Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #51 (S2)


__ADS_3

Anjani masuk ke dalam rumah dan kebetulan Anaya sudah ada disana untuk menyambutnya. Jani tersenyum ketika wanita paruh baya itu memeluk dirinya dan bertanya kabar.


"Jani, Tante senang kamu akhirnya bisa hadir. Ya, meskipun tante sedikit sedih karena Mama kamu tidak bisa ikut hadir." ucap Anaya memasang wajah sendu.


"Papa lagi banyak kerjaan, tante."


Anaya hanya mengangguk dan matanya tertuju pada gadis muda seusia Zahra yang ada disebelah Anjani.


"Jani, dia itu Angelina bukan?"


Jani melirik adiknya dan dia mengangguk.


"Halo, tante. Akhirnya kita bisa bertemu lagi, tante makin cantik aja deh." goda Angel dengan senyum manis.


"Kamu bisa aja, Ngel. Tante ini udah tua loh, lihat kulit tante saja sudah keriput." Anaya menunjukkan tangannya.


"Eh, ini sih masih kencang, tante." Angel memegang kulit tangan Anaya yang memang masih kencang.


Mereka bertiga tertawa bersamaan, Angel memang memiliki sifat yang humor tetapi keras kepala. Sementara Jani, dia pendiam dan penyabar.


Dari kejauhan, Zahra melihat sahabatnya datang dan sedang mengobrol dengan Mamanya. Dia berjalan menghampiri mereka dan segera menyapa Angel.

__ADS_1


"Bestie!" pekik Zahra heboh saat sudah dekat dengan Angel.


Angel pun tak kalah heboh, dia pun memanggil nama Zahra dan mengucapkan selamat ulang tahun lalu memberikan kado untuk Zahra.


"Selamat ulang tahun ya, aku tidak bisa memberikan apa pun." ucap Angel sambil menyodorkan hadiah untuk Zahra.


"Ck, tidak bisa memberikan apa pun lalu ini apa?" Zahra menerima hadiahnya dengan bibir mengerucut.


Mereka berdua tertawa hingga tawa mereka terhenti karena Al yang baru saja turun dari tangga.


Angel melongo ketika dia melihat pria idamannya, dia tersenyum sendiri membayangkan jika saja dirinya yang berada di samping Al, memegang lengan Al dan mereka berjalan dengan beriringan.


Anjani biasa saja, dia tidak terlalu fokus memerhatikan Al tetapi berbeda dengan Jani. Al malah berjalan tanpa melihat ke depan, dia melihat wanita yang selalu dia jumpai seperti takdir.


'Dia itu 'kan, dosen di kampusku. Kenapa bisa ada disini?' batin Al sambil mengedarkan pandangan, dia penasaran dengan siapa Anjani datang.


Setelah sampai di dekat Anaya, Al langsung mengumbar senyum tetapi hanya di tanggapi oleh Angelina.


"Hai, kak. Kakak sangat tampan malam ini," goda Angel dengan senyum manis.


Zahra menaikkan sebelah alisnya, dia sangat heran karena sahabatnya itu sangatlah mengidolakan Alvarendra.

__ADS_1


Al menjawab dengan senyum, dia melirik Anjani yang tidak bereaksi apa pun.


'Dia masih sama seperti dulu, jutek, cuek, tidak peduli dan dingin.' batin Al mengatakan sikap Anjani.


Itulah yang dia suka dari Jani, sikap yang dewasa. Mereka duduk di sofa bersama-sama, tak lupa mereka juga mengobrol ringan.


"Jani, Mama kamu bilang kamu akan menikah, ya? Apa itu benar?"


Al kaget dengan pertanyaan Anaya untuk Anjani, dia tidak menyangka jika wanita yang dari dulu sangat dia sukai ingin menikah dengan pria lain. Sementara setelah dewasa, Al sudah bertekad untuk menikahi Anjani. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia yang penting bisa saling memahami satu sama lain.


Jani mengangguk malu, pipinya bersemu merah.


"Dua bulan lagi, tante. Saya dan calon suami saya juga sudah feeting baju pengantin, mencari gedung, undangan dan catering.'' jawab Jani dengan santai tapi tidak untuk Al.


Hati Alvarendra sangat sesak ketika semua persiapan pernikahan Anjani sudah delapan puluh persen selesai. Al bingung apakah dia bisa hidup tanpa Anjani? Anjani adalah cinta pertama dan terakhirnya.




TBC

__ADS_1


__ADS_2