Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #77 (BONCHAP VERO-HANNA)


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Vero mengajak Hanna dinner, dia telah memilih tempat yang sangat indah dan romantis. Malam ini dirinya akan menyatakan perasaannya kepada Hanna, entah mengapa dia bisa tertarik dengan gadis galak dan bar bar itu. Sementara Hanna, dia melihat ke sekeliling restauran yang terlihat sepi. Dirinya mulai memikirkan hal buruk tentang Vero.


"Mas, saya mau Anda ajak ke restauran ini untuk makan bukan yang lain." ucap Hanna menegur Vero dengan cara halus.


"Kamu tenang saja, saya tidak akan berbuat jahat. Hanya sedikit jahat saja," Vero tertawa renyah dan itu di tanggapi oleh Hanna dengan cara memutarkan bola mata malas.


"Kenapa restauran sebagus ini bisa sepi?" Hanna mulai curiga dan waspada.


"Ikut saya," Vero ingin menarik tangan Hanna tetapi di cegah.


"Eh, jangan sentuh saya!" Hanna mengangkat kedua tangannya.


Vero hanya tersenyum kecut, melihat sikap Hanna yang seperti ini dia menjadi takut jika nanti Hanna akan menolak lamarannya.


Sesampainya di meja, mereka langsung duduk di kursi yang sudah tersusun rapi. Hanna hanya terus menatap ke sekeliling tempat itu.


"Menurutku, tempat ini tiba-tiba menjadi sangat horor," Hanna bergidik ngerih.


Vero tertawa melihat keisengan Hanna, dia bertepuk tangan dan datanglah dua orang pria membawa biola dan gitar. Salah satu dari mereka menyanyikan lagu yang sangat romantis dan Hanna hanya melongo.


"Apa-apaan ini?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


Vero bersimpuh di lutut Hanna, dia menyodorkan sebuah kotak cincin dan didalam sana terlihat cincin itu sangat berkilau.


"Hanna, malam ini aku yakin kamu sangat heran dengan sikapku. Aku melakukan semuanya karena saat ini aku ingin melamarmu menjadi istriku serta ibu dari anak-anakku kelak." ucap Vero yakin dan serius.


Hanna tercengang, dia mencoba mencerna perkataan Vero lagi.


'Dia, dia melamarku?' batin Hanna kaget.


"Maaf sebelumnya, Mas Vero. Kita belum mengenal satu sama lain, maksudku keluargamu. Ya, aku belum mengenal keluargamu jadi bagaimana mungkin aku bisa menerimamu?"


"Sejak kejadian perjodohan yang dilakukan oleh orang tuaku dan berujung perceraian serta ketidakbahagiaan hidupku, saat ini orang tuaku memberikan semua keputusan padaku ingin menikah dengan siapa." ujar Vero menenangkan hati Hanna.


"Tapi, aku bukanlah wanita yang berpendidikan. Aku juga seorang anak yang tidak tahu asal-usulnya darimana, aku tidak ingin kamu dan keluargamu kecewa karena ketidakjelasan latar belakangku." Hanna pun jujur.


Hanna menelan ludah, ini adalah momen yang tidak boleh di tolak. Dia pasti akan sulit mendapatkan pria seperti Vero yang tentu mencintainya dengan setulus hati. Hanna memang tidak tahu masa lalu Vero tetapi dia akan berusaha menerima semuanya. Perlahan, kepala Hanna mengangguk.


Vero hanya terdiam, dia masih mengumpulkan kesadarannya.


"Han, kamu mengangguk dan itu tandanya?"


"Aku bersedia dan siap dengan semua keinginanmu tadi, aku akan berusaha menjadi seorang istri serta ibu yang baik untuk keluarga kita nantinya." ujar Hanna serius dengan senyuman manis.


Vero menegakkan tubuh dan dia melompat girang.

__ADS_1


"Yes, akhirnya. Terima kasih, Sayang." Vero mengecup punggung tangan Hanna dengan senyum lebar."


"Apa kamu tidak ingin menyematkan cincin itu di jariku? Aku sudah tidak sabar memakai cincin berlian yang sangat berkilau di dalam kotak," Hanna menunjuk kotak yang ada di tangan Vero.


Vero hanya menggeleng dan tersenyum, dia segera memakaikan cincin itu di jari manis milik Hanna.


"Sangat indah bukan? Aku yakin pasti ini harganya mahal," Hanna menatap cincin bermata berlian itu.


"Tentu saja, untuk kamu pastilah aku mencari yang sangat mahal. Jika nanti kita menikah, maka kamu bisa memiliki banyak cincin atau perhiasan seperti itu." Vero tertawa renyah


Hanna beranjak dari kursi dan dia langsung memeluk tubuh Vero.


"Kapan kamu akan mengenalkan aku dengan orang tuamu?"


"Em, hari ini juga. Ayo, aku juga sudah tidak sabar agar kedua orangtuaku segera menentukan hari pernikahan kita." Vero menarik tangan Hanna untuk keluar dari cafe.


"Om genittttttt!" teriak Hanna kesal karena dirinya hanya memakai pakaian biasa.


Vero tidak peduli dengan rengekan Hanna dan dia tetap menarik tangan Hanna menuju ke mobil.



__ADS_1


TBC


__ADS_2