
Mobil Denis telah sampai di sebuah restauran mewah yang sangat minimalis, disana sudah tergelar karpet merah dan Denis sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang. Tak lupa di restauran tersebut tidak ada pengunjung karena Denis sudah membookingnya secara khusus malam ini, dia ingin langsung melamar Agnes karena menurutnya Agnes adalah wanita yang baik meskipun sedikit bar-bar.
Agnes heran kala dia sudah turun dari mobil, tangannya berkeringat dingin saat melihat karpet merah yang terbentang luas dari pintu masuk restauran hingga ke ujung jalan restauran tersebut. Dia melirik Denis sejenak lalu menaikkan sebelah alis sebagai syarat meminta penjelasan.
"Aku sengaja menyiapkan ini semua untukmu, ayo masuk." Denis mengulurkan tangan agar kedua tangan mereka saling bertautan.
Keduanya berjalan bersama diatas karpet merah itu, terlihat seperti Raja dan Ratu. Agnes tidak menyangka dibalik sikap Denis yang cuek ternyata dia memiliki sikap romantis seperti ini.
Sesampainya di dalam, mereka duduk dia salah satu meja yang sudah dihias dengan lilin dan bunga. Beberapa menu makanan juga telah tersedia disana.
'Sepertinya Pak Denis benar-benar sudah menyiapkan ini semua dengan matang, tempatnya indah sekali.' batin Agnes melihat ke seluruh penjuru restauran.
Dekorasi bunga yang terpasang di seluruh sudut restauran membuat restauran tersebut tampak elegan, mewah dan indah. Kerlap kerlip lampu juga menjadi daya tersendiri di dalamnya.
"Anda yang sudah mempersiapkan ini semua?" Agnes menatap Denis yang duduk di seberangnya.
Denis mengangguk. ''Nes, ada yang ingin aku katakan. Serius, aku ingin kamu menjawabnya dengan keseriusan pula."
__ADS_1
Agnes menatap wajah Denis semakin lekat, dia sangat penasaran dengan pertanyaan yang ingin Denis tanyakan.
"Aku akan menjawabnya serius dan jujur." balas Agnes tenang.
"Aku tidak suka berbasa-basi, aku ingin langsung pada intinya saja." Denis berlutut di depan Agnes. "Agnesia Carroline Pamungkas, apakah kamu bersedia menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Apakah kamu mau mendampingiku disaat aku susah ataupun senang? Apa kamu juga bersedia menerima cintaku yang sangat tulus ini? Jika kamu bersedia untuk menjadi istriku, maka kamu ambil kotak cincin ini." lanjutnya dengan ketulusan dan kepastian.
Agnes melongo, dia kaget setengah mati saat mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Denis. Dirinya mencoba tersadar dari lamunan dan menyaring semua perkataan Denis tadi.
"Anda melamar saya?''
"Aku bukanlah pria yang pintar merangkai kata-kata indah, aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam lubuk hatiku. Jadi, apa kamu mau menikah denganku dan menjadi tujuan hidupku?"
Agnes tersenyum tipis, dia sangat grogi untuk mengambil kotak cincin itu.
Beberapa detik kemudian, dirinya mengambil kotak cincin yang Denis sodorkan di depannya.
Denis tak kalah senang, dia tersenyum bahagia karena cintanya diterima oleh Agnes. Dia langsung memakaikan cincin bermata berlian di jari manis milik Agnes, dia juga memeluk tubuh Agnes.
__ADS_1
"Setelah ini, aku akan melamarmu secara resmi di depan kedua orang tua dan keluargamu. Aku pasti akan datang secepatnya."
"Aku akan setia menunggumu, aku mohon jangan kecewakan aku." Agnes semakin erat memeluk tubuh Denis.
Hati keduanya sangat bahagia dan berbunga-bunga, akhirnya mereka menemukan cinta dari awal pertemuan tidak sengaja, kebencian, kemarahan dan berujung menjadi pasangan.
"Baiklah, apa kamu tidak lapar?"
"Kamu tau, jantungku berdegup kencang dan tidak karuan. Tentu saja aku lapar, karena menahan rasa grogi dan gugup membutuhkan tenaga yang sangat banyak."
Keduanya tertawa renyah.
•
•
TBC
__ADS_1