
Tepat pukul tujuh malam, Abi beserta keluarga kecilnya sudah sampai di restauran yang tidak jauh dari rumah mereka. Zahra dan Al sangat antusias karena mereka makan bersama diluar, jarang-jarang Abi mengajak mereka seperti ini.
Setelah memesan makanan, mereka pun segera menyantap hidangan yang ada di meja tersebut. Namun, entah mengapa Agnes tidak berselera dan dia izin pergi ke toilet, mood-nya hari ini benar-benar sedang rusak. Saat melewati salah satu meja, mata Agnes menatap serius ke meja tersebut. Dia merasa kenal dengan wanita yang sedang duduk di kursi bersama dengan pria lain di seberangnya.
Agnes berjalan menghampiri Feby yang tengah berbicara dengan pria lain dan dia sudah yakin jika pria itu bukan Denis. Sesampainya di meja Feby, Agnes langsung menegurnya.
"Feby, kamu ada disini?"
Seketika Feby dan pria di seberangnya menoleh ke arah Agnes.
"Agnes? Kamu juga ada disini? Kebetulan kita bertemu, ayo sini gabung bersama dengan kami saja." Feby melirik pria di seberangnya dan dia tersenyum tipis.
Agnes duduk, dia tidak terima jika Denis di duakan oleh wanita lain.
"Feby, dia—?" belum selesai berbicara, Feby sudah memotong perkataan Agnes.
"Oh, ya. Kenalin, ini tunanganku. Namanya Randy." ucap Feby sambil tersenyum.
Agnes terperangah, dia melongo dengan mata melotot.
'Tunangan? Bukannya dia kekasihnya pak Denis? Apa jangan-jangan, Pak Denis hanya sebatas selingkuhan?' Agnes menggelengkan kepala.
"Nes, ada apa?" Feby membuyarkan lamunan Agnes.
__ADS_1
Agnes tersadar dan dia melihat Randy mengulurkan sebelah tangannya.
"Agnes," ucap Agnes menjabat tangan Randy.
Setelah jabatan tersebut terurai, Agnes langsung bertanya tentang hubungan Denis dan Feby.
"Feb, kemana Denis? Aku pikir kamu tadi bersama dengan Denis.'' Agnes menatap Feby yang terlihat santai begitupun dengan Randy.
'Biasanya, wanita lain akan terkejut jika ada seseorang yang membicarakan tentang selingkuhannya. Tetapi kenapa Feby terlihat santai dan biasa saja? Aneh.' Agnes menjadi bingung.
"Kak Denis? Dia sedang berada dirumah, kakak tidak mau menganggu makan malam romantisku bersama dengan Randy." Feby terus tersenyum.
'Kakak? Apa sih maksudnya?' batin Agnes semakin dibuat bingung.
"Tidak, aku bersama dengan keluargaku," Agnes menunjuk ke meja Abi.
Feby pun hanya mengangguk.
"Feb, aku pikir kamu dan Denis itu—" Agnes memberi isyarat pasangan.
Feby tertawa geli mendengar ucapan Agnes karena Denis adalah kakaknya.
"Aku dan kak Denis pasangan? Mana mungkin, dia itu kakak kandung aku. Kamu ada-ada aja,"
__ADS_1
"Kakak kandung? Benarkah, tapi kenapa kalian terlihat mesra?" Agnes menajamkan pendengarannya.
"Menurut kami itu biasa, perilaku kakak ke adiknya," ucap Feby sambil menyeruput minumannya.
"Benar, Agnes. Kak Denis adalah kakak kandung Feby, apa kamu tertarik dengannya? Aku melihat raut wajahmu terlihat berbeda saat membicarakan tentang Kak Denis." Randy pun angkat bicara karena sedari tadi dia menyimak obrolan sang kekasih dan Agnes.
"Tertarik? Tidak!" Agnes pun berkilah.
Feby tersenyum saat melihat semburat merah di kedua pipi Agnes.
"Jika kamu tertarik dengan kakakku, katakan saja. Dia belum memiliki kekasih, jangan sampai cinta kamu bertepuk sebelah tangan kalau kamu hanya diam saja."
Agnes menunduk, perkataan Feby ada benarnya juga tetapi dia tidak ingin harga dirinya jatuh jika mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.
'Mau dikata apa jika aku mengungkapkan isi hatiku terlebih dahulu?'
Belum apa-apa, Agnes sudah memiliki pikiran buruk jika nanti dirinya ditolak oleh Denis. Hal itu membuat dia lebih baik membungkam mulutnya daripada harus menanggung malu.
•
•
TBC
__ADS_1