
Keesokan paginya.
Anaya terlihat sedih ketika mendapati sikap sang putra yang tampak berbeda, Al semakin sering melamun dan menyendiri. Dia tidak seperti dulu lagi, sering tertawa juga bergurau. Sebenarnya Naya sangat sedih menyaksikan perceraian Al dan Anjani padahal usia pernikahan mereka baru menginjak enam bulan.
Pada saat itu, Al terpergok bersama dengan wanita lain di dalam kamar dan Jani-lah pelakunya. Dia sengaja membayar seseorang untuk menjebak Al, lalu dirinya berpura-pura dikhianati oleh Alvarendra. Seluruh keluarga menyaksikan Al dan wanita seksi itu dalam satu kamar, bahkan wanita itu hanya memakai pakaian satu jari. Semuanya percaya jika Al melakukan kesalahan, kecuali Naya yang memiliki feeling kalau putranya tidak bersalah.
Al pun menerima semuanya, dia rela karena dirinya yakin jika itu adalah rencana Anjani, sebab Jani bingung bagaimana cara mengatakan pada keluarganya untuk bercerai dari Al.
Pagi ini, Naya masuk ke dalam kamar milik Al. Dia duduk di pinggir ranjang sambil mengelus kepala Al dengan lembut. Dirinya menatap wajah sang putra dengan sangat lekat, kesedihan itu masih tergambar jelas di wajah Al.
"Sayang, bangun." Anaya menggoyangkan pundak Al.
"Eugh," Al menggeliat ketika merasakan guncangan di tubuhnya, perlahan matanya terbuka dan dia tersenyum tipis.
"Mama," ucap Al dengan suara berat.
"Apa kamu tidak ke kampus? Matahari sudah semakin tinggi dan menandakan jika hari telah menjelang siang." Naya masih memperlakukan Al seperti anak kecil meskipun usia Al sudah menginjak dua puluh tiga tahun.
"Apa Zahra sudah pergi ke sekolah?" Al mengucek matanya lalu menegakkan tubuh.
"Ya, adik kamu pergi bersama dengan Papa." jawab Naya diiring senyum tipis.
Al pun beranjak dari ranjang menuju kamar mandi sementara Anaya membereskan kamar Al.
🌺🌺🌺🌺🌺
Pukul tiga sore.
__ADS_1
Anjani masih setia berada di dalam kamar, dia merasa tubuhnya tidak membaik meskipun minum obat. Jani heran dengan penyakitnya, tidak biasanya dia sakit sampai selama ini.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka dan Angel masuk ke dalam.
"Mau makan apa hari ini? Aku akan membelinya di restauran," ucap Angel tanpa basa-basi menanyakan kabar Anjani.
"Terserah kamu aja, dek. Kakak gak selera makan," Jani menjawab sambil memejamkan mata.
Angel mengedikkan bahu lalu pergi dari kamar Jani.
"Dia sangat berubah semenjak aku dulu menikah dengan Al," gumam Anjani lirih, dia merasa sedih dengan perlakuan Angel saat ini.
Beberapa menit kemudian.
Pintu rumah terdengar diketuk, Angel yang sedang bermain ponsel di ruang tamu langsung membuka pintu. Dirinya tercengang saat melihat Al berdiri tegap di depan pintunya.
"Aku ingin bertemu dengan Anjani." jawab Al singkat dan datar.
"Kak Jani sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun." Angel bergegas menutup pintu tetapi Al mencegahnya.
"Jangan sampai aku berbuat kasar, Angel. Buka pintunya dan biarkan aku bertemu dengan Jani." Al menatap Angel dengan tajam.
Angelina membuka pintu, dia membiarkan Al menuju kamar Anjani. Dirinya berdecak kesal karena Al masih perhatian dengan kakaknya itu.
"Apa sih kurangnya aku? Bahkan kak Al tidak melirikku sama sekali, padahal aku lebih muda dan lebih cantik dari kak Jani." Angel mendengus lalu kembali duduk di sofa.
__ADS_1
Al masuk ke dalam kamar Jani yang memang tidak dikunci. Dia mendekati ranjang Anjani dan melihat Jani yang tertidur dengan balutan selimut teba. Perlahan Al duduk, dia meletakkan punggung tangan di dahi Anjani.
Kedua kelopak mata milik Jani berkedut, dia merasa ada seseorang yang memegangnya. Ketika kelopak matanya terbuka sempurna, dia terkejut karena mendapati Al yang sudah duduk di pinggir ranjang.
"Al, kamu—. Ini beneran kamu?" Jani mengucek mata berharap ini hanya mimpi.
Al mengangguk. "Kenapa kamu tidak bilang kalau sedang sakit? Aku yakin pasti tidak ada yang merawatmu," ucapnya sambil mengelus kepala Anjani.
Jani terdiam, dia hanya menatap Al tanpa berniat mengucapkan sepatah kata pun.
"Kamu tau darimana kalau saya sedang sakit?"
"Tadi aku tidak sengaja mendengar perbincangan para dosen, mereka heran karena kamu tidak masuk kelas selama tiga hari. Mereka juga khawatir karena kamu mengatakan sakit,"
Jani menikmati elusan di kepalanya.
"Aku baik-baik saja," titahnya.
"Tidak perlu berbohong, Anjani. Suhu tubuhmu panas dan kamu terlihat pucat, kamu bilang tidak sakit? Aku yakin jika kamu kelelahan dan sedang banyak pikiran," Al menghentikan gerak tangannya, dia menggenggam jemari Anjani dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, Al. Tidak perlu menghawatirkanku,"
"Aku sangat mencintaimu, bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu?" Al melepaskan genggamannya.
Jani pun terdiam saat Al mengatakan tentang cinta, dia tidak mengerti dengan perasannya saat ini. Jika jauh dari Al, dia akan merasa rindu tetapi dirinya tidak bisa bersama Al karena harus menjaga hati Angel sang adik.
•
__ADS_1
•
TBC