Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing

Anak Genius : Mengandung Benih Pria Asing
Bab #59 (S2)


__ADS_3

Al telah sampai di rumah, dia masuk ke dalam dan terlihat Angel berada di ruang tamu sedang mengerjakan tugas sekolah.


"Ngel, dimana Anjani?" Al bertanya ketika melewati Angel.


"Entah, cari aja sendiri." jawab Angel dengan ketus, dia tidak suka jika Al menanyakan Anjani.


Al berjalan masuk ke dalam kamarnya, dia membuka pintu dan tenyata Anjani baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya memakai handuk yang melilit di pinggang dengan sebuah handuk kepala menutupi rambut basahnya. Dia tidak menyadari jika Al berada di dalam kamar bahkan saat ini tengah menatap dirinya yang sangat seksi.


Anjani merasa ada yang aneh, dia menoleh ke belakang dan memekik kencang ketika melihat Al duduk di pinggir ranjang dengan mata terfokus menatapnya.


"Hei! Jangan menatap saya seperti itu!" teriak Anjani sambil menutupi bagian atas nya yang terbuka karena handuk itu hanya menutupi bagian dadanya.


Al memalingkan wajah karena tersadar dari otak travelingnya, dia menghembuskan napas.


"Maafkan aku," ucap Al.

__ADS_1


"Seharusnya sebelum masuk ke dalam kamar biasakan ketuk pintu terlebih dahulu." Anjani dengan cepat menarik selimut yang ada di dalam lemari, dia menutupi seluruh tubuhnya dan segera mengambil baju ganti.


"Tapi aku ini 'kan suamimu, Jani. Sah sah saja jika aku melihat seluruh tubuhmu,"


Anjani mengentikan langkahnya ketika dia hendak kembali ke kamar mandi.


"Suami? Ingat ya, Al. Kamu hanyalah suami di atas kertas, tidak lebih! Jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuhku," Anjani langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kencang hingga Al terlonjak kaget.


Al mengelus dadanya, dia harus bersabar menghadapi sikap Anjani.


Vero masuk ke dalam kamar, dia sudah berulangkali mengatakan pada Sania jika dirinya tidak mencintai Sania dan hanya mencintai Anjani. Namun, Sania tidak pernah menyerah untuk merayunya bahkan pernah malam itu Sania mencampurkan obat perangsang agar Vero mau berhubungan dengannya. Tetapi Vero tidak melakukan itu, dia pergi keluar dan mencari kesenangan di tempat lain. Dirinya sudah seperti boneka yang dipermainkan oleh kedua orangtuanya.


Sania beranjak dari ranjang ketika melihat Vero yang baru pulang bekerja, dia memasang senyum manis.


"Mas, kamu sudah pulang? Pasti capek ya? Aku siapin air hangat untuk mandi, gimana?" Sania bertanya dengan nada lembut.

__ADS_1


"Gak perlu, aku bisa sendiri! Ingat Sania, jangan sok menjadi istri yang baik untukku karena aku tetap tidak akan mencintai dan menerima dirimu! Dihatiku hanya ada Anjani, tidak akan tergantikan oleh siapapun." Vero selalu saja berdebat dengan Sania ketika dia berada di rumah, dirinya ingin menceraikan Sania tetapi teringat satu pesan yang Mamanya katakan.


'Jangan mengecewakan Mama, tetap bersama dengan Sania jika kamu masih ingin melihat Mama hidup!' nada penuh penekanan dan peringatan dari Rose.


Vero tidak ingin kehilangan Mamanya karena biar bagaimanapun, Mamanya lah yang mengandung, melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Tetapi disisi lain, Vero juga tidak bisa mengorbankan rasa cintanya. Dia selalu memikirkan itu sampai bekerja pun tidak fokus.


Sania mengepalkan tangan dengan erat, dia sangat kesal karena semakin hari sikap Vero semakin semena-mena.


"Apa tidak ada sedikitpun tempat untukku dihatimu, Vero? Apa kurangnya aku? Jika sikapmu masih seperti ini, aku akan berpikir seribu kali untuk hidup selamanya bersamamu. Aku tidak ingin menjadi bodoh hanya karena cinta," Sania menatap pintu kamar mandi dengan rasa sedih.




TBC

__ADS_1


__ADS_2