Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #39


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Agnes sedang melakukan pertemuan dengan temannya, dia tidak lagi kembali ke luar negeri karena kuliahnya sudah selesai. Agnes pun akan segera membangun butik di daerah perkotaan karena dia sudah lulus kuliah dan menjadi seorang desainer tamatan luar negeri.


Hari ini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Agnes terlalu lama menunggu sang teman hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Namun, baru juga ingin masuk ke dalam mobil ada seseorang yang menarik tangannya dan orang tersebut mengungkung dia di badan mobil.


"Hei! Apa-apaan ini!" bentak Agnes yang merasa jika orang di depannya itu sangat tidak sopan.


"Temani aku sebentar, baby. Ada seseorang yang mencampurkan sesuatu di minumanku hingga membuat aku menjadi seperti ini." ujarnya dengan suara berat.


Agnes mengibaskan tangan tepat di depan hidung karena nafas pria itu sangat bau alkohol.


"Pergi atau saya akan berteriak. Anda benar-benar tidak sopan, Pak." balas Agnes dengan nada penekanan.


Pria itu menarik tangan Agnes, di tidak peduli dengan ucapan bahkan teriakan Agnes yang mungkin akan mengundang banyak masalah baginya. Pria itu memegang tangan Agnes dengan kencang hingga Agnes sulit untuk melarikan diri. Saat pria itu ingin membuka pintu mobilnya, seseorang datang dari belakang pria tersebut.


"Lepaskan dia!" ucap sang pria dengan nada santai.


Sontak, Agnes dan pria tidak dikenal itu menoleh.


"Pak Denis," gumam Agnes pelan, namun masih terdengar oleh pria di sampingnya.


Pria pemabuk itu melepaskan Agnes hingga tubuh Agnes terbentur badan mobil.


"Jangan ikut campur dan sok ingin menjadi pahlawan kesiangan." ucap pria pemabuk itu.

__ADS_1


Denis hanya tersenyum tipis. "Anda mabuk? Itu tidak baik untuk kesehatan Anda, Pak."


Bugh!


Denis langsung melayangkan bogeman setelah mengatakan hal itu. Agnes menutup mulut, dia terkejut dengan aksi Denis yang tiba-tiba dan tanpa basa-basi.


Setelah pria itu sulit untuk berdiri, Denis pun segera menarik tangan Agnes.


"Terima kasih." ucap Agnes sopan ketika mereka sudah berada jauh dari mobil pria yang ingin menculik Agnes.


Denis hanya berdehem membalas ucapan Agnes, dia ingin pergi tetapi di hentikan oleh panggilan dari Agnes.


"Pak Denis, tunggu!"


Mereka berdua berdiri saling berhadapan.


Denis hanya memasang wajah datar. "Itu tadi hanya kebetulan, saya disini juga baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien. Jika orang lain yang seperti Anda, maka saya juga akan menolongnya." lanjutnya sambil melangkah pergi.


Agnes mengerutkan dahi melihat sikap Denis yang sangat cuek.


"Kenapa aku jadi penasaran dengan pria itu ya?" gumamnya heran.


Agnes masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari area restauran, dia akan memarahi temannya karena terlambat datang hingga dirinya ingin di culik oleh pria hidung belang.


Dua puluh menit kemudian.

__ADS_1


Agnes sampai di rumah, dia segera turun dan masuk ke dalam. Dirinya sudah tidak sabar untuk segera merebahkan diri di ranjang empuk miliknya. Namun, baru saja masuk ke dalam rumah ternyata dia melihat sang kakak ipar sedang berada di dapur. Dirinya langsung menghampiri Anaya karena ada sesuatu hal yang ingin dia tanyakan.


"Kak," sapa Agnes ketika sudah berada di belakang Naya.


Anaya yang saat itu ingin membuat roti bakar selai langsung menoleh.


"Eh, Agnes. Kamu udah pulang?"


Agnes mengangguk, beberapa hari ini dia menginap di rumah Abimanyu. Dirinya beralasan jika di rumah sangat sunyi karena tidak ada teman, jika dirumah Abi pasti ramai sebab ada dua anak kecil di dalam rumah itu.


Agnes mengangguk guna menjawab pertanyaan Anaya, dia memelintir ujung bajunya karena bingung ingin bertanya darimana.


"Ada apa? Kamu ingin mengatakan sesuatu?" Anaya seperti apa yang sedang Agnes risau 'kan.


"Kak, menurut kakak Pak Denis itu tipe orangnya seperti apa sih? Maksudku, dia baik, cuek, atau perhatian. Kakak 'kan sudah la mengenal dia, pasti tahu dengan sifat dan karakternya.''


Anaya yang sudah selesai membuat roti bakar langsung meletakkan roti tersebut di piring, dia mengerutkan dahi karena mendengar pertanyaan dari Agnes.


"Kenapa kamu bertanya seperti ini? Jangan-jangan ....?" Anaya tidak meneruskan ucapannya karena dia sengaja ingin menggoda sang adik ipar.


"Kakak, apaan sih." rengek Agnes dengan semburat merah yang muncul di wajahnya.


Mereka tertawa bersamaan.


__ADS_1



TBC


__ADS_2