Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #57 (S2)


__ADS_3

Dua hari kemudian, Jani telah bersiap untuk pergi mengajar begitupun dengan Al yang sudah selesai untuk pergi ke kampus. Mereka hanya saling diam, bahkan tadi malam Anjani meminta Al agar tidur di lantai menggunakan kasur, Jani tidak ingin tidur satu ranjang dengan Alvarendra. Sebelum keluar dari kamar, Anjani memberikan sebuah peringatan kepada Al.


"Jangan sampai ada yang tahu jika kita sudah menikah, apalagi anak-anak kampus ataupun temanmu yang lainnya. Bersikaplah biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita, tidak perlu sok akrab dengan saya." Anjani langsung keluar dari kamar mendahului Al.


Al memejamkan mata, dia harus mengumpulkan stok sabar yang banyak dalam menghadapi Anjani. Saat dia hendak keluar, ponselnya pun berdering dan Al langsung menjawabnya.


"Halo," sapa Al ketika sambung terhubung.


πŸ“±"Kak, aku bisa minta tolong enggak?" suara wanita yang sangat merdu terdengar di seberang sana.


Saat ini di rumah Anjani hanya ada dirinya, Al dan Angel.


"Minta tolong? Coba katakan ada apa, jika aku bisa maka aku pasti akan membantumu."


πŸ“±"Mobilku sedang ada di bengkel, dari tadi aku menunggu taksi online tetapi tidak kunjung datang, ingin mencari taksi biasa jarak ke rumah dan jalan raya sangat jauh. Aku bingung harus bagaimana, hari ini aku ada kelas pagi. Jika kak Al belum pergi ke kampus, bisa tidak hari ini jemput aku ke rumah? Kita pergi bersama." alasan yang Hanna ucapkan, padahal semua itu adalah ide dari Elvira.


Al terdiam sambil berpikir.


πŸ“±"Kak, halo!"


"Ya, baiklah. Aku akan menjemputmu, kirimkan saja alamat rumahmu dan aku akan segera kesana."


Hanna mengucapkan terima kasih lalu sambungan pun terputus.


Al hanya sebatas ingin menolong Hanna karena Hanna selalu baik dengannya, dan Al lihat jika Hanna adalah gadis baik.


Sementara di tempat lain, Hanna membalikkan tubuhnya dan dia mengangguk. Elvira pun tersenyum senang karena ide gilanya terlaksana, dia akan mencari ide lain agar Al bisa masuk ke dalam jebakannya. Hanna hanya dijadikan kambing hitam, dia harus menuruti ucapan dan perintah dari Elvira karena balas budi.

__ADS_1


"Kamu harus bisa merayunya, Han. Jangan lepaskan Al, kamu harus mendapatkannya." ucap Elvira menyemangati Hanna, mereka tidak tahu jika Al sudah menikah dengan Anjani.


"Aku akan berusaha, Mam."


'Meskipun mustahil jika aku bisa mengambil hati kak Al,' lanjut Hanna dalam hati.


Tiga puluh menit kemudian, suara deru mobil milik Al terdengar di depan pintu gerbang rumah Hanna.


"Han, itu sepertinya Al. Ayo cepat, kamu keluar dan berikan senyum manismu." Elvira menarik tangan Hanna keluar dari rumah.


Hanna hanya menurut, dia mengecup kedua pipi Hanna dan melambaikan tangan. Sementara Al, dia masih setia menunggu Hanna di dalam mobilnya.


"Selamat pagi, kak." Hanna mengetuk jendela kaca mobil.


Al yang sedang bermain ponsel langsung meletakkan ponselnya di dashboard mobil, dirinya membukakan pintu untuk Hanna.


Al hanya mengangguk dan mobil pun melaju pergi.


Elvira tersenyum senang, dia berharap jika rencananya akan berhasil kali ini. Dia terus berusaha mendekatkan Hanna dengan Al.


🌺🌺🌺🌺🌺


Anaya masuk ke dalam kamar milik Al, dia mengelus ranjang Al dan air matanya menetes begitu saja. Baru satu beberapa hari ditinggal oleh Al, dirinya sudah sangat merindukan putranya itu. Anaya sulit untuk hidup jauh dari Al, tetapi memang inilah resiko menjadi orang tua ketika anak sudah beranjak dewasa.


Setelah mengantarkan Zahra ke sekolah, Abi memutar balikkan mobilnya menuju rumah. Ada sesuatu yang tertinggal hingga Abi harus mengambilnya karena sangat penting. Namun, ketika dia baru masuk ke dalam rumah ternyata rumah itu sangat sunyi. Dia berniat mencari Anaya tetapi tidak ketemu, dirinya sudah mencari ke dalam kamar dan penjuru rumah lainnya.


Langkah Abi terhenti ketika melihat pintu kamar milik Al terbuka, dia masuk ke dalam dan melihat Anaya hanya sedang duduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Sayang? Kamu ngapain?" Abi sudah berada di belakang Anaya.


Anaya terkejut dan buru-buru menghapus air matanya.


Abi khawatir, dia menangkup wajah Anaya dan menatap kedua mata Naya yang memerah.


"Sayang, kamu habis nangis? Ada apa, hm?" Abi memeluk tubuh Anaya.


"Hiks, aku merindukan Al." ucap Naya menjawab.


Abi mengelus kepala Anaya. "Dia sudah memutuskan untuk berumah tangga, biarkan saja. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya, lagipula jarak rumah kita dan rumah Anjani tidak terlalu jauh. Kamu bisa berkunjung ke sana kapanpun kamu mau," ucapnya lembut untuk menenangkan hati Anaya.


Anaya hanya memeluk tubuh Abi dengan erat, sangat sunyi rasanya rumah itu tanpa Al.


β€’


β€’


TBC



PAPA ABIMANYU ❣️



MAMA ANAYA 😍

__ADS_1


__ADS_2