Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 43. Rembulan dan matahari


__ADS_3

Cahaya jingga kekuningan berpendar di ufuk barat, terbentang luas dengan anggunnya, menghiasi cakrawala senja yang kian memudar, seakan undur diri atas kehadiran sang rembulan yang siap bertengger dalam


singgasananya.


Seorang gadis menatap sendu sinar mentari yang kian memudar dan lenyap ditelan bumi. Kepergiannya membuat semesta menjadi gelap gulita, namun sebuah senyuman muncul disudut bibir gadis yang masih terpaku menatap cakrawala itu, maniknya menatap cahaya rembulan, meski masih terlihat samar, namun pasti, cahaya itu akan menggantikan tugas matahari untuk kembali menerangi semesta malam ini. Gadis itu adalah Aleea, dia memang pengagum senja dan fajar, karena dari keduanya dia banyak belajar tentang arti sebuah kesetiaan dan ketulusan, dari senja dan fajar dia belajar sebuah kesabaran, dan dari senja dan fajar juga dia belajar bagaimana sebuah cinta yang tulus akan tetap bersatu pada waktu yang tepat.


 Jika matahari dan Rembulan saling mencintai, Senja dan fajar adalah sebuah waktu perpisahan yang harus mereka lalui setiap hari, dimana ketika kehadiran rembulan yang dirindukan oleh matahari, justru matahari harus berpamitan dan undur diri dari cakrawala yang menjadi tempatnya menunggu seharian atas hadirnya rembulan, begitupun sebaliknya saat esok fajar tiba, ketika matahari datang kembali, rembulan harus undur diri tanpa sempat bertemu dengan matahari, begitulah seterusnya, sangat menyakitkan, namun mereka tetap membuat senja tampak terlihat anggun dan tenang dengan cahaya jingga kekuningan yang begitu indah. Begitupun juga saat fajar tiba, dengan cahaya nya yang menghangatkan semesta, seolah tampak tersenyum dengan tabah menyambut dunia.


Namun dibalik kisah sedih itu, Allah menciptakan gerhana, dimana saat itu matahari dan rembulan dapat saling bertemu, dan melepas rindu, dengan indah dan megah cahaya keduanya berpendar diatas satu langit yang sama, mereka bersatu pada waktu yang tepat.


Kisah mereka seolah-olah ingin mengajarkan kepada manusia jika ketulusan serta kesetiaan adalah kunci dari sebuah kisah cinta, tidak ada hal yang mustahil dalam cinta ketika takdir telah memutuskan.


Aleea menarik nafasnya dalam-dalam, mungkin saat ini ia harus belajar dari kisah rembulan dan matahari, dia harus tetap tabah menjalani semua ini, meski nanti ia akan sangat merindukan Barra saat dirinya telah memutuskan pergi jauh dari kehidupan pria yang sangat ia cintai itu, dia akan selalu yakin jika memang Barra sudah menjadi takdirnya, Allah akan mempersatukan mereka diwaktu yang tepat seperti kisah rembulan dan matahari.


Greppphh......


Sebuah tangan kekar melingkar diperut kecil Aleea, "Baby sedang memikirkan apa?", tanya Barra lembut, sembari memeluk mesra Aleea dari belakang, kini keduanya sedang berdiri diatas balkon apartemen Barra.


"enggak, aku hanya sedang menikmati senja",


"kenapa baby sangat menyukai senja?, tampaknya cintamu padaku telah terbagi pada senja juga", ucap Barra sedikit merasa cemburu pada senja,


Aleea terkekeh mendengar ucapan Barra yang cemburu pada senja, "dasar, begini kah kalau cowok kulkas yang kulkasnya lupa dicolok?", ucap Aleea menggoda Barra sambil tersenyum terkekeh melihat mulut manyun pria yang tengah memeluknya itu.


"cowok kulkas? Memang nya apa itu baby?",


"cowok kulkas itu ya cowok seperti kamu, cowok yang selalu cuek dan dingin, bahkan suka sekali berbuat semaunya sendiri ",


"apa aku seperti itu?, perasaan tidak", sahut Barra sembari bibirnya menciumi tengkuk leher Aleea.


"ya memang tidak untuk saat ini, tapi dulu kau seperti itu, bahkan sangat menyebalkan dan suka berbuat sesukamu kepadaku",


Sejenak ingatan Barra kembali pada saat Barra menjadikan Aleea sebagai pelayan nya dan seringkali mempermainkan gadis itu, Barra tersenyum dan sedikit menyesal mengingat itu semua "maaf kan aku baby, waktu itu aku jahat sekali padamu, tapi itu semua karena semata-mata aku ingin dekat denganmu, sungguh", ucap Barra meyakinkan Aleea, ia tak ingin Aleea mengingat kekejamannya dulu.


"iya, aku sudah memaafkamu sejak lama, bahkan aku sama sekali tidak menganggap itu sebagai kesalahan mu koq, aku justru menyukainya, kini itu semua menjadi kenangan indah untukku",


"Benarkah?? Apa baby mau kita membuat banyak kenangan-kenangan indah yang lainnya??",


"heem, tentu saja aku mau", sahut Aleea, dia memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Barra, kedua tangannya meraih tengkuk Barra kemudian mengecup lembut bibir sensual pria itu.


Seketika mata Barra terbelalak, ia terkejut dengan aksi spontan Aleea yang tak pernah ia duga, ini pertama kalinya Aleea mencium bibirnya terlebih dahulu, rasa panas seketika menjalar keseluruhan tubuh Barra, ciuman Aleea benar-benar membangkitkan sesuatu dibawah sana, ada perasaan bergejolak dalam dada Barra, ia tahu perasaan apa itu, namun dengan sekuat tenaga Barra mencoba menahannya karena dia tahu batasannya.


Ciuman itu berlangsung cukup lama, ketika keduanya saling membalas ******an dan hisapan penuh gairah itu. Aleea benar-benar ingin mengukir kenangan-kenangan indah di saat-saat terakhirnya bersama Barra, sebelum nanti ia akan benar-benar menghilang dari kehidupan Barra. Dia ingin membawa setiap ingatan indah tentang Barra bersamanya.

__ADS_1


Bahkan dalam benaknya terbesit pikiran kotor untuk meminta benih Barra dalam rahimnya, namun niatan itu kini Aleea pendam dalam-dalam, dia tahu Barra adalah laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab, dia justru akan merasa curiga saat Aleea menginginkan hal seperti itu.


"baby ayo masuk, cuaca diluar semakin dingin", ajak Barra pada Aleea


"baiklah, aku akan memasak makan malam untuk kita, setelah itu kita makan malam bersama",


"heem, ide yang bagus baby, aku juga sudah merasa sangat kelaparan",


"benarkah? Kalau begitu aku akan memasak makanan spesial untuk pacar gantengku ku ini", sahut Aleea sembari menangkupkan kedua tangannya pada pipi Barra dan tersenyum.


Barra terkekeh melihat tingkah Aleea yang begitu manis dan menggemaskan, gadis ini semakin terlihat berani menunjukkan perhatiannya dan sentuhan-sentuhan lembut pada dirinya, hal itu membuat Barra merasa sangat bahagia.


...----------------...


Setelah beberapa waktu berkutat di dapur, akhirnya masakan spesial Aleea untuk Barra telah siap, kini keduanya menikmati makan malam bersama-bersama, Barra sangat menyukai masakan Aleea, dia makan dengan begitu lahap, sesekali dia juga bersikap manja dan ingin disuapi oleh Aleea, namun hal itu justru membuat Aleea merasa senang, dengan senang hati Aleea menurut permintaan Barra.


Setelah makan malam usai, mereka memutuskan untuk menonton film di ruang keluarga apartemen Barra, apartemen Barra memang terbilang cukup luas dan mewah, apartemen itu memiliki fasilitas yang hampir mirip dengan sebuah rumah.


Aleea menyandarkan kepalanya pada pundak Barra, mereka asyik menonton drama Korea yang Aleea pilih, walaupun Barra sama sekali tidak menyukai drama, tapi ia tetap menikmati demi Aleea, keduanya tampak romantis dengan hanya saling menyandarkan kepala.


Sungguh momen-momen sederhana seperti ini yang nantinya akan sangat mereka rindukan.


"Baby, ini sudah larut, apa baby tidak ingin pulang ke mansion?", ucap Barra sembari maniknya menatap jam tangan yang ada dipergelangan tangannya.


Barra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Aleea yang fokus pada layar televisi, akhirnya Barra kembali menyandarkan kepala gadis itu pada pundaknya. Namun setelah beberapa waktu Aleea masih saja enggan mematikan televisi, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 23:00.


"Baby, ayo aku antar kamu ke mansion, lanjutkan lagi besok nonton filmnya, aku tidak mau baby dimarahi oleh pak tua dan bibi saat baby pulang terlambat", ajak Barra pada Aleea, tangannya menarik tangan Aleea sembari berdiri dari sofa.


Namun Aleea justru menggelengkan kepalanya, dia tetap tak bergeming dari sofa tempatnya duduk. "aku tidak ingin pulang", ucapnya dengan tatapan memelas pada Barra.


"lalu...?", mata Barra mendelik mendengar ucapan Aleea barusaja


"Aku ingin menginap, aku rindu tidur dalam pelukan mu", Ucap Aleea lirih dengan Nanda memohon.


"ishhh..... apa baby ingin cari gara-gara dengan pak tua dan bibi??, mereka akan sangat marah ketika tahu baby menginap diapartemen bersamaku",


"kumohon", ucapan Aleea memelas dengan menangkupkan kedua tangannya dan menatap Barra dengan tatapan berbinar-binar seperti anak kucing.


"Aiiishhhhh......jangan menatap ku seperti itu baby, itu membuat ku tidak berdaya",


"kumohon, izinkan aku menginap",


"ahhhhh.... baiklah, menginaplah...", sahut Barra yang sudah pasrah pada Aleea.

__ADS_1


"benarkah.... terimakasih sayang", sontak saja Aleea memeluk Barra karena merasa senang, lagi-lagi hal itu membuat jantung Barra berdebar-debar tak karuan.


"aku akan menelepon mama, dan mengatakan jika aku menginap di rumah Sindy, temanku, tenang saja", ucap Aleea meyakinkan Barra


"Baiklah, terserah baby, tapi aku tidak ingin baby mendapatkan masalah karena ini",


"Tenang saja aku akan baik-baik saja, jangan terlalu khawatir baby", sahut Aleea dengan nada yang sedikit menggoda


"baby..... Aku suka panggilan itu, itu selalu terdengar manis saat keluar dari bibirmu!!", Kata Barra dengan tatapan nakalnya


"apa baby mau?",


Seketika Aleea mendelik mendengar pertanyaan Barra dengan nada nakalnya itu, tapi lagi-lagi kepolosannya selalu kambuh disaat-saat seperti ini


"mau apa?", tanya Aleea tak mengerti


"mau aku telan", jawab Barra gemas, sembari menggendong tubuh Aleea ala bridal style menuju tempat tidurnya.


Aleea baru mengerti arti pertanyaan Barra, seketika wajahnya memerah seperti kepiting rebus, dia mau, memang hal itu yang ingin Aleea pinta dari Barra, tapi ia enggan mengungkapkannya karena malu.


Barra merebahkan tubuh Aleea diatas kasur king size miliknya, kemudian tubuhnya menindih tubuh Aleea dan tatapan mautnya mengunci Aleea, seketika jantung Aleea terasa ingin meledak karena berdebar tak karuan, wajahnya terasa sangat panas karena malu dan grogi oleh tatapan maut Barra yang tak berjarak sama sekali, perlahan Barra menempelkan keningnya pada kening Aleea, dia tersenyum melihat tingkah Aleea yang tampak grogi, apalagi wajahnya yang memerah seperti buah tomat itu, Barra terkekeh melihatnya.


"sudah larut baby, sebaiknya kita tidur", ucap Barra sembari membaringkan tubuhnya disamping Aleea, kemudian membawa tubuh Aleea masuk kedalam dekapannya.


"bukankah ini yang baby rindukan? Tidur dalam dekapan pacar ganteng mu ini, hmmmm....?",


"heem", Aleea mengangguk, ada sedikit perasaan kecewa saat Barra mengurungkan niatnya, namun sudahlah, tidur dalam dekapan Barra juga sudah lebih dari cukup.


"tidurlah dengan nyenyak baby, aku akan memelukmu sepanjang malam", ucap Barra lembut sembari mengelus pucuk kepala Aleea.


"heem" Lagi-lagi Aleea hanya mengangguk, dalam dekapan Barra memang tempat ternyaman, apalagi saat perasaannya sedang tidak baik-baik saja, semoga kelak dirinya akan terbiasa tanpa dekapan nyaman dan aroma tubuh yang menenangkan ini. perlahan tapi pasti keduanya kini sama-sama terlelap dalam tidur dan mimpi indah. Semoga esok akan ada hari yang lebih baik lagi untuk takdir cinta mereka.


Bersambung


Happy reading 😍


Maaf baru up kak, karena kesibukan yang begitu menumpuk, tapi author akan berusaha untuk selalu update.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️


dukungan dari readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar untuk author menjadi lebih baik lagi 🤗,


Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan kalian dicuaca yang panas seperti ini 💜💜

__ADS_1


__ADS_2