
Rintik-rintik gerimis turun membasahi kota, hari ini senja tak nampak anggun seperti biasanya, cahaya merah kekuningan itu, tertutup oleh kabut hitam yang tebal, seakan menangis dengan anggunnya diatas langit malam.
Hari ini Aleea terjebak hujan disebuah perpustakaan kota, karena tadi setelah pulang dari kampus Aleea memutuskan untuk belajar disana, karena sebentar lagi dirinya akan menghadapi ujian. Namun hujan turun dengan sangat lebat malam ini, cahaya kilat terlihat saling menyambar diatas langit yang gelap gulita.
Sudah hampir setengah jam Aleea berdiri di teras perpustakaan itu, dia berharap hujan segera reda, namun sepertinya hujan masih terlihat enggan untuk pergi.
"huftt...", sembari berdiri dan tertunduk Aleea membuang nafasnya berat, rasanya ia akan menunggu hingga larut malam di perpustakaan itu.
Sedangkan Barra yang sejak tadi sudah kembali dari basecampnya, dia mencari-cari Aleea di seluruh ruangan mansion, namun batang hidungnya tak kunjung terlihat juga.
Barra bertanya pada penjaga didepan, namun dia mengatakan jika Aleea belum pulang sama sekali dari tadi pagi. Mendengar penuturan penjaga itu Barra menjadi sangat khawatir, sementara hujan nampak begitu deras diluar, Barra menatap dari balik tirai jendela kamarnya, berharap melihat Aleea yang datang dari pintu gerbang sana.Beberapa kali Barra mencoba menelpon Aleea namun nomornya tidak aktif, setelah seper sekian menit menunggu Barra akhirnya memutuskan untuk mencari Aleea keluar.
Dia pacu mobil sportnya itu membelah jalanan malam yang begitu sepi, hanya suara rintik air hujan yang terdengar, sembari menyetir Barra menatap sekeliling, berharap menemukan Aleea di suatu tempat, namun nihil, maniknya sama sekali tak menemukan sosok yang ia cari.
Hingga akhirnya Barra memutuskan mencari Aleea disekitar kampus, betapa leganya ketika ia melihat Aleea berdiri seorang diri didepan teras perpustakaan yang tak jauh dari kampusnya, Barra segera turun dengan payung hitam ditangannya, dia bergegas menghampiri Aleea yang sudah terlihat cemas menunggu hujan yang tak kunjung reda.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu??", sapa Barra dengan nada dinginnya serta wajah cool nya yang sudah seperti kutukan, meluluh lantahkan setiap kaum hawa yang melihatnya, begitupun Aleea, yang selalu tak bisa mengedipkan matanya saat menatap wajah rupawan dan postur badan tinggi tegap itu berdiri dihadapannya, Barra bak bagai pahlawan penyelamat bagi Aleea, kedatangannya selalu tak terduga disaat-saat Aleea mengalami kesulitan.
"Barra??", Aleea sungguh merasa lega ketika melihat sosok Barra berdiri dihadapannya.
"hmmm...ayo pulang, disini udaranya sangat dingin", sahut Barra yang sok tenang, padahal dalam hatinya begitu cemas dengan keadaan Aleea.
Aleea bergegas menghampiri Barra, dan kini keduanya berjalan dibawah payung yang sama menuju mobil Barra.
"haishh..., kenapa kau rajin sekali sih, coba lihat dirimu, apa tidak bisa berhenti belajar sehari saja?", Barra mengomel sambil memasang seatbelt pada tubuh Aleea.
"iya maaf kan aku, aku ada ujian sebentar lagi, jadi ku pikir aku harus semakin rajin belajar", ucap Aleea dengan wajah yang lesu
"jangan terlalu keras pada dirimu, terlalu rajin akan membuat dirimu merasa lelah, jangan hanya hidup untuk masa depan dan selalu memandang keatas, coba lihatlah sekelilingmu juga, terkadang itu akan lebih membuatmu merasa bahagia", tutur Barra sembari menatap Aleea dan mengusap pucuk kepala gadis itu.
"he'em, siap tuan Barra, setelah ujian berakhir aku akan lebih santai dan menikmati hari-hari ku", sahut Aleea penuh semangat dengan menunjukkan senyum gummy nya yang sangat menggemaskan itu.
"cihh...dasar anak kucing", Barra tersenyum melihat senyuman menggemaskan Aleea, "Apa kau sudah makan?",
__ADS_1
kruuukkkk....... Tiba-tiba suara perut Aleea berbunyi ketika Barra baru saja mengakhiri pertanyaannya pada Aleea.
Sontak keduanya saling memandang dan tersenyum bersama. Pipi Aleea tampak memerah karena merasa malu pada Barra.
"Baiklah, ayo kita cari makanan, sepertinya bayi kita sudah merasa sangat kelaparan didalam perut mu itu", Ucap Barra pada Aleea sembari mengelus perut kecil Aleea.
Aleea seketika dibuat melotot mendengar ucapan Barra yang mengatakan bayi mereka lapar, dasar cowok devil selalu sesukanya saat bersikap maupun berbicara,
"memangnya kapan aku mengandung bayimu?? Cihh...dasar menyebalkan", gumam Aleea yang merasa geli dengan ucapan Barra.
Sembari fokus menyetir mobil sportnya, Barra hanya tersenyum mendengar Aleea yang mengomel kepada nya, karena tak tahan akhirnya Barra kembali menggoda Aleea.
"Apa baby ingin tahu kapan baby mengandung bayiku", tanya Barra dengan tatapan yang serius.
Aleea yang dasarnya gadis lugu pun sejenak mengernyitkan keningnya, dia berusaha mencerna perkataan Barra barusan, dia merasa tidak pernah sama sekali melakukannya dengan Barra.
"waeee....kenapa kau suka sekali menggoda ku dengan kata-kata omong kosong mu itu", Aleea semakin kesal saat sadar Barra hanya menggodanya.
"aaaaaa...hentikan jangan mengatakan hal yang menggelikan seperti itu",
"hmmm...pipi baby memerah, itu artinya baby mau kan?? Ayo kita lakukan!!", ucap Barra santai tanpa beban sama sekali.
Sedangkan Aleea sudah seperti air mendidih didalam teko yang berbunyi, dia terus mengomel meminta Barra menghentikan omong kosong nya yang membuat dirinya merasa malu sendiri saat memikirkan hal itu.
Akhirnya disepanjang perjalanan kuping Barra terasa sakit karena hanya mendengar kan Omelan Aleea yang sudah seperti petasan. Sampai setibanya disebuah restoran ala Korean food keduanya turun dari mobil dan menikmati berbagai menu lezat kesukaan Aleea , Barra sengaja membawa Aleea ke restoran itu karena Barra tau Aleea sangat menyukai sesuatu yang berbau tentang negeri ginseng itu.
Barra hanya menatap Aleea yang makan dengan lahapnya, dia terus memasukkan suapan demi suapan makanan yang telah ia pesan tadi kedalam mulutnya, Barra baru melihat seorang gadis yang sangat menikmati makanannya, tak seperti gadis pada umumnya yang selalu menahan nafsu makannya hanya karena takut berat badan mereka akan naik. Barra sangat suka melihat Aleea yang makan dengan lahap, kenapa hal itu justru sangat terlihat menggemaskan bagi Barra.
"Hmmm...kamu gak makan?? Ini sangat enak, cobalah", tanya Aleea yang baru sadar sedari tadi Barra hanya menatapnya melahap makanannya.
"enggak, aku sudah kenyang dengan hanya melihat mu makan dengan lahap seperti itu",
"benarkah...?? Hebat sekali perut mu jika benar seperti itu, jadi boleh ini untukku??", tanya Aleea menunjuk makanan yang berada dihadapan Barra.
__ADS_1
"yaa.. tentu saja, makanlah yang banyak selagi nafsu makan mu baik",
"wahhh.... terimakasih", dengan girang Aleea memindahkan piring kosongnya dan menukarnya dengan piring Barra yang masih penuh. Dengan lahap Aleea kembali menyantap porsi keduanya itu. Sedangkan Barra sangat menikmati pemandangan yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Apa kamu tidak takut gemuk?", celetuk Barra ditengah-tengah Aleea yang sedang asyik menikmati makanannya.
"enggak, kenapa aku harus takut gemuk?", sahut Aleea santai dengan tetap terus melahap makanannya.
"yaaa... benar, jangan takut gemuk dan makanlah dengan baik, mungkin kamu akan semakin terlihat menggemaskan saat memiliki tubuh yang berisi",
"benarkah? Apa kamu akan tetap menyukainya jika aku memiliki tubuh yang gemuk seperti ini??", tanya Aleea sambil menggembungkan kedua pipinya agar terlihat cubby.
Barra tertawa tergelak melihat tingkah Aleea yang bertransformasi menjadi gadis yang gemuk, itu terlihat sangat lucu dan imut.
"tentu saja aku akan semakin menyukai baby dengan tubuh yang gemuk dan menggemaskan seperti itu", sahut Barra yang belum berhenti tertawa.
"janji...?? Aku akan melihatnya nanti saat kau berubah ketika aku menjadi gemuk, aku akan menghukum mu", ucap Aleea penuh penekanan namun dengan nada bercanda.
"tentu baby, seperti apapun kelak tubuh baby berubah, aku akan tetap sama, aku akan selalu jadi Barra yang selalu kehilangan akal saat bersama mu!!",
"cihh... dasar cowok devil, rupanya sekarang kau pandai sekali menggombal ", sahut Aleea ketus, namun sebenarnya didalam hatinya sudah bermekaran bunga-bunga cinta.
Malam ini memang terasa dingin diluar namun begitu hangat bagi Aleea dan Barra, perasaan mereka yang semakin hari semakin tumbuh semakin besar untuk satu sama lain, keduanya sama-sama saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain, namun akan dibawa kemana hubungan mereka jika kedua orangtuanya mengetahui perasaan mereka dan tak memberikan restu, hal itu masih menjadi satu-satunya penghalang untuk cinta Aleea dan Barra.
Bersambung
Happy reading kakak readers tercinta 🙏♥️
Maaf karena baru up, karena ada kesibukan yang begitu padat dibulan agustus ini, mari kita sama-sama belajar dengan saling mengingatkan jika kakak readers menemukan kekurangan dan kesalahan author dalam berkarya, 🙏♥️
Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komen dan votenya terimakasih 🙏♥️ dukungan readers tercinta adalah sebuah motivasi terbesar untuk author menjadi lebih baik lagi dalam berkarya 🙏♥️
Jangan lupa untuk selalu merasa bahagia dan jaga selalu kesehatan kalian 🎉💜
__ADS_1