
Dua hari kemudian.
Pukul delapan malam, Feby akhirnya memutuskan untuk menceritakan tentang pertemuannya dengan Agnes malam itu, dimana Agnes bertanya soal hubungan mereka yang hanya sebatas kakak beradik. Denis pun menyimak pembicaraan Feby dengan seksama, entah mengapa hatinya sedikit merasakan hal aneh ketika Feby berkata jika Agnes menyukainya.
"Kak, aku bisa melihat itu semua dari caranya bicara. Dia mungkin gengsi untuk menyatakan perasaannya, jadi apa salahnya jika kakak mencoba mengatakan semuanya terlebih dahulu? Ayolah kak, lakukan sebelum terlambat." ucap Feby membujuk Denis.
Denis sendiri hanya diam saja, dia bimbang dan ragu jika ungkapan hatinya di tolak oleh Agnes.
"Jika Agnes menolakku bagaimana? Aku tidak ingin mendapat malu."
"Kakak mencintainya atau tidak? Kakak tertarik dengannya atau tidak? Kalau kakak memiliki perasaan yang tulus untuk Agnes maka kakak ungkapkan saja, jika Agnes menolak maka kakak perjuangkan cinta kakak untuknya. Gampang 'kan?" Feby terus mendorong Denis.
Denis semakin bingung pasalnya dia sudah pernah ditolak oleh Anaya, dan dirinya tidak ingin ditolak untuk kedua kalinya.
"Aku akan mencobanya besok." keputusan yang Denis ambil.
"Benarkah? Astaga, aku senang sekali mendengarnya." Feby tersenyum lebar. "Kakak harus menikah terlebih dahulu sebelum aku." lanjutnya menggoda.
Denis menggeleng dengan senyuman tipis.
__ADS_1
"Besok aku akan mengajak Agnes makan malam diluar sekaligus ingin melamarnya. Aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan namanya berpacaran, aku hanya ingin melamar lalu setelah itu menikah." Denis menyandarkan tubuhnya di kursi, dia tersenyum sendiri kala mengingat wajah cantik Agnes.
"Ehem, sepertinya ada yang lagi kasmaran nih." Feby beranjak dari kursi lalu tertawa renyah, dia memberikan sang kakak waktu untuk mengkhayal.
Denis mengambil ponsel, dia memilih sebuah tempat makan yang mungkin bisa dijadikan melamar seseorang dengan keromantisan.
"Aku mendapatkannya." Denis membooking tempat tersebut sebelum keduluan orang lain.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Keesokan harinya.
[Bersiaplah, karena aku akan menjemputmu dua jam lagi.] isi pesan yang Denis kirimkan ke nomor kontak milik Agnes.
Di kamar, Agnes baru saja selesai mandi. Dia langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias, dahinya mengerut setelah melihat pengirim pesan itu.
"Pak Denis? Tumben dia mengirim pesan, apa dia sedang bermimpi?'' Agnes tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.
Matanya seketika membulat saat melihat isi pesan dari Denis, dia melongo sambil berjalan kesana-kemari.
__ADS_1
"Ya ampun, bagaimana ini. Nanti malam? Duh, kenapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang?" Agnes menggigit kuku jarinya, dia benar-benar grogi dan penasaran kenapa Denis mengajaknya ketemuan.
Agnes membalas pesan itu dengan kata.
[Aku akan menunggumu.]
Dia langsung meletakkan ponselnya kembali di atas meja, Agnes akan pergi ke salon dan membeli pakaian baru.
"Aku harus tampil cantik dan mempesona di depan Pak Denis, siapa tahu dia juga akan tertarik denganku dan cintaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan." Agnes bergumam sendiri sambil bergegas memakai pakaian dan segera pergi ke salon.
Selesai berpakaian, dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Dirinya terburu-buru karena sekitar pukul tujuh malam Denis akan menjemputnya. Agnes keluar dari kamar, dia menemui Anaya dan ingin berpamitan pergi ke salon.
Anaya pun mengizinkan, dia sedikit heran karena Agnes terlihat ingin cepat pergi. Keheranan Anaya disembunyikan, dirinya tidak ingin membuat Agnes semakin merasa bingung.
β’
β’
TBC
__ADS_1