
Sudah beberapa hari berlalu sejak Barra mengalami kecelakaan, lukanya berangsur membaik, setiap hari Aleea pergi kerumah sakit untuk menjenguk Barra. Hari ini Barra sudah diizinkan pulang kerumah.
Aleea menemani dan membantu Barra untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit, hari ini pak Genta tidak bisa menjemput Barra dirumah sakit, karena dia disibukkan dengan acara pernikahannya yang akan digelar besok.
Aleea merasa lega karena hari ini Barra sudah diizinkan pulang dan beristirahat dirumah untuk masa pemulihan, namun dia juga menyimpan kekhawatiran yang begitu besar dalam hatinya, karena besok ibunya dan ayah Barra akan menikah dan resmi menjadi sepasang suami istri. Tapi justru dirinya dan Barra yang seharusnya juga resmi menjadi saudara, malah menjalin hubungan sebagai kekasih, ada ketakutan yang Aleea simpan, namun dia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya yang begitu besar pada Barra, sekeras apapun dia berusaha Aleea tetap tidak mampu menghapus Barra dalam hatinya.
Aleea mendesah, dia membuang nafasnya berat, rasanya dia benar-benar terjebak dalam situasi yang sangat sulit, sambil membantu Barra mempersiapkan diri untuk pulang kerumah, Aleea terus melamun dalam dunianya sendiri, dia benar-benar merasa sangat frustasi, dia tidak menemukan jalan keluar sama sekali dari masalah yang ia hadapi ini.
Barra menatap Aleea yang sedari tadi terlihat melamun, ia tahu jika pikiran Aleea sedang kacau karena pernikahan orang tua mereka besok. Sebenarnya Barra juga merasakan hal yang sama dengan Aleea, namun dia tidak ingin menunjukkan hal itu pada Aleea, dia tidak ingin membuat Aleea merasa ragu, ia ingin terlihat yakin akan hubungan mereka, dan akan secepatnya menemukan jalan keluarnya.Walau saat ini Barra juga belum memiliki jalan keluar yang terbaik agar hubungannya dengan Aleea bisa mendapatkan restu dari semua orang terutama kedua orang tua mereka.
"Baby...."sapaan lembut Barra membuyarkan lamunan Aleea
"iyaa..." sahut Aleea juga tak kalah lembut "apa kamu butuh sesuatu?" tanya Aleea pada Barra yang terlihat masih sedikit pucat, namun sama sekali tak memudarkan kerupawanannya, jari-jari Aleea mengusap lembut pipi Barra, dia sudah semakin berani menunjukkan perhatiannya pada cowok yang ia juluki cowok devil itu.
Barra memegang lembut tangan Aleea yang mengusap pipinya, lalu mengecup singkat punggung tangan Aleea, seolah dia ingin meyakinkan Aleea, untuk tidak goyah pada keputusannya.
"jangan biarkan keraguan menggoyahkan mu" ucap Barra lirih "lihat aku, tatap mataku baby" pinta Barra pada Aleea , "apa kau melihat keraguan dalam mataku?" tanya Barra
Aleea menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak melihat keraguan dalam mata Barra, tatapan Barra selalu menunjukkan keyakinan akan cintanya yang begitu besar kepadanya. "aku percaya padamu, lebih dari pada diriku sendiri" ucap Aleea yakin
"yakinlah dan jangan pernah berpikir untuk menyerah, aku pasti akan membuka seluruh pintu yang tidak bisa kau buka didunia ini, kita akan melewatinya bersama" ucap Barra meyakinkan Aleea,
Aleea menganggukkan kepalanya, seketika Barra meraih pinggang ramping Aleea dan mendekap Aleea kedalam pelukannya.
"ayo kita pulang, kakakmu ini sudah bosan makan bubur dari rumah sakit ini" kata Barra mengubah topik, Aleea tergelak mendengar perkataan Barra.
Akhirnya Barra dan Aleea pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke mansion milik Ayah Barra, sesampainya di mansion seperti biasa para pelayan sudah siap menyambut kedatangan mereka, namun kali ini ada yang berbeda, disana juga terlihat pak Genta dan Bu Sarah yang sudah tampak bahagia menyambut kedatangan Barra dan Aleea.
"apa kamu baik, akhirnya jagoan ayah sudah sembuh" sambut pak Genta pada Barra yang berjalan kearahnya,
"heem" jawab Barra singkat, ia tak pernah berubah dengan sikap dinginnya jika berhadapan dengan ayah nya.
"apa kamu ingin makan sesuatu? Bibi bisa memasakkan sesuatu untukmu?" tanya Bu Sarah menawarkan diri
"boleh saja bibi, aku sudah sangat muak dengan bubur dirumah sakit itu"
Seketika pak Genta dan Bu Sarah dibuat tertawa oleh jawaban jujur Barra, begitupun juga Aleea yang tampak tersenyum disamping Barra.
__ADS_1
"baiklah, bibi akan memasakkan makanan yang spesial buat kamu, ayo Aleea bantu mama di dapur, kita buatkan kakak mu ini menu andalan kita" ajak Bu Sarah pada Aleea, ia sengaja menyebut Barra sebagai kakak Aleea untuk memastikan respon kedua anaknya itu.Namun kelihatannya respon mereka biasa saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan pikir Bu Sarah.
...----------------...
Sementara dibasecamp milik geng motor Barra, Bagas sudah mengetahui siapa yang mencelakai Barra, Bagas akan segera membuat perhitungan dengan Kriss dan gengnya. Dia tidak akan tinggal diam setelah mereka membuat Barra hampir kehilangan nyawanya.
Dia dan teman-temannya akan membalas perbuatan mereka malam ini,
Deru mesin motor terdengar meraung-raung disebuah gedung yang terbengkalai dipinggiran kota, Bagas dan seluruh anggota gengnya menyerbu basecamp tempat Kriss dan gengnya yang tidak seberapa itu berkumpul, Bagas sengaja mendatangi Kriss dan gengnya untuk membalas perbuatan mereka tempo hari.
Kriss sama sekali tak merasa takut saat melihat Bagas dan gengnya mendatangi basecamp nya, dia akan senang hati meladeni Bagas dan gengnya.
"ohhh....ada tamu tak diundang rupanya" sapa Kriss menyambut kedatangan Bagas sambil tersenyum menyeringai "sepertinya ada yang kurang, dimana boss kalian yang pengecut itu, atau jangan-jangan dia sudah pergi keneraka?" gumam Kriss yang memancing emosi Bagas sambil dibarengi gelak tawa mengejek dari anggota gengnya.
"tutup mulutmu, dasar bedebah" teriak Bagas kesal.
Tanpa berpikir panjang akhirnya kedua anggota geng motor itu saling memukul dan menendang tanpa ampun, Bagas menghajar Kriss dengan brutal, dia membuat Kriss tersungkur tak berdaya, begitupun juga dengan anggota geng Kriss yang tak satupun dari mereka luput dari amukan Bagas dan anggota gengnya, mungkin seluruh tulang mereka dibuat patah oleh Bagas dan gengnya, karena mereka akan membalas lebih kejam pada siapapun yang berani mengusik teman-temannya. Apalagi yang mereka usik adalah Barra, yang sudah dianggap sebagai kakak bahkan ayah oleh semua anggota geng.,
Setelah Kriss dan gengnya tak berdaya, Bagas menekankan pada Kriss agar tak kembali mengusik gengnya,
"ini peringatan terakhir buat kalian, jika kalian berani sedikit saja mengusik salah satu dari kami, maka jangan berharap kata ampun dari kami, bahkan dengan kekuasaannya Barra akan menarik seluruh sahamnya dari perusahaan-perusahaan milik ayah kalian, dia bisa dengan sangat mudah untuk membuat kalian jatuh miskin dan menjadi gelandangan dalam sekejap, kalian mengerti!!!!" teriak Bagas dengan nada penuh emosi dan penekanan memberi peringatan kepada Kriss dan kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya.
...--------------...
Keesokan harinya disebuah ballroom hotel bintang lima, sebuah pesta pernikahan digelar dengan megah dan mewah. Ballroom hotel itu disulap dengan dekorasi yang begitu mewah, bunga-bunga segar tampak berjajar dengan indahnya menghiasi setiap sudut ruangan, lampu-lampu bak sebuah kristal juga tak ketinggalan memancarkan cahayanya, menambahkan kesan mewah bak disebuah istana, Kedua mempelai yang duduk dengan anggun disebuah pelaminan besar dan megah menjadi pusat perhatian dari seluruh tamu undangan. Pak Genta tampak gagah dengan stelan jas berwarna putih, diusianya yang sudah mencapai setengah abad tak memudarkan pesonanya, begitu juga Bu Sarah dengan gaun putih yang bertabur berlian Swarovski tampak cantik dan anggun diusianya yang juga tak lagi muda.
Barra yang berdiri disudut ruangan merasa iri menatap Ayahnya yang berdiri diatas pelaminan, dia jadi membayangkan jika Aleea yang memakai gaun pengantin itu pasti akan sangat terlihat cantik dan mempesona dan dirinya yang akan terlihat gagah dengan setelan jas pengantin itu.
Aleea membuyarkan lamunan Barra, gadis itu tahu persis dengan apa yang dipikirkan Barra.
"hayoo...pasti kamu iri melihat mereka berdua" gumam Aleea menggoda Barra.
"aigo...apa kamu tidak memiliki perasaan itu?hmmm..."
"tentu saja, mereka tampak serasi dan bahagia berdiri disana" maniknya menatap kearah kedua orangtuanya yang berada di pelaminan dengan tatapan sendu, dia merasa sangat bersalah pada kedua orang tua itu, dihari pernikahan orangtuanya yang seharusnya menjadi hari bahagianya justru dia merasa sedih dan takut, Aleea merasa telah mengkhianati kedua orang tua yang duduk diatas pelaminan itu.
Barra paham betul akan arti tatapan sendu Aleea, dia mengusap lembut punggung Aleea, "jangan merasa bersalah, karena cinta diantara kita bukanlah sebuah dosa atau pengkhianatan, tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua sudah memiliki takdirnya sendiri" Ucap Barra lembut, dia tidak ingin Aleea tersiksa dengan perasaannya sendiri, dia ingin cintanya pada Aleea akan memberikan kebahagiaan bukan kesakitan.
__ADS_1
Aleea hanya tersenyum menatap Barra, setiap kata-kata Barra memang selalu bisa membuat dirinya merasa tenang.
Sejenak keduanya saling menatap dalam, seolah saling bertukar energi untuk saling menguatkan satu sama lain.
Sedangkan Barra dibuat terpesona dengan penampilan Aleea yang terlihat sangat cantik hari ini, gaun putih dengan belahan V di bagian dadanya memberikan kesan seksi dan dewasa pada Aleea.
Perlahan Barra mendekat dan berbisik tepat ditelinga Aleea "Kau terlihat sangat seksi , malam ini, membuatku ingin menelanmu", Bisikan menggoda Barra seketika membuat Aleea tersipu.
"jangan macam-macam, hari ini aku sudah resmi menjadi adikmu, apa kau pernah mendengar seorang kakak yang ingin menelan adiknya?" sahut Aleea yang ingin membalas godaan Barra, namun tampaknya Aleea akan termakan oleh perkataannya sendiri saat berhadapan dengan Barra si cowok devil ini.
"benar juga, sepertinya aku belum pernah mendengarnya, apa kau ingin mendengarnya juga malam ini, aku akan membuat mu mendengarkan seorang kakak yang sedang menelan adiknya" sahut Barra disertai tatapan dan senyuman mautnya itu.
Aleea seketika dibuat merinding melihatnya, perasaannya tiba-tiba merasa tidak enak, dia pikir sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya,
tapi hatinya justru mengatakan perasaan yang berbeda, jantungnya berdebar sangat kencang, debaran itu selalu membuatnya kehilangan akal.
Barra menarik tangan Aleea pergi meninggalkan ballroom hotel, dan masuk kesebuah kamar yang sudah dihias bak sebuah kamar pengantin, dengan taburan kelopak mawar yang berbentuk hati diatas seprei putih,
Aleea merasa terkejut melihat hiasan kamar itu, ia mengira itu adalah kamar pengantin milik orang tua nya.
"Barra, apa kau sudah tidak waras? Ini kamar untuk pengantin, ayo kita keluar dari sini",
Barra malah mengunci pintu kamar itu, dia berjalan mendekat pada Aleea "iya baby, ini memang kamar pengantin untuk kakak yang ingin menelan adiknya" Bisik Barra dengan tatapan nakalnya, Dia terus mendekat pada Aleea, sehingga Aleea yang berjalan mundur tubuhnya menabrak tempat tidur dan terduduk, Barra segera merebahkan tubuh Aleea pada tempat tidur yang sudah dipenuhi dengan kelopak bunga mawar itu dan menguncinya dengan tubuh kekarnya.
Tatapan Barra sungguh nakal, dia menatap lekat wajah cantik Aleea, membelai lembut rambut Aleea, mengusap pipi mulus Aleea dengan jari-jarinya, sedangkan Aleea yang tak bisa menenangkan dirinya, jantungnya berdebar kencang, nafasnya naik dan turun membuat kedua bukit kembarnya ikut naik turun berirama, tatapan Barra yang semula terfokus pada bibir tipis Aleea yang begitu sensual kini turun pada kedua buah dada yang bergerak naik turun seolah memanggil dirinya untuk segera menjamahnya.
Barra tersenyum menatap Aleea yang tampak tidak memberikan perlawanan dan justru terlihat pasrah menunggu sentuhan dari Barra. Perlahan tapi pasti Barra mengecup lembut bib*r tipis itu dengan penuh gairah, kerinduan yang selama ini ia pendam saat bersikap acuh pada Aleea nampaknya akan Barra luapkan malam ini, Barra menggigit bibir bawah Aleea dan itu membuat Aleea membuka mulutnya, dengan leluasa Barra dapat melum*at dan mengul*m lidah Aleea, keduanya kini terhanyut dalam ciuman yang awalnya lembut namun perlahan berubah menjadi penuh gairah dan panas, keduanya saling menggigit, melum*at , dan menyes*ap serta saling bertukar saliva. Sungguh rasanya sangat manis dan begitu memabukkan.
Kedua tangan Aleea merengkuh tengkuk Barra dengan kuat seolah ia tak membiarkan Barra mengakhiri ciumannya.
Merasakan sambutan hangat Aleea, tanpa melepas pagutannya, tangan Barra semakin tak sungkan meraba belahan yang berada di dada Aleea, perlahan tangannya meremas kedua buah d*da yang sangat kenyal dan menggoda itu, ini kedua kalinya bagi Barra menjamah kedua gundukan daging yang begitu membuatnya mabuk dan kehilangan akal. Kabut gairah kini sudah memenuhi tatapan pria devil ini.
Bersambung
happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️ dukungan dari readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar untuk author menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏
__ADS_1
Mohon maaf jika masih terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan dan typo yang tidak tepat, mari kita sama-sama belajar dengan saling mengingatkan 🙏♥️💜