
Barra masih berdiri termenung memikirkan kata-kata ayahnya baru saja, sedangkan pak Genta sudah merasa jengah dengan sikap Barra yang menurutnya keras kepala, dia berlalu meninggalkan Barra begitu saja dengan perasaan kesal.
Pak Genta menghampiri istrinya yang sedang terisak menatap Aleea yang terbaring lemah didalam kamar ICU, lelaki paruh baya itu merasa bersalah melihat istrinya yang justru tak bahagia saat menikah dengan dirinya, andai dia tidak membujuk wanita itu untuk menikah dengannya mungkin saat ini mereka sudah hidup bahagia sebagai besan, namun nasi sudah menjadi bubur, tak ada gunanya menyesali sesuatu yang telah terjadi, mungkin takdir akan memberikan jalan lain untuk masalah pelik dalam keluarganya ini, sebenarnya jika pak Genta bisa berlapang dada dan merestui kedua anaknya bisa saja, karena memang hubungan antara kakak adik itu tidak terlarang dimata hukum, hanya saja tabu bagi masyarakat, apalagi keluarga Adikara adalah keluarga terpandang yang termasuk dalam jajaran crazy rich di kota itu.
Pak Genta merasa sangat malu jika semua koleganya mengetahui tentang hubungan kedua anaknya, apalagi pak Genta sudah berniat menjodohkan Barra dengan anak salah satu koleganya yang merupakan crazy rich nomor satu di kota itu.
"sayang, sudahlah jangan menangis terus, kita doakan saja agar Aleea cepat sadarkan diri", kata Pak Genta sambil meraih pundak istri dan memeluk wanita itu untuk memberikan ketenangan.
"iya mas, hanya saja aku merasa bersalah pada Aleea mas, dia harus mengalami semua ini setelah permintaan kita untuk melihat Barra dan Aleea berpisah, andai Aleea tetap berada dirumah bersama kita, mungkin dia tidak harus berbaring didalam sana mas", ucap Bu Sarah sambil terisak dalam pelukan suaminya.
"huss...jangan bicara seperti itu, semua sudah takdir sayang, tidak ada gunanya kita menyesali semua yang telah terjadi, kamu tenangkan dirimu, aku janji setelah ini Aleea tidak akan pergi kemana-mana, aku akan mengirim Barra pergi ke Amsterdam untuk belajar bisnis disana, aku pikir aku harus benar-benar tegas dengan anak itu saat ini", tegas Pak Genta kepada istrinya.
"tapi mas, apakah benar kita terus bersikeras memisahkan mereka seperti ini?, aku juga merasa sangat egois mas ketika mengingat perasaan mereka yang terlihat begitu dalam?",
"ini yang terbaik untuk mereka sayang, apa kata orang-orang jika mereka sampai menikah, semua orang tahu jika mereka saudara ", ucap pak Genta yang masih kekeh dengan egonya.
Bu Sarah hanya menarik nafasnya dalam-dalam, dia merasa bimbang dengan keputusan suaminya yang kekeh tetap ingin memisahkan Aleea dan Barra. Wanita itu sangat yakin jika perasaan kedua anaknya begitu tulus saling mencintai, firasatnya mengatakan jika mereka akan sama-sama menderita jika mereka dipaksa untuk berpisah.
...----------------...
Sementara itu dilorong lain rumah sakit itu, Barra terlihat serius berbicara dengan seseorang di telepon. Raut wajah pria itu tiba-tiba merubah memerah dan kedua bola matanya tampak membulat, tangan nya mengepal sempurna dengan gemetar menahan amarah yang begitu besar.
"Bar..., kenapa kau disini? Apa paman dan bibi sudah sampai?", tanya Bagas pada Barra yang masih menggenggam handphone nya ditelinga.
Sontak Barra menoleh, bersamaan dengan berakhirnya panggilan telepon itu,
Barra berbalik dan menatap Bagas yang menenteng dua paper bag ditangannya.
"Kamu kenapa Bar..? Kenapa kau terlihat sangat marah? Apa yang terjadi? Siapa yang barusan menelepon mu?", tanya Bagas yang heran melihat wajah Barra yang terlihat merah padam menahan amarah.
"Zico...",
__ADS_1
"Zico? ada apa dengannya?," tanya Bagas yang masih heran
"Dia baru saja menangkap sekelompok keparat yang ingin menculik Aleea kemarin, mereka adalah orang-orang suruhan Kriss",
"apa..!!! Kriss...?? Lalu kenapa Zico yang menangkap mereka? Dari mana Zico tahu tentang semua ini?, lalu apa kerja anak-anak itu sampai Zico lebih dulu menangkap orang yang kita cari?", sahut Bagas yang justru merasa kesal dengan anak buahnya.
"Mereka dibantu oleh Zico dan anak buahnya, mungkin sebentar lagi Meraka akan menelepon mu", Sahut Barra,
Benar saja, setelah Barra selesai berkata pada Bagas, handphone Bagas berdering dan itu adalah panggilan dari anak buahnya yang memberikan kabar jika mereka sudah berhasil menangkap orang-orang yang ingin menculik Aleea berkat bantuan Zico dan anak buahnya.
"Kamu benar, ternyata mereka sudah berhasil menangkap orang-orang tadi berkat bantuan Zico dan anak buahnya, dan mereka adalah orang-orang suruhan Kriss, ada masalah apa anak itu dengan mu? Sepertinya dia memiliki dendam kesumat padamu? Berani-beraninya dia mengusik orang terdekat mu Bar...?", Ucap Bagas yang merasa heran dengan Kriss.
"sepertinya dia dendam karena dijebloskan ke penjara oleh papa setelah menusuk ku waktu itu," Ucap Barra dengan tatapan tajamnya.
"Dia sangat berbahaya Bar, sepertinya dia adalah psikopat yang tega melakukan apapun pada orang yang dia benci, kita harus benar-benar membuat dia jera dan tidak berani mengusik mu lagi, apalagi menyentuh Aleea",
"Benar Gas, sepertinya setelah keluar dari penjara dia mencari tahu semua tentang ku dan menemukan Aleea sebagai kelemahan ku," ucap Barra yang kini dengan wajah yang tertunduk, dalam benaknya terbesit perasaan bersalah yang begitu besar pada Aleea.
"Sudah lah bro, jangan terus menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi pada Aleea, kalian sama-sama korban, aku yakin, Aleea akan kecewa jika melihat mu terus menyalakan dirimu sendiri seperti ini", Ucap Bagas yang dengan mudah membaca mimik muka sahabatnya yang sedang tidak baik-baik saja itu.
"baiklah aku akan mandi", akhirnya Barra bersedia menerima paper bag yang berisi baju ganti yang diberikan Bagas.
Dengan langkah gontai Barra berjalan menuju kamar mandi yang ada dirumah sakit itu, ia sebenarnya enggan meninggalkan ruangan Aleea karena ia ingin berada disana saat Aleea membuka matanya, namun apa yang diucapkan Bagas ada benarnya juga, dia harus terlihat sehat dan bugar saat Aleea membuka matanya nanti, agar gadis itu tidak cemas dan khawatir padanya, karena Barra tahu betul bagaimana sifat Aleea yang selalu mencemaskan dia lebih dari dirinya sendiri.
Setelah beberapa waktu, akhirnya Barra keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar, sudah tidak ada lagi baju kucel yang bernoda darah, kini Barra terlihat lebih fresh dengan baju baru yang Bagas berikan, ya meskipun wajahnya masih saja terlihat lesu dan penuh rasa cemas dan kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata pria kulkas itu.
Barra menuju ruangan ICU dimana Aleea dirawat, disana ada ayahnya dan ibu Aleea yang masih terlihat menyeka air matanya sesekali, pandangan wanita itu tidak lepas sama sekali dari Aleea yang terbaring lemah dalam ruangan yang memiliki pembatas tembok kaca itu.
"pa..lebih baik papa istirahat saja, bawa bibi untuk beristirahat di hotel dekat sini, biar aku saja yang akan menjaga Aleea malam ini, disini", ucap Barra lirih kepada papanya ia tak tega melihat ibu Aleea yang terus menangis.
"tidak nak, bibi akan tetap disini, bibi akan menunggu Aleea membuka matanya", sahut Bu Sarah yang masih bisa mendengar ucapan Barra.
__ADS_1
"sayang, Barra benar, lebih baik kamu istirahat di hotel saja, besok pagi kita kemari lagi, biarkan Barra menelepon kita jika Aleea sudah membuka matanya nanti", bujuk pak Genta yang juga merasa cemas dengan istri nya.
"iya bibi, ini sudah larut, udara dingin tidak baik untuk kesehatan bibi, lebih baik bibi tidur sebentar dihotel, dan kemari besok pagi, aku janji akan menghubungi bibi jika Aleea sudah sadarkan diri", imbuh Barra yang juga benar-benar mencemaskan ibu tirinya itu.
"baiklah, tapi berjanjilah segera hubungi bibi jika adikmu sudah bangun", sahut Bu Sarah yang akhirnya menyetujui permintaan Barra untuk beristirahat dihotel.
"heem," Barra mengangguk "baik bibi, aku berjanji akan segera menghubungi bibi jika Aleea sudah bangun", jawab Barra
"Ya sudah ayo kita cari hotel dekat-dekat sini", kata Pak Genta sembari membantu istri nya berdiri. "kami pergi dulu, jaga baik-baik adikmu, ingat Barra, dia adalah putri kesayangan papa yang juga adik kesayangan mu, jaga dia", ucap pak Genta penuh penekanan sebelum berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.
"Dasar pak tua, apa dia harus berulang kali mengingatkan ku jika dia adalah adikku, memang nya dia pikir aku ini pikun", gerutu Barra sembari menatap kedua orangtuanya berlalu pergi.
Setelah kedua orangtuanya benar-benar tak terlihat Barra melangkah menuju tembok kaca untuk melihat Aleea yang belum juga membuka matanya, Barra kembali diselimuti perasaan cemas dan khawatir, dia juga sangat merasa bersalah saat menatap gadis yang ia cintai harus berjuang melawan maut demi menyelamatkan dirinya.
Tanpa terasa air mata pria kutub itu pun menetes, membasahi pipinya, ia teringat masa-masa indah saat mereka pertama kali bertemu hingga mereka saling merasakan jatuh cinta satu sama lain, rasanya Barra ingin sekali berada didekat Aleea saat ini, tiba-tiba ia sangat merindukan gadis yang terbaring lemah tak berdaya dihadapannya, dia sangat rindu saat mencium aroma tubuh gadis itu, ia rindu celotehan gadis cerewet itu, ia rindu saat menatap senja bersama gadis itu, ia sangat rindu makan ramyeon berdua dengan gadis itu, ia juga ingin sekali memeluk gadis itu dan memberikannya ketenangan, ia yakin jika saat ini Aleea nya merasa ketakutan berada didalam sana seorang diri.
"Bagaimana keadaannya, apa dokter sudah memeriksanya lagi?" Ucap Bagas yang sontak membuyarkan lamunan Barra.
Barra buru-buru menghapus air matanya, ia tidak ingin Bagas yang tengil itu akan mengolok-olok dirinya jika melihat dia menangis.
"Sudahlah, jangan dihapus, aku sudah melihatnya, luapkan saja, raja jalanan juga manusia kali, gak papa sesekali menangis", ucap Bagas sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Sialan..siapa yang menangis, ini hanya debu yang masuk kemata , dasar sok tau", sahut Barra yang masih saja gengsi.
"Kau pikir aku ini bodoh, mana ada debu yang membuat matamu mengeluarkan air mata sebanyak itu, sudahlah, laki-laki pun bisa menangis jika tentang orang yang dicintai, aku juga pernah menangis sesenggukan semalaman karena wanita, ini rahasia diantara kita jangan bilang pada anak-anak", ucap Bagas yang mencoba menghibur Barra.
"sialan", sahut Barra terkekeh sembari meninju lirih pundak sahabat baiknya itu.
"dasar, sini menangislah dibahuku, biar ku ceritakan semua kelakuan mu nanti jika kakak ipar sudah sadar kan diri", ucap Bagas sambil terkekeh.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya kak, jangan lupa kembang kopinya, agar author kembali semangat lagi buat up setiap hari 🥰😂🙏🙏