra yang menerima Omelan itu malah merasa bahagia, dia terus menatap Aleea yang kini wajahnya tepat dihadapannya, dia terus tersenyum seakan lupa dan tidak merasakan sakit sama sekali pada wajahnya yang sudah penuh dengan lebam dan bahkan ada darah yang mengucur di beberapa sudut wajahnya. Sungguh Aleea telah membuat Barra menjadi gila. hal itu juga yang dirasakan oleh anggota gengnya yang sedari tadi menatap adegan Aleea dan Barra Yang ada didepan mereka itu. Ketua Mereka sungguh menjadi gila karena cinta.
visual Barra yang babak belur
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan vote nya, terimakasih 🙏🙏
__ADS_1
Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam tutur bahasa dan typo yang belum sesuai, mari sama-sama belajar dengan saling mengingatkan 🙏🙏