
Semuanya berjalan seperti biasa, Elvira bahkan sangat murka setelah mengetahui jika Al ternyata sudah memiliki seorang istri. Dia meminta kepada Hanna untuk mengganggu hubungan Al juga istrinya tetapi Hanna menolak dan dia lebih memilih pergi dari rumah. Elvira semakin marah dan dia mengusir Hanna keluar dari rumah, sementara Hanna mencari rumah kontrakan dan dia bekerja setelah pulang kuliah. Dirinya lebih baik seperti ini dibandingkan harus menjadi perusak rumah tangga orang.
Gaji Hanna terbilang tidak terlalu banyak namun mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Di sebuah restauran megah ini Hanna bekerja, dia sedang menghidangkan makanan dengan sangat ramah tak lupa senyuman pun terukir di wajahnya.
"Selamat menikmati," ucap Hanna sambil meletakkan dua piring spaghetti di meja.
Sepasang suami istri itu tersenyum.
Hanna kembali ke dapur, Koki mengatakan pesanan meja nomor dua puluh satu dan Hanna segera mengantarkannya. Namun, dia terkejut ketika sampai di meja itu. Betapa tidak, pemilik meja nomor dua puluh satu adalah pria yang pernah menganggunya.
"Om?" serunya heran sambil meletakkan nampan di meja.
Vero menoleh, dia mengerutkan dahi karena tidak mengingat Hanna.
"Om? Sejak kapan saya menikah dengan tante kamu?" Vero menyandarkan tubuh sambil menatap Hanna.
__ADS_1
"Anda melupakan saya? Anda om-om yang pernah menggagalkan luapan emosi saya enam bulan lalu, saya masih ingat persis wajah om. Ya, jika om lupa mungkin penyebab efek U."
Vero semakin tidak mengerti, pria berusia tiga puluh tahun itu bahkan mencoba mengingat siapa gadis di depannya ini. Gadis yang sangat berani mengatakan dirinya Om.
"Apa itu faktor U?"
"Usia," Hanna tertawa renyah. "Ya, usia om sudah tua maka dari itu om melupakan saya," lanjutnya.
Vero benar-benar tidak mood makan, dia kesal dengan ejekan gadis ingusan seperti Hanna. Dia beranjak dari kursi lalu meletakkan dua lembar uang kertas berwarna merah dan dia langsung pergi.
"Eh, Om! Makanannya, mubazir ini!"
Hanna mengedikkan bahu, dia membawa uang dan makanan pesanan Vero.
"Sayang sih, udah di bayar tapi tidak dimakan. Baiklah, aku bungkus aja untuk bawa pulang. Lumayan, makanan mahal." Hanna terkekeh sendiri.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Enam bulan sudah berlalu, Al dan Anjani pun telah bercerai. Keputusan Jani tidak berubah sama sekali meskipun Al selalu membuatnya terpesona. Entah apa yang Jani pikirkan hingga dia bersikeras bercerai dari Al.
Berbeda dengan Hanna yang bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, Al justru terdiam menatap langit. Dia melihat bulan dan seketika pikirannya langsung tertuju kepada Anjani, Al sangat mencintai Jani meskipun dia tidak pernah dianggap. Bahkan, dia mau menyerahkan hidupnya dengan cara menggantikan Vero sebagai suami Jani.
"Baru satu minggu tidak melihatmu, aku sudah sangat merindukanmu." gumam Al sambil setia menatap keindahan bulan.
Di kampus pun Al tidak pernah melihat Anjani, banyak yang mengatakan jika Jani tidak mengajar selama satu minggu dan artinya mulai dari perceraian mereka terjadi. Al sangat khawatir tetapi dia tidak bisa mencari tahu tentang keadaan Jani.
Sementara Anjani, sudah tiga hari dia sakit dan tidak bisa bangkit dari ranjang. Kepalanya terasa berdenyut bahkan tubuhnya seperti tidak memiliki tulang, sangat-sangat lemas.
"Entah mengapa aku malah mengingat Al jika dalam keadaan seperti ini." Anjani memejamkan mata dan berbaring di ranjang, selimut tebal tidak pernah luput dari balutan tubuhnya.
Dulu, Al-lah yang selalu menjaganya saat sakit. Membelikan dia obat, merawatnya dengan telaten, bahkan memijat tubuhnya agar menjadi enak.
β’
β’
__ADS_1
TBC