
Al menghela napas saat teringat tentang Hanna yang mengungkapkan perasaannya.
Flashback on:
Al menatap wajah Hanna dengan serius, dia memang melihat ada pancaran ketulusan yang terukir di mata Hanna. Namun, Al tidak bisa menerima karena dirinya hanya mencintai Anjani. Perlahan tangan Al terulur memegang pundak Hanna, kebetulan di aula hanya ada beberapa Mahasiswa/i dan sebagian serta dosen sudah pergi dari sana. Tetapi Anjani masih setia berada di aula tersebut dengan alasan membereskan sesuatu.
"Han, kamu adalah gadis yang baik dan tulus. Tapi, maaf sekali karena aku tidak bisa membalas perasaanmu."
Senyum yang tadinya terukir perlahan surut begitu saja ketika Al menjawab pertanyaan Hanna. Dia mencoba mencerna ucapan dari Al, dirinya tidak mengerti mengapa Al menolaknya.
"Jadi kakak menolakku? Alasannya apa, kak? Aku kurang apa? Dan untuk perlakuan kakak selama ini, itu bukan special untukku?" Hanna menjadi bingung.
"Aku akan menjelaskan alasannya mulai dari yang pertama, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, yang kedua aku sudah menikah dan aku tidak mungkin mengkhianati istriku."
Tubuh Hanna hampir limbung ke belakang jika Al tidak menahannya, hatinya sungguh hancur saat Al mengatakan semua alasan itu. Hanna tidak menyangka jika selama ini dia hanya dianggap sebagai adik dan dia juga dekat dengan suami orang. Hanna mencoba menahan kesedihan serta air mata yang ingin menetes, dia memejamkan mata sejenak lalu menatap mata Al yang masih setia memandangnya.
"Jadi kakak hanya menganggap aku sebagai adik? Aku pikir semua itu istimewa dan khusus untuk seorang gadis biasa, bukan adik. Berarti selama ini aku salah paham, maafkan aku." Hanna menunduk malu.
Al menggeleng, dia tidak ingin menyakiti perasaan siapa pun disini tetapi sepertinya semua perlakuan dia sudah salah dari awal. Al pun baru menyadari semuanya sekarang setelah Hanna merasa nyaman dengannya.
"Han, aku tidak ingin menyakiti hati siapa pun. Kamu tidak perlu minta maaf karena akulah yang salah, aku terlalu dekat denganmu hingga kamu memiliki perasaan tersendiri untukku. Aku harus menjaga hati istriku, dia sebenarnya sedikit tidak suka dengan kedekatan kita karena hal yang saat ini terjadi. Kamu menyimpan rasa berbeda untukku, aku tidak pernah berpikir sejauh ini."
Hanna mencoba untuk tersenyum. "Apa aku boleh berkenalan dengan istri kakak?"
"Belum saatnya, jika sudah waktunya maka aku pasti akan memperkenalkan dia ke seluruh dunia."
__ADS_1
"Baiklah, maafkan aku karena sudah lancang menyimpan perasaan seperti ini pada kakak. Selamat atas pernikahan kakak dan semoga kalian berdua bahagia, langgeng sampai ke Jannah." Hanna pergi dengan membawa hati yang hancur karena ditolak oleh Al dan mengetahui jika Al sudah menjadi milik orang lain selamanya.
Hanna berjalan keluar dari ruang ganti setelah dia memakai pakaiannya kembali. Dia akan segera pulang dan mengatakan pada Elvira jika Al ternyata sudah menikah, dia juga tidak tahan untuk menumpahkan rasa sesak di dada.
Beberapa menit kemudian.
Hanna telah berada di dalam taksi, sebelum sampai di rumah dia ingin meluapkan segala kesedihannya. Dirinya meminta kepada sopir taksi untuk mengantarkan ke jembatan Lowe, jembatan yang sedikit sepi dan jarang ada pengendara lewat karena jembatan tersebut menunjukkan arah ke perkampungan kecil.
Hanna telah sampai disana, dia berdiri di pembatas jembatan dan bersiap untuk berteriak. Namun, hal diluar dugaan terjadi ketika seseorang menarik tangan Hanna.
"Hei!" pekik Hanna terkejut karena dia terjatuh di atas jembatan.
Hanna mendongak, dia melihat pria yang berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Dirinya berdiri sambil menepuk b*ok*ongnya yang terasa sakit.
"Apa Anda sudah gila?" bentak Hanna dengan marah sambil berkacak pinggang.
Hanna mencekal lengan pria itu. "Anda bilang apa? Sinting! Anda yang gila, kenapa tiba-tiba menarik tangan saya?"
"Hei gadis kecil, bunuh diri itu tidak baik. Kamu bisa masuk neraka dan bumi juga tidak akan menerimamu." ucap pria itu santai.
Hanna tekekeh. "Siapa yang ingin bunuh diri? Apa Anda sudah gila mengatakan saya ingin bunuh diri? Yang benar saja," lanjutnya sambil bersidekap.
"Lah, terus tadi ngapain kamu berdiri di pinggir jembatan gitu?"
"Saya ingin berteriak, seperti ini. Lihat ya,"
__ADS_1
Hanna mulai berteriak sekencang-kencangnya, dia ingin meluapkan segala emosi, kesedihan dan kebodohannya disana. Air mata pun sudah tak kuasa dibendung lagi setelah Hanna mengingat semua ucapan Al.
Pria yang ada di belakang Hanna heran dan bingung, dia menduga jika Hanna sedang putus cinta.
"Kamu sedang patah hati?"
"Diam!" sela Hanna dengan cepat. "Saya sudah sedikit lega," lanjutnya.
"Anak jaman sekarang kalau patah hati suka lebay," ucap pria itu sambil terkekeh pelan.
"Dasar om-om genit, gila, sinting!" Hanna langsung pergi meninggalkan pria tersebut.
Pria itu pun tertawa ketika mendengar celaan dari mulut Hanna.
**FLASHBACK OFF:
•
•
TBC**
HANNA LAGI GALAU 🥺
__ADS_1
OM-OM PERUSUH 🏌️