Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #53 (S2)


__ADS_3

Al berlari masuk ke dalam sebuah cafe, saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Ketika hendak pulang ke rumah, di tengah jalan tiba-tiba hujan lebat turun begitu saja. Untungnya ada sebuah cafe yang tak jauh dari jalanan itu, Al pun memutuskan untuk berteduh sambil menunggu hujan reda. Al ingin duduk, namun niatnya teralihkan karena seorang wanita yang baru saja datang dan juga masuk ke dalam cafe itu. Dia tersenyum tipis, dirinya pun berjalan menghampiri Jani.


"Selamat sore, Miss." sapa Al sambil tersenyum tipis


Jani hanya mengangguk dengan membalas senyuman Al, dia sebenarnya ingat siapa itu Al karena kedatangannya waktu pesta ulang tahun Zahra. Namun, Jani tetap cuek seperti biasa meskipun dia mengenal Al sejak kecil.


"Miss sendirian?" Al mencoba mencairkan suasana.


"Ya, seperti yang kamu lihat." jawab Jani dengan datar.


Jani mengusapkan telapak tangannya, dia merasa kedinginan karena tidak memakai jaket atau sweater. Al yang mengerti dan peka langsung membuka jaketnya, dia melampirkan jaket itu di kedua pundak Jani.


"Eh," Jani terkejut dan melihat jaket yang terlampir di pundaknya.


"Biar Miss gak kedinginan," ucap Al dengan sebuah senyum manis.


Jani hanya menerima saja karena memang pada dasarnya dia sangat kedinginan. Mereka berdua duduk di satu meja yang sama, Al selalu mencuri-curi pandang dan hal tersebut membuat Jani merasa risih.


"Al, apa kamu tidak punya kerjaan lain selain melirik saya diam-diam?" Jani menegur karena Al tidak henti-henti meliriknya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Miss. Anda terlihat sangat cantik, bahkan lebih cantik dari usia enam belas dulu." Al mencoba merayu Jani.


"Ingat batasan, Al! Saya ini dosen kamu dan saya juga sudah memiliki calon suami." Jani merasa kesal dengan godaan Al.


Al hanya tersenyum kecut dan malu, dia menundukkan kepalanya.


Lima belas menit kemudian, mereka hanya saling diam tanpa ada yang ingin membuka suara atau pun pindah tempat duduk. Suara rintik hujan sudah tidak lagi terdengar dan itu menandakan jika hujan telah reda. Anjani dengan cepat melepas jaket milik Al lalu meletakkan di atas meja.


"Terima kasih untuk jaketnya." Jani langsung berjalan keluar dari cafe tanpa ingin mendengar jawaban Al.


Al hanya meringis perih, hatinya kecewa karena sikap wanita yang selama sepuluh tahun dia tunggu tidak pernah luluh dan tetap cuek.


"Apa wajahku jelek? Tapi tidak mungkin, banyak gadis yang mengejarku. Lalu, mengapa dia sangat berbeda dengan yang lain? Mungkin dimatanya aku ini jelek," Al bergumam sendirian.


''Ngapain dia di pinggir jalan seperti itu?" Al memicing, dia berjalan mendekati Anjani.


"Miss, mengapa Anda masih ada disini? Apa ada masalah?" Al mencoba sabar menghadapi sikap jutek Anjani.


Anjani hanya berdecak sambil melirik sana-sini.

__ADS_1


"Miss, barangkali ada yang bisa saya bantu. Anda terlihat risau," Al menatap wajah Anjani dari samping.


Anjani menghembuskan napas berat karena dia memang membutuhkan bantuan Al, dia ingin meminta tolong kepada pengunjung cafe tetapi tidak ada yang dia kenali. Jani sangat malu karena dia tidak terbiasa meminta bantuan kepada orang yang tidak dikenal.


"Mobil saya gak bisa di starter, mungkin mesinnya rusak atau ada yang konslet," Jani mengatakan keluhannya.


Al hanya mengangguk. "Kebetulan saya bukan pekerja bengkel jadi saya tidak akan mengerti cara mengatasinya." ucapnya. "Bagaimana, jika Miss pulang bersama saya dan nanti Miss hubungi petugas bengkel agar menderek mobil Miss ke bengkel." lanjutnya dengan sengaja.


Al sudah tahu jika Jani ingin menikah tetapi entah mengapa feelingnya tidak bagus tentang pernikahan Jani nanti.


Anjani berpikir terlebih dahulu sebelum menyetujui niat baik Al, tak lama dia mengangguk tanda setuju. Dirinya tidak bisa berada di tempat itu sampai penderek mobil datang.


Al tersenyum dalam hati, akhirnya dia bisa pulang bersama dengan wanita idamannya.




**TBC

__ADS_1


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️**



__ADS_2