
Dalam gelungan selimut Barra menggeliat, ia mencari Aleea yang semalam berada dalam dekapannya, namun Barra tak menemukan sosok yang ia cari, dengan perasaan cemas Barra turun dari tempat tidurnya dan meraih celana boxer hitam yang teronggok begitu saja dilantai setelah pergulatan panas semalam, setelah memakai celana dan kaos putihnya, Barra bergegas pergi keluar kamar untuk mencari Aleea, ia tak ingin hal yang ia takutkan terulang lagi, saat Aleea meninggalkan dirinya ketika dia masih terlelap, dengan perasaan cemasnya Barra mencari keseluruh ruangan rumah Oma. Namun Barra semakin merasa cemas ketika ia tak menemukan Aleea dimanapun.
Setelah Barra melihat Oma yang sedang duduk diteras rumah, Barra menghampiri wanita lanjut usia itu, dengan wajah cemas dan mengacak rambutnya frustasi.
"Oma, kemana Aleea? Apa Oma tau? aku mencari nya diseluruh sudut rumah, tapi aku tidak menemukan dia?", tanya Barra sembari duduk disamping oma, tampak raut wajah cemas dan takut nampak dari sorot mata Barra.
"dasar anak muda, pagi-pagi begini kenapa kau sudah terlihat begitu kacau, dia ku suruh pergi ke pasar, kau tidak perlu cemas!!",
"benarkah, syukurlah kalau Oma menyuruhnya pergi kepasar, aku hanya takut dia akan pergi lagi tanpa berpamitan padaku Oma, karena cucumu itu sangat nakal dan keras kepala",
"tapi kau mencintainya kan?" sahut Oma sembari menyeruput secangkir teh tanpa beban sama sekali, ia seolah sudah paham dengan perasaan Barra.
"dia adikku, apa boleh seandainya aku mencintainya Oma?", tanya Barra dengan tatapan seriusnya,
"boleh", jawab Oma singkat, wanita lanjut usia itu masih saja terlihat santai sembari terus menikmati teh nya.
Barra bak melihat seberkas cahaya dalam kegelapan, mendengar jawaban Oma seketika membuat jantungnya berdebar bahagia, matanya berbinar-binar, seolah ia telah menemukan seteguk air di tengah Padang pasir yang tandus.
"benarkah Oma? apa oma sadar dengan apa yang Oma ucapakan?"
"memangnya kau pikir aku sudah pikun?", sahut Oma sembari memicingkan matanya menatap Barra kesal.
"enggak Oma, bukan begitu, aku hanya tidak yakin jika aku boleh mencintai dia, selama ini papa dan bibi selalu menentang hubungan kami dan berusaha memisahkan kami dengan cara apapun, tapi justru jawaban oma berbanding terbalik dengan mereka",
"apa kau sungguh mencintainya?", tanya Oma menatap Barra
"Iya Oma, dia satu-satunya wanita yang ku cintai didunia ini, setelah mendiang ibu ku",
"apa dia juga mencintaimu?",
"iya Oma, aku yakin dia juga mencintaiku, kami saling mencintai Oma",
"kalau begitu menikahlah dengannya, tunggu apa lagi?",
"aku ingin sekali Oma, tapi papa akan melakukan segala cara untuk membuat ku berpisah dengan Aleea", jawab Barra dengan wajah lesu.
pletak....
"a-auww....sakit Oma, kenapa Oma kepala ku", gerutu Barra kesal, serangan mendadak Oma sungguh diluar dugaan.
"dasar bodoh, kau ini hanya terlihat garang diluar saja, ternyata kau ini anak muda yang lemah", sindir Oma dengan lirikan tajamnya.
"maksud Oma apa?, asal Oma tau aku ini pembalap nomor satu yang tidak pernah terkalahkan, enak saja Oma mengatai ku pemuda lemah", ucap Barra sembari mengelus kepalanya yang masih terasa panas karena ulah Oma barusan.
"jika benar, tunjukkan, kalahkan ego orang tuamu dan dapat kan restu mereka, berusahalah dengan keras untuk meraih restunya jika kau benar-benar mencintai Aleea", ucap Oma memberikan dorongan pada Barra.
__ADS_1
"iya, Oma benar, aku harus berusaha lebih keras lagi, hari ini aku akan membawa Aleea pulang ke mansion dan aku akan bilang kepada papa dan bibi jika aku akan tetap menikahi Aleea",
"ya lakukanlah jika memang kalian saling mencintai, itu lebih bagus daripada kalian menjalin hubungan dengan cara diam-diam seperti ini, dengarkan Oma, tidak ada hukum yang melarang pernikahan antara saudara tiri beda ayah dan beda ibu seperti kalian, jika orang tuamu melarang, itu karena ego mereka sendiri, ingat itu ", ucap oma memberikan penjelasan panjang lebar pada Barra.
"baik Oma aku akan ingat kata-kata Oma, terimakasih banyak Oma telah memberiku pengetahuan yang sangat luar biasa ini, berkat ucapan Oma aku jadi 1000% semakin yakin untuk segera menikahi adik tiriku itu", ucap Barra dengan wajah yang berbinar-binar.
"sudahlah jangan hanya banyak bicara, susul adik mu itu kepasar, jemput dia, jangan sampai di pergi dibawa orang",
"baik Oma, aku akan menjemput dia Oma, aku permisi untuk pergi dulu oma", dengan penuh semangat Barra beranjak pergi menyusul Aleea kepasar.
"ya hati-hati, pastikan cucuku pulang dengan selamat",
"siap Oma",
...****************...
Hari ini seperti awal yang baru bagi Barra, berkat ucapan Oma, Barra seperti memiliki sebuah energi ganda dalam dirinya, dia sudah tidak sabar ingin membawa Aleea pulang dan mengatakan semua niatannya pada Ayahnya.
Barra berjalan menuju pasar dengan perasaan yang berbunga-bunga, dia sudah tidak sabar ingin mengatakan semua yang dikatakan Oma kepada Aleea, Barra yakin Aleea akan senang mendengarnya.
Barra melihat Aleea yang sedang berjalan menuju arahnya, dengan menenteng dua buah kantong belanjaannya, Barra melambaikan tangannya dan ingin berteriak memanggil Aleea, namun seketika hal itu terhenti saat Barra melihat seseorang menarik Aleea masuk kedalam mobil dengan paksa, kedua kantong belanjaannya jatuh berserakan begitu saja, Barra bergegas berlari sekuat tenaga mengejar mobil itu, namun sepertinya mereka tahu Barra sedang mengejar mereka, mobil itu semakin menancapkan gas dan melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Barra yang berlari mengejarnya.
"haaaaaa......Aleeaaa..... Damn'it.,", Barra mengusap wajahnya kasar, ia merasa tidak berguna karena tidak berhasil mengejar mobil itu,
Akhirnya Barra melihat beberapa tukang ojek, diapun bergegas meminjam motor tukang ojek itu dengan memberikan dompetnya beserta isinya sebagai jaminan.
Namun Barra tak menyerah begitu saja, dia terus memacu gas motor matic itu, karena dijalanan pedesaan yang cenderung sepi dan tidak macet, jadi Barra tidak begitu kesulitan untuk mengejar mobil itu.
Barra tidak akan membiarkan Aleea pergi meninggalkan dirinya untuk yang ke dua kalinya, kali ini Barra akan mencegah hal itu terjadi.
Karena sudah beberapa hari didesa itu, Barra sedikit banyak sudah tahu tentang jalanan didesa itu sewaktu mengintai Aleea beberapa hari ini, Barra mendapatkan ide untuk memotong jalan dan akhirnya ia muncul dari sebuah gang didepan mobil itu, Barra menghentikan motornya tepat ditengah jalan dan membuat mobil itu mau tidak mau harus berhenti secara mendadak.
"Hei..brengsek, keluar kalian, lepaskan dia!!", teriak Barra sembari menggedor kaca mobil itu.
beberapa laki-laki bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam keluar dari mobil itu dan menyerang Barra yang hanya seorang diri, Barra tak gentar sama sekali
"Bughhh.... brughhhh.....bughhhh ...
"akhhhh....bugh...bugh......
Adu jotos dan saling menendang terus terjadi, Barra sama sekali tak membiarkan para penjahat itu memiliki kesempatan untuk memukulnya, karena diam-diam Barra juga seorang master taekwondo yang memegang sabuk hitam. Menghadapi beberapa orang ini bukan masalah besar baginya.
, dia mengalahkan semua laki-laki bertubuh kekar itu, sehingga kini mereka semua tumbang tak berdaya oleh Barra.
Hanya tersisa satu orang saja yang kini sedang memegang Aleea dibangku belakang,
__ADS_1
melihat semua kawannya yang telah tumbang akhirnya laki-laki itu keluar dari mobil bersama Aleea dengan sebuah pistol yang ia todong kan tepat dikepala Aleea.
"diam ditempat mu atau aku akan meledakkan kepala gadis ini", ancam pria itu pada Barra yang sudah siap menyerangnya.
Barra begitu terkejut saat melihat sebuah pistol yang sudah berada tepat disamping kepala Aleea. Barra menuruti kata-kata pria itu dan mengurungkan niatnya.
"singkirkan pistol itu dari nya", ucap Barra memohon pada pria bertubuh kekar itu.
"tidak akan jika kau berani bergerak sedikit saja", sahut pria itu mengancam.
"oke, aku akan tetap diam, tapi singkirkan pistol itu sekarang juga", pinta Barra pada pria itu, ia tak tega melihat Aleea yang tampak begitu ketakutan.
Barra mengedipkan matanya pada Aleea, ia ingin memberi kode pada Aleea agar gadis itu tetap tenang dan tidak merasa ketakutan, karena dia tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi pada Aleea.
Aleea sedikit merasa tenang ketika melihat tatapan Barra, ia percaya jika Barra tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Pria itu berusaha masuk kedalam mobil bagian depan, sepertinya pria itu akan berusaha membawa Aleea kabur, namun Barra tak kehabisan akal, maniknya menatap sebuah kaleng bekas yang tidak jauh dari kakinya, saat pria itu sedikit lengah, dengan secepat kilat Barra menendang kaleng bekas minuman itu tepat diwajah pria bertubuh kekar itu, sehingga secara spontan ia melepaskan cengkraman nya pada Aleea dan pistol yang berada ditangannya pun terjatuh begitu saja.
"hyaaa... brughhhh....bughhh...bugh.....
Barra membantai pria yang berani menyentuh wanitanya itu dengan brutal dan tanpa ampun, hingga pria itu jatuh tersungkur dan tak berdaya sama sekali, wajahnya babak belur bahkan tulang-tulang nya dibuat patah oleh keberingasan Barra.
Namun saat Barra hendak mencengkram krah baju laki-laki yang sudah tidak berdaya itu, salah satu temannya meraih pistol yang tadi terjatuh dan mengarahkan pistol itu pada Barra.
Aleea yang melihat hal itu secara spontan ia berlari kearah Barra, Aleea tidak ingin melihat peluru itu menembus tubuh pria yang sangat ia cintai.
"Barraaa.....awassss.......",
"Door........akhhhh.........brughhhh........",
Aleea jatuh dalam pelukan Barra setelah gadis itu berhasil menghalangi peluru yang melesat dengan cepat kearah Barra, kini peluru itu menembus punggung Aleea, membuatnya jatuh tak sadarkan diri, dan bersimbah darah dalam pelukan Barra.
"Akhhhh... Aleea, Aleea....." Barra terus memanggil nama Aleea berharap gadis itu, akan membuka matanya,
"bangun baby,....",
Barra sangat syok dengan kejadian yang tak ia duga sama sekali, dia semakin histeris ketika tangannya menyentuh darah segar yang mengucur dari punggung Aleea yang tertembus peluru.
"tidaaaaakkkkk......hwaaaaaaa.....Aleeaa...", seketika air mata pria itu tak terbendung lagi, dia merasa gila mendapati wanitanya tak sadarkan diri dalam pelukannya,
"biadab....brengsek kalian.....", Barra berteriak histeris, sedangkan para penjahat itu dengan tertatih-tatih berusaha pergi meninggalkan tempat itu.
Barra sudah tidak menghiraukan lagi para penjahat itu melarikan diri, yang ada dalam otaknya hanyalah bagaimana menyelamatkan Aleea nya, dia akan benar-benar menjadi gila jika sesuatu terjadi pada Aleea.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading 😍
mohon dukungannya ya guys, tolong tinggal jejak like komen dan votenya, akhir-akhir ini author kehilangan semangat karena merasa tidak ada dukungan dari kalian, dukungan readers tercinta adalah motivasi dan support sistem buat author,✨☘️☘️💜