Aleea Untuk Barra

Aleea Untuk Barra
bab 19. makan malam


__ADS_3

"iya...


"tidak...


Serempak Aleea dan Barra memberikan pernyataan yang berbeda.


Hal itu membuat pak Genta menjadi bingung, mendengar Aleea menjawab tidak sedangkan Barra menjawab iya.


"ayolah anak-anak, jawaban siapa ni yang benar?"


"maksud Aleea kita bukan sahabat paman, kita hanya saling kenal saja" jawab Aleea mencoba menutupi betapa rumitnya hubungannya dengan Barra.


"apa benar begitu, nak Barra?" tanya Bu Sarah memastikan pernyataan putrinya, dalam hati kecilnya ad sedikit kekhawatiran jika Aleea dan Barra yang akan menjadi anaknya kelak memiliki hubungan yang lebih.


"iya bibi, jika menurut Aleea begitu, anggap saja benar" jawab Barra datar, dia kesal dengan jawaban Aleea, namun dirinya bisa berbuat apa, dia memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Aleea.


"Huffftt... Diam-diam Barra menghela napas dalam, ia tertunduk lesu, harapannya untuk mengejar cinta Aleea sepertinya menemui batu yang sangat besar menghadang langkahnya, sepertinya Barra akan patah hati terlebih dahulu sebelum menyatakan perasaannya.


"Barra, kenapa kamu terlihat lesu? Apa kamu sakit?" tanya pak Genta yang melihat Barra tertunduk lesu.


"Enggak koq pa, aku baik-baik saja, kapan mulai makan malamnya, aku sudah sangat kelaparan!!"


"hmmm...kamu ini, apa tidak bisa berpura-pura manis didepan calon adik dan ibumu?, sungguh membuat papa merasa malu" gumam pak Genta sembari tertawa dan mengelus pundak Barra yang duduk di sampingnya.


Mendengar itu Aleea dan ibunya pun tersenyum,


"Biarkan saja mas, seperti itu malah lebih baik, jadilah dirimu sendiri nak tak perlu berpura-pura, anggap bibi seperti ibu mu sendiri" sahut Bu Sarah mencoba mencairkan suasana dan bersikap ramah kepada Barra.


"iya bibi, jangan kaget kalo aku akan selalu merepotkan mu nanti dan kamu juga Aleea, aku adalah abangmu jadi kamu harus menurut padaku" kata Barra sembari melirik dan tersenyum penuh arti pada Aleea.


Seketika Aleea mendelik melihat senyuman Barra itu, dia selalu tau senyuman Barra memiliki maksud tersendiri dibaliknya.

__ADS_1


Sedangkan Bu Sarah sangat tersentuh mendengar ucapan Barra yang terdengar apa adanya dan tulus, dia bahkan akan sangat menantikan hari-hari nya yang akan direpotkan mengurus anak laki-lakinya dan suaminya, dia sangat senang membayangkan kehidupan keluarga lengkap dengan dua orang anak, putra dan putri yang akan ia rawat penuh dengan kasih sayang nantinya.


"wahh tentu saja bibi akan sangat senang hati melakukan nya nak Barra, bibi akan memasakkan makanan kesukaanmu dan Aleea setiap hari nanti" jawab Bu Sarah dengan kedua sudut bibirnya yang mengembang.


"Lalu bagaimana dengan aku sayang, masak anak-anak saja yang akan kau masakkan?" pak Genta merasa cemburu dan merajuk


melihat ekspresi ayahnya yang cemberut dan menjadi kekanak-kanakan Barra mencebik.


"Cih, dasar pak tua, liat wajahmu itu sudah seperti bayi yang kehilangan mainannya" gumam Barra mengejek ayahnya, dengan ekspresi meledek dan kedua tangannya yang ia lipat diatas perut.


"Biar saja, Barra, meskipun calon ibumu ini sangat baik padamu, jangan kau buat dia kuwalahan menghadapi sifatmu yang Badung itu, cukup ayah saja yang kau buat pusing mengatur mu" Balas pak Genta yang tidak terima dirinya diledek oleh anak kesayangan nya itu.


"Dan satu lagi Barra, sekarang kau adalah seorang kakak dari gadis manis ini, dia putri kedua ayah, jadi kau harus menjaganya dan jangan mengganggunya" kata pak Genta lagi sambil duduk menghampiri Aleea yang sedari tadi duduk terdiam dan hanya memperhatikan saja.


"Tentu saja pak tua, karena dia adikku yang sangat manis, aku pasti akan menjaganya, jika perlu aku akan mengawalnya kemanapun dia pergi" jawab Barra yang lagi-lagi disertai lirikan dan senyuman mautnya yang membuat Aleea semakin merasa depresi memikirkan rencana jahat apa yang sudah cowok devil ini siapkan.


"Ya sudah kalau begitu, kita mulai saja makan malamnya sudah siap nanti keburu larut malam" ajak pak Genta pada semuanya dan menggiring keluarga kecilnya itu kemeja makan.


...----------------...


Setelah makan malam usai, Bu Sarah dan Aleea pulang kerumahnya dengan diantarkan oleh pak Genta sendiri, sedangkan Barra juga kembali ke apartemen nya , meski dia terlihat tenang saat acara makan malam tadi, namun Barra sangat tertekan dan tidak terima dengan kenyataan bahwa Aleea akan menjadi adiknya, dia sudah terlanjur merasa candu berada didekat Aleea, nyaman saat memeluk Aleea, dan merasa tenang dengan setiap sentuhan Aleea, bahkan Barra sangat menginginkan Aleea seutuhnya, sebagai seorang kekasih bukan sebagai seorang kakak.


Barra benar-benar merasa frustasi, kemarin ada Mike yang menjadi penghalang, sekarang malah pernikahan ayahnya yang seolah menjadi jurang pemisah antara dia dan Aleea.


Barra memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dia tak peduli akan dinginnya angin malam yang menusuk sampai ketulangnya,


Disaat seperti ini pergi ke Club adalah cara satu-satunya yang Barra tau, ia akan minum-minum sampai mabuk untuk menghilangkan rasa frustasinya. Dia menghubungi Bagas dan menyuruh Bagas menyusul ke Club.


Setelah beberapa menit melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi akhirnya Barra sampai disebuah Club langganannya, dia menunjukkan sebuah member card pada penjaga dan masuk kedalam Club itu, tak sembarang orang bisa masuk ke Club ini, karena memang Club ini berada dikawasan elit, hanya orang-orang tertentu saja yang menjadi pelanggannya.


Barra duduk di sebuah meja, seorang bartender yang sudah hafal dengannya langsung meracik minuman yang biasa Barra pesan. Dengan Cepat ia menyajikan nya untuk Barra.

__ADS_1


Barra meminumnya hanya dengan sekali teguk, dia meminta lagi pada bartender, begitupun seterusnya sampai Barra sudah hampir kehilangan kesadarannya karena mabuk.


Disudut lain, ada seorang gadis sexy yang menatap Barra dengan perasaan kagumnya, Setelah beberapa tahun ia menekuni dunia modeling dan menetap diluar negeri, sudah lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan Barra, cowok yang ia kejar-kejar saat duduk dibangku SMP dulu. Evelyn merasa kagum melihat Barra yang terlihat sangat tampan bahkan lebih tampan saat terakhir kali ia pergi, rasanya tak ada salahnya jika ia berusaha mendekati Barra lagi, toh di dunia modeling kini namanya juga tidak lagi secemerlang dulu.Jika dia bersama Barra yang seorang pewaris tunggal Adikara grup itu, mungkin dirinya tak perlu kwatir saat dirinya redup didunia modeling nanti. sebuah senyum smirk muncul dari sudut bibir gadis itu.


Dengan langkah jenjangnya nya, Evelyn melenggang-lenggok bak sedang berjalan diatas catwalk, gadis itu menghampiri Barra yang tengah asyik menenggak minumannya, dia sudah hampir kehilangan kesadarannya.


Dengan mata yang berkunang-kunang Barra menatap Evelyn yang duduk disampingnya dan menyapanya, Barra tak dapat melihat dengan jelas sosok wanita yang menghampirinya.


Evelyn sadar bahwa Barra sudah sangat mabuk berat, tidak mungkin dia akan membiarkan Barra pulang sendiri, akhirnya Evelyn membantu Barra untuk memesan sebuah kamar di Club tersebut.


EVelyn ingin menarik simpati Barra dengan menolongnya, dia berharap esok pagi setelah Barra sadar dia akan terkesan dengan dirinya.


Akhirnya Evelyn meminta bantuan salah satu pelayan laki-laki untuk membawa Barra kekamar yang ia sewa.


Setelah pelayanan itu membaringkan tubuh Barra ditempat tidur, Evelyn melepaskan sepatu Barra, sedangkan Barra yang hari ini frustasi tentang nasib cintanya, dia terus mengigau dan memanggil Aleea, bahkan dia mengeluarkan semua perasaan cintanya yang begitu besar terhadap Aleea yang selama ini ia pendam.


Evelyn sungguh kecewa mendengar semua ocehan Barra, dia tidak menyangka jika dirinya terlambat satu langkah, Barra sudah memiliki seseorang didalam hatinya,


Saat Evelyn hendak pergi, Barra menarik lengannya dan mengigau memanggil-manggil nama Aleea, awalnya Evelyn berusaha melepaskan tangannya, namun melihat Barra yang menyebut nama Aleea terus, timbul pikiran liciknya untuk mengarang cerita palsunya nanti pada Barra. Dia akan berpura-pura tidur dengan Barra.


Evelyn melepaskan pakaian Barra yang hanya tersisa celananya saja dan juga pakaiannya ia buat berantakan, lalu ia berbaring di samping Barra, namun saat ia ingin memeluk tubuh Barra, pintu terbuka dengan tiba-tiba


Evelyn sangat terkejut, melihat Bagas yang diantarkan oleh pelayan yang tadi membantunya membawa Barra kekamar.


Begitu juga dengan Bagas yang terkejut melihat Evelyn hendak berbaring disamping Barra dengan pakaian nya yang berantakan dan sepertinya ada beberapa bagian yang sengaja ia robek.


"Evelyn, apa yang sedang kau lakukan?, rencana apa yang ada diotakmu itu?" tanya Bagas tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


...Bersambung...


Happy reading 😍

__ADS_1


Mohon dukungannya dengan tinggalkan jejak like komentar dan votenya, karena dukungan reders tercinta adalah sebuah motivasi untuk author menjadi lebih baik laik, terimakasih 🙏🙏🙏♥️


__ADS_2