
Beberapa hari kemudian, Anjani sudah di perbolehkan untuk pulang karena keadaanya sudah semakin membaik. Dia harus memakai kursi roda guna membantunya berjalan, sebenarnya Jani tidak menginginkan ini tetapi dia hanya bisa pasrah. Al sendiri sangat telaten merawat Jani mulai dari mengantar ke kamar mandi, membuat sarapan dan terkadang menyisir rambut. Al mengundurkan niatnya untuk meminta hak sebagai suami, dia memahami kondisi Anjani saat ini.
"Sayang, jika kamu sudah sembuh nanti kita akan bulan madu kemana?" Al menyisir rambut Anjani.
"Kemana saja, yang penting aku bersamamu." jawab Jani diselingi senyuman tipis.
"Kalau ke Turki gimana? Atau ke Belanda? Atau ke Jepang? Atau ke—" ucapan Al terhenti.
"Tidak perlu keluar negeri, Al. Kita pergi ke tempat yang indah di kota ini saja, aku tidak memerlukan tempat istimewa untuk bulan madu kita. Kamu mau menerimaku dalam keadaan seperti ini saja, aku sudah sangat bersyukur." balas Jani dengan merendahkan diri.
"Sayang, ini semua bukan kamu yang mau 'kan? Jadi kenapa kamu harus merendah seperti itu?'' Al melingkarkan kedua tangannya di leher Anjani dari belakang.
Anjani hanya tersenyum tipis. "Intinya aku tidak ingin keluar negeri, mungkin suatu saat nanti."
Al mengangguk, dia lupa mengatakan pada Jani jika sebenarnya pelaku bom sudah tertangkap.
"Jani, aku ingin memberitahumu jika pelaku bom itu sudah ditangkap oleh polisi."
"Benarkah?" Jani terlihat senang. ''Siapa dia, Al? Apa kamu mengenalnya? Dia punya masalah dengan kita?" Jani memberondong pertanyaan.
"Tante Elvira."
"Hah!" teriak Jani kaget. "Elvira siapa, Al?"
"Dia adalah mantan kekasih Papa, mereka dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Tapi, Papa menolak menikahi tante El karena Papa mencintai Mama. Mungkin tante Elvira mempunyai dendam tersendiri hingga ingin menghancurkan kehidupan Papa. Aku ingat jika dulu Tante itu juga pernah mencukikku dan ingin melenyapkan aku."
Jani tercengang. "Astaga, kenapa dia jahat sekali?"
"Tapi kamu tenang saja, kali ini dia pasti tidak akan mengusik kehidupan kita lagi karena dia akan membusuk di dalam penjara." ucap Al geram, ingin sekali dia menghajar Elvira tetapi dirinya sadar jika Elvira adalah seorang wanita.
"Dia di penjara seumur hidup?''
__ADS_1
Al mengangguk. "Aku dan Papa memberatkan hukumannya dan dia akan dihukum seumur hidup di dalam penjara."
Anjani hanya mampu menghela napas karena perbuatan yang Elvira lakukan benar-benar fatal dan hampir menghilangkan nyawa banyak orang.
🌺🌺🌺🌺
Hanna terkejut saat dia mendengar kabar orang tua angkatnya masuk ke dalam penjara, dia segera bergegas berpamitan untuk pulang cepat terlebih dahulu. Sang pemilik cafe mengizinkan karena terlihat dari raut wajah Hanna jika dia memiliki masalah.
Hanna menaiki taksi menuju ke kantor polisi tempat Elvira ditahan. Sesampainya di kantor polisi, Hanna langsung berjalan masuk untuk menemui Maminya.
Polisi membawa Elvira menemui Hanna.
"Mam, kenapa semua ini bisa terjadi?" Hanna bertanya dengan lirih.
Elvira hanya diam saja, raut wajahnya juga datar dan dingin.
"Mam, apa ini semua adalah unsur balas dendam? Kenapa Mami tidak tobat?" Hanna menitikkan air mata.
"Mami lihat, karena keegoisan Mami semuanya menjadi seperti ini. Jika saja Mami melupakan semuanya mungkin Mami tidak akan berada disini. Hanna dengar berita jika Mami di penjara seumur hidup. Kenapa Mami senekat ini?"
Elvira menggebrak meja sambil berdiri dari kursi.
"Tutup mulutmu, dasar anak tidak berguna! Kamu tidak tahu apa pun tentang kehidupanku, diam dan jangan pedulikan aku!" Elvira menunjuk wajah Hanna dengan raut memerah.
Salah satu polisi mendatangi Elvira, dia takut jika El melakukan hal di luar kendali.
"Waktu besuk sudah habis, silahkan pergi dan kembali lagi besok." ucap polisi dengan sopan.
Hanna berdiri dari kursi, sementara Elvira kembali masuk ke dalam penjara. Hanna berjalan keluar dari kantor polisi, dia melihat sebuah mobil yang dia yakini jika itu adalah milik orang tua Al terlihat dari plat mobilnya mengunakan nama belakang AP.
"Pak!" teriak Hanna memanggil.
__ADS_1
Abi yang kala itu ingin masuk ke dalam mobil menghentikan niatnya, dia menoleh dan dahinya mengerut.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak, Anda orang tua kak Al?" tanya Hanna dengan napas terengah.
"Al? Al siapa maksud kamu?"
"Alvarendra Maulana Pamungkas, dia anak Bapak 'kan?"
Abi mengangguk. "Ya, memangnya ada apa?"
"Pak, saya mohon tolong cabut atau ringankan tuntutan kalian kepada Ibu saya." Hanna memohon dengan wajah sedih.
"Ibu? Memangnya siapa Ibu kamu?" Abi pun bingung.
"Elvira, dia Ibu angkat saya. Saya mohon berikan dia kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, Pak. Jangan hukum Ibu saya di penjara seumur hidup." Hanna menangis.
"Maaf, itu semua tidak bisa saya turuti ataupun saya pertimbangkan. Kelakuan Elvira sudah sangat kelewatan, dia hampir menghabisi nyawa anak dan menantu saya. Bukan hanya itu, dia bahkan hampir menghilangkan nyawa banyak orang yang tidak bersalah." ucap Abi tegas.
"Tapi, Pak—" Hanna tidak melanjutkan ucapannya.
"Saya mohon, Nak. Kamu jangan memaksa saya untuk melakukan hal itu karena jawabannya tetap akan sama yaitu tidak bisa!" Abi meminta maaf.
Hanna hanya menangis, dia pergi dari hadapan Abi.
'Maafkan Hanna yang tidak bisa membalas budi pada Mami.' batinnya, dada Hanna terasa sesak melihat orang yang merawatnya masuk ke dalam jeruji besi.
•
•
__ADS_1
TBC