
Satu minggu kemudian.
Hanna telah bersiap untuk pergi ke kampus, seperti biasa dirinya hanya memakai pakaian sederhana namun terlihat elegan. Disaat dirinya hendak pergi keluar rumah, suara seorang wanita menghentikan langkahnya. Hanna pun menoleh, dia menghela napas ketika wanita paruh baya tersebut berjalan ke arahnya.
"Apa kamu sudah membawa bekalnya?" tanya wanita tersebut dengan nada datar.
"Hanna tidak bisa terus-terusan seperti ini," jawab Hanna.
Wanita paruh baya itu mencengkeram lengan Hanna dengan kencang hingga membuat Hanna nyengir karena kesakitan.
"Lepaskan tangan Hanna, Mam." Hanna mencoba melepaskan cengkraman dari orangtuanya.
"Apa kamu tidak ingat bagaimana dulu kehidupanmu? Jika tidak ada aku maka saat ini mungkin kamu sudah dijadikan sebagai pela*cur!" ucap wanita itu sambil menghempaskan tangan Hanna dengan kasar.
Hanna adalah anak pungut, dia ditemukan saat dirinya hendak di bawa keluar negeri dan akan dijadikan sebagai wanita malam jika sudah besar. Pada waktu itu usia Hanna baru menginjak sepuluh tahun, dirinya masih polos hingga pada saat dia dibawa oleh Elvira dan diangkat menjadi anak, dirinya tidak terlalu memikirkan hal buruk dan konsekuensi.
Hanna pikir, Elvira adalah perempuan yang baik dan tulus menolongnya. Tetapi, saat usia Hanna sudah menginjak dua puluh tahun disitulah Elvira mulai mengatakan rencananya untuk membalaskan dendam pada keluarga Pamungkas. Dendam kesumat sepuluh tahun tahun yang lalu masih membekas di dalam hati Elvira, dia tidak akan hidup dengan tenang sebelum membuat Abi dan keluarganya menderita.
"Mam, dia itu tidak akan pernah tertarik dengan Hanna. Sudah begitu banyak cara yang kita lakukan tetapi dia sama sekali tidak melirik Hanna." Hanna menjadi frustasi.
"Mami tidak mau tahu, kamu harus bisa menjerat Al dan buat dia hancur. Ingat, jangan sampai ada yang tahu tentang identitas asli kamu. Mami tidak ingin rencana yang sudah Mami susun rapi hancur begitu saja." ucap El penuh peringatan.
Hanna hanya mampu diam, dia tidak mengerti harus bagaimana lagi membuat Al agar terpikat dengannya.
"Hanna pamit dulu, hari ini tidak perlu membawa bekal. Hanna takut jika kak Al bosan," Hanna segera pergi tanpa menunggu jawaban dari Elvira.
Elvira mendegus melihat perubahan Hanna, dia tidak akan membiarkan Abimanyu hidup tenang dan bahagia sementara dirinya hidup bertahun-tahun di dalam penjara.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Al mengendarai mobil mewahnya dengan santai, dia bahkan sesekali bersiul untuk memecahkan keheningan di dalam mobil. Biasanya suara Zahra-lah yang memenuhi mobil Al tetapi karena Zahra sudah berada disekolah, dirinya jadi merasa sepi di dalam mobil sendirian.
Setelah melewati lampu merah, dahi Al berkerut sebab dia melihat seorang gadis yang sangat dikenal.
"Itu, bukannya Hanna? Tapi kok dia ada di pinggir jalan ya?" Al menepikan mobilnya lalu turun.
Hanna yang saat itu sedang bingung karena mobilnya mogok langsung mengembangkan senyum ketika melihat Al.
"Hanna, ada apa?" Al melihat ke sekeliling.
"Mobil Hanna mogok, kak. Padahal udah sering di service, gak tau kenapa kok bisa tiba-tiba ngambek." sahut Hanna dengan sedih.
"Dimana mobil kamu?"
Hanna menunjuk ke seberang jalan.
Mereka pun langsung berjalan menuju mobil Hanna.
Al terkejut, dia menjauhkan wajah dan menyeka keringatnya menggunakan lengan baju kemeja yang dia pakai.
"Maaf, kak." ucap Hanna yang merasa tidak enak.
Al hanya tersenyum tipis.
"Coba di starter." perintah Al pada Hanna.
Hanna masuk ke dalam mobilnya, dia menghidupkan dan menstarter. Suara mesin mobil terdengar dan Hanna tersenyum senang, dia keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya.
"Akhirnya bisa hidup, terima kasih ya, kak."
__ADS_1
Al tersenyum tipis sambil mengangguk. "Lain kali harus lebih sering di service, sepertinya ada masalah dengan kebocoran oli."
"Iya, kak. Nanti Hanna bilang ke Mami,"
Saat Al hendak pergi, Hanna mencekal lengan Al. Tatapan keduanya saling bersitubruk, perlahan tangan Hanna terangkat ke udara dan dia mengusap pipi sebelah kanan milik Al.
"Ada sedikit bekas oli, kak. Maaf," Hanna tersenyum malu karena Al menatapnya dengan sangat dalam.
Al pun tersadar hingga dia segera berpamitan pergi dari hadapan Hanna.
Setelah Al sudah menjauh, Hanna memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.
"Astaga, baru ditatap seperti itu saja jantungku sudah hampir melompat keluar." Hanna tersenyum sendiri lalu dia masuk ke dalam mobil, tatapan mata Al masih membekas di benaknya.
β’
β’
TBC
ANJANI SHARMA
**HANNA MUSTIKAJAYA
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
__ADS_1
MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR YUK π₯°**