
Tidak...Barra, jangan pergi....
"hah..hahh...hah....Aleea terengah-engah, dia terbangun dari tidurnya, keringat dingin membanjiri pelipisnya, Aleea baru saja bermimpi buruk tentang Barra yang akan pergi meninggalkannya,
Aleea berusaha menenangkan dirinya, ia yakin ini hanya sebuah mimpi, "Barra pasti baik-baik saja, aku akan menemuinya besok, pasti aku akan menemuinya dan mengatakan semua tentang perasaanku padanya" pikir Aleea dalam hati.
Sementara ditempat lain, tubuh Barra tergelak begitu saja dijalanan, darah mengucur deras dari perutnya, dengan susah payah Barra mengambil handphone didalam saku celananya, ia ingin menghubungi Bagas namun setelah teleponnya terhubung Barra justru telah kehilangan kesadarannya.
Bagas yang menerima telepon dari Barra merasa cemas, ia terus memanggil-manggil Barra namun tak ada jawaban.
Akhirnya Bagas berusaha melacak lokasi Barra dari handphonenya.
Bagas begitu terkejut saat menemukan Barra tergeletak dijalanan dengan luka yang begitu parah, tubuhnya dipenuhi dengan lumuran darah, tanpa berfikir panjang Bagas menelepon ambulans untuk segera memberi pertolongan pada sahabatnya itu.
Setelah beberapa waktu, ambulans tiba di lokasi tempat Barra celaka, Bagas segera membantu petugas membawa Barra pergi kerumah sakit, Bagas sangat merasa cemas melihat kondisi Barra yang terkapar tidak berdaya. Bagas mengepalkan tangannya, pasti dia akan mencari orang yang telah mencelakai Barra.
Setelah sampai dirumah sakit Barra segera mendapatkan pertolongan, dia kehabisan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor darah yang sesuai dengan golongan darah yang cocok dengannya.
Namun sayangnya stok golongan darah O- (golongan darah O rhesus negatif termasuk golongan darah yang terbilang langka) saat ini rumah sakit tidak memiliki golongan darah yang sama seperti golongan darah Barra. Dia perlu pendonor yang memiliki golongan yang sama.
Bagas sangat bingung saat ini dia harus segera menghubungi Pak Genta, berharap beliau memiliki golongan darah yang sama dengan Barra, mengingat jika Barra adalah anak kandungnya.
Bagas mencoba menghubungi nomor Pak Genta namun tidak mendapatkan jawaban, Bagas sangat merasa frustasi, dia harus menghubungi siapa lagi, seketika Bagas teringat Aleea, mungkin Aleea bisa membantu Barra.
Drttt....drtttt....drttt........
Handphone Aleea terus bergetar, sebuah panggilan dari Bagas masuk, namun Aleea baru menyadari setelah beberapa kali Bagas mencoba menghubungi dirinya, Aleea terbangun dan buru-buru menerima telepon dari Bagas.
Aleea merasa heran, tidak biasanya Bagas menghubungi dirinya dini hari seperti ini, mungkinkah terjadi sesuatu pada Barra, apakah mimpi buruknya tadi adalah sebuah pertanda buruk,
Deghhh.....
Jantung Aleea terasa berhenti berdetak, darahnya seperti membeku seketika, airmata nya tak terbendung lagi, tubuhnya seketika terasa lemas mendengar perkataan Bagas,
Barra sedang tak sadarkan diri dan kritis, berita itu bagai guntur yang menyambar Aleea.
__ADS_1
"Aleea, apa kau masih disana" kata Bagas dari sambungan telepon"tolong segera datang kerumah sakit, Barra membutuhkan donor darah golongan O-, tolong hubungi ayahnya, cepat Aleea Barra sangat membutuhkannya" teriak Bagas sangat cemas.
"baiklah, aku akan segera kesana"
Aleea segera bergegas pergi kerumah sakit, dia meminta sopir mengantarkannya, tak mungkin jika dia harus menunggu taksi online, dalam perjalanan kerumah sakit Aleea berusaha menghubungi ibunya, dia ingin mengatakan jika Barra membutuhkan donor darah dari Pak Genta.
...----------------...
Aleea berlari melewati lorong demi lorong, dia tidak sanggup jika sesuatu yang buruk terjadi pada Barra, didepan sebuah ruangan Unit gawat darurat Bagas berdiri seorang diri, wajahnya tampak cemas dan gelisah, Aleea segera menghampiri Bagas dan melontarkan banyak pertanyaan padanya.
"apa yang terjadi? Dimana Barra, aku ingin menemuinya, dia baik-baik saja kan?" tanya Aleea dengan nada bergetar menahan kekhawatiran yang amat besar.
"Barra kritis, dokter sedang menanganinya didalam" jawab Bagas dengan lesu
"Katakan, apa dia sudah mendapat donor darah??"
"belum, rumah sakit tidak memiliki stok darah golongan O-, dia sangat membutuhkannya, apa kamu bisa menghubungi ayah Barra??"
"mereka dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai, Barra akan baik-baik saja, aku yakin dia akan bisa bertahan, dia sangat kuat" kata Aleea memberikan ketenangan untuk dirinya sendiri, sebenarnya Aleea sangat takut hal buruk akan terjadi pada Barra,
Setelah menerima transfusi darah, akhirnya keadaan Barra berangsur stabil, namun dia masih perlu dirawat di ruang ICU, semua orang merasa lega mendengar keadaan Barra yang sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tak ada satupun yang mengetahui jika Barra mendapat donor dari orang lain, kecuali Bu Sarah yang sudah mengetahui rahasia besar pak Genta. Bagas maupun Aleea masih mengira jika Barra mendapatkan donor darah dari pak Genta.
"terimakasih paman, karena paman datang tepat waktu untuk menyelamatkan Barra" kata Aleea pada Pak Genta.
"iya Aleea, sudah seharusnya paman menolong anak paman, justru paman yang harus berterimakasih padamu, karena kamu telah berusaha menghubungi paman sebelum semuanya terlambat "
"enggak paman, berterimakasih lah pada Bagas karena dia yang telah membawa Barra kemari"
"Oh iya nak Bagas terimakasih " ucap Pak Genta pada Bagas yang dari tadi berdiri di samping Aleea, "kenapa Barra sampai terluka seperti ini? Ulah siapa yang berani mencelakai pewaris Adikara grup??"tanya Pak Genta dengan penuh emosi
"maaf paman, tapi saya juga belum tahu, saya menemukan Barra tergeletak dijalanan dengan keadaan yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka tusukan diperutnya, tapi paman jangan khawatir aku akan segera mencari siapa pelakunya!!"
"iya, paman akan menyuruh orang-orang paman untuk membantu mu, aku pasti akan membalas perbuatan mereka yang berani mencelakai anak kesayangan ku" Ucap pak Genta penuh dengan keyakinan.
...----------------...
__ADS_1
Aleea menemui Barra yang belum sadarkan diri diruang ICU, dia menatap pria yang selalu bersikap dingin dan sesuka hatinya itu terbaring tak berdaya, ada perasaan lega karena Barra berhasil melewati masa kritisnya, namun juga ada perasaan cemas karena Barra belum juga membuka matanya.
Aleea duduk disamping bed pasien Barra, dia menatap wajah rupawan yang kini terlihat pucat tak berdaya. Aleea berbisik lirih pada Barra "kau sama sekali tak terlihat seperti dirimu, jika kau berbaring disini" tangannya mengusap lembut pipi Barra,
"bangunlah, buka mata mu, aku sangat merindukanmu, aku sangat ingin melihat senyuman dan tatapan mautmu itu, aku sangat merindukan pelukan dan sentuhan lembut mu itu, aku sangat merindukan sikap dinginmu yang selalu saja bisa berubah menjadi hangat saat bersamaku, aku merindukan semuanya yang ada pada dirimu, bangunlah aku mohon" ucap Aleea sembari menggenggam tangan Barra, airmata nya pun lancang membasahi kedua pipinya tanpa aba-aba.
"Aku tidak suka melihatmu terluka, apa kamu tau aku selalu kehilangan akal sehat ku saat bersama mu?" ucap Aleea sambil menangis tersedu-sedu, ia ingin meluapkan semua perasaan yang selama ini selalu ia pendam,
"setiap waktu aku selalu memikirkan mu, aku menyukai setiap sentuhan dan pelukanmu, semua itu membuatku menjadi tidak waras dan merasa benci kepada diriku sendiri, setiap kali aku memandang mu aku selalu merasa tidak bisa menahan detak jantungku yang selalu berdebar sesukanya" hikss..hikss...tangisan Aleea semakin menjadi saat berusaha mengungkapkan semua isi hatinya,
Sementara itu tanpa Aleea sadari Barra telah membuka matanya dan mendengar semua ucapan Aleea sejak awal, Barra tersenyum tipis dan berpura-pura tetap pingsan, ia ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata yang selalu ingin ia dengar dari Aleea. Sementara Aleea terus saja berbicara panjang lebar tentang semua isi hatinya pada Barra.
"Aku sangat mencintaimu,aku berbohong jika aku mengatakan aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu, pada kenyataannya seluruh perasaan cintaku telah habis bersama mu, saat aku sadar jika aku telah jatuh cinta padamu aku merasa sangat bahagia, karena ini pertama kalinya aku merasa tidak sendirian, ini pertama kalinya aku merasa memiliki seseorang yang bisa kuandalkan, seseorang yang bisa menjadi tempat untukku bergantung dan berlindung, namun saat aku tahu jika kenyataan nya kita akan segera menjadi saudara,aku berpikir apakah aku masih pantas memiliki perasaan ini? karena kenyataan nya kamu bagaikan pintu yang terlarang untukku, pintu yang tak akan pernah bisa aku buka didunia ini" Aleea perlahan melepaskan genggaman tangannya namun Barra segera menarik kembali tangan Aleea yang ingin menjauh,
Greeppp......"tetaplah seperti itu, tetap lah menjadi tidak waras saat bersamaku, tetaplah menginginkan pelukan dan sentuhan dariku, tetaplah andalkan diriku, tetap berlindung dan bergantunglah kepadaku" ucap Barra lirih namun penuh dengan penekanan dan keseriusan.
Seketika Aleea membuka matanya lebar dan berbalik memutar tubuhnya yang hendak pergi meninggalkan Barra, Aleea sangat bahagia melihat Barra yang telah sadarkan diri, Barra telah membuka kedua matanya, itu sudah cukup membuat Aleea merasa sangat bahagia.
Barra menarik tangan Aleea untuk mendekat kepadanya, Barra ingin sekali bangun dan berlari memeluk Aleea yang ternyata juga memiliki perasaan cinta pada dirinya, namun tubuhnya masih terasa lemas tak berdaya.
Barra meraih pundak Aleea seolah ingin mendekap Aleea kedalam pelukannya, dan itu membuat Aleea meletakkan kepalanya pada dada bidang Barra, kini mereka berdua saling berpelukan meski Aleea dengan posisi duduk dan Barra yang masih dengan posisi terbaring tidak berdaya, Barra sangat merasa lega karena pada akhirnya Aleea mengungkapkan semua isi hatinya.
"tetaplah merasa pantas untuk memiliki perasaan itu padaku, aku akan membuka seluruh pintu yang tidak bisa kamu buka didunia ini, kita akan melangkah melewati pintu itu bersama-sama,aku berjanji , jadi jangan pernah berpikir untuk melepaskan genggaman tanganmu dariku" ucap Barra lirih.
Aleea hanya mengangguk sambil terus menangis tersedu-sedu dalam pelukan Barra, perasaannya begitu bercampur aduk, Aleea tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas hanya satu, dia sangat bahagia.
Bersambung
Happy reading 😍
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️
Dukungan dari readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar bagi author untuk menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏♥️
Mohon maaf jika masih terdapat banyak sekali kesalahan dan typo yang tidak tepat, mari kita belajar bersama dengan saling mengingatkan 🙏♥️💜
__ADS_1