Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #58 (S2)


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Al berniat mengantarkan Hanna pulang karena mereka juga sudah janjian. Namun, sampai saat ini Al belum melihat Hanna keluar dari kampus. Dirinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, ternyata Hanna terlambat lima belas menit keluar dari kampus. Dia memiliki ide untuk mencari Hanna dengan bertanya kepada teman-teman Hanna.


Al melihat seorang gadis yang sering bersama dengan Hanna, dia menghampiri gadis tersebut dan bertanya tentang Hanna.


"Apa kalian melihat Hanna?"


Kedua gadis itu saling tatap dan menggelengkan kepala.


"Sepertinya Hanna sudah keluar dari sepuluh menit yang lalu, kak." jawab gadis itu.


Al hanya mengangguk dan dia pergi ke tempat lain, entah mengapa dirinya merisaukan Hanna.


"Dimana anak itu?" Al mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kampus, matanya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dia kenali.


Anjani berjalan menuruni anak tangga keluar kampus, dia melirik Al sejenak dan memasang wajah jutek. Al berlari ke arah Anjani tetapi dia tidak ingin menghampiri Anjani melainkan Hanna.


"Hanna!" teriaknya dengan kencang kala melihat Hanna yang memakai pakaian robek.


Hanna meneteskan air mata, di kampus hanya ada beberapa orang saja karena jam sudah menunjukkan pulang untuk semua kelas. Bahkan yang ada disana hanya kelas sore, Al melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Hanna. Dia juga memeluk Hanna dari samping, dirinya heran dengan apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" Al menatap wajah Hanna yang terlihat ketakutan.


"Kak, mereka ingin melecehkan aku. Untung aku bisa lari dan mereka—" Hanna menoleh ke belakang saat mendengar suara kaki berlari.


Al pun melirik ketiga pemuda di belakangnya, dia menatap mereka dengan tajam. Dirinya berjalan ke arah pria itu dengan tatapan mematikan, dia sangat tidak suka jika ada pria menyakiti seorang wanita.


Bugh!


Al melayangkan satu tinjuan ke wajah pemuda itu, sepertinya dia adik kelas Al.


"Apa yang sudah kalian lakukan pada temanku? Hah! Beraninya dengan perempuan, dasar banci!" teriak Al penuh amarah, kebetulan dosen yang mengajar kelas sore belum datang begitupun dengan semua Mahasiswa/i hingga kampus terlihat sepi.


Hanna memeluk tubuhnya sendiri yang terbalut jaket Al.

__ADS_1


Ketiga pemuda itu berlari ketika melihat Anjani yang berjalan mendekat.


"Al!" teriaknya kencang hingga Al mengalihkan tatapan.


Hanna pun tak kalah terkejut saat dia baru menyadari sosok Anjani yang ternyata berada disana.


"Jangan berbuat seenaknya di kampus ini!" bentak Jani.


"Seenaknya? Apa maksud Anda? Dia hampir di lecehkan dan Anda melarang saya untuk memberikan pelajaran pada mereka?" Al berbicara formal agar tidak ada yang mencurigai hubungannya dengan Anjani, inilah permintaan Anjani.


"Tapi kamu tidak harus memukul mereka, bagaimana jika terjadi kesalahpahaman?" Anjani masih setia menatap Al dengan kesal.


Hanna yang merasa bersalah langsung melerai pertengkaran keduanya, dia meminta maaf karena dialah penyebab semua masalah ini.


"Miss, maafkan saya." Hanna menunduk sambil meneteskan air mata.


Sebelum Anjani berbicara, Al sudah lebih dulu menyelanya.


"Tidak perlu meminta maaf, Hanna. Kamu tidak bersalah, ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu." Al menuntun Hanna pergi dari hadapan Anjani, tak lupa dia juga berpamitan kepada Jani agar tidak mengurangi rasa sopannya.


"Dia mengatakan bisa membuatku jatuh cinta padanya, tetapi baru beberapa jam dia sudah melupakan ucapannya dan pergi dengan perempuan lain. Dasar, perkataan laki-laki memang tidak bisa dipercaya." ucap Jani menggerutu sambil berjalan ke mobilnya.


Di dalam mobil.


Al melirik Hanna yang terdiam dan terus menatap lurus ke depan, dirinya mencoba untuk memecahkan keheningan yang terjadi.


"Han, apa yang terjadi? Mengapa bisa mereka—," Al tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya memberikan kode dan Hanna pasti paham.


"Tadi ketika aku ingin pulang, kakak senior yang bernama Mella memintaku ke aula. Dia mengatakan ingin melakukan latihan, tetapi sesampainya di aula, aku tidak melihat siapapun. Saat aku ingin keluar dari aula, pintu pun tertutup dan ada tiga orang pemuda yang tidak aku kenali di dalam sana." Hanna mulai menjelaskan apa yang terjadi kepadanya.


"Han, kamu 'kan tahu jika latihan hanya akan diadakan seminggu dua kali. Lalu, mengapa kamu mau di bohongi oleh mereka?" Al heran dengan pemikiran polos Hanna.


"Aku pikir ada pengunduran waktu, Kak."

__ADS_1


Satu bulan lagi akan diadakan drama musikal di kampus mereka dan menceritakan tentang putri tidur. Al terpilih menjadi pemeran utama pria dan Hanna terpilih menjadi kandidat pemeran utama wanita. Mereka terlihat sangat cocok, banyak yang mengatakan hal itu. Namun, tidak sedikit para Mahasiswi yang iri dengan Hanna karena bisa bersanding dengan Alvarendra. Begitupun dengan Mella, dialah yang sebenarnya ingin menjadi pemeran utama wanita ketika tahu jika pemeran utama pria adalah Al. Tetapi suara yang memilih dia tidak banyak hingga dirinya dendam kepada Hanna karena Hanna terpilih menjadi pendamping Al.


"Aku akan mengabari jika ada pengunduran atau pemajuan waktu, kamu jangan lagi percaya dengan perkataan siapapun mengenai drama musikal itu." Al berkata dengan tulus.


Hanna hanya mengangguk sambil merapatkan jaket yang ada ditubuhnya.


"Kita akan pergi ke Mall untuk mencari baju gantimu, kamu tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini karena aku yakin pasti Mamamu akan khawatir." Al mengarahkan mobilnya ke jalan menuju Mall.


Sesampainya di Mall, mereka langsung turun dan Hanna mencekal lengan Al.


"Kak, aku tidak mempunyai uang lebih." Hanna menggigit bibir bawahnya karena malu.


Al tersenyum tipis. "Aku akan membayar barang belanjaanmu, ayo!"


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam Mall. Di dalam, Hanna dengan cepat menuju ke penjualan pakaian. Al pun mengikuti Hanna dan dia membantu Hanna mencari pakaian yang cocok dengannya.


"Aku rasa ini bagus untukmu." Al menyodorkan sebuah setelan baju kepada Hanna.


Al sudah menganggap Hanna sebagai adiknya sendiri.


"Aku akan mencobanya," Hanna menerima pakaian yang Al pilihkan, dia masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba pakaian tersebut.


Dirinya keluar dari ruang ganti, dia tersenyum karena merasa sangat cocok dengan pilihan Al. Bukan hanya tampan, tetapi Al juga memiliki selera yang bagus. Mereka berjalan ke kasir untuk membayar barang belanjaan Hanna dan totalnya adalah tiga juta. Al membayar dengan kartu miliknya sendiri, uang itu adalah hasil kerja kerasnya.


Selama ini Al menjadi hackers dan membantu perusahaan yang dicurangi, dia mendapatkan upah cukup tinggi dari pekerjaannya itu. Al menabungnya, dia ingin membuka usaha setelah tamat kuliah.


"Kak, terima kasih karena sudah mau membantuku." Hanna tersenyum tipis, entah mengapa dirinya sangat nyaman berada di dekat Al.


Al mengangguk dan mengatakan sama-sama, mereka pun segera masuk ke dalam mobil karena hari sudah hampir gelap.



__ADS_1


TBC


__ADS_2