Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #75 (S2)


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Anjani sudah bisa berjalan, dia sangat senang karena akhirnya kaki itu mampu untuk melangkah. Dirinya ingin melompat tetapi Al dengan cepat mencegah.


"Jangan, Sayang! Kamu baru saja sembuh, aku harap jangan terlalu lincah terlebih dahulu. Tetap banyak istirahat agar kesehatanmu cepat pulih." Al memegang tangan Anjani.


"Al, aku sangat bahagia sekali." ucapnya dengan senyum manis.


Mereka pun berpelukan dan bersyukur atas kesembuhan Anjani.


"Oh ya, bagaimana dengan Aina? Aku sudah sembuh dan sepertinya kita tidak membutuhkan asisten rumah tangga lagi."


"Em," Al terdiam sambil berpikir. "Bagaimana jika kita biarkan saja dia bekerja di rumah kita? Ya, hitung-hitung untuk membantu membersihkan rumah. Aku tidak ingin kamu terlalu kelelahan, aku juga masih sanggup untuk membayar gajinya."


Jani tersenyum karena dia sangat bahagia telah mendapatkan suami seperti Al.


"Terima kasih karena kamu sudah selalu setia menemani aku, mendampingi aku dan terus memberikan semangat." Jani menyandarkan kepala di dada bidang Al.


"Itu sudah tugas dan kewajibanku sebagai seorang suami." Al mengelus lembut rambut milik Jani.


"Bagaimana dengan rencana bulan madu kita?"


"Aku siap untuk pergi, dan apa kamu sudah memilih tempat yang cocok untuk kita berbulan madu?"


"Ya, kita akan pergi ke Labuan Bajo, disana nanti kita akan pergi mengunjungi beberapa tempat wisata dan melihat sunset."


"Benarkah? Aku sudah lama tidak melihat sunset, terakhir dua tahun yang lalu dan itu bersama dengan para sahabatku." balas Anjani dengan riang.


"Tentu saja benar, Sayang. Aku yakin kamu pasti menyukai tempat itu dan lebih indah dari negara kincir angin yaitu Belanda."


"Aku tidak sabar untuk segera pergi," Jani memeluk lengan Al dengan manja.


"Kamu tidak sabar untuk melakukan malam pertama atau melihat sunset?" Al menggoda Jani.


"Pastinya melihat sunset dong, kalau malam pertama dirumah juga bisa." Jani terkekeh tetapi kedua pipinya bersemu merah.


"Tidak ada sensasinya, jika nanti langsung jadi kecebong maka dia hanya Made in kamar." Al tertawa renyah disusul oleh tawa Anjani.


Keduanya terlihat bahagia, usia tidak menghalangi cinta dan pemikiran mereka sebab Al memiliki sikap yang dewasa di bandingkan Anjani.


🌺🌺🌺🌺


Hanna keluar dari restauran tepat pukul sembilan malam, terlihat jalanan cukup sepi dan Hanna merasa was-was.


"Astaga, kenapa sepi sekali? Jam segini angkutan umum juga sudah tidak ada, pesan taksi online lama banget datangnya." Hanna melihat ke sekeliling.


Suara tapak sandal terdengar memijak ranting pohon karena Hanna berada di pinggir jalan sedang menunggu taksi online pesannya, dia memejamkan mata dan berdoa semoga itu hanya suara halusinasinya.


Grep!

__ADS_1


Tiba-tiba Hanna terlonjak kaget saat seseorang membekap mulutnya.


"Emph, emph!" Hanna hanya bisa berteriak tidak jelas.


Pria itu membawa Hanna ke semak-semak, namun saat dia menyebrang jalan ternyata tanpa disadari sebuah mobil melaju pelan hingga tanpa sengaja menyorot pria itu yang sedang menyeret Hanna.


"Pria itu ngapain? Apa jangan-jangan dia ingin berbuat jahat?" Vero bergegas turun dari mobil, dia sengaja ingin menjemput Hanna karena dirinya tahu memang jam segini lah waktunya Hanna pulang bekerja.


Dia memergoki Hanna beberapa kali menunggu di pinggir jalan sampai malam karena tidak mendapatkan tumpangan, taksi online pun sering lama sampai. Bahkan, Hanna pernah jalan sampai ke rumah saat dia menunggu taksi yang sangat terlambat.


"Tolong!" teriak Hanna sekencang mungkin, dia mencoba memberontak sekuat tenaganya.


"Diam atau gue jahit mulut Lo!" bentak pria seram itu sambil membuka ikat sabuknya.


Dia sudah mana mengintai Hanna dan inilah saatnya dia menjalankan aksinya.


"Apa yang ingin Anda lakukan? Jangan apa-apakan saya, saya akan memberikan uang kepada Anda. Tapi tolong pergi dan lepaskan saya," Hanna menangis.


"Gue gak butuh uang, gue cuma butuh kehangatan dari lo!" pria itu mencolek dagu Hanna sambil membuka resletingnya.


Hanna menelan ludah karena takut, dia terus berteriak tetapi tidak ada yang datang. Bajunya di robek oleh pria itu dan sang pria memaksa agar Hanna melepaskan celananya.


"Jangan!"


Bugh!


Pukulan balok dari belakang membuat pria itu tersungkur ke tanah, Hanna dengan cepat berdiri dan berlari menjauhi pria itu. Betapa kagetnya dia saat melihat Vero yang sudah membawa balok besar.


"Saya sengaja ingin menjemput kamu," jawab Vero jujur sambil melirik Hanna yang ada di belakangnya.


"Om, ayo kita pergi dari sini. Pria itu sangat seram, aku takut jika dia membawa senjata tajam."


Benar saja, pria itu berdiri lalu mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebuah pisau yang sangat tajam dia todong 'kan ke arah Vero.


"Hei! Berani-beraninya lo mengganggu kesenangan gue, ya?" pria itu berjalan dengan angkuh.


"Saya menganggu karena perbuatan Anda sangat salah." ucap Vero tanpa rasa takut.


"Om, ayo kita lari." Hanna menarik ujung baju belakang milik Vero.


"Kamu pergilah masuk ke dalam mobil, saya akan melawan dia."


"Tapi—"


"Pergi, Hanna!" pinta Vero untuk kesekian kalinya.


Hanna menuruti ucapan Vero dan dia berlari masuk ke dalam mobil.


"Beraninya menggunakan senjata? Baiklah, siapa takut."

__ADS_1


Vero memberikan bogeman tetapi berhasil dihindari oleh pria itu.


Pria tersebut tertawa jahat, dia mengarahkan pisaunya ke sekitar tubuh dan wajah Vero.


Di dalam mobil, Hanna berdoa agar ada seseorang yang lewat. Dia ingin meminta tolong.


"Kenapa jalan ini sepi sekali?" Hanna menepuk dahi saat dia ingat jika ini malam Jumat, tentu saja jarang ada yang lewat karena mitos orang sekitar jika jalan itu ada penunggunya.


"Mereka lebih takut hantu dari pada penjahat," gumam Hanna bermonolog.


Sret!


"Argh!'' terdengar rintihan dari mulut Vero dan Hanna mendengar dengan jelas.


"Om!" teriak Hanna khawatir karena Vero tergeletak di jalanan.


Pria itu tersenyum jahat, dia melayangkan pisaunya dan bersiap menusuk perut Vero.


"Gak usah sok jadi pahlawan kesiangan, Lo! Ma*mpus Lo 'kan, ma*ti sekalian! Biar Lo tau aja siapa gue—"


Bugh!


Bugh!


Ucapan dia tersebut terhenti karena Hanna dengan cepat muncul dari belakangnya dan memukul pria tersebut menggunakan kayu besar.


"Om," Hanna membantu Vero berdiri. "Ayo kita pergi," lanjutnya sambil melirik pria yang sudah terkapar di jalanan itu.


Vero berjalan dengan di papah oleh Hanna, darah keluar dari lengannya.


"Astaga, tangan om berdarah."


Vero berdecak kesal ketika Hanna memanggilnya dengan sebutan om.


"Apa kamu mau jadi sugar baby saya?"


"Hah!" mata Hanna melotot karena dia tahu apa itu sebutan sugar baby. "Anda sudah gila, tidak waras!" lanjutnya sambil melepaskan tubuh Vero, dia bahkan melipat kedua tangan di depan dada dengan bibir mengerucut.


"Makanya jangan panggil saya dengan sebutan om, apa kamu pikir saya ini sugar Daddy kamu?" Vero meringis menahan rasa perih di lengannya.


"Baiklah, Mas Vero yang terhormat!" Hanna seakan terpaksa mengucapkan kalimat itu.


Vero hanya tertawa dan melupakan rasa sakitnya sejenak.


"Ayo, saya akan membantu mengobati luka Anda."


Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan Vero mengambil kotak obat yang selalu ada di dalam mobilnya.


__ADS_1



TBC


__ADS_2