Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #40


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Agnes pagi ini melakukan tugas rutinnya yaitu jogging di hari Minggu, cuaca pagi ini sangat cerah secerah hatinya yang sudah bisa membuat Denis sedikit luluh dan tidak cuek lagi seperti dulu. Dia bertanya kepada Anaya apa-apa saja makanan favorit Denis, hal-hal yang disukai dan tidak disukai oleh Denis. Agnes cukup sering datang ke kantor cabang milik Denis yang ada di kotanya, dia juga membawakan Denis makan siang meskipun terkadang tidak dimakan oleh Denis.


Kegigihan Agnes membuahkan hasil hingga menjadikan Denis lumayan bertutur kata lembut dan tidak cuek. Agnes semakin berusaha untuk bisa mendapatkan Denis, dia rasa pria seperti Denis sangat langka di bumi ini. Ya, sikapnya yang cuek terhadap orang asing membuat Agnes yakin jika Denis adalah pria terbaik untuknya.


Agnes terus berlari santai hingga pada akhirnya dia berhenti di sebuah bangku karena kelelahan, dia mengelap keringat yang ada di dahinya. Dirinya juga mengibaskan tangan di depan wajah karena merasa kegerahan.


"Matahari sudah semakin tinggi, sebaiknya aku pulang saja." gumamnya sambil ingin beranjak tetapi matanya menangkap sosok pria yang baru saja dia pikirkan.


"Itu 'kan, Pak Denis," duganya dengan memicingkan mata.


Agnes tersenyum karena dugaannya benar, dia berjalan menghampiri Denis yang sedang duduk disebuah bangku.


"Hai, Pak. Anda ada disini juga?"


Denis menoleh karena mendengar suara wanita yang sangat dia kenal.


"Agnes?"


Agnes tersenyum tipis. "Boleh saya duduk disini? Saya juga sangat lelah dan gerah," ucapnya diselingi senyum manis lalu segera duduk di samping Denis.

__ADS_1


Denis ingin berkata jika tempat duduk disampingnya sudah ada yang punya, tetapi belum juga berbicara Agnes sudah duduk tanpa diizinkan.


Seorang wanita cantik dari arah Utara berlari pelan, langkahnya membawa dia menuju ke bangku Denis dan Agnes.


"Kenapa aku ditinggal?" ucap wanita itu dengan raut wajah kesal.


Agnes yang tadi berbicara kini terdiam seketika saat melihat wanita cantik, muda di hadapannya saat ini. Dia merasa jika wanita muda itu seumuran dengannya. Dia melirik Denis yang terlihat menerbitkan senyumnya saat menatap wanita muda itu.


"Maafkan aku, Sayang. Habis kamu lama sekali larinya, aku sudah sangat lelah maka dari itu aku memutuskan untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu." Denis berkata dengan nada lembut.


Wanita muda nan cantik itu hanya menggeleng, matanya beralih menatap Agnes yang duduk di samping Denis.


"Dia siapa?" wanita tersebut menunjuk Agnes menggunakan dagu.


Agnes tersenyum kecut, dia mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan wanita muda itu.


"Hai, perkenalkan namaku Feby.'' ucap wanita tersebut dengan senyum manis.


"Oh ya, ngomong-ngomong aku harus duduk dimana? Aku rasa sudah tidak ada lagi tempat untukku." Feby memasang wajah sedih.


"Kamu disini aja, ditengah." Denis menepuk tempat duduk di sampingnya, dia juga menggeser bo*kong agar Feby bisa duduk.

__ADS_1


"Eh, tidak perlu. Kamu duduk disini saja, kebetulan aku ingin pulang. Matahari sudah tinggi dan aku yakin cuaca juga akan panas sebentar lagi."


'Sepanas hatiku.' lanjut Agnes dalam hati.


"Baiklah, terima kasih." Feby langsung duduk di tempat milik Agnes tadi dan Agnes segera pamit untuk pulang.


Dia berjalan dengan pikiran campur aduk, antara kecewa, sedih, dan bahagia karena bisa bertemu dengan Denis.


"Kenapa Agnes bar-bar jadi cengeng? Kamu wanita tangguh, jangan terpuruk hanya karena satu pria. Please!" Agnes menyemangati dirinya sendiri sambil meneteskan air mata.


Setelah Agnes pergi, Feby heran dengan ekspresi Agnes tadi saat bertemu dengannya.


"Apa dia menyukaimu?"


Denis hanya mengedikkan bahu.


"Kak, aku melihat dari tatapan matanya yang sangat berbeda setelah aku tadi datang." ucap Feby.


"Sudahlah, kenapa harus membahasnya?" Denis menjeda ucapannya sejenak. "Kamu haus gak? Ayo kita cari minuman." dia berdiri sambil menggenggam jemari Feby.


__ADS_1



TBC


__ADS_2