Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab. 45. berseri-seri


__ADS_3

Prankkk..... Satu botol wine yang telah kosong jatuh kelantai, kepingannya bertebaran kemana-kemana membetuk serpihan yang menyerupai kristal, rupanya botol itu terjatuh karena lolos dari genggaman tangan Barra yang sudah mabuk berat dan kehilangan kesadaran diatas tempat tidur sederhana miliknya, diruko dua lantai itu, setiap malam Barra menghabiskan berbotol-botol wine sambil terisak meluapkan tangisnya karena merindukan Aleea, sudah dua bulan berlalu, namun Barra tak kunjung menemukan dimana keberadaan gadis pujaannya itu.


Walau diluar Barra terlihat kuat dan tegar, namun dalam hatinya ia menyimpan luka dan kepedihan yang begitu besar, ketika Aleea memutuskan untuk pergi meninggalkan dirinya tanpa jejak sama sekali.


Hari-hari nya begitu berat saat ini, pikiran dan perasaannya sangat kacau, dia teramat sangat merindukan Aleea, rasanya separuh hatinya bagai telah membeku, Barra tak dapat merasakan kebahagiaan sama sekali sejak Aleea tak berada disisinya. Hampir setiap malam Barra selalu menangis sendirian didalam kamar yang sunyi miliknya, dia tak pernah dapat terlelap tanpa bantuan obat tidur atau berbotol-botol wine yang membuat dirinya tak sadarkan diri setiap malam.


Mentari pagi hadir dengan sinarnya yang selalu menghangatkan, Barra masih terlihat tak berdaya diatas kasurnya, kepalanya terasa sangat berat akibat mabuk semalam, suara gaduh terdengar dari lantai bawah ruko yang menjadi tempat tinggal Barra dan juga basecamp club motornya, disana para anak buah Barra sedang heboh karena berhasil melacak keberadaan ponsel milik Aleea, nampaknya setelah dua bulan Aleea akhirnya mengaktifkan kembali ponsel miliknya.


Bagas segera berlari menaiki satu persatu anak tangga dengan begitu gembira, ia yakin jika kabar ini akan membuat sahabatnya itu kembali bergairah untuk menjalani hidupnya.


"Barra bangun...", teriak Bagas yang sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini.


"hmmm....ada apa?", sahut Barra dengan malas, kepalanya masih terasa sangat berat, dan Kedua matanya pun juga masih tertutup rapat.


"Buka matamu Barra, ayo bersiaplah kita akan menemui kakak ipar", ucap Bagas dengan penuh semangat sembari menarik Barra untuk bangun.


"siapa? Memangnya kenapa kakak iparmu?", sahut Barra yang sudah terduduk ditempat tidurnya karena ulah Bagas yang menariknya dengan paksa,


"kakak ipar ku, Aleea mu, bodoh", teriak Bagas yang sudah merasa gemas dengan Barra yang tak kunjung membuka matanya.


Seketika Barra membuka lebar kedua matanya yang beberapa detik lalu masih terasa sangat berat dan enggan terbuka, tapi begitu ia mendengar kata Aleea seketika kedua mata itu terbelalak begitu saja.


"kau jangan bercanda, ulangi perkataan mu", ucap Barra yang belum yakin dengan apa yang barusan ia dengar.


"kita akan segera menemui dan menjemput kakak ipar, Aleea mu yang selalu kau rindukan, dengar atau tidak?", sahut Barra yang mulai kesal dengan Barra yang tiba-tiba menjadi lemot.

__ADS_1


"menjemput Aleea, apa kau tidak bohong?, apa kalian sudah menemukan dimana Aleea ku berada?", sepontan Barra berdiri dan bangun dari tempat tidurnya, dia memegang kedua bahu Bagas dan menggoyangkan nya kedepan dan kebelakang, dia ingin memastikan jika apa yang dikatakan Bagas adalah sebuah kebenaran.


"hei...hentikan, memangnya kau pikir aku mainan bisa kau goyangkan seperti ini?", Dengan wajah kesalnya Bagas mengusir kedua tangan Barra yang mencengkram kedua pundaknya.


"lebih baik cepat bersihkan dirimu, jangan sampai kakak ipar akan menolakmu karena bau alkohol dari tubuhmu itu, dasar tukang mabok", ucap Bagas pada Barra dengan menutup kedua hidungnya karena bau alkohol yang begitu menyengat dari tubuh Barra.


"iya, kamu benar Bagas, aku tidak mau itu terjadi, dia sudah melarang ku untuk meminumnya, justru aku setiap malam menghabiskan berbotol-botol", ucap Barra sembari berlari kearah kamar mandi,


"oh iya, bereskan semua botol minuman itu, jangan sampai nanti Aleea melihatnya", titahnya pada Bagas yang masih berdiri ditempatnya.


"ishhhh.....kenapa harus aku, kan kau yang minum-munum", sahut Bagas tak terima dengan perintah Barra.


"lakukan, atau aku akan kabur dari balapan besok, dan kau akan membayar uang dendanya", teriak Barra mengancam Bagas dari dalam kamar mandi. Karena Bagaslah yang saat ini menjadi menager Barra yang mengurus serta bertanggung jawab dengan semua jadwal dan kontrak balapan Barra.


"ishhh....dasar tukang mabok, bagaimana bisa dia meminum wine sebanyak ini dalam semalam, apa tubuhnya tidak meledak??", gerutu Bagas sambil terus membersihkan kamar Barra.


Sementara itu Barra telah selesai membersihkan diri, dia terlihat lebih segar dengan setelan celana jeans hitam dan kaos putih yang ia padukan dengan jaket kulitnya, wajahnya tampak berseri, berbeda dari hari-hari sebelumnya yang selalu tampak kusut dan kacau, Barra melenggang turun dari tangga, dan menghampiri anak buahnya yang masih berada didepan laptop mereka guna memantau lokasi keberadaan ponsel Aleea yang berhasil mereka lacak.


"dimana dia berada?", tanya Barra dengan nada serius dan wajah yang kelewat datar tanpa ekspresi sama sekali.


"ini bos, tampaknya ia baru saja mengaktifkan kembali ponselnya lagi ini, kami berhasil melacak lokasi keberadaan ponsel nona Aleea disebuah desa terpencil, diluar kota bos", jawab anak buah Barra yang memang ditugaskan untuk mencari Aleea dari jaringan.


"Bagus, aku akan kesana sekarang", titah Barra pada anak buahnya,


"apa kamu yakin akan kesana sendirian? Apa tidak seharusnya kita kesana bersama?", tanya Bagas spontan mendengar ucapan Barra.

__ADS_1


"tidak, kau tetap disini dan pantau terus lokasi ponselnya, jangan sampai kehilangan jejaknya", ucap Barra pada Bagas


"Barra, setidaknya izinkan aku menemanimu, aku juga sangat mencemaskan kakak ipar", ucap Bagas yang setengah dengan nada merengek.


"baiklah, hanya kau saja, yang lainnya tetap disini dan pantau terus, hubungi aku segera jika ada pergerakan yang mencurigakan",


"baik bos, kami akan terus memantaunya, semoga bos segera dapat bertemu dengan nona Aleea", Ucapan anak buah Barra dengan penuh semangat.


"pasti, aku akan segera menemukannya dan membawa gadis nakal itu pulang bersamaku",


Ucap Barra dengan sorot matanya yang berbinar-binar, dia sudah tidak sabar untuk segera menemui dan menjemput gadis pujaannya itu.


...----------------...


Sementara itu disebuah pesisir pantai, seorang wanita bertubuh ramping dengan kulit putih mulus, dan rambut yang tergerai indahnya, berjalan menyusuri pantai tanpa Alas kaki, sesekali dia bermain-main dengan air laut yang tersapu ombak sampai kearahnya, dengan mengenakan dress putih bermotif bunga-bunga gadis itu tampak terlihat anggun, dan cantik.


Gadis itu adalah Aleea yang sudah dua bulan ini tinggal dikampung halaman sang mendiang ayahnya, sebenarnya Aleea dijadwalkan terbang ke Paris dua bulan lalu oleh paman dan mamanya untuk belajar dan menetap disana, namun Aleea memilih untuk tinggal dikampung halaman ayahnya saja, bersama omanya yang hidup sebatang kara setelah kepergian opa dan ayahnya, karena memang ayah Aleea adalah anak tunggal dari Oma dan opa Aleea,


Jadi Aleea memutuskan untuk tinggal dikampung halaman ayahnya saja dari pada harus tinggal diluar negeri, Aleea pikir Barra tidak akan dapat menemukannya ditempat pelosok dan terpencil yang jauh dari keramaian ibukota. Namun ia tak pernah menduga jika saat ini Barra sudah dapat menemukan keberadaannya berkat ponselnya yang tanpa Aleea tahu telah jatuh dan ditemukan seseorang, lalu orang itu mengaktifkan ponsel tersebut, sehingga anak buah Barra dapat melacak lokasi ponsel Aleea yang tak jauh dari keberadaan Aleea saat ini.


Bersambung


Happy reading 😍


mohon tinggalkan jejak like komen dan votenya, jangan jadi pembaca gelap, jadikan jari anda berpahala dengan menekan tombol like komen dan votenya, bantu author menjadi lebih bersemangat lagi dalam berkarya dengan menunjukkan dukunganmu kepada Author 🙏💜

__ADS_1


__ADS_2