
Al dan Anjani sudah sampai di Mall, mereka berkeliling sambil melihat apa yang ingin dibeli.
"Aku bingung harus membeli apa, baju-baju di rumah juga masih banyak yang belum terpakai." Anjani melihat semua yang ada di tempat penjualan khusus pakaian tersebut.
"Em, bagaimana jika kita membeli pakaian anak-anak saja?" Al memberikan ide.
"Anak-anak? Untuk siapa? Keponakanku berada di luar negeri, bagaimana mungkin aku membelikannya untuk mereka?" Jani masih setia melihat beberapa macam pakaian.
"Kita akan menyumbangkannya ke panti asuhan, aku selalu ke panti itu setiap hari Jumat dan memberikan mereka sembako juga buku-buku. Bahkan aku juga terkadang ke panti jompo, melihat keadaan orang tua yang ada disana." ucap Al sambil mengikuti langkah Jani dari belakang.
Anjani terhipnotis dengan kebaikan Al, dia kagum dengan sifat Al yang peduli dengan sesama padahal usianya masih muda. Jani memilih beberapa pakaian anak-anak dan juga orang tua, dia akan menyumbangkan ke panti asuhan besok dan panti jompo. Kebetulan besok adalah hari Jum'at.
"Apa sudah selesai?" Al bertanya ketika mereka sudah setengah jam berada di tempat penjualan pakaian.
"Sudah, ayo kita bayar." Jani membawa begitu banyak pakaian ke meja kasir.
Setelah ditotal, Al langsung mengeluarkan kartu debitnya. Jani pun mencegah agar Al tidak membayar barang belanjaan itu, tetapi Al tetap bersikeras membayarnya dan menghabiskan uang sebesar hampir sepuluh juta untuk beberapa puluh setelan anak-anak dan dewasa.
Mereka keluar dari sana menuju ke tempat makan, Al membantu Jani membawa paper bag. Sesampainya di tempat makan itu, mereka langsung memesan menu untuk mengisi perut malam ini.
Dua jam kemudian.
Keduanya pulang ke rumah, sebelum pulang Al memutuskan untuk membeli makanan pinggir jalan terlebih dahulu. Dia ingin turun dari mobil tetapi Jani mencekal lengannya.
"Al, kamu yakin ingin membeli makanan disini?" Jani melihat kesekeliling.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kamu lihat deh tempatnya, tidak higienis dan pinggir jalan. Kamu gak takut sakit perut? Udahlah, mending kita pulang aja." Jani memaksa ingin pulang.
''Kamu tenang aja dan tidak perlu takut dengan apa pun karena disini makanannya enak, terjamin kebersihannya. Mau coba? Ayo," Al dengan cepat turun dari mobil, dia membukakan pintu milik Jani.
Terlihat Anjani ragu untuk keluar dari mobil tersebut, dia tidak menerima uluran tangan Al.
"Ayolah, Jani. Aku yakin setelah ini kamu pasti akan ketagihan makan di warung pinggir jalan seperti ini, aku sudah biasa makan di tempat itu dan menjadi tempat favoritku." Al memaksa Anjani.
"Baiklah, aku akan turun tapi jika terjadi sesuatu setelah aku pulang dari sini maka kamu harus tanggungjawab." Anjani mengacungkan jari kelingking.
"Janji," Al membalas acungan itu.
Akhirnya Anjani turun dan mereka bersama-sama pergi ke tempat penjual kaki lima tersebut.
Sesampainya disana, mereka langsung duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Pak, biasa ya? Seblak mercon satu dan biasa satu," Al berkata dengan sang penjual.
"Ck, makanan di Mall tadi tidak membuatmu kenyang tetapi seblak ini pasti bisa membuat perutmu kenyang." ucap Al.
Anjani hanya pasrah dan dia akan mencoba terlebih dahulu.
Seblak pesanan mereka akhirnya datang dan Al dengan tidak sabar langsung melahapnya. Dia meniup terlebih dahulu karena masih panas. Anjani menelan ludah karena wangi aroma seblak yang membuat perutnya keroncongan, dia memejamkan mata lalu menyuapkan satu sendok seblak ke dalam mulutnya.
Dia mengunyah dengan perlahan seperti tengah merasakan sensasi dari seblak tersebut.
"Gimana? Enak gak?" Al berbicara sambil mengunyah.
__ADS_1
Anjani mengangguk cepat dan mulai melahap seblaknya.
"Ini benar-benar enak dan lezat, aku tidak menyangka jika makanan di pinggir jalan itu akan senikmat ini." Jani berkata dengan mulut penuh dengan suapan seblak.
"Disini juga ada banyak menjual kue basah, kamu mau? Barangkali Angel juga menyukainya."
"Boleh, aku yakin Angel pasti akan tergiur dengan jajanan disini."
"Aku juga biasa membelinya untuk Mama, bahkan Mas pedagang sudah mengenaliku dengan baik karena aku sangat sering datang ke tempat ini. Benarkan, Mas?" teriak Al meminta pengakuan.
"Apa itu, Mas? Iya'in aja deh, biar cepat."
Mereka tertawa bersamaan.
"Cewek kamu dia, Mas?" tanya sang penjual seblak.
"Doain aja," ucap Al sambil tersenyum tipis dan melirik Anjani sejenak.
"Semoga segera ya, Mas. Oh ya, Mbak. Mas Al ini pemuda yang baik, dia selalu membeli dagangan saya bahkan jika dagangan saya masih banyak dia pasti borong habis. Gak tau deh untuk siapa,"
Jani mengerutkan dahi karena heran. ''Apa kamu setamak itu, Al? Maaf,"
"Tidak, aku hanya ingin membantu saja dan semua yang ku beli sebagian ku bawa pulang dan sebagian aku bagikan ke tukang parkir ataupun penjaga palang kereta api." ucapnya mengungkapkan alasan.
Jani hanya mengangguk dan semakin kagum dengan Al.
•
__ADS_1
•
TBC