
Dua minggu telah berlalu, Anjani akhirnya bisa melewati masa kritisnya dan Al adalah orang yang pertama mengetahui Jani sadar. Dia selalu menemani Anjani, pada waktu itu Al membaca Al-Qur'an tepat di samping Anjani dan atas kuasa Allah, Anjani pun tersadar. Jemarinya bergerak perlahan, bola matanya berkedut dan dia melihat ke sekeliling.
Al memanggil Dokter.
"Keadaannya sudah sedikit membaik, disarankan jangan terlalu banyak bergerak dan selalu menjaga kesehatan." ucap sang Dokter lalu pergi dari sana, Jani akan dipindahkan ke ruang rawat biasa.
"Apa aku masih hidup?" Jani berkata dengan lirih.
Al sangat bersyukur karena sang istri bisa kembali membuka mata dan dia bisa mendengar suara yang dua Minggu ini dia rindukan. Al mengecup tangan Anjani karena bahagia, dia bahkan meneteskan air mata haru.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Al mengelus rambut Anjani.
Jani melirik Al dan seketika senyumnya pun terbit.
"Aku pikir, aku sudah berada di surga."
"SST, kamu tidak akan pergi meninggalkan aku."
Anjani ingin duduk tetapi dia merasa kram di bagian kakinya.
"Al, kenapa kakiku susah digerakkan?" Jani memegang kedua kakinya.
"Tenang dulu, kamu harus sabar dan kuat. Dokter mengatakan jika kamu mengalami kelumpuhan, namun hanya sementara. Jika kamu terus belajar untuk berjalan pasti semuanya akan membaik seperti semula." kata-kata penyemangat yang Al lontarkan.
__ADS_1
Jani diam mematung, dia masih bening bisa menerima kejadian yang menimpanya. Dia ingin berteriak sekencang mungkin tetapi pasti percuma, dirinya hanya bisa pasrah dan sabar. Namun, apakah Al masih mau menerimanya dalam keadaan seperti ini?. Itulah yang ada di benak Anjani.
"Al, apa ini hadiah di hari pernikahan kita? Tidak pernah terlintas di benakku jika semua ini akan terjadi, siapa yang sudah berani menghancurkan kebahagiaanku? Apa salahku? Aku selama ini tidak memiliki musuh dan mengapa semuanya terjadi pada kita?" Jani menangis memikirkan nasibnya.
"Sayang, dengarkan aku. Keadaanmu tidak akan merubah segalanya, kasih sayang dan cintaku. Aku akan menerimamu apa adanya, percayalah mungkin ini cobaan untuk rumah tangga kita." Al memeluk tubuh Anjani.
"Tapi aku gak mau lumpuh, Al." Jani memegang kakinya.
"Ini hanya sementara, kamu pasti akan bisa berjalan seperti semula dan aku akan selalu mendampingi serta mendukungmu. Aku mohon jangan bersedih, kebahagiaanmu adalah bahagiaku jadi tersenyumlah dan kita akan jalani cobaan ini bersama-sama." Al memeluk tubuh Jani semakin erat.
Anjani hanya mampu menangis.
🌺🌺🌺🌺
Ayah Elvira telah tiada ketika dia mendengar El menculik seorang anak kecil hingga menyebabkan Elvira masuk ke dalam penjara. Penyakit jantung yang di derita kambuh dan nyawanya tidak bisa tertolong.
Elvira sedang mengemasi barangnya karena dia ingin pergi ke luar negeri meninggalkan bekas jejak karena sudah membuat onar di pesta resepsi pernikahan Alvarendra. Dia ingin pergi dari dua Minggu yang lalu tetapi dirinya banyak sekali mengurus sesuatu hingga saat inilah dia ingin meluncur pergi.
Ketukan pintu menyadarkan Elvira yang masih sibuk mengemasi barangnya.
"Siapa itu?" El tidak curiga dan dia bergegas menuju ke pintu utama.
Ceklek.
__ADS_1
Matanya membulat ketika dia melihat dua orang pria berpakaian polisi yang sudah berdiri tepat di depan pintu.
"C—cari siapa, ya?'' El pun mencoba menghilangkan kegugupan.
"Apakah benar ini kediaman Ibu Elvira?" polisi itu bertanya.
"Y—ya, ada yang bisa saya bantu?" El sudah berpikiran negatif.
"Kami membawa surat laporan untuk menangkap Anda."
"Menangkap? Apa salah saya? Kalian berdua jangan asal tangkap saja, ya!" El terlihat murka.
"Ini suratnya dan Anda bisa ikut dengan kami ke kantor polisi."
"Tidak! Apa salahku? Jangan mengada-ngada!" teriak Elvira sambil memberontak di dalam cekalan kedua polisi itu.
Polisi tidak peduli dengan pemberontak dan pembelaan yang El lontarkan, mereka tetap membawa Elvira ke dalam mobil.
•
•
TBC
__ADS_1