
Evelyn sangat terkejut dengan Bagas yang datang tiba-tiba dan merusak semua rencananya, ia segera bangun dan membetulkan pakaian nya, dia sangat merasa malu dan juga marah pada Bagas yang memergoki niat jahatnya.
"kamu salah paham Bagas, aku hanya ingin menolong Barra, dia mabuk dan aku hanya ingin membantu nya melepaskan pakaiannya saja, karena suhu tubuhnya sangat panas" jawab Evelyn berusaha mengelak tuduhan Bagas,
Namun dirinya sudah terlanjur tertangkap basah, Bagas sepertinya tidak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Evelyn, aku sangat mengenal mu, dari dulu kau selalu berusaha mendapatkan apapun yang kamu mau, dengan cara apapun, tapi tidak dengan Barra"
"Bagas...hikss...hikss....maafkan aku, aku mohon jangan katakan semua ini pada Barra, aku tidak ingin dia membenciku setelah sekian lama kami tidak bertemu "
"caramu ini tidak lah benar, Evelyn, aku lebih suka melihat mu yang tidak kenal lelah mengejar-ngejar Barra walaupun dia selalu mengacuhkan mu, aku kagum dengan sifat pantang menyerahmu, bahkan aku sempat merasa iri dengan Barra, yang bisa membuat wanita secantik dirimu tergila-gila!!"
"hikkk.... hikkkss....maafkan aku Bagas, aku tau aku salah, aku hampir saja melakukan perbuatan yang jahat, tapi semua itu karena aku merasa cemburu saat Barra terus-terusan memanggil nama Aleea, sepertinya aku tidak bisa melihat Barra mencintai gadis lain, aku sangat frustasi, padahal kedatangan ku kenegara ini karena aku sangat merindukan Barra, disela-sela jadwalku yang padat sebagai seorang model aku nekat meluangkan waktu untuk mengunjungi Barra, kamu tau itu kan??" ucap Evely yang memelas dan dibumbui dengan kebohongan nya, tentang kedatangan nya kemari, memang sekarang dirinya sedang sepi job. Dan soal Barra Evelyn sudah tidak benar-benar mencintainya lagi jika saja karirnya sebagai model tetap bersinar dia tidak mau mengejar Barra lagi.
"ok, aku mengerti Evelyn, sebaiknya kamu diam dan tenangkan dirimu, aku akan membawakan pakaian baru untukmu, tunggu disini, sebelum itu aku harus membetulkan lagi pakaian Barra, dia bisa murka jika mengetahui semua perbuatan mu" kata Bagas lembut pada Evelyn, dia sudah termakan dengan rengekan palsu Evely.
Setelah beberapa waktu, Bagas kembali dengan sebuah paper bag ditangannya. Dia baru saja membelikan sebuah baju ganti untuk Evelyn.
Setelah Evelyn selesai mengganti pakaiannya yang dia robek sendiri dengan pakaian baru dari Bagas, dia diantar Bagas untuk pulang kerumahnya.
Bagas dan Evelyn sudah sepakat untuk tidak menceritakan kejadian malam ini pada Barra atau pada siapapun, Bagas berjanji pada Evelyn. Karena sejak dulu Bagas selalu mengagumi Evelyn, dia akan menjadi pelindung Evelyn dari semua masalah.
Namun tampak nya Evelyn hanya memanfaatkan ketulusan Bagas sejak dulu sampai sekarang.
...----------------...
Hari sudah pagi, Barra menggeliat dalam gelungan selimut nya, kepalanya terasa sangat pusing dan berat, dia membuka matanya dengan malas, melihat sekeliling nya, bagaiman dia bisa berada di apartemen nya, dia ingat semalam ia mabuk berat, bahkan ia tak pernah mabuk sampai tak sadar seperti semalam,ah mungkin Bagas yang membawanya pulang, pikir nya tanpa curiga sama sekali, karena memang dia tidak mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Dia bergegas turun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berbau alkohol, setelah selesai mandi, Barra menuju walk in closet yang ada dikamar nya, dia memakai pakaiannya,satu stel kaus polos putih dan celana jins hitam, tak lupa jaket kulit nya ia tenteng, setelah merasa segar, ia menuju ke dapur secara bersamaan bel berbunyi.
Barra melemparkan jaket kulit nya kesofa, dan melangkah menuju pintu apartemen nya, dia lihat dari monitor siapa yang bertamu sepagi ini, mungkinkah pak tua itu atau Bagas, pikirnya.
Dia menatap Aleea berdiri didepan pintu apartemen dengan sebuah paper bag ditangannya. Barra merasa senang dan tak menduga Aleea mengunjungi dirinya dipagi hari seperti ini. Dia bergegas membuka pintu dan buru-buru merubah mimik wajahnya dari mode senyum sumringah menjadi datar dan dingin melebihi kulkas 1000 pintu, masih saja gengsinya nomor satu.
"ada apa? kenapa sepagi ini menggangguku?sapanya ketus saat membukakan pintu untuk Aleea.
"begitu? Kalau kedatangan ku mengganggu mu aku akan pergi, daaa... greeppph...-
sahut Aleea sembari memutar badannya ingin melangkah pergi, tapi secepat kilat Barra menarik tangan Aleea masuk kedalam apartemennya dan menutup pintu.
Barra memeluk Aleea sangat lama, dia seolah ingin menumpahkan segala keluh kesahnya dan kekhawatiran yang menghantuinya sejak semalam, dia tak ingin melepaskan Aleea, dia ingin tetep bersama Aleea selamanya, dia merasa nyaman dengan gadis dalam pelukannya ini, dia mencintai Aleea, dia benar-benar yakin telah jatuh cinta pada gadis yang awalnya hanya ia jadikan mainannya ini.
Barra semakin mempererat pelukannya, begitupun juga Aleea yang tanpa sadar menyentuh dan memeluk punggung kekar Barra, Aleea juga merasa patah hati setelah mengetahui kenyataan bahwa dirinya dan Barra akan menjadi saudara, tanpa ia sadari Aleea pun mulai nyaman saat berada didekat Barra, cowok kulkas yang tiba-tiba menjadi sweet saat bersamanya. Aleea juga tak mengerti, bagaimana bisa seperti ini padahal dirinya sudah memiliki Mike sebagai kekasihnya.
Semakin lama pelukan itu semakin menuntut, Barra melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Aleea ke tembok, ia menatap dalam wajah wanita cantik didepannya, tatapan Barra sangat dalam, seolah mengisyaratkan Aleea akan cintanya yang begitu besar, ingin rasanya Barra membawa lari Aleea pergi ketempat yang jauh dan hidup berdua saja dengan bahagia disuatu tempat, namun apa daya nya, Barra tak tau bagaimana perasaan Aleea padanya, lagipula Aleea memiliki Mike sebagai kekasihnya.
Sejenak keduanya saling menatap dalam, perlahan tapi pasti Barra mengangkat dagu Aleea, dan mem*gut lembut b*bir tipis itu,
Aleea pun membalas pag*tan lembut itu dengan hangat, perlahan Aleea membuka bib*rnya dan membiarkan Barra meng*ksplore setiap inci l*dah nya, mereka saling bertukar Saliva, sesekali saling meny*sap dan mel*mat satu sama lain.
Semakin lama c*uman itu semakin menuntut, keduanya sama-sama menikmati, perlahan Barra mengangkat tubuh ramping Aleea dan membaringkannya di atas sofa ruang tamunya, disitu c*uman yang semula lembut menjadi panas dan semakin l*ar.
Tak cukup disitu Barra meng*c*p lembut cuping telinga Aleea yang membuat gadis cantik itu meleng*h lirih, Aleea sungguh tidak mengerti dengan dirinya kenapa seolah sentuhan Barra adalah bius baginya, tubuhnya seolah menerima dengan senang hati setiap usapan dan sentuhan laki-laki ini. Seketika Aleea tersadar akan rumitnya hubungan mereka, dan mendorong tubuh Barra.
"cukup hentikan Barra, tidak seharusnya kamu seperti itu, kita akan menjadi saudara sebentar lagi!!"
__ADS_1
"Tapi kita sudah lebih dulu bersama sebelum rencana pernikahan mereka, aku telah jauh lebih dulu jatuh cinta padamu Aleea"
Deghhh....
Jantung Aleea berdebar mendengar penuturan Barra, anehnya ada perasaan bahagia mendengar Barra menyatakan perasaannya, namun Aleea juga tidak bisa egois, ibunya juga butuh kebahagiaan dalam hidupnya, dia juga memiliki Mike, kenapa dirinya menjadi sangat kacau dengan perasaannya sendiri.
"tutup mulutmu" jawab Aleea sambil menahan bibir Barra dengan jari telunjuk nya, dia tidak ingin Barra mengeluarkan kata-kata yang membuat nya semakin egois dan ingin memiliki Barra seutuhnya.
"tidak seharusnya kita seperti ini, tidak seharusnya kau memiliki perasaan seperti itu padaku Barra"
Barra memegang dan mengecup lembut punggung telapak tangan Aleea yang menghalangi bibirnya untuk bicara tadi. Dia menyondongkan tubuhnya dan menatap dalam Aleea,
"katakan padaku, apa kau tidak memiliki perasaan yang sama untukku, jawab dengan jujur" kata Barra pada Aleea penuh penekanan.
Aleea memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan dalam Barra padanya, dia sungguh tak berdaya dengan perasaannya sendiri, dia tau hatinya yang paling dalam sangat menginginkan Barra dan ingin berkata ya...! aku juga mencintaimu Barra.
Namun Aleea berusaha menahan perasaan itu, dia tidak mau menjadi gadis yang egois, akan ada banyak hati yang terluka jika dia berkata jujur pada Barra.
"baby...tatap aku, jawablah pertanyaan ku dengan jujur" pinta Barra dengan penuh kelembutan pada Aleea sembari memegang dagu Aleea dan mengarahkan pandangannya kedalam pandangan Aleea.
"jangan takut, katakan yang sejujurnya padaku, kita akan cari jalan keluarnya nanti bersama-sama" Barra tetap berusaha meyakinkan Aleea untuk jujur, dia yakin jika Aleea juga memiliki perasaan yang sama dengan nya.
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏🙏
__ADS_1