Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 41. semua akan baik-baik saja


__ADS_3

Jarum jam terus berputar, detik demi detik terus terlewatkan, dibawah gelungan selimut tebalnya Aleea menggigil hebat, suhu tubuhnya sangat tinggi, jam sudah menunjukkan pukul 00:00, namun Aleea tidak merasa baik, tubuhnya semakin merasa kedinginan walau sudah berada dalam selimut yang tebal. Sepertinya Aleea demam karena tadi ia berdiri berjam-jam dalam dinginnya cuaca saat hujan deras.


Sedangkan Barra seperti merasakan apa yang dirasakan Aleea, ia juga belum bisa memejamkan matanya sama sekali, meski sudah beberapa kali mengubah posisi tidurnya ia tak kunjung bisa terlelap, akhirnya ia bangun dan berniat untuk minum, namun gelas diatas nakasnya terlihat kosong tak ada setetes air sama sekali. Dengan langkah gontai Barra berjalan keluar kamar, ia menuju dapur untuk mengisi gelasnya.


Saat Barra usai dari dapur dan hendak kembali menuju kamarnya ia tiba-tiba ingin melihat Aleea sebentar, dengan perlahan Barra membuka pintu kamar Aleea, Barra berjalan pelan karena tak ingin membuat Aleea terbangun. Namun Barra merasa aneh ketika melihat Aleea yang seperti menggigil kedinginan, Barra mencoba memeriksa suhu tubuh Aleea dengan mengusap kening gadis itu, betapa terkejutnya Barra saat merasakan suhu tubuh Aleea yang terasa panas, seketika Barra panik dan merasa sangat cemas, ia berusaha menelpon dokter pribadi keluarga Adikara group, namun tak juga terhubung, akhirnya Barra mencoba mencari obat penurun panas di kotak obat, namun ia tak mengerti sama sekali obat mana yang harus ia berikan pada Aleea,


Sementara Aleea terlihat semakin buruk, wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya terlihat kebiruan dan tubuhnya terus menggigil hebat, Barra merasa frustasi karena dia tak bisa melakukan apapun untuk menolong Aleea, akhirnya dia memiliki ide untuk searching di google, bagaiman cara merawat seseorang ketika sedang demam.


Setelah beberapa waktu Barra kembali mencari kotak obatnya tadi, dia mengambil obat penurun panas seperti yang ia ketahui dari google baru saja. Dengan perlahan Barra membangun Aleea dan memintanya untuk meminum obat yang ia bawa, Barra juga memberikan minuman hangat untuk Aleea, dalam keadaan setengah sadar Aleea menuruti apa yang Barra katakan, pandangan Aleea sudah berkabut, namun ia masih dapat melihat wajah Barra walau samar-samar, setelah meminum obatnya Barra merebahkan Aleea kembali, lalu Barra mencoba merawat Aleea dengan mengompresnya, ber ulang-ulang Barra mengganti air kompres nya, namun Aleea belum juga terlihat baik, ketika Barra akan melangkah turun dari tempat tidur untuk mengganti kembali air kompres nya, tiba-tiba Aleea menarik tangan Barra,


"dingin...dingin sekali", Ucap Aleea dengan suara bergetar , "peluk aku, aku sangat merasa kedinginan", Ucap nya lagi dengan suara yang lemah dan masih bergetar


Barra sangat merasa iba melihat kondisi Aleea yang seperti ini, akhirnya ia letakkan ember kompres nya diatas nakas, dia bergegas membuka pakaian atas Aleea dan pakaian nya sendiri, Barra masuk kedalam selimut dan memeluk Aleea dengan erat, dia berusaha menolong Aleea dengan cara metode skin to skin yaitu metode mentransfer panas melalui sentuhan kulit.


Merasakan sentuhan hangat dari Barra, tubuh Aleea seakan merespon dengan baik, Barra menempelkan tubuh Aleea kedalam dada bidangnya, dia merengkuh tubuh kecil Aleea tenggelam kedalam pelukannya, Barra berharap dengan sentuhannya ini dapat membuat suhu tubuh Aleea kembali normal, setidaknya dapat membuat Aleea merasa sedikit hangat dan berhenti menggigil.


Awalnya Aleea masih terus menggigil meski sudah dalam dekapan Barra, namun perlahan Aleea merasa lebih baik, tubuhnya merasa sedikit hangat oleh pelukan Barra, sedikit demi sedikit Aleea mulai berhenti menggigil, tampaknya Aleea mulai bisa terlelap, mungkin juga karena pengaruh obat yang Barra berikan tadi.


Sesekali Barra mengecup pucuk kepala Aleea yang sudah terlelap dalam dekapannya, Barra dapat merasakan tubuh Aleea yang mulai berkeringat setelah hampir semalaman ia merawat gadis pujaannya itu. Barra sudah dapat sedikit merasa lega, tampaknya kini


Aleea sudah lebih baik, hampir semalaman Barra merawat Aleea, jam pun sudah menunjukkan pukul 04:00 pagi, tanpa ia sadari Barra juga ikut terlelap sambil terus memeluk Aleea dalam dekapannya.


...----------------...


Matahari sudah kembali hadir saat rembulan telah pergi, pagi ini terlihat cerah setelah semalam hujan turun dengan sangat lebat, sebuah mobil mewah berhenti didepan pelataran mansion Adika group, rupanya Pak Genta dan Bu Sarah telah kembali dari Paris, dengan wajah yang tampak berseri Bu Sarah turun dari mobil mewah itu, dengan mesra pak Genta menggandeng tangan istrinya, tampaknya mereka telah melalui saat-saat yang indah ketika berbulan madu di Paris.


Pasangan suami istri itu disambut oleh beberapa pelayan, mereka masuk kedalam mansion dengan penuh senyuman, beberapa hari di luar negeri membuat Bu Sarah sangat merindukan Aleea, ia ingin segera menemui Aleea dan memberikan kejutan dengan kedatangannya yang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, Bu Sarah juga yakin jika Aleea juga sangat merindukannya.


"Mas aku kekamar Aleea dulu ya, aku tidak sabar melihat wajah nya yang terkejut ketika melihat mamanya yang pasti dia rindukan ini sudah pulang", ucap Bu Sarah sambil melenggang naik ke lantai atas meninggalkan pak Genta yang tengah menikmati sarapannya di meja makan .


"mungkin dia masih tidur sayang, biarkan dulu, nanti saja", sahut Pak Genta sembari terus melahap sarapannya


"aku sudah gak sabar mas, aku juga kangen banget sama putriku itu, biarkan aku membangunkannya dan mengejutkan dia", ucap Bu Sarah sambil tersenyum dan menaiki anak tangga satu persatu. Sedangkan pak Genta menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya, dia sudah pasrah.


Setibanya didepan pintu kamar Aleea, Bu Sarah bergegas membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam kamar itu begitu saja, dengan riang ia sudah bersiap mengejutkan putri kesayangannya itu.


"surprise.... pagi sayang...mama sudah pula.......,- Deghhh......


Tiba-tiba ucapan Bu Sarah terpotong begitu saja, jantungnya berdesir dan terasa sangat ngilu ketika melihat pemandangan diatas ranjang putrinya.


Bu Sarah sangat marah melihat Barra dan Aleea yang tampak terlelap diatas satu ranjang, dalam gelungan selimut yang sama, bahkan mereka tampak tak mengenakan pakaiannya dan saling memeluk mesra, seketika darah wanita paruh baya itu seperti mendidih, dengan nada yang penuh kemarahan dan ber api-api Bu Sarah berteriak memanggil nama kedua anaknya yang masih terlelap didepannya itu.

__ADS_1


"Aleeeeea...


"Barraaaaa......


Seketika keduanya sama-sama terbangun, dan terkejut dengan kedatangan Ibunya yang tiba-tiba. Barra dan Aleea seketika turun dari ranjangnya, namun Aleea terkejut ia baru menyadari jika pakaian bagian atasnya terlepas dan hanya terlihat kain berbentuk angka delapan yang menutupi bagian dadanya, namun Barra yang semula juga terkejut dia segera menenangkan dirinya, ia segera menarik selimut dan menggunakan nya untuk menutupi tubuh Aleea, Bu Sarah semakin tercengang melihat sikap Barra terlihat tenang dihadapannya. "Berani-beraninya anak ini bersikap seperti itu kepada adik tirinya" pikir Bu Sarah


"duduklah, kondisimu belum cukup baik, biar aku yang bicara kepada bibi", ucap Barra lembut kepada Aleea sembari menuntun Aleea kembali duduk diatas ranjangnya.


Setelah itu Barra mengambil pakaian yang ia kenakan semalam dan memakainya kembali, Bu Sarah semakin merasa marah dengan sikap Kedua anaknya ini, mereka seolah tak merasa bersalah sama sekali.


"Barra...Aleea... Apa-apaan ini, apa yang kalian lakukan dikamar ini?? Apakah kalian sudah kehilangan akal??", Dengan suara bergetar menahan emosinya dan matanya yang tampak ber api-api Bu Sarah seolah ingin meminta penjelasan dari kedua anaknya.


"Ma...,- dengan suara lemas Aleea ingin berusaha menjelaskan, namun Barra mengisyaratkan padanya untuk diam.


Barra menggelengkan kepalanya dan menatap sendu pada Aleea, dia tak ingin Aleea terkena masalah karena hal ini, Barra akan mengutarakan semuanya dan berkata jujur kepada Ayah dan Ibu tirinya nanti.


"Bibi...lebih baik kita bicara diluar saja, semalam Aleea demam tinggi, biarkan dia istirahat, aku akan menjelaskan semuanya pada bibi dan Papa", ucap Barra dengan ekspresi memohon.


"baik, aku tunggu dibawah, keluar dari kamar adikmu, tidak sepantasnya kamu berada disini", ucap Bu Sarah dengan nada sinis jauh dari sifat hangatnya selama ini. Wanita paruh baya itu pergi begitu saja meninggalkan kamar Aleea dengan perasaan terkejut bercampur marah, bahkan ia sudah tidak menghiraukan Aleea yang terlihat pucat.


Setelah Bu Sarah keluar dari kamar Aleea, Barra bergegas mengikuti langkah ibu tirinya itu keluar namun Aleea menghentikannya,


"tunggu....


"kamu tenang saja baby, sudah saatnya mereka tahu, aku akan mengurusnya, percayalah hmmm... ??", Aleea hanya mengangguk ragu sambil menatap dalam mata Barra. Seolah Aleea tahu jika Barra juga menyimpan perasaan yang sama dengan dirinya. Takut dan cemas.


"Kamu baik-baik saja disini dan istirahat lah, apa kamu tidak tahu semalam aku berubah jadi dokter yang mahir karena mu??", ucap Barra lembut dengan sedikit nada bercanda, ia ingin Aleea merasa tenang dan tidak cemas.


Aleea hanya tersenyum tipis mendengar Barra yang masih bisa menggodanya dalam keadaan seperti ini.


"semua akan baik-baik saja, beristirahatlah", Ucap Barra sambil mengecup pucuk kepala Aleea. "aku akan menelepon dokter, aku pergi dulu baby" Barra tersenyum sembari berlalu begitu saja dan menghilang di balik pintu.


Aleea hanya tersenyum tipis dan menatap nanar kepergian Barra, ia merasa jika ini adalah kali terakhirnya melihat Barra, entah perasaan menakutkan seperti apa yang Aleea rasakan saat ini, tapi ia sangat takut.


...----------------...


Sementara itu Bu Sarah sudah mengatakan semua yang dia lihat dikamar Aleea pada Pak Genta, Pak Genta awalnya sangat marah , namun ia berusaha tetap tenang dan ingin mendengar penjelasan langsung dari putranya.


Setelah menelepon dokter untuk datang memeriksa Aleea, Barra turun dari tangga, ia sudah melihat kedua orangtuanya menatapnya dengan tatapan tajam mereka.


Barra berjalan menuju ruang keluarga dimana pak Genta dan Bu Sarah menuggu untuk mendengarkan penjelasan darinya.

__ADS_1


Dengan tenang Barra merebahkan tubuhnya disofa dan menyandarkan kepalanya begitu saja "hahh....apa bulan madu papa dan bibi menyenangkan??" tanya Barra santai


"Barra, jangan basa-basi, papa sudah mendengar semuanya dari ibu mu" Bentak pak Genta pada Barra yang masih bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"dia bukan ibu ku pak tua, dia hanya ku anggap sebagai bibi ku" ucap Barra yang masih dengan nada santai


Sedangkan Bu Sarah hanya menatap tingkah Barra yang terlihat begitu tenang, seolah tak memiliki kecemasan sama sekali.


"benar aku memang bukan ibu yang melahirkan kan mu, tapi kini aku telah menjadi ibu tirimu, berarti anakku adalah adikmu, walau kalian tak memiliki ikatan darah tolong jangan berbuat sesukamu padanya, setidaknya hormati aku sebagai bibimu", ucap Bu Sarah yang mulai terdengar bergetar karena menahan airmata nya.


"Bibi, aku sangat menghormati mu sejak pertama kali kita bertemu, bahkan aku bisa merasakan ketulusan mu padaku, berkat mu aku juga bisa merasakan kasih sayang sosok seorang ibu yang hampir aku lupakan bagaiman rasanya", ucap Barra yang mulai terdengar serius


"jika benar seperti itu, apa yang kalian lakukan dikamar Aleea?? Ini semua tidak benar", ucap Bu Sarah yang tangisnya mulai pecah.


"maaf bibi, jika bibi berfikir aku melakukan hal yang kotor pada Aleea bibi salah, tapi jika bibi berpikir aku mencintai Aleea, itu benar, sangat benar, aku mencinta Aleea Khumairah jauh sebelum aku tahu jika bibi adalah calon ibu tiri ku", Ucap Barra mantap tanpa ada keraguan sama sekali.


"Lancang kamu....", plakkkk....


Sebuah tamparan tiba-tiba pak Genta layangkan pada Barra, ini adalah kali pertama Barra menerima pukulan dari ayahnya, sejak dari kecil walau sebandel apapun dirinya, ayahnya tak pernah sedikitpun memukul nya.


Barra mengusap lembut bekas tamparan Ayah nya dan tersenyum smirk, sambil menatap ayahnya yang sudah tampak ber api-api menatapnya.


"silahkan pak tua, lakukan semaumu, pukul aku, tampar aku, lakukan sepuasmu, aku tidak akan berhenti mencintai adik tiriku itu", sahut Barra dengan nada tak bersalah sama sekali, memang dari awal Barra tak pernah sama sekali berpikir jika cintanya pada Aleea adalah sebuah kesalahan, dia selalu menganggap Aleea adalah hadiah dari Tuhan untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik.


"anak tak tau diri....", teriak pak Genta sembari mencengkram krah baju anak laki-lakinya itu, namun Bu Sarah segera menghentikan langkah suaminya, ia tak ingin Barra terluka karena kemarahannya.


"Hentikan mas, jangan begini, dengarkan dia bicara dulu", pinta Bu Sarah menghentikan niat pak Genta yang ingin memukul Barra.


" Tak ada yang perlu ku jelaskan lagi bibi, aku sudah cukup banyak bicara, ku katakan sekali lagi, aku mencintai Aleea jauh sebelum aku tahu jika papa dan bibi akan menikah, kami saling mencintai bibi, Aleea dan aku saling mencintai, bagaimana bisa kita menolak perasaan yang datang begitu saja??",


"cinta bukan sesuatu yang bisa diatur bibi, cinta tidak bisa dengan mudah dihadirkan, cinta juga tak semudah itu untuk dihapuskan, semuanya terjadi begitu saja, bukan kami yang mengendalikan, jangan buat Aleea tertekan dengan kemarahan bibi, dia semalam demam tinggi, dan tubuhnya menggigil hebat, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk melindungi gadis yang aku cintai, maaf kan aku jika aku telah melukai perasaan bibi", ucap Barra panjang lebar penuh ketulusan, Bu Sarah dan pak Genta hanya tertegun mendengar penuturan Barra yang terlihat benar-benar tulus mencintai Aleea, mereka masih mematung saat Barra berlalu pergi meninggalkan ruang keluarga itu.


"ternyata cinta telah benar-benar mengubah anak begundal itu", gumam pak Genta lirih sembari maniknya menatap Barra yang berlalu menaiki anak tangga.


Begitupun Bu Sarah yang menatap nanar kepergian Barra, ia seperti tertampar dengan ucapan Barra, betapa dirinya dibutakan oleh keegoisan nya, sampai-sampai tak bisa melihat cinta yang begitu besar antara kedua anaknya, jika ia sadar sejak awal dan tak menikah dengan suaminya, mungkin keadaan nya tak akan menjadi serumit ini.


Bersambung


Happy reading 😍


Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️

__ADS_1


"selalu jaga kesehatan kalian dicuaca yang panas seperti ini"💜


__ADS_2