
Satu minggu kemudian.
Pengantin baru yang harusnya berbahagia dengan peresmian hubungan mereka namun saat ini menjadi kesedihan bagi seluruh keluarganya. Pasalnya, pasca kejadian bom sewaktu acara resepsi membuat Anjani koma, dia dilarikan ke rumah sakit karena tertimpa batu yang hancur berantakan. Pada saat itu, Al menggendong Jani hingga saat bom meletus, Anjani terlempar dari gendongan Al. Kebetulan mereka sudah berada di depan pintu, tetapi naasnya batu yang hancur di gedung itu menimpa kaki Jani. Al dalam keadaan luka ringan, dia hanya bocor di bagian pelipis.
Kesedihan Al terus berlarut karena sudah satu minggu Anjani tidak sadarkan diri, dia mengutuk siapa pun yang dengan sengaja menghancurkan resepsi pernikahannya.
'Aku bersumpah, jika ketahuan siapa pelakunya maka aku pastikan orang itu akan mendapatkan hukuman berat dan aku akan memberinya pelajaran yang setimpal.' batin Al sambil menggenggam jemari Anjani, hanya Al-lah yang di perbolehkan masuk untuk melihat sang istri.
Air mata menetes saat Al melihat wajah pucat Anjani, dia tidak menyangka jika cobaan cintanya tidak sampai disini.
"Jani, kamu harus kuat menghadapi semuanya, lekas sembuh dan kita berdua akan berbulan madu ke Belanda. Itu mau kamu 'kan? Bangun, Sayang. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini," Al mengelus kepala Jani, hidung jadi pun di pasang selang dan kepalanya di lilit oleh perban.
Al semakin sedih karena Dokter berkata jika Jani telah mengalami kelumpuhan sementara, batu yang menimpa kakinya membuat dia cedera dan harus berjalan dengan kursi roda. Dokter juga mengatakan ada kesembuhan pada diri pasien jika dilatih dan diberikan semangat.
__ADS_1
Al keluar dari ruangan tersebut, dia duduk di kursi tunggu tepatnya di depan ruangan Anjani. Naya dengan setia menemani Al, dia bergantian dengan Silvana menemani Anjani di rumah sakit.
"Nak, saat ini yang Jani butuhkan adalah doa dan semangatmu. Jika kamu lemah seperti ini, maka Anjani akan sangat sedih. Kamu makan dulu, ya? Mama udah bawakan sayur kesukaanmu." Naya mencoba membujuk Al karena satu minggu ini pola makan Al sangat tidak teratur.
Al menggeleng. "Al tidak selera makan, Ma. Biarkan Al menunggu Anjani disini sampai dia sadar, Al tidak akan pergi." ucapnya melirik Anaya sejenak.
Naya meletakkan kepala Al di pundaknya, dia mengelus rambut Al dan mencoba menyalurkan kekuatan serta kasih sayangnya.
"Kamu yang sabar ya, Nak. Saat ini Yang Maha Kuasa sedang menguji cinta kalian, Mama berharap kamu selalu mendampingi Anjani bagaimanapun keadaannya nanti. Jangan pernah tinggalkan dia, selalu bisikkan kata-kata penyemangat untuknya dan kuatkan dia dari segala pikiran buruknya. Tugas kamu adalah membuatnya bahagia dan menjaganya,"
FLASHBACK ON:
Polisi sedang menyelidiki penyebab kasus bom di gedung tempat acara resepsi pernikahan Alvarendra, mereka sudah mendapatkan bukti dari rekaman CCTV yang menyatakan jika kejadian itu unsur kesengajaan.
__ADS_1
"Kami sudah mendapatkan bukti dan akan segera di proses, pelaku tidak terlalu pintar dalam menjalankan kejahatannya ini. Mungkin dia pikir CCTV hanya diletakkan di satu tempat tetapi nyatanya CCTV ada di seluruh sudut penjuru gedung." ucap Komandan Akbar Tandjung, dia adalah polisi muda yang di selingkuhi istinya.
"Pak, saya mohon tolong segera proses dan cari pelakunya." pinta Abi dengan memohon.
"Anda tenang saja, Pak. Itu sudah tugas kami dan kami akan mencoba memberikan kabar baik secepatnya. Kalau begitu, kamu permisi. Turut berduka dengan kejadian yang menimpa keluarga Anda, semoga semuanya segera pulih dan membaik." Akbar tersenyum lalu pergi dari hadapan Abi dan Rahul.
Dia kebetulan di tugaskan di kota tempat Zahra tinggal, dirinya tidak menyangka jika harus menangani kasus keluarga Pamungkas.
FLASHBACK OFF:
•
•
__ADS_1
TBC