
Dua bulan kemudian.
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Jani karena dia akan segera resmi menjadi istri dari Vero. Namun, siapa sangka jika sebenarnya saat ini semua akan berbanding terbalik dengan harapan Jani? Dia masih berada di rumahnya, kedua orangtuanya juga sudah hadir dan bersiap untuk menyaksikan ijab kabul anak mereka. Bahkan, keluarga Pamungkas ikut hadir untuk menyaksikan secara langsung ijab kabul itu, di gedung pun sudah ada beberapa tamu yang datang.
Setelah melakukan ijab kabul, Jani akan dibawa ke gedung bersama dengan Veor untuk melakukan resepsi pernikahan. Betapa tidak sabarnya Jani ketika menunggu Vero, dia melirik jam dinding dan ternyata Vero sudah terlambat setengah jam. Pikiran Jani menjadi risau, dia mencoba menghubungi nomor Vero tetapi diluar jangkauan.
Kedua orangtua Jani juga ikut bingung, mereka tidak mengerti apa yang telah terjadi karena Vero tidak datang-datang padahal acara ijab kabul yang penghulu katakan sudah terlewat lima belas menit. Jani menatap wajahnya di pantulan cermin, dia mencoba berpikir jernih dan positif thinking.
'Mungkin Vero masih dijalan dan terlambat karena macet.' batinnya.
Beberapa menit kemudian.
Tidak ada tanda-tanda Vero yang kunjung datang, hingga sebuah panggilan masuk mengagetkan Silvana. Dia hampir pingsan ketika sang penelepon mengatakan jika Vero sudah resmi menikah dengan perempuan lain. Begitupun dengan Jani, dia membuka sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya, matanya mendelik ketika melihat pesan itu dan ternyata berisi acara ijab kabul antara Vero dan wanita lain.
"I—ini apa?" gumamnya dengan tangan gemetaran, ponselnya pun terjatuh di lantai dan sontak dia berdiri dari duduknya.
Air mata tidak dapat lagi dibendung, riasan wajah Jani pun sudah tidak lagi sempurna seperti tadi. Pintu kamar miliknya terbuka dan Silvana masuk ke dalam, dia akan mencoba mengatakan pada Anjani tentang pernikahan Vero. Dia akan mengatakannya dengan perlahan agar Jani tidak putus asa.
"Sayang?" Silvana mencoba tetap tenang, tetapi dahinya mengerut saat dia melihat Jani yang terduduk di pinggir ranjang sambil menunduk.
Silvana dengan cepat berjalan menghampiri Jani, setelah itu dia duduk di sebelah Anjani dan mengangkat wajahnya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nangis?"
Jani menangis sejadi-jadinya, dia memeluk tubuh Silvana dengan air mata yang mengucur deras.
"Kenapa semua ini harus terjadi pada Jani, Ma? Apa salah Jani, apa!" teriaknya frustasi saat di dalam video itu Vero sudah sah menjadi suami orang.
__ADS_1
"Bertahun-tahun Jani menjalani hubungan dengan Vero, tetapi ini balasannya untuk Jani? Kenapa Vero begitu jahat, Ma?" Anjani menarik napas karena dadanya sangat sesak.
Silvana pun ikut menangis, dia tidak tahan dengan kesedihan dan musibah yang dialami oleh putrinya.
"Nak, Mama mohon jangan putus asa seperti ini. Ikhlaskan saja Vero, mungkin dia bukan jodoh kamu." Silvana mengelus kepala Jani.
Riasan kepalanya dan wajah sudah menjadi berantakan, Jani tidak lagi memikirkan itu karena sekarang hatinya sangat hancur. Beberapa anggota keluarga dan keluarga Pamungkas berada di depan pintu bahkan ada juga yang di dalam kamar, mereka ikut bersedih dengan kejadian yang menimpa Anjani.
"Lalu bagaimana pernikahan Jani, Ma? Kebahagiaan Jani sudah hancur dan Jani yakin setelah ini reputasi keluarga kita juga akan ikut hancur. Ini semua gara-gara Vero, Jani benci dia," Jani masih setia di dalam pelukan Silvana, karena itulah tempat ternyaman baginya saat dalam masa sedih dan terpuruk.
"Kamu tidak perlu memikirkan reputasi, Papa pasti mengerti dan—" ucapan Silvana terpotong karena suara seseorang yang menyelanya.
"Aku siap menikah dengan Anjani dan menggantikan Vero untuk menjadi suaminya." suara tegas itu membuat semua mata tertuju padanya.
FLASHBACK ON:
Malam ini adalah acara pertemuan antara keluarga Vero dan keluarga Sania, mereka akan membicarakan masalah pernikahan kedua anak mereka yang mana sebenarnya membuat Vero pasti tidak terima. Vero tidak tahu jika dia akan batal menikah dengan Anjani dan malah menikah dengan Sania. Dia masih berada di rumah kerja untuk menyelesaikan tugasnya agar nanti saat bulan madu dengan Jani pikirannya tidak dibebani oleh pekerjaan kantor.
"Aku mengikut saja, kapanpun bisa. Mungkin kalian bisa membatalkan pernikahan Vero dan Anjani lalu menikahkan anak-anak kita." sahut Papa Sania.
"Kalau begitu, sewaktu menjelang hari pernikahan Vero bukan menikah dengan Anjani, tetapi dia akan menikah dengan Sania. Bagaimana?"
Semuanya setuju dengan menganggukkan kepala mereka, itu semua adalah ide dari Rose— Mama Vero. Entah mengapa dia sangat tidak menyukai Anjani meskipun dia tahu jika anak-anak mereka saling mencintai dan Anjani pun tergolong anak orang kaya.
Rose menyusun rencana itu karena dia tidak ingin Vero menolak atau pun kabur dari rumah.
Saat menjelang hari pernikahan, Vero sudah terlihat tampan dengan senyum dibibir yang terus menghiasi wajahnya. Hari yang dia tunggu-tunggu untuk meresmikan hubungan dengan Anjani akhirnya telah tiba. Namun, dia masih tidak tahu jika sebenarnya semua harapan hanyalah tinggal kenangan.
__ADS_1
"Ma, kenapa belum bersikap? Bukankah kita akan datang ke rumah Anjani?" Vero menghampiri Rose yang masih duduk di depan meja rias.
"Siapa bilang, Vero?" jawab Rose dengan singkat.
Vero mengerutkan dahi, dia tidak mengerti dengan ucapan sang Mama.
"Apa maksud Mama?''
"Kamu hari ini tidak akan menikah dengan Anjani dan jangan berharap jika kita akan pergi kesana." Papa yang baru keluar dari kamar mandi langsung menjawab pertanyaan Vero.
"APA!" pekik Vero yang sangat terkejut.
"Ya, kamu hanya akan menikah dengan Sania. Hanya Sania!" Rose menekan setiap katanya.
Vero menggeleng dan menatap kedua orangtuanya dengan sedih.
"Apa-apaan ini, Ma? Aku tidak mau menikah dengan perempuan itu karena aku hanya mencintai Anjani Sharma!" teriak Vero dengan lantang dan hal itu membuatnya mendapatkan sebuah tamparan keras dari sang Papa.
"TUTUP MULUTMU VERO!" teriak Papa sambil menunjuk wajah Vero. "Sejak kapan kamu menjadi pembangkang seperti ini, hah! Apa yang sudah perempuan itu berikan padamu sehingga kamu menjadi seperti ini dan tergila-gila padanya?" terlihat Papa sangat marah.
"Papa tidak mengerti bagaimana perasaanku, kalian berdua egois kalian adalah orang tua yang memikirkan kebahagiaan kalian sendiri!" Vero semakin menjadi dan kali ini Rose menamparnya.
"Vero! Jika kamu tidak mau menikah dengan Sania maka pergi dari rumah ini dan kami akan mencoret nama kamu dari kartu keluarga juga ahli waris! Kamu akan menjadi gelandangan karena Papa akan mengatakan kepada seluruh perusahaan dan tempat kerja lainnya agar tidak menerima kamu bekerja di tempat mereka." Sania melotot karena emosi yang memuncak. "Hidup tanpa restu orangtua tidak akan bahagia, Vero. Percayalah," sambungnya menurunkan nada bicara.
Vero tidak tahu lagi harus bagaimana, dia berteriak frustasi dan pergi dari kamar sang Mama. Semua harapannya telah hancur, dia ingin pergi tetapi dia takut jika Anjani tidak mau menerima dirinya yang sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Pilihan ini sangat sulit untuk Vero, dia harus memilih antara orang tua ataupun kekasihnya.
•
__ADS_1
•
TBC