Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #37


__ADS_3

Tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, baik, dan rendah hati membuat Zahra terlihat persis seperti Anaya. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, sifat Zahra sudah terlihat sangat jelas. Anaya dan Abi sangat bersyukur karena kedua anak mereka sehat selalu dan bertambah pintar. Begitupun dengan , dia sangat bijak karena di usianya yang baru menginjak tiga belas tahun dirinya sudah bisa mengerjakan tugas sekolah anak SMA.


Semua itu membuat kedua orangtuanya heran begitupun dengan teman lainnya disekolah milik Al saat guru memberikan tugas yang sulit untuk mereka. Al menjawabnya dengan mudah karena dia adalah anak genius, kepintarannya pun sedikit tertularkan pada sang adik yaitu Zahra, Zahra termasuk siswi yang pintar di sekolahnya dan dia bahkan sudah duduk di bangku kelas dua sekolah dasar padahal usianya baru enam tahun.


Kedua anak yang memiliki sifat genius dan pintar itu selalu menempati rangking satu setiap kali kenaikan kelas, begitupun dengan Al yang bertahan hingga sekarang.


Pukul sembilan pagi.


Kemarin, Anaya dan Abi berlibur ke villa pribadi milik keluarga Pamungkas. Mereka ingin refreshing sekaligus menyenangkan anak-anak karena bisa terhitung berapa kali mereka berlibur sebelum hari ini. Saat usia Zahra tiga tahun, Abi mengajak istri serta anaknya untuk berlibur ke Belanda dan hal itu membuat Anaya sangat bahagia, gak hanya Naya tetapi juga kedua anak mereka.


Tempat Villa milik keluarga Pamungkas terletak di pedesaan, suasana asri dan banyak penghijauan di daerah sana. Terlihat Al dan Zahra berlari menyusuri kebun teh dekat dekan Villa mereka. Namun, saat ingin berjalan pulang, Al melihat seorang gadis yang usianya kira-kira enam belas tahun karena gadis itu memakai pakaian putih abu-abu.


Al mengehentikan langkahnya hingga membuat Zahra terkejut.


"Kak, ada apa?" Zahra langsung bertanya ketika Abi melepaskan genggaman tangannya.


"Dek, lihat ada bidadari."


Zahra mengerutkan dahi dan dia mengedarkan pandangan.

__ADS_1


"Dimana? Aku tidak melihat apapun."


Al berdecak sambil memegang pundak Zahra dan mengarahkan jari telunjuknya ke suatu arah.


"Itu, kamu sekarang melihatnya 'kan?"


Zahra memasang wajah kesal, dia memukul lengan Al dengan mengerucutkan bibir.


"Kak, itu bukan bidadari, tapi manusia!" ucapnya bete.


Al hanya terkekeh pelan, dia ingin menghampiri gadis itu tetapi Zahra dengan cepat menahannya.


"Kakak mau kemana? Jangan bilang kalau kakak mau nyamperin gadis itu." Zahra menebak dengan mata memicing.


"Aku penasaran, di desa seperti ini ada bidadari secantik kakak itu." gumamnya sambil terus berjalan.


"Dasar! Kakak itu masih kecil tetapi dia sudah penasaran dengan seorang gadis." gerutu Zahra dengan sebal.


Zahra tersenyum licik sebelum sang kakak berjalan jauh. "Kak! Jika kamu tidak kembali maka aku akan mengatakan pada Mama dan Papa kalau kamu sibuk mengurusi gadis yang tidak dikenal!" teriaknya hingga membuat langkah Al terhenti.

__ADS_1


Al membalikkan badan dan dia menoleh ke arah Zahra. "Kamu jaga rahasia dong, Dek. Nyinyir banget jadi perempuan, heran deh." cibir yang benar-benar kesal.


Al ingin kembali melangkahkan kaki tetapi dia heran karena tidak melihat gadis bidadari tadi, dirinya pun berbalik menghampiri Zahra yang masih berdiri di tempat.


"Kenapa balik lagi?" Zahra terkekeh.


Pletak!


Abi menyentil dahi milik Zahra sementara Zahra mengelus dahinya yang sakit, dia memasang raut wajah merajuk.


"Apa, hm? Kakak balik lagi itu karena kamu, habis berisik banget sih jadi perempuan.''


"Kakak, perempuan itu sudah pada umumnya cerewet. Nah, terus kenapa kakak kesal? Jika kakak tidak percaya dengan perkataanku ini maka kakak bisa tanyakan sendiri pada Mama. Mama 'kan perempuan." Zahra tertawa ketika melihat reaksi kesal sang kakak.


"Sudahlah! Ayo kita pulang, aku jadi lapar." Al menarik tangan Zahra dan mereka berjalan bersama untuk kembali ke villa.


Zahra terus tertawa di dalam perjalanan pulang ke villa, beginilah keasyikan kakak beradik itu. Mereka memiliki sifat yang bertolak belakang namun tetap saling mengerti dan menyayangi.


__ADS_1



TBC


__ADS_2