
Satu minggu kemudian.
Tidak ada perubahan di dalam rumah tangga Anjani dan Al, sepertinya Anjani telah menutup hatinya rapat-rapat sehingga Al sulit untuk meluluhkan. Pagi hari yang cerah ini, mentari masuk ke dalam kamar Anjani. Sorotannya menyilaukan mata Jani yang masih terlelap. Perlahan kedua kelopak mata tersebut terbuka dan mengerjap perlahan. Dirinya melirik ke meja lampu, biasanya Al akan meletakkan setangkai bunga mawar dan sepucuk surat.
Benar saja, tanpa sadar kedua sudut bibir Anjani tertarik ke atas. Dia mengambil bunga tersebut dan membaca surat yang ada di meja.
'Selamat pagi, my wife. Senyumanmu mengalahkan cahaya matahari lagi, ketika seseorang terpana dengan keindahan matahari tenggelam ataupun terbit, aku sendiri terpana dengan dirimu dan senyumanmu. Meskipun aku sadar jika senyuman itu bukan untukku, ketahuilah aku benar-benar sangat mencintaimu dan tidak akan pernah pudar. Jani, berikan aku kesempatan untuk menyembuhkan rasa sedih di hatimu, aku tidak ingin memaksa karena cinta tidak bisa dipaksakan. Salam, Al.'
Anjani melipat surat itu dan menyimpannya di dalam laci, begitu banyak kertas di laci tersebut dan itu semua pemberian dari Al. Entah mengapa dia merasa sedikit berbeda, hatinya terasa damai saat membaca surat-surat dari Al. Jani mencoba sadar dari lamunan konyolnya, dia menggeleng dan mengusap wajah lalu berjalan pergi menuju kamar mandi.
Al sudah pergi dari pagi tadi seperti biasanya, dia ingin mengetahui Jani bisa membuka hati untuknya atau tidak yaitu dengan cara menjauhi Anjani. Namun, dia tetap meninggalkan sebuah surat agar Anjani tidak salah paham.
Jani telah selesai bersiap, dia langsung menuju mobil tanpa sarapan terlebih dahulu. Menurutnya, membaca surat dari Al saja sudah membuat kenyang.
🌺🌺🌺
Hanna sedang menghapal dialog yang akan dia bawakan satu minggu lagi saat drama musikal dimulai. Namun, kedatangan seorang gadis membuyarkan konsentrasinya.
BRAK!
Meja milik Hanna di gebrak dengan kencang hingga semua mata tertuju ke meja tersebut. Hanna mendongak, dia terkejut saat melihat Mella yang sudah ada di depannya.
"K—kak, ada apa?" Hanna pun gugup dan perasannya tidak enak.
Mella menarik kertas dialog milik Hanna, dia mengepal kertas itu lalu melemparkannya ke lantai.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" Hanna ingin berdiri tetapi kedua teman Mella dengan cepat menahan pundak Hanna.
"Diam disini, jangan membangkang!" Mella berkata dengan sombong sambil menunjuk Hanna.
__ADS_1
Semua para Mahasiswa/i tahu jika orang tua Mella memiliki hak tersendiri di kampus ini, hal itu membuat Mella menjadi sombong dan berbuat semaunya.
"Apa salahku?" teriak Hanna karena tidak tahan dengan bully-an Mella.
Mella menjambak rambut Hanna, dia menatap wajah Hanna dengan raut jijik.
"Gue gak terima kalau lo menjadi pemeran utama wanita di acara drama musikal nanti. Pentas akan diadakan satu minggu lagi dan lo masih punya kesempatan untuk mundur agar gue bisa menjadi pemeran utama wanita di acara nanti." Mella mengeratkan jambakannya.
"Kenapa kak Mella memaksa? Aku tidak akan mundur karena akulah yang terpilih, seharunya kakak sadar diri bukan malah menjudge aku!" Hanna menahan tangan Mella agar tidak menjambaknya lebih kencang lagi.
Mella menganggukkan kepala, dia memberikan kode kepada temannya dan sang teman menyodorkan satu botol air mineral.
"Jadi lo masih keras kepala? Oke, rasakan ini." Mella meminta kedua temannya agar memegangi kedua pundak Hanna, dia membuka tutup botol itu dan bersiap menyiram Hanna.
Semua mata melotot saat botol yang ada di tangan Mella terlempar begitu saja dan jatuh ke lantai padahal belum menyiram Hanna. Mella menoleh, ternyata Alvarendra sudah ada di belakangnya dengan tatapan tajam.
"Al, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku, aku hanya—" ucapan Mella terpotong karena Al menyelanya dengan cepat.
"Gak usah banyak alasan, gue tahu Lo melakukan ini semua karena apa. Lo ingin jadi pemeran utama wanita di pentas drama musikal nantikan? Baiklah, Lo bisa jadi pemeran utama wanita dan Hanna akan mundur." ucap Al serius dan menatap wajah cantik Mella.
Mella tersenyum mendengar perkataan Al.
"Berarti, aku—?" Mella menunjuk dirinya sendiri dan Al.
"Tapi, pemeran utama pria bukan gue karena gue gak sudi berpasangan dengan elo!" Al menunjuk wajah Mella dan semua yang ada di kelas menyembunyikan tawa mereka ketika melihat wajah merah milik Mella yang pasti menahan malu.
"Lo keterlaluan, Al!" bentak Mella dan langsung pergi dari kelas Hanna.
Al menghela napas, dia berjalan mengambil kertas dialog milik Hanna dan melekatkannya di meja Hanna.
__ADS_1
"Hapal dengan benar karena sebentar lagi pentas akan dimulai." Al tersenyum tipis lalu membalikan badan menuju pintu keluar.
Semua yang ada di dalam terpesona dengan Al, mereka juga berbisik ria akan kedekatan Hanna dan Alvarendra.
Al sendiri ingin bertanya tentang keadaan Hanna karena dua hari yang lalu Hanna mengalami kecelakaan mobil, untungnya Hanna membanting stir ke tiang listrik dan dia hanya mengalami luka ringan tetapi mobilnya hancur.
Saat Al sudah berada di depan pintu kelas Hanna, dia melihat Anjani yang ada di dekat pintu itu. Sepertinya Anjani mendengar semua perkataan Al dan pembelaannya atas bully-an yang Mella lakukan pada Hanna. Al takut jika Anjani salah paham, dia berlari mengejar Jani yang sudah berjalan pergi.
"Jani tunggu!" Al mencekal pergelangan tangan Anjani.
"Jaga sopan santunmu!" Anjani menghempaskan tangan Al dan menatap dengan tajam.
Al menelan ludah karena dia bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya.
"Jani, aku mohon jangan salah paham. Itu tadi—"
"SST! Salah paham apa? Saya tidak peduli apa pun bahkan saya heran kamu ini bicara apa." Anjani tersenyum miring.
Al ingin kembali bicara tetapi Jani dengan cepat mengangkat sebelah tangannya.
"Stop! Jangan bicara lagi, saya harus segera masuk kelas dan saya tidak punya banyak waktu untuk melayani pemuda plin-plan sepertimu." Jani berlalu dari hadapan Al, entah mengapa hatinya sangat panas dan dia emosi melihat Al peduli dengan Hanna.
Al hanya terdiam sambil menatap punggung belakang Anjani yang sudah menjauh.
•
•
TBC
__ADS_1