Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 50. Kritis


__ADS_3

Wiu...wiu...wiu...wiu.....


Sebuah mobil ambulans datang menjemput Aleea yang sudah tak sadarkan diri, dia bersimbah darah dalam pelukan Barra.


Dengan tubuh gemetar Barra segera membopong Aleea masuk kedalam mobil ambulans, dibantu oleh beberapa perawatan yang bertugas.


Sesampainya dirumah sakit Aleea segera mendapatkan penanganan medis, karena luka tembakannya cukup parah Aleea harus menjalani operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang dalam punggungnya.


Sedangkan Barra tampak sangat kacau diluar diruangan operasi, dia mondar-mandir kesana kemari, sesekali ia tampak membenturkan kepalanya ke tembok, Barra tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Aleea.


"Barra....apa yang kau lakukan", teriak Bagas yang baru saja sampai dirumah sakit setelah dihubungi oleh Barra beberapa waktu yang lalu,


"hey... hentikan, dengan melukai dirimu sendiri tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik", tutur Bagas pada Barra yang masih saja membenturkan kepalanya pada tembok.


"aku gak pantes berada disini gas, seharusnya bukan Aleea yang berada didalam sana, tapi aku", teriak Barra frustasi, dia mengacak rambutnya dan terduduk dilantai setelah puas membenturkan kepalanya ditembok.


"Barra, saat ini bukan waktunya buat menyalahkan diri mu sendiri, lebih baik kita berdoa agar operasi Aleea didalam sana berjalan lancar ", pinta Barra sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


"iya gas, saat ini hanya berdoa yang bisa kulakukan untuk membantu dia gas, aku laki-laki yang gak berguna sama sekali buat dia, karena aku Aleea celaka gas, benar kata papa aku gak pantas sama sekali berada disampingnya", ucap Barra dengan nada penuh penyesalan.


"cukup Bar, lebih baik kamu tenang dan kita doakan Aleea, dia pasti kuat Bar, kita tahu Aleea adalah gadis yang kuat", ucap Bagas yang terus berusaha memberi ketenangan untuk Barra.


"Gas, hubungi anak-anak, kerahkan mereka untuk mencari para bajingan yang sudah berani menculik Aleea, aku akan membuat perhitungan dengan tanganku sendiri", ucap Barra sembari mengepal kan tangannya penuh amarah.


"kamu tenang aja Bar, anak-anak sudah mulai bergerak mencari para keparat itu, kita tunggu saja kabar dari mereka, lebih baik sekarang kamu fokus berdoa untuk kesembuhan Aleea, oh iya..apa kamu sudah menghubungi paman dan bibi?",


Mendengar pertanyaan Bagas, seketika Barra teringat jika dirinya belum menghubungi siapapun kecuali Bagas tentang kondisi Aleea,


"Oma... Dia pasti cemas karena Aleea dan aku belum juga pulang gas,"


"lebih baik kamu telepon dia agar dia tidak cemas Bar, jangan katakan apapun dulu tentang Aleea, carilah alasan , yang penting berikan dia kabar ", ucap Bagas memberikan saran.


"iya, kamu benar Gas, Oma akan sangat syok jika mendengar kabar ini, aku tidak mau itu akan mempengaruhi kesehatannya, aku akan meneleponnya sebentar ", ucap Barra sambil berdiri dan lekas mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Setelah beberapa waktu Barra menelpon Oma, akhirnya dokter keluar dari ruangan operasi setelah 1 jam lamanya Aleea dibawa masuk kedalam ruangan itu.


Begitu Barra melihat dokter keluar dari ruang operasi, Barra langsung menghampiri dokter itu dan melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi pada dokter itu.


"Bagaimana dokter?, operasinya berhasil kan? Aleea ku tidak apa-apa kan dok?, dia sudah membuka matanya lagi kan?, apa boleh aku melihatnya dok?", tanya Barra pada dokter yang tampak bingung menjawab pertanyaan maraton dari Barra.


"tenang Bar, biarkan dokter menjelaskannya dulu", Ucap Bagas mencoba menenangkan Barra.


"Maaf dok, dia terlalu cemas dok, tolong jelaskan pada kami tentang keadaan Adik kami dok", ucap Bagas pada dokter yang bingung dengan sikap Barra.

__ADS_1


"iya saya mengerti, syukurlah operasinya berjalan lancar, pelurunya berhasil di keluarkan, namun...,- belum selesai dokter berbicara Barra sedang memotong kata-kata dokter.


"namun apa dok? Katakan...", sahut Barra merasa sangat ketakutan dengan kata-kata namun dari dokter itu. Pikiran Barra sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.


"Namun saat ini pasien masih dalam masa kritis, dan belum sadarkan diri, dia masih harus memerlukan perawatan intensive", sambung Dokter itu menjelaskan.


Seketika Barra memukul tembok dengan tinjunya, ternyata Aleea belum sepenuhnya lolos dari maut, Barra semakin merasa tak berdaya dan frustasi,


"Dia akan sembuh kan dok?",


"Kita doakan saja tuan, semoga adik anda lekas bisa melewati masa kritisnya, untuk sementara waktu pasien belum boleh dijenguk, karena dia masih harus berada dalam ruangan intensive sampai keadaannya stabil dan sadarkan diri, jika sudah tidak ada yang ditanyakan lagi, saya mohon permisi tuan", ucap Dokter itu pada Barra yang masih syok dan belum bisa menerima keadaannya, lalu Dokter itu pergi meninggalkan Barra yang masih berdiri mematung.


Hari sudah malam, Barra masih tetap berdiri didepan ruangan ICU tempat Aleea di rawat, dia menatap Aleea dari balik tembok kaca yang menjadi pembatas, karena memang saat ini Aleea belum bisa dijenguk.


"Barra, lebih baik kamu pulang dulu kerumah Oma, mandilah dan ganti pakaian mu, kau sangat terlihat kacau dengan pakaian mu ini",


Ucap Bagas yang tak tega melihat sahabatnya yang rupawan itu terlihat kucel dengan hanya mengenakan celana boxer hitam dan kaos putih polos yang kini sudah berlumuran noda darah.


"enggak gas, aku mau tetap disini, aku yakin sebentar lagi Aleea akan membuka matanya", jawab Barra yang pandangannya masih tertuju pada sosok Aleea yang terbaring lemah tak berdaya didalam ruangan ICU , dengan segala peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.


"Baiklah, tapi kau sudah menelpon Oma kan tadi?"


Barra hanya menjawab pertanyaan Bagas dengan mengangguk, tanpa melepaskan pandangannya dari gadis yang sangat ia cintai itu.


"Baiklah, aku akan keluar sebentar mencarikan baju ganti dan makanan untuk mu, kau pasti lapar?", Ucap Bagas pada Barra yang sama sekali tidak merespon kata-katanya.


Mungkin menghubungi papanya dan mama Aleea akan sedikit meringankan beban psikis yang dialami Barra saat ini," pikir Bagas sembari berjalan menuju toko pakaian.


Setelah berpikir panjang akhirnya Bagas menelpon pak Genta dan menceritakan kronologi kecelakaan yang dialami oleh Aleea dan Barra yang saat ini sedang berada dikampung halaman mendiang ayahnya Aleea.


Kabar dari Bagas justru membuat pak Genta dan Bu Sarah merasa ditipu oleh Aleea, yang harusnya saat ini gadis itu belajar di Paris, tapi ternyata berada dikampung halaman ayahnya.


Namun semua hal itu menjadi tidak penting lagi, setelah mendengar kondisi Aleea yang sedang kritis dan belum sadarkan diri.


Pak Genta dan Bu Sarah langsung menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan Bagas tadi, karena kampung halaman mendiang ayahnya Aleea itu sangat jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam jika menggunakan mobil, akhirnya pak Genta memutuskan untuk kesana dengan menggunakan helikopter pribadinya.


Tak butuh waktu lama, akhirnya pak Genta dan Bu Sarah sampai dirumah sakit itu, dan segera menuju ruangan intensive tempat Aleea dirawat.


Disana Pak Genta dan Bu Sarah melihat Barra yang tampak kacau sedang duduk dilantai depan ruangan Aleea dirawat.


Sejujurnya pak Genta sangat tak tega melihat keadaan putra kesayangannya itu, namun pak Genta masih saja dikalahkan oleh ego dan amarah nya pada Barra yang masih saja membangkang dan tetap bersikeras mengejar cinta adik tirinya itu.


"Barra...bangun....", panggil pak Genta yang sudah berdiri dihadapan Barra bersama Bu Sarah disampingnya.

__ADS_1


"papa....",


"kenapa? Apa kau kaget melihat papa berada disini?, Bagas yang telah menelepon papa dan menceritakan semuanya", Kata pak Genta pada Barra yang berusaha berdiri.


"Dimana Aleea nak...? Bagaimana keadaan adik mu? Dia baik-baik saja kan?", tanya Bu Sarah dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Seketika Barra tertunduk melihat itu, dia merasa bersalah pada wanita paruh baya yang berdiri dihadapannya dengan mata berkaca-kaca itu, karena dirinya putri kesayangannya harus berjuang sendirian melawan maut didalam sana. Barra sungguh merasa tak berdaya.


"Aleea...dia didalam sana bibi", kata Barra pada Bu Sarah sambil menunjuk ke arah Aleea berbaring, "dia masih kritis bibi, dokter belum mengizinkan siapapun menjenguk nya", sambung Barra lirih dengan wajah tertunduk tak berdaya, rasanya saat ini juga Barra ingin berlari kedalam ruangan itu dan menggantikan posisi Aleea nya.


"hiksss....hikssss....hiksss...Aleea, putri mama...", seketika tangis Bu Sarah pecah ketika menyaksikan putrinya dalam keadaan tak berdaya dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya.


"tenang sayang, tenang kan dirimu, putri kita pasti akan baik-baik saja, dia gadis yang kuat", ucap pak Genta sembari meraih istrinya itu kedalam pelukannya, dia juga sangat merasa iba dan tidak tega melihat keadaan Aleea yang terluka karena Barra, anak kesayangannya.


Sambil mendekap istri nya dan menenangkannya, pak Genta menatap Aleea yang berbaring didalam sana dan berganti menatap Barra yang berdiri lesu tak berdaya dihadapannya.


Pak Genta dalam perasaan dilema, haruskah dia menghukum Barra atas semua yang telah terjadi, bukankah anaknya juga terpukul dan kacau atas kejadian yang menimpa Aleea, namun jika Barra menuruti perkataannya dan berhenti mengejar Aleea, mungkin semua ini tidak akan terjadi, Aleea tidak harus mengalami penculikan dan tertembak jika Barra tidak bersikeras menyusul Aleea yang sudah memutuskan pergi dan mengakhiri hubungan dengannya.


Menurut pemikiran pak Genta dalang dibalik penculik ini mungkin adalah salah satu musuh geng motor Barra, memikirkan hal itu emosi pak Genta kembali muncul dan ingin memarahi anaknya atas ketidak dewasaanya itu.


Pak Genta melepaskan pelukannya pada Bu Sarah, dan berjalan menghampiri Barra yang berdiri dihadapannya, laki-laki paruh baya itu menarik tangan Barra menjauh dari ruangan itu.


"plakkkk.....", sebuah tamparan melayang tepat dipipi Barra.


"kamu puas nak? Kamu puas dengan semua yang telah kau lakukan pada adik mu yang katanya kau cintai itu? Haaa...?", Ucap pak Genta dengan nada penuh penekanan, dari sorot matanya Barra dapat melihat kekecewaan dan kemarahan ayahnya. Dia pantas mendapatkan ini semua, dia sadar jika keberadaan nya disamping Aleea hanya akan membuat gadis yang ia cintai itu menderita.


"maaf kan aku pa...", sahut Barra lirih


"Semua tidak akan terjadi jika kau menuruti apa kata papa, buang jauh perasaan cintamu padanya, dia adik mu, tak sepantasnya kamu menginginkan dia sebagai pendamping hidupmu, papa bisa mencarikan mu 100 perempuan cantik seperti Aleea untuk menjadi istrimu, tapi jangan dia Barra?",


Tadinya Barra sangat merasa Bersalah, dan memiliki perasaan untuk menyerah atas hubungannya dengan Aleea, jik memang itu untuk kebaikan Aleea, jika berada di samping Barra hanya akan membuat Aleea terluka Barra akan berusaha ikhlas melepas Aleea, namun perkataan Ayahnya yang menyinggung tentang wanita lain dan menyamakan dengan Aleea yang menurut Barra adalah wanita tercantik diplanet bumi ini dan tidak ada yang bisa menyamai Aleea nya, justru memantik emosi Barra, ia merasa tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan wanita lain walaupun nantinya Barra memutuskan untuk tidak bersama Aleea. Dia akan lebih memilih sendiri untuk selamanya tanpa berpikir menjalin hubungan dengan siapapun.


"kenapa pa? Apa karena aku dan dia saudara tiri?, seseorang berkata padaku jika tidak ada hukum yang melarang saudara tiri beda ibu dan ayah seperti kami untuk menikah, hubungan kami sah dan boleh dimata hukum pa, cinta kami bukan cinta yang terlarang!!, tidak usah repot-repot mencarikan wanita untuk menjadi istriku pa, tidak akan ada yang seperti dia didunia ini, karena hanya Aleea yang akan menjadi istriku, atau aku akan melajang seumur hidupku ", ucap Barra tegas


"dasar kekanak-kanakan, dengan sikap egois mu ini apa kau berniat untuk menghancurkan adikmu?, bayangkan, bagaimana bisa papa membiarkan putri papa hidup dengan berandalan seperti mu?, kau masih berhubungan dengan geng motor yang tidak berguna itu kan? Papa juga tau jika selama ini kau bertahan hidup dengan mengikuti balap motor,"


"jika memang iya kenapa pa?, aku mengikuti balap motor resmi, aku akan menjadi pembalap internasional dan memiliki banyak uang dari situ pa? Itu adalah passion dan hobby ku pa",


"dasar naif kamu nak, apa kau pikir dengan menjadi pembalap internasional akan membuat musuh-musuh mu dijalanan akan berhenti mengusikmu?, apa kau tidak sadar jika hari ini kamu sudah membuktikan apa yang selama ini papa takutkan? memiliki geng motor, menjadi penguasa jalanan, sudah pasti kau juga memiliki banyak musuh, dan hari ini salah satu dari musuhmu itu telah mencelakai adikmu? Apa kau pikir papa akan membiarkan hal ini terulang lagi dengan merestui hubungan konyol kalian? Dewasalah nak? Tinggal kan arena balap, dan lekas pikirkan masa depan mu yang sudah jelas, di Adikara group ",


Kata-kata ayahnya sontak membuat Barra tersadar, jika memang benar, kehidupan jalanan yang dulu pernah ia geluti memiliki banyak resiko dan berbahaya bagi Aleea untuk berada disampingnya, buktinya saat ini, disaat dirinya sudah memutuskan untuk berhenti dari kehidupan balap liar dan memutuskan untuk membersihkan dirinya dengan masuk event balap resmi, namun masih saja musuhnya mengincar dirinya bahkan orang terdekatnya, hal ini sungguh menampar Barra. Membebaskan dirinya dari bayang-bayang masa lalu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Bersambung.

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏🙏


Happy reading, 😍


__ADS_2