
Keadaan Anjani semakin membaik setelah dia belajar berjalan bersama dengan Al, dia bahkan sudah bisa berdiri meskipun untuk melangkah masuk tertatih. Al selalu mendukung dan menyemangatinya, dia pun semakin bahagia karena Al selalu ada disampingnya.
"Al, terima kasih karena kamu selalu ada bersamaku. Aku sebenarnya malu karena keadaanku ini, kamu menikah denganku hanya untuk merawat diriku saja padahal seharusnya kita sudah berbulan madu saat ini." Jani menunduk, dia masih berada di kursi roda.
"Ayo, katakan sekali lagi agar aku bisa menciummu." Al berjongkok di hadapan Jani sambil memangku tangannya.
Anjani mengerutkan dahi. "Mencium? Apa-apaan kamu ini?" kekehnya pelan.
"Ya, aku tidak suka jika kamu merendah dan berpikiran negatif seperti itu tentang pernikahan kita. Aku setia disampingmu bukan karena sesuatu melainkan karena ketulusan. Aku sangat mencintaimu apa adanya," Al mengecup punggung tangan Anjani.
Jani tersenyum tipis.
"Oh ya, hari sudah semakin siang dan aku harus berangkat bekerja. Belum lagi kuliah, karena jika aku mengandalkan uang dari hasil aplikasi buatanku maka aku pasti akan menjadi pemalas." Al tertawa.
"Pergilah, hati-hati dijalan." Jani tersenyum manis. "Al, aku tidak menyangka jika kamu memiliki pemikiran yang sangat genius." lanjutnya untuk memecahkan rasa penasaran.
"Benarkah? Sepenasaran itu?" Al menggeleng.
__ADS_1
"Ceritakan padaku sebentar bagaimana bisa kamu menjadi anak genius?"
"Aku juga tidak tahu, bahkan mungkin Mama juga tidak tahu mengapa aku bisa memiliki otak yang genius. Ya, anggap saja ini berkah dari Allah." Al mengelus rambut Jani. "Sudahlah, aku harus pergi."
Cup!
"Hati-hati di rumah dan jaga diri, jika butuh sesuatu panggil saya Aina."
Aina adalah pekerja di rumah Al dan Jani, dia di pekerjakan karena Anjani tidak bisa mengurus rumah dan Al juga sangat sibuk. Aina, gadis berusia dua puluh satu tahun itu sangat cantik. Dia mau bekerja di rumah Al karena hambatan ekonomi, diusianya yang masih muda, Aina harus membanting tulang menafkahi keluarganya. Dia anak yatim-piatu, tinggal bersama dengan neneknya dan rumahnya tidak jauh dengan rumah Al.
Anjani mendorong kursi roda ke dalam rumah, dia masuk dan mencari keberadaan Aina.
Aina berlari dari arah belakang, dia menghampiri Anjani.
"Ya, bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Ina, tolong buatkan saya sup daging dan sambal kecap. Entah mengapa saya ingin sekali sarapan dengan lauk itu," Anjani menelan ludah ketika dia membayangkan sup dan sup buatan Mamanya adalah yang terbaik.
__ADS_1
"Baik, bu. Saya akan membuatkan, ada lagi?"
Jani menggeleng. "Segera masak dan aku akan mandi terlebih dahulu." lanjutnya sambil mendorong kursi roda ke kamar.
Al memindahkan kamar mereka menjadi di lantai bawah, dia tidak ingin Anjani kesulitan saat ingin ke dalam kamar. Tetapi, setelah Jani sembuh mereka akan pindah kembali ke kamar utama.
Di dapur.
Aina sedang meracik bumbu untuk membuat sup dan sambal kecap, dia juga akan menggoreng perkedel siapa tahu Jani menginginkan cemilan.
"Bu Jani beruntung, ya? Meskipun dia lumpuh tetapi suaminya tetap setia ada disampingnya, aku ingin kelak diriku juga bisa mendapatkan suami seperti pak Al. Masih muda namun memiliki pemikiran yang dewasa, dia juga sangat tampan." Ina tersenyum sendiri.
Racikannya sudah selesai dan dia mulai memasukkan bumbu satu persatu ke dalam minyak panas baru setelah itu membuat perkedel kentang.
•
•
__ADS_1
TBC