Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
Bab 46. jangan pergi


__ADS_3

Angin sepoi berhembus lembut menabrak wajah Aleea yang sedang asyik berjalan menyusuri pantai, gadis itu tampak terlihat menikmati udara sore hari itu, dia berjalan dengan tenang tanpa memperdulikan sekelilingnya, sesekali ia memainkan air laut yang berada dibawah kakinya.


Tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan, dari balik helmnya Barra menatap kearah gadis yang sudah 2 bulan ini ia cari-cari dan ia rindukan, akhirnya kini ia dapat menatap Aleea nya didepan mata kepala nya, Barra sempat tak menyangka jika akhirnya kini ia dapat melihat Aleea kembali dalam kenyataan, bukan dalam mimpi yang selama ini ia alami.


Barra ingin sekali segera berlari dan memeluk erat gadis berkulit putih itu, namun ia harus menahan seluruh perasaan rindu yang menggebu didalam dirinya, ia tak mau kehadirannya yang sangat dihindari oleh Aleea justru akan membuat gadis itu kembali berlari dan menghilang lagi dari dirinya. Barra akan memantau Aleea dari kejauhan terlebih dahulu setelah ia mengetahui dimana tempat tinggal Aleea saat ini.


Flashback on:


Setelah Barra sampai disebuah desa terpencil dimana lokasi ponsel Aleea terlacak, Barra justru mendapati jika ponsel Aleea berada ditangan orang lain, hal itu sempat membuat Barra sangat khawatir kepada Aleea, ia pikir lantas dimana keberadaan Aleea saat ini jika ponselnya telah jatuh dan ditemukan oleh seorang pria yang saat ini sedang berada dihadapannya.


"katakan dimana pemilik ponsel ini?", tanya Barra pada laki-laki yang saat ini merasa ketakutan karena nada bicara Barra yang tinggi dan terlihat marah, ia menyangka jika pria dihadapannya ini mungkin telah mencopot barang milik Aleea, Barra sungguh cemas dengan keadaaan gadis itu.


"Barra, tenangkan dirimu, dengarkan dulu penjelasannya", ucap Bagas Yeng mencoba menenangkan Barra yang sudah terlihat marah karena cemas.


"katakan dimana kau mendapatkan ponsel ini, aku akan memberimu kesempatan untuk selamat jika kau mengatakannya dengan jujur", kata Barra pada pria itu penuh penekanan, akhirnya pria itu menceritakan kronologi bagaimana dirinya menemukan ponsel milik Aleea.


Setelah mendengar penjelasan pria itu akhirnya dia sudah dapat sedikit merasa lega, karena pria itu tidak berbuat jahat pada Aleea, melainkan berkat pria itu yang menemukan ponsel milik Aleea dan mengaktifkannya justru membuat dirinya dapat melacak lokasi Aleea, yang selama ini sengaja Aleea matikan.


Pria itu berkata pada Barra jika ia menemukan ponsel Aleea di pantai, karena gadis itu setiap sore akan datang kepantai itu,


"maaf tuan, tidak ada niatan saya untuk memiliki ponsel ini, saya sudah ingin mengembalikannya sejak awal, tapi gadis pemilik ponsel ini tidak terlihat datang kepantai sejak beberapa hari yang lalu, akhirnya saya berinisiatif untuk mengaktifkan ponselnya, siapa tahu dia menghubungi nomor nya untuk menemukan ponselnya ini", jelas pria itu dengan penuh ketakutan karena tatapan tajam Barra padanya.


"benarkah? Jika memang seperti itu maka maafkan aku yang sudah mencurigai kamu, dan terimakasih karena kamu telah mengaktifkan ponsel ini, sehingga aku bisa menemukan keberadaannya",


Setelah beberapa waktu Barra, Bagas dan pria itu berbincang, akhirnya pria itu mengantarkan Barra ke pantai yang biasa Aleea datangi setiap sore, pria itu meminta Barra untuk menunggu gadis pemilik ponsel itu disana, karena biasanya gadis itu akan datang untuk sekedar melihat senja ditepi pantai itu. Barra benar-benar yakin jika itu adalah benar Aleea karena dia adalah gadis yang menggilai keindahan senja.


Sebelum pria itu pergi, Barra memberikan sedikit uang untuk ucapan terimakasih kepada pria itu, karena berkatnya dia akan segera bertemu Aleea.


Flashback of.

__ADS_1


...----------------...


Barra dan Bagas masih memantau Aleea yang kini tengah duduk ditepi pantai untuk menikmati keindahan cahaya kuning kemerahan itu, maniknya tampak fokus menatap mentari yang perlahan-lahan kembali keperaduanya.


"Barra, akan sampai kapan kita menunggu disini, perut sudah merasa sangat kelaparan, ayolah kita temui kakak ipar dan meminta makanan darinya", ucap Bagas yang sedari tadi menahan rasa laparnya.


"diamlah, jangan bicara keras-keras, nanti Aleea akan mendengar mu dan melihat kita, tahanlah sebentar saja, nanti aku akan mentraktir mu makan sepuasnya", sahut Barra, maniknya masih saja fokus menatap Aleea tanpa memperdulikan Barra disampingnya yang hampir saja mati kelaparan.


"tapi sampai kapan aku harus menunggu, apa kau mau aku mati kelaparan", ucap Bagas yang terus merengek.


Namun Barra tiba-tiba Barra mengajaknya untuk pergi dari situ ketika melihat Aleea yang sudah beranjak pergi meninggalkan pantai itu, Barra dan Bagas membuntuti kemana perginya Aleea, hingga sampai disebuah rumah sederhana dan tampak begitu asri, tampak seorang nenek menyambut kedatangan Aleea dengan penuh kasih sayang, Barra menyaksikan hal itu dari kejauhan.


Tampaknya saat ini Barra tahu itu rumah siapa, itu adalah rumah masa kecil Ayah nya, jadi selama ini Aleea pergi tinggal bersama omanya dikampung halaman mendiang ayahnya, seketika Barra merasa lega dan tenang saat mengetahui hal itu, selama ini dia sangat mengkhawatirkannya.


Setelah memastikan Aleea masuk kedalam rumah, Barra memutuskan untuk pergi dan mencari penginapan dikampung itu, namun ia akan memberikan makan pada Bagas yang sudah hampir mati kelaparan terlebih dahulu, mereka berdua menuju sebuah rumah makan sederhana yang ada dikampung itu, Barra dan Bagas makan dengan sangat lahap setelah seharian tak melihat makanan sama sekali.


Keesokan paginya Barra kembali memantau Aleea dari kejauhan, ia membuntuti Aleea seharian ini, mulai dari pagi-pagi Aleea yang pergi kepasar bersama omanya, siang harinya Aleea mengajar anak-anak disebuah rumah singgah, karena memang saat ini Aleea belum memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya, Sampai sore hari Aleea kembali berjalan menyusuri pantai dan menikmati hembusan angin sepoi disana, dia selalu menyempatkan waktu untuk melihat senja, karena dengan melihat senja ia akan merasa kuat dan ikhlas untuk berada jauh dari Barra, sosok yang sangat ia rindukan saat ini.


"apa kau sangat bahagia saat tidak berada didekat ku?", ucap Barra


"apa sekarang kau bisa berbicara?", tanya Aleea yang masih mengira jika sosok dihadapannya adalah bayangan Barra yang selama ini selalu datang menghantuinya.


mmmppphhh......tanpa berbasa-basi Barra mencium bibir tipis itu dan ********** habis, seakan Barra ingin meluapkan rasa rindu yang hampir membunuhnya. Kedua mata Aleea terbelalak, dia terkejut karena sentuhan bibir ini terasa sangat nyata, sepersekian detik Aleea menutup matanya dan terhanyut oleh ciuman Barra, Barra menekan tengkuk Aleea dan satu tangannya meraih pinggang Aleea erat, ciumannya begitu bergairah sampai akhirnya Aleea tersadar jika ini semua nyata. Dengan sekuat tenaganya Aleea mendorong tubuh Barra agar melepaskan ciumannya.


"lepaskan..., apa yang kau lakukan??", teriak Aleea sambil mendorong tubuh Barra menjauh


"aku sangat merindukanmu baby, setelah dua bulan aku mencarimu tanpa henti, akhirnya aku bisa menemukan mu?",


"jangan mencariku, seharusnya kau tidak menemui ku lagi meskipun kau tahu dimana aku", ucap Aleea berteriak histeris, dia sangat terkejut dengan kedatangan Barra yang selama ini sangat ia rindukan, namun juga ia hindari, selama dua bulan ini dia berusaha lari dan berhenti memikirkan Barra. Namun tidak bisa sama sekali, jauh dari Barra sangat menyiksa dirinya.

__ADS_1


Aleea berusaha berlari menjauh, namun Barra berhasil menangkap tubuh ramping gadis itu, Barra memeluk erat Aleea dari belakang, dia juga terkejut dengan reaksi Aleea yang tak terduga, Barra pikir Aleea akan bahagia sepertinya saat mereka kembali bertemu, namun Aleea justru terlihat sebaliknya.


"lepaskan aku Barra, jangan menyentuh ku lagi", Aleea berbalik dan mendorong dada bidang Barra menjauh darinya, Barra sangat syok mendapati sikap Aleea yang enggan bertemu dengannya.


"tapi kenapa baby, bukankah kau juga sangat merindukan aku, dadaku terasa sesak sampai ingin mati saat membaca surat dari mu dua bulan yang lalu, kenapa kau harus pergi, kita bisa mencari solusinya tanpa harus berpisah seperti ini baby", ucap Barra dengan nada yang memohon agar Aleea tak bersikap seperti ini, karena melihat Aleea yang enggan bertemu dengannya sangat melukainya.


"cukup Barra, kita adalah saudara, jadi berhenti bersikap seperti ini padaku, dan satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, aku sangat muak mendengarnya", jelas Aleea dengan nada yang dibuat datar dan ketus.


Ucapan Aleea itu sangat melukai hati Barra, namun Barra yakin semua itu hanya usaha Aleea untuk membuatnya menyerah, Barra tidak akan tertipu.


Aleea sengaja bersikap seperti itu agar Barra menyerah dengan perasaannya, sebenarnya bersikap seperti ini pada Barra adalah hal yang sangat sulit untuk Aleea, tidak bisa dibohongi perasaannya pada Barra justru semakin besar saat dia berada jauh dari sosok laki-laki yang sedang memohon dihadapannya itu. Ingin rasanya Aleea menghambur kedalam pelukan Barra, dan meluapkan semua kerinduan yang teramat dalam.


Aleea berlalu pergi meninggalkan Barra yang masih berdiri ditepi pantai dia masih terkejut dengan sikap dingin gadis yang selalu bersikap manis kepadanya itu, namun Barra kembali mengejar Aleea.


"berhenti disitu, dan jangan ikuti aku", titah Aleea ketika melihat Barra mengikutinya.


"tapi baby, aku tidak tahu harus kemana didesa terpencil ini", ucap Barra memelas


"pulanglah, dan berhenti menggangguku", sahut Aleea ketus.


Namun Barra tak mau menyerah begitu saja, dia tetap mengikuti Aleea, hal itu membuat Aleea merasa sangat kesal.


"aku bilang berhenti mengikuti, apa kau tidak bisa mendengarkan ku?", Aleea berlari menyeberangi jalan saat Barra berhenti diseberang jalan sana.


Namun ketika Barra ingin mengikuti Aleea menyeberangi jalan itu, sebuah motor melintas dengan kecepatan tinggi dan menabrak tubuh Barra.


Brakk.... Barra jatuh terkulai dijalanan itu, seketika Aleea menoleh pada sumber suara itu, dia sangat syok saat melihat Barra sudah jatuh terkulai dijalanan, tanpa berpikir panjang Aleea berlari dan memeluk Barra, dia berusaha membangun pria itu, dia tampak tak sadarkan diri, orang-orang yang melihat kejadian itu datang menghampiri mereka dan menolong Barra.


Bersambung

__ADS_1


Happy reading,


jangan lupa dukungannya ya kakak-kakak readers 🙏♥️


__ADS_2