
Tubuh kekar Zico ambruk menimpa Aleea, Aleea merasa bingung kenapa Zico tiba-tiba pingsan, dia mencoba memanggil-manggil Zico, berharap laki-laki itu membuka matanya dan tersadar, namun nihil, akhirnya Aleea berusaha mencari bantuan, beruntung ada mahasiswa yang melihatnya dan membantu Aleea membawa Zico ke klinik kampus.
Setelah beberapa waktu Zico diperiksa oleh dokter, Aleea merasa tak tega untuk meninggalkan Zico akhirnya dia menunggu sampai Zico sadarkan diri.
Hari sudah berganti malam, Aleea masih berada di klinik untuk menunggu Zico, ia tidak mungkin meninggalkan Zico sendiri, lagi pula dia tidak tau harus menghubungi siapa.
Zico membuka matanya perlahan, kepalanya masih sedikit terasa pusing dan berkunang-kunang, dia menatap gadis yang tertidur disamping bed pasien, muncul sebuah senyum tipis di sudut bibir Zico, ia mengamati wajah cantik Aleea yang begitu menawan hatinya.
Aleea terbangun ketika merasakan Zico mengusap rambutnya, melihat Aleea yang terbangun Zico buru-buru menyingkirkan tangannya,
"ahh...kamu sudah sadar?" tanya Aleea yang melihat Zico telah membuka matanya.
"iya, kenapa aku berada disini?"
"tadi kau tiba-tiba pingsan, kata dokter tekanan darah mu sangat rendah, kamu harus banyak istirahat "
"ohh..."jawab Zico singkat,
"aku sudah menebus resep obatmu, minum ini sesuai dengan petunjuk aturan yang tertera" kata Aleea pada Zico sembari menunjukkan obat diatas meja,
"he'em" jawab Zico yang masih pelit, sebenarnya Zico hanya merasa gugup berada didekat Aleea, dia berusaha menutupinya dengan bersikap acuh.
"sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku pamit dulu, beristirahatlah"
Zico merasa kecewa mendengar Aleea yang yang ingin pergi, sebenarnya Zico berharap Aleea tetap menemani dirinya, namun dia juga terlalu gengsi untuk meminta secara langsung.
Aleea berlalu pergi meninggalkan klinik, Zico hanya menatap punggung Aleea yang berlalu, begitu saja,
Saat Aleea berjalan disebuah koridor, dia terkejut Zico seperti memanggil dirinya. Aleea memutar tubuhnya melihat kebelakang, disana Zico sudah berjalan menuju kearahnya.
"astaga, apa yang kamu lakukan? Seharusnya kau tetap berada di tempat tidurmu dan beristirahat!!"
"aku sudah tidak apa-apa, aku ingin pulang" jawab Zico sambil terus melangkah menuju pintu keluar klinik
"dasar pembangkang" Aleea hanya menggerutu lirih dan mengikuti langkah Zico
Sebuah taksi online yang telah Aleea pesan beberapa waktu lalu,telah menunggu Aleea dihalaman klinik tersebut, saat Aleea masuk kedalam mobil tanpa permisi Zico pun ikut menyelonong masuk begitu saja,
"Kenapa kau mengikutiku, sebaiknya kau memesan taksimu sendiri" kata Aleea berusaha mengusir Zico
__ADS_1
"siapa yang mengikutimu? sepertinya kau sangat mengharapkan itu ya? Baiklah aku akan mengikuti mu, ayo jalan pak" kata Zico santai
"isshhh....kenapa kau menyebalkan sekali!!"
Zico hanya melirik Aleea dan tersenyum Smirk pada Aleea, sedangkan Aleea merasa sangat jengkel, meladeni Zico yang sikapnya hampir sebelas dua belas mirip dengan Barra.
"ah Barra" Aleea bergumam lirih, tiba-tiba Aleea teringat pada Barra, saat ini rasanya dia sangat merindukan Barra yang selalu bersikap seenaknya saja jika bersama dirinya, namun Aleea selalu menyukai itu, daripada sikap acuh yang Barra perlihatkan saat ini.
"huffftt..."Aleea mendesah membuang nafasnya berat, dia sungguh merindukan Barra.
Aleea dan Zico yang duduk dibangku penumpang hanya saling terdiam tanpa sepatah kata pun. Zico menatap Aleea yang terlihat lelah dengan wajahnya yang ditekuk.
"Dimana rumah mu? lebih baik aku mengantarkan mu pulang terlebih dahulu"
"ya, memang ini kan taksiku, sudah seharusnya aku yang diantarkan terlebih dahulu" jawab Aleea ketus tanpa melihat Zico sama sekali, maniknya terus menatap keluar jendela.
"Dasar kucing kecil"
"Apa kamu bilang?, berhenti berkata seperti itu kepadaku, asal kamu tahu ya aku ini adalah gadis terpopuler di kampus ku, bisa-bisanya kau mengatai aku seperti itu"
"ya..ya... terserah apa katamu"
"pak stop disini saja, aku akan turun disini" kata Aleea menghentikan sopir taksi itu.
"Apa rumahmu dijalanan? kenapa kau berhenti di sini?" Tanya Zico heran
"apakah aku harus menjawab pertanyaan mu?, aku sudah membayar taksinya, selamat tinggal, kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi" ucap Aleea sembari keluar dari taksi meninggalkan Zico.
"ishhh...dasar kucing kecil, justru setelah ini kupastikan kita akan sering bertemu" teriak Zico pada Aleea yang semakin terlihat jauh.
Taksi itu kembali melaju membelah jalanan malam itu, Zico sangat merasa penasaran akan kehidupan Aleea, "seharusnya dia dari kalangan orang-orang elit jika dia memang tinggal di kompleks kawasan elit tadi, tapi penampilannya terlihat begitu sederhana, bahkan dirinya juga pernah bekerja di sebuah club", pikir Zico dalam hati, ia semakin dibuat tertarik dengan gadis yang menurutnya misterius itu.
...****************...
Aleea masuk kedalam mansion, beberapa pelayan sudah setia menyambut kedatangannya, Aleea menanyakan Barra pada pelayan itu, namun Barra belum pulang ke mansion sama sekali sejak kepergiannya kemarin.
Aleea semakin sadar jika Barra sengaja menghindari nya.Dengan langkah gontai Aleea menaiki tangga menuju kamarnya, setelah sampai didepan kamar Barra Aleea berhenti sejenak,
"Mungkinkah karena aku yang tidak mau menjawab pertanyaan mu saat itu yang membuatmu menjauhi ku? maaf Barra, sebenarnya aku juga ingin sekali mengatakan jika aku juga sangat mencintaimu, tapi aku terlalu takut dengan diriku sendiri, aku takut jika aku akan melukai banyak orang" ucap Aleea dalam hati, lalu dia melangkah pergi menuju kamarnya. Dia lemparkan tubuhnya diatas kasur, Aleea tak pernah menyangka jika rasanya sesakit ini saat merindukan Barra, dia muak pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya, kenapa dia sampai tidak menyadari perasaannya yang ternyata sudah sangat dalam pada Barra, Aleea merasa begitu bodoh karena membiarkan dirinya jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak boleh ia cintai.
__ADS_1
Aleea meraih handphone nya yang berada diatas nakas, ia membuka beberapa chatnya dengan Barra yang masih tersimpan rapi dalam benda pipih itu, rasanya ingin sekali Aleea menelepon Barra, ingin sekedar mendengar suaranya yang sudah sejak kemarin tidak ia dengar, namun rasanya tidak mungkin ia menelepon Barra terlebih dahulu dia takut Barra masih marah padanya.
Aleea hanya bisa membaca berulang-ulang chat Barra dalam handphonenya untuk sekedar melepas rasa rindunya. Akhirnya Aleea pun tertidur setelah merasa kelelahan.
Ceklekk...
Seseorang membuka pintu kamar Aleea, dia adalah Barra, tak bisa dipungkiri jika Barra juga sangat tersiksa telah mengacuhkan Aleea, tapi ia melakukan itu hanya semata-mata ingin mengikuti permintaan Aleea yang tidak menginginkan adanya perasaan cinta diantara mereka, Barra ingin mencoba menjauh dari Aleea jika memang ini yang gadis itu inginkan, namun rasanya sangat sulit, ini sangat menyakitkan bagi Barra.
Perlahan Barra melangkah mendekati gadis yang beberapa hari ini sangat ia rindukan, dia menatap Aleea dalam, rasanya ingin sekali dia memeluk gadis dihadapannya ini, Barra hanya bisa menghela nafasnya, dia menahan keinginannya dan segera pergi keluar dari kamar Aleea.
Barra pergi meninggalkan mansion, meski jam sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari.Barra hanya ingin melihat wajah Aleea sebentar, dia tidak berniat untuk menginap lagi di mansion, mungkin dia akan pergi ke apartemennya saja.
Barra memacu motor sportnya dengan kecepatan tinggi, jalanan malam itu tampak sepi, pikiran Barra beberapa hari ini memang sedang kacau, dia tidak sedang baik-baik saja saat memutuskan untuk menjauhi Aleea, hatinya tidak bisa berbohong jika dirinya sangat mencintai Aleea.
Tanpa Barra sadari dia diikuti oleh segerombolan geng motor yang tak menyukai dirinya, karena Barra selalu memenangkan setiap pertandingan balap motor liar hal itu justru membuat dirinya memiliki banyak musuh, banyak geng motor yang tidak menyukai kemenangan Barra.
Segerombolan pemuda itu mengepung motor Barra, mereka ingin menyerang Barra, dengan cara mengeroyoknya, menyadari dirinya sudah dikepung Barra akhirnya menghentikan motornya, dia sama sekali tidak merasa takut jika harus melawan mereka seorang diri.
Barra membuka helmnya, dia menatap satu persatu anak-anak geng yang mengepung dirinya, Barra tersenyum smirk, dia sangat hafal betul dengan salah satu anak itu, dia adalah Kriss, Kriss memang merasa dendam dengan Barra setelah perkelahian mereka di Club dulu, dia bertengkar dengan Zico karena saat itu dirinya tidak berhasil membawa Aleea kepada Zico ("flashback on Bab 1"), akhirnya Kriss yang tidak terima disalahkan oleh Zico ia memutuskan untuk hengkang dari geng motor Zico dan membuat geng motornya sendiri.
"ternyata kau, antek dari pengecut jalanan itu!! Apa Zico yang menyuruh mu" ucap Barra sambil tersenyum menyeringai.
"Jangan sebut lagi namanya dihadapanku, aku tidak ada urusan lagi dengannya, semua ini karena kau, jadi urusanku hanya denganmu!!" Seru Kriss penuh dengan emosi.
"Ohh jadi kau sudah di buang olehnya" gumam Barra dengan senyuman mengejek.
Tanpa berbasa-basi sekelompok geng itu menyerang Barra, mereka memukul Barra namun Barra masih bisa melawan mereka dan melindungi dirinya, satu persatu anggota geng Kriss telah Barra buat terkapar oleh pukulannya, namun Barra tidak menyadari keberadaan Kriss yang ingin menghujamkan sebilah pisau tajam kepadanya,
Jleebb....Akhhh........
Barra meringis kesakitan mendapat serangan mendadak dari Kriss, dia tidak menyangka jika Kriss akan sejauh ini ingin mencelakai dirinya,
Tubuh Barra ambruk, dengan darah yang mengucur deras dari perutnya, matanya berkabut dan tiba-tiba merasa sangat berat, samar-samar Barra menatap Kriss berdiri dihadapannya dengan senyuman puas disudut bibirnya. Kriss pergi memacu motornya dan diikuti oleh seluruh anggota gengnya meninggalkan Barra yang terkapar tak berdaya dijalanan begitu saja.
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️💜
__ADS_1
Dukungan dari readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar bagi author untuk menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏🙏🙏♥️