
Alvarendra telah sampai di kampus, dia turun dari mobil dan seketika mata semua mahasiswi tertuju padanya. Bagaimana tidak, wajah tampan Al selalu menjadi idola mereka hingga para Mahasiswi berlomba-lomba untuk menjerat hati Al. Segala cara sudah mereka lakukan tetapi Al tetap tidak pernah luluh.
Alvarendra berjalan menuju kelasnya dengan senyum saat disapa oleh para adik kelas maupun yang lainnya, bahkan salah satu dosen wanita di kampus yang masih singel juga menyukai Al. Dia selalu pulang bersama dengan Al karena beralasan jika mobilnya rusak.
"Pagi," Al menyapa teman-temannya.
Ketiga teman Al menoleh dan mereka bertos ala pria.
Al duduk di ujung meja, sementara ketiga temannya duduk di kursi.
"Eh, hari ini kita kedatangan dosen baru." Robi— teman Al membuka topik pembicaraan.
"Masa? Cewek atau cowok?" tanya Arman dengan rasa penasaran.
"Katanya sih cewek, cantik lagi. Kayaknya dia pernah sekali datang ke kampus ini dan gue pernah melihatnya.'' sambung Anjar.
Al hanya diam saja, dia tidak berminat untuk ikut mencari tahu tentang dosen baru itu.
"Apa dia akan mengajar di kelas kita?" Arman kembali bertanya.
"Banyak yang bilang, dosen baru itu akan mengajar di jurusan ekonomi. Nah sementara kita di teknologi, ya pasti tuh dosen gak akan masuk dong." jawab Robi.
"Apa segitu pentingnya? Bahkan Mahasiswi di kampus ini sangat cantik-cantik, tetapi kenapa kalian malah ingin mengejar dosen? Udah pasti usia dia lebih tua dari lo-lo pada." Al pun akhirnya membuka suara karena menyimak pembicaraan temannya.
Ketiga teman Al saling lirik dan menatap Al dengan heran.
"Eh, tapi setidaknya kita bertiga masih mau membahas masalah wanita. Nah elo, diem mulu. Al, jangan-jangan ....?" Anjar tidak meneruskan ucapannya, mereka bertiga hanya terkekeh.
__ADS_1
Sementara Al, dia memukul kepala belakang temannya karena sudah berani mengejeknya pria tidak normal.
"Gue jantan tulen," Al menunjukkan otot lengannya.
Plak!
"Alasan," Robi memukul lengan Al lalu mereka berempat tertawa bersama.
Salah satu mahasiswi yang satu kelas dengan Al berjalan menghampiri meja Al berserta tiga temannya. Gadis cantik nan mungil itu menyapa Al dengan nada suara lembut.
"Selamat pagi, kak Al." ucapnya sambil tersenyum.
Sontak keempat sekawan itu menoleh ke asal suara.
"Pagi, Hanna." sahut Al diselingi senyum tipis.
"Kak, Hanna bawa sesuatu untuk kak Al," Hanna menyodorkan satu kotak makan.
Al pun menerima karena dia tidak ingin menyinggung ataupun menyakiti perasaan orang lain.
"Terima kasih, Hanna." jawab Al seraya mengambil bekal makan itu.
Hanna tersenyum sambil mengangguk lalu dia pergi dari hadapan Al.
Arman menyenggol lengan Al, dia mengedipkan sebelah matanya.
"Gas saja, Al. Cantik, mungil, kurang apalagi coba? Dia sepertinya anak orang kaya." Arman menjadi Mak comblang.
__ADS_1
"Ck, bukan selera gue. Gue udah pernah bilang sama kalian 'kan, hanya ada satu nama cewek di hati gue dan tidak akan pernah terganti oleh siapapun." Al mengedikkan bahu lalu pergi ke mejanya karena sebentar lagi kelas akan dimulai.
🌺🌺🌺
Di dalam mobil.
Anjani sedang menghubungi seseorang, dia sebenarnya sangat berat di pindahkan tugas seperti ini. Namun, dirinya tidak bisa menolak permintaan orangtuanya.
"Aku juga merindukanmu." ucap Jani dengan manja, dia sedang menelepon calon suaminya.
Dua bulan lagi Anjani akan menikah dan dia tidak lagi bekerja.
"Kamu harus sering mengunjungiku, aku pasti akan sangat kesepian tanpa dirimu." Jani terlihat sedih karena dia harus menjalani LDR (cinta jarak jauh.)
📱"Aku pasti akan sering datang ke kota itu, kamu tenang saja yang penting jaga kesehatan dan jangan lupa selalu kabarin aku." jawab pria di seberang telepon.
"Baiklah, kamu juga jaga kesehatan. Sampai jumpa, I love you,"
Setelah pria di seberang membalas salam penutup, sambungan pun langsung terputus. Anjani melirik jam yang melingkar di tangannya, dia menghela napas karena sudah terlambat sepuluh menit.
"Gara-gara macet, aku jadi terlambat." ucapnya kesal sambil mendengus.
•
•
TBC
__ADS_1