
Al berjalan menuruni anak tangga, dia tersenyum setelah melihat keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan.
"Selamat pagi," sapanya dengan senyum menawan.
"Pagi," jawab semua orang.
Al duduk di kursi sebelah Zahra, dia melirik roti yang ada di piring milik Zahra, dirinya ingin mengambil roti itu tetapi Zahra dengan cepat memukul tangan Al.
"Jangan kebiasaan, ini punya aku. Kakak bisa buat sendiri, atau tidak minta buatkan Mama." Zahra langsung mengambil rotinya dan dia melahap dengan sangat rakus.
Al hanya mencebikkan bibir, adiknya satu itu sangatlah cerewet.
"Ini, Mama buatkan untuk kamu." Anaya menyodorkan piring berisi roti bakar selai kacang.
"Terima kasih, Ma." Al tersenyum tipis sambil menerima dan menikmati roti tersebut.
Mereka sarapan dalam diam karena Abi tidak suka jika waktu makan banyak yang berbicara.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk berbincang sejenak.
"Al, bagaimana dengan pertanyaan Papa kemarin? Apa benar, kamu tidak mau melanjutkan perusahaan kita? Papa sudah membangunnya dari kecil hingga besar seperti saat ini dan sebentar lagi Papa akan memutuskan istirahat karena usia Papa sudah tidak lagi muda."
Al hanya menghembuskan nafas pelan. "Al belum memikirkannya, Pa. Lagipula, jurusan yang Al ambil saat ini sangat berbeda dengan keahlian bisnis."
__ADS_1
"Dari awal Papa menyuruh kamu supaya mengambil jurusan management tetapi kamu tidak mau menuruti ucapan Papa."
"Mas, berikan Al waktu untuk berpikir. Kamu jangan mendesaknya seperti ini, dia pasti masih bingung." Anaya berkata dengan lembut untuk menenangkan Abi.
Abi hanya diam sambil menghembuskan nafas berat. Sementara Al, dia melirik jam tangannya dan berpamitan untuk pergi ke kampus. Begitupun dengan Zahra, dia juga berpamitan pergi ke sekolah bersama dengan Al.
Mereka pergi menaiki mobil Mercedez Benz berwarna merah, mobil itu pemberian dari eyang buyut sewaktu masih hidup dulu. Saat ini eyang sudah tiada padahal eyang sangatlah menyayangi Al serta sering memanjakan Al.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya Al sampai di sekolah milik Zahra. Dia ikut turun dan berkata agar Zahra pintar dalam belajar dan jangan dulu berpacaran karena itu bisa merusak mood belajarnya nanti.
Zahra menuruti ucapan Al, dia melambaikan tangan dan masuk ke dalam area sekolahan. Al yang sudah melihat Zahra menjauh, ingin masuk kembali ke dalam mobil. Namun, langkahnya terhenti karena melihat sebuah mobil Alphard putih berhenti di seberang mobilnya.
Seorang wanita cantik dengan gaya elegan turun dari mobil tersebut bersama dengan gadis cantik seusia Zahra. Mereka berdua terlihat sangat akrab bahkan saling berpelukan dan cipika cipiki.
"Kamu yang pinter belajarnya, nanti sopir akan menjemputmu."
Al seperti pernah melihat wanita yang masuk ke dalam mobil Alphard putih itu, dia mengingat-ingat tetapi sayangnya tidak bisa.
" Wajahnya tidak familiar, tapi mengapa aku bisa lupa melihatnya dimana." gumamnya pelan sambil mencoba mengingat.
Gadis muda tadi berjalan di depan Al, dia tersenyum kala melihat wajah tampan milik Alvarendra.
"Hai, kak. Selamat pagi," sapanya dengan senyum manis.
__ADS_1
Al membalas senyuman itu dan dia mengangguk.
"Selamat, pagi." balasnya meskipun tidak kenal dengan gadis di depannya saat ini.
"Apa Zahra sudah masuk ke dalam sekolah?'' tanya gadis itu yang sangat mengenal Zahra.
"Ya, sudah dari tadi. Kamu mengenal Zahra?"
Gadis itu mengangguk. "Dia teman sekelasku, bahkan kami juga bersahabat. Aku juga mengenal kakak karena aku penggemar berat kak Al."
Al mengerutkan dahinya. "Jangan bicara seperti itu, ucapanmu bisa membuatku besar kepala." candanya.
"Tapi memang benar jika aku sangat menganga—" ucapan gadis itu terpotong karena pintu gerbang yang akan ditutup.
'Ck, padahal aku masih ingin mengobrol dengan kak Al. Ini kesempatanku, jarang-jarang ada situasi baik seperti ini.' batinnya kesal.
"Ya sudah, kamu masuk. Daripada bolos sekolah hanya karena mengobrol denganku." ujar Al yang sudah paham.
"Tidak masalah aku bolos, yang penting bisa bersama dengan kakak." godanya dengan senyum manis.
Al hanya menggeleng dan segera berlalu pergi, dia tidak ingin gadis manapun menaruh hati padanya karena di hati Al hanya ada satu nama dan tidak akan pernah terlupakan.
•
__ADS_1
•
TBC.