
Cahaya jingga-kuning berpendar diatas sana, dalam gelapnya langit malam, sesekali berkedip menyapa siapa saja yang tengah menatapnya, Barra mendongakkan kepalanya ke langit, maniknya menatap hamparan bintang yang bertebaran diatas sana.
Asap rokok mengepul, meliuk keatas lalu hanyut terbawa angin, cahaya jingga menyala, saat rokok dihisap, dan muncul kepulan asap kembali.
Sebuah mobil berwarna hitam keluaran Mercedez Benz berhenti didepan pintu gerbang mansion, Mike keluar dari mobil itu dan berlari kecil membuka pintu untuk Aleea, semua terlihat sangat jelas dari atas balkon, Barra menatap Aleea yang tampak tersenyum menyambut Mike yang membukakan pintu untuknya, terlihat Mike berpamitan pada Aleea, cium pipi kiri dan kanan, Aleea melambaikan tangannya pada Mike yang kini sudah melaju bersama mobilnya meninggalkan mansion.
Barra sama sekali tidak menyukai pemandangan yang baru saja ia lihat dibawah sana, hatinya terasa ngilu, ia jatuhkan puntung rokok dilantai lalu menginjaknya, dengan malas Barra menyeret kakinya masuk kedalam kamar, dia lemparkan tubuhnya ke atas kasur.
Pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan tentang bagaimana perasaan Aleea pada dirinya, kenapa gadis itu tetap keras kepala membohongi dirinya sendiri tentang perasaannya, atau memang Aleea benar-benar tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.
Barra mendesah frustasi, dirinya merasa putus asa.
Sementara Aleea yang sudah masuk kedalam mansion, dia menaiki tangga menuju kamarnya, hari ini terasa sangat melelahkan namun juga hari yang melegakan bagi Aleea, akhirnya dia dan Mike telah sepakat untuk menjalani hubungannya sebagai teman baik saja.
Ceklekk....
Saat Aleea sampai didepan pintu kamarnya ia bertemu Barra yang tengah keluar dari kamarnya, Aleea bermaksud ingin menyapa Barra, namun Barra berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Aleea sama sekali, Barra terlihat dingin dan acuh, tidak seperti biasanya.
Aleea menatap Barra yang berlalu begitu saja saat melewati dirinya, kenapa hatinya sangat kecewa melihat sikap Barra yang seperti ini, tanpa ia sadari Aleea merindukan wajah Barra yang selalu menggodanya.
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 00:00. Deru suara mesin motor masih meraung-raung disebuah jalanan yang terletak dipinggiran kota.
Barra memacu mesin motornya dengan kecepatan tinggi, ia melesat bak roket yang menembus angkasa, satu persatu peserta yang ada diarena balap itu telah Barra lewati dengan sangat mudah, maniknya menatap tajam kedepan,seolah Barra tengah berada dalam dunianya sendiri, pikirannya melayang entah kemana, suara sorak-sorai terdengar begitu mesin motornya terhenti digaris finish.
Bagas yang selalu setia menyambut Barra digaris finish, dia segera menghampiri Barra dan memberikan satu botol air minum untuk sahabatnya itu. Barra membuka helmnya dan meneguk air minum ditangannya.
"Barr, ini hadiah Lo" kata Bagas sambil memberikan segepok uang dalam amplop coklat.
"Kita ke Club, ajak anak-anak" sahut Barra datar sembari memacu motornya pergi meninggalkan arena balap.
Bagas dan teman-teman satu geng nya mengikuti Barra, mereka menuju sebuah Club terbesar di kota itu, seperti biasa mereka akan merayakan kemenangan Barra dengan berpesta di Club.
Setibanya di Club, Barra meminta minuman beralkohol yang berkadar tinggi, ia bermaksud ingin minum sampai mabuk dan melupakan masalahnya dalam sekejap.
Beberapa botol telah Barra habiskan hanya dalam waktu kurang 1 jam, namun itu tak kunjung membuat Barra merasa puas, ia ingin minum lagi dan lagi.
__ADS_1
Bagas menghampiri Barra yang sudah mulai terlihat kacau, dia merebut minuman yang berada ditangan Barra.
"stop Bar, cukup, Lo udah mabuk" kata Bagas sembari merebut gelas dalam genggaman Barra.
"Hei kau, berani-beraninya, kembalikan minumanku" kata Barra dengan nada yang khas orang mabuk, Barra merasa jengkel dengan Bagas karena telah mengganggu dirinya.Barra berusaha meminta minumannya kembali.
"Cukup, kau sudah terlalu banyak minum, itu tidak baik untukmu" ucap Bagas mengingatkan.
"Hei, ini sangat baik untukku, hanya minuman ini yang bisa membuatku baik" jawab Barra merengek, dia sudah berada dalam pengaruh minuman keras.
"haiss...kau sudah sangat mabuk, sebaiknya kita pulang" ajak Bagas sembari memapah tubuh Barra yang sudah tidak bisa berjalan.
"tolong berikan lagi minumanku, apa kau sudah bosan hidup? Hah...??"
"justru kau yang sudah bosan hidup, kau minum dengan sangat buruk, ayo kita pulang ke basecamp saja" tanpa memperdulikan Barra yang terus merancu Bagas membawa Barra pulang ke basecamp.
...----------------...
Pagi kembali menyapa, memaksa orang-orang yang tengah terlelap, untuk kembali dengan segudang pekerjaan mereka yang sudah menanti. Aleea pun dengan penuh semangat keluar dari kamarnya, dia sudah siap untuk berangkat ke kampus.
Saat melewati kamar Barra Aleea berhenti sejenak, dan kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan.
"Nona, apa nona sedang menunggu tuan Barra?" tanya seorang pelayan pada Aleea.
"iya, apa dia sudah sarapan"
"semalam tuan Barra tidak pulang ke mansion nona, mungkin tuan menginap di apartemennya"
"ohh..." Aleea merasa kecewa mendengar Barra yang tidak pulang semalam,
Aleea menyantap sarapannya dengan tidak bergairah, Aleea memikirkan sikap Barra yang tiba-tiba dingin padanya, apa dia sengaja bersikap dingin padanya, pikirannya di penuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan sikap Barra.
Setelah jam mata kuliah usai, Aleea berencana ingin menemui Barra dikampusnya, ia ingin membawakan Barra makan siang, seperti saat dia menjadi pelayan Barra waktu itu.
Dengan penuh semangat Aleea membelikan beberapa makanan dan cemilan kesukaan Barra, Aleea sudah tau persis makanan dan minuman apa yang disukai dan tidak disukai oleh Barra.
Dengan langkah yang penuh semangat Aleea melangkahkan kakinya menuju taman belakang kampus Adikara grup, tempat dimana Barra dan teman-temannya berada.
__ADS_1
Namun dia tidak menemukan Barra, Aleea mencoba bertanya kepada beberapa mahasiswa yang ada disitu, namun jawabannya nihil, tidak ada yang tau keberadaan Barra.
Dengan wajah yang ditekuk, Aleea berjalan menuju pintu gerbang kampus Adikara grup, dia kecewa tidak menemukan Barra. Aleea berjalan dengan langkah gontai, hingga ia tidak sadar telah menabrak seseorang dihadapannya.
Zico tersenyum menyeringai menatap Aleea yang tengah sibuk membereskan makanan dan cemilan yang ia tenteng jatuh berserakan.
"kasian sekali kau kucing kecil, apa kau tidak menemukan tuanmu?" tanya Zico dengan nada yang mengejek.
"maaf kan aku, aku harus pergi" kata Aleea dengan buru-buru melangkah ingin meninggalkan Zico, dia tidak ingin mendapatkan masalah dengan meladeni Ziko, karena sedikit banyak dia sudah mendengar cerita tentang Zico dan Barra.
Greppp......
Zico menarik lengan Aleea,"kenapa kau terburu-buru sekali" tanya Zico sambil senyum menyeringai.
"aku harus segera pergi, tolong lepaskan" pinta Aleea lirih
Namun Zico malah menarik Aleea kedalam dekapannya, seketika Aleea memberontak dan mendorong tubuh Zico dengan sekuat tenaganya.
"Tolong jangan melewati batas" kata Aleea dengan nada penuh penekanan.
"hmmm...zico tersenyum smirk, ternyata kucing kecil ini cukup menarik" sahut Zico sembari melipat kedua tangannya diatas perut berototnya, tatapannya tajam menatap Aleea dengan disertai senyum menyeringai disudut bibirnya.
"Sepertinya aku sedikit tertarik" Zico berjalan mendekat pada Aleea,
Secara reflek Aleea merasa takut dan melangkah mundur menghindari Zico yang terus melangkah perlahan mendekati dirinya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Aleea yang melihat Zico semakin mendekat.
Bruukkkhh.....
Tiba-tiba tubuh kekar Zico ambruk tepat menimpa Aleea, tiba-tiba Zico pingsan, dan itu membuat Aleea terkejut, dia tidak tau kenapa Zico tiba-tiba pingsan.
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏🙏♥️
__ADS_1
Dukungan readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar untuk author menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏♥️💜