Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #73 (S2)


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Hanna sudah tidak seceria dulu lagi, entah apa yang dia pikirkan tentang permasalahan Elvira. Hanna sangat menyayangi El seperti ibu kandungnya sendiri meskipun Elvira memungutnya hanya untuk dijadikan kambing hitam. Namun, Hanna tidak mempermasalahkan karena jika tidak ada Elvira pasti saat ini dirinya entah sudah jadi apa.


"Bagaimana caranya agar aku bisa membebaskan Mami dari penjara?" Hanna menangis, air mata lolos begitu saja di kedua pipinya.


Dia menatap danau luas yang ada di depannya, dirinya melamun karena memikirkan bagaimana cara membebaskan sang Mami. Di tengah-tengah lamunan, Hanna dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang menyodorkan minuman di depannya.


"Minumlah, berpikir pasti mengurangi tenaga." ucap pria yang sudah ada di samping Hanna.


Hanna menoleh, dia memutar bola mata ketika melihat Vero.


"Kenapa saya selalu bertemu dengan Anda? Anda itu seperti hantu yang muncul dimana-mana." Hanna terlihat kesal.


Tanpa permisi, Vero langsung duduk di sebelah Hanna. Dia menatap wajah Hanna dengan sedikit heran.


"Kamu habis menangis?"


"Apa peduli Anda?" Hanna bertanya kembali dengan nada ketus.


"Saya hanya heran, macan betina sepertimu bisa menangis juga?" ejek Vero ingin melihat ekspresi wajah galak Hanna.

__ADS_1


Hanna melotot, dia mendelik hingga bola matanya ingin keluar.


"Macan? Saya ini manusia dan gadis biasa, tentu saja saya bisa menangis. Dasar om-om sinting!'' tukas Hanna ingin meremas mulut Vero.


Vero malah terkekeh, dia menyodorkan minuman kembali.


"Ayo minum,"


"Ck, kenapa dari tadi meminta saya untuk minum?" Hanna terdiam sejenak lalu dia menganggukkan kepalanya. "Jangan-jangan Anda sudah mencampurkan sesuatu kedalam minuman ini, ya? Hayo ngaku!" lanjutnya sambil berdiri dari bangku.


Vero pun ikut berdiri, dia berkacak pinggang dan menatap Hanna dengan tajam.


''Saya hanya ingin berbaik hati denganmu, saya tahu kalau kamu sedang dalam masalah dan pasti tidak ada tempat mengadu atau berkeluh kesah. Maka dari itu, saya berbaik hati datang ke tempat ini untuk mendengarkan segala keluh kesahmu." ucap Vero tulis dari hati.


"Saya gak butuh tempat curhat!" Hanna segera pergi dari sana karena moodnya semakin hancur ketika bertemu dengan Vero.


🌺🌺🌺


Zahra terlihat menuruni anak tangga, entah mengapa hatinya begitu gembira kala dia mengingat wajah asli nan tampan milik Akbar.


"Ternyata aslinya jauh lebih tampan dari pada di foto," Zahra terkekeh sendiri hingga dia tidak menyadari jika kedua orangtuanya heran.

__ADS_1


Sesampainya di meja makan, Zahra tetap tersenyum bagaikan menang kupon undian. Dia membalikkan piringnya dan mulai mengoleskan selai kacang di roti tawar. Dirinya mulai melahap, tetapi dia tersadar jika kedua orangtuanya sudah ada di meja itu juga.


"Mama, papa?" roti Zahra mengambang di udara.


"Ra, kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?'' Abi bertanya sebab dia heran dengan kelakuan Zahra.


"Itu, Pa. Anu—," Zahra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pa, anak kamu itu sedang—," Naya ingin mengungkapkan fakta tentang si duda tetapi Zahra menyelanya dengan cepat, sehingga ucapan Naya terhenti.


"Mama, no!" Zahra menggeleng dengan kata penuh penekanan.


"Ada apa sih sebenarnya? Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari Papa?" Abi menatap Zahra dan Naya bergantian.


"E—enggak kok, mungkin tadi maksud Mama, Ra lagi bahagia karena akhirnya orang yang ingin mencelakai kakak sudah diberikan hukuman berat . Ya 'kan, Ma?" Zahra mengedipkan sebelah mata.


Anaya hanya pasrah sambil mengangguk.


Zahra tidak ingin Papanya tahu jika dia menyukai dan mengejar seorang duda karena usianya juga masih belia, pasti Abi akan marah jika tahu kalau Zahra sudah mengenal arti cinta.


•

__ADS_1


•


TBC


__ADS_2