
Al masuk ke dalam kamar, dia melihat Anjani yang sedang mengoleskan handbody dikakinya. Jani terlihat biasa saja meskipun hatinya ingin marah setelah mengingat kejadian Al bersama Hanna tadi. Dirinya hanya diam tidak memperdulikan keberadaan Alvarendra.
Al memberanikan diri mendekati Jani, dia berdiri tepat di belakang Anjani.
"Apa aku mempunyai salah?"
Anjani menghentikan usapan pada kulit kakinya yang sangat mulus, dia mengedikkan bahu sambil memutarkan bola matanya malas.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Jani menurunkan celana piyama panjangnya karena tadi dia menggulungnya hingga sebetis.
"Jani, aku dan Hanna tidak memiliki hubungan apa pun. Aku sudah menganggap dia sebagai adikku sendiri, kebersamaan kami tidak lebih dari sekedar teman.'' Al menatap Jani dari pantulan cermin.
"Al, tidak ada kebersamaan seorang pria dan perempuan itu hanya sebatas teman. Ya, mungkin kamu merasa begitu tetapi apa Hanna juga merasakannya? Bagaimana jika dia merasa kalau kamu menyukainya? Jangan jadi pemuda PHP, Al."
Al menarik lengan Jani hingga Anjani terkejut, Al menarik pinggang Jani hingga tubuh mereka sangat rapat. Mata keduanya saling bersitubruk, Jani menatap Al dengan lekat dan ternyata Al sangatlah tampan. Anjani mencoba memberontak agar lepas dari pelukan itu, tetapi Al memeluknya dengan sangat erat.
"Al, lepaskan saya!" peringatan dari Anjani dengan mata melotot tajam.
Al hanya tersenyum tipis, dia menyelipkannya anak rambut Anjani ditelinga. Dirinya menyebrangi diri untuk mengecup bibir Jani, dia tahu jika setelah ini Anjani pasti akan sangat marah tetapi inilah salah satu cara Al menunjukkan rasa cinta dan keseriusannya.
"Jani, aku sangat mencintaimu dari dulu waktu pertama kita bertemu. Jika kamu tidak suka dengan kedekatanku dan Hanna maka katakan saja, aku pasti akan menjauhinya.''
Napas yang berhembus dari mulut Al sangat memabukkan bagi Anjani, aroma mint itu membuat Jani ingin sekali mencium bibir Al tetapi dia harus tetap sadar dan tidak ingin menjadi perempuan mu*ra*han. Wangi maskulin tubuh Al pun tercium di hidung Jani, dia memejamkan mata sejenak lalu mendorong Al dengan kasar.
Pelukan terurai, hal itu membuat Al terkejut.
"Tetap jaga batasanmu, Al. Selama kamu masih berstatus sebagai suami saya maka saya tidak akan suka jika kamu dengan dengan perempuan lain. Ya, milikku jangan di ganggu. Jika kamu ingin bebas dekat dengan siapapun maka segera ceraikan aku secepatnya." Anjani pergi berjalan ke ranjang meninggalkan Al yang hanya diam mematung.
__ADS_1
Al bingung dengan ucapan Jani. 'Sejak kapan dia menganggapku sebagai suaminya? Baiklah, perlahan-lahan sepertinya hati Jani akan luluh.' batinnya sambil menatap lurus ke depan.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba yaitu acara drama musikal di kampus, terlihat penampilan Al dan Hanna sudah mencapai ending.
PENAMPILAN SAAT MANGGUNG:
Panitia membacakan deskripsi tentang kejadian dongeng putri tidur.
Seribu tahun kemudian, ada seorang pangeran yang sedang mengembara. Ya, Al adalah pemeran sosok pangeran di dalam cerita itu.
Kebetulan pangeran tersebut melewati sebuah kerajaan yang terlihat tua.
Kerajaan itu tampak dipenuhi dengan pepohonan.
“Aku tak menyangka, di dalam hutan belantara ini ada sebuah kerajaan. Tapi, kerajaan ini terlihat mati,” ujar pangeran sambil menelusuri kerajaan itu.
“Pastilah dia seorang putri. Cantik sekali,” ucap pangeran.
Ya! Pangeran jatuh cinta dengan Putri Aurora. Keajaiban pun terjadi.
Putri Aurora terbangun. Rakyat negeri itu juga terbangun, dan seluruh istana berubah menjadi indah kembali. Ternyata pangeran itu adalah cinta sejati Putri Aurora.
Putri Aurora dan pangeran pun menikah. Mereka merayakannya dengan penuh kebahagiaan. Raja dan ratu juga sangat bahagia dengan kembalinya Putri Aurora.
Al menatap mata Hanna dengan lekat, begitupun dengan Hanna yang senyumnya tidak pernah surut .
__ADS_1
"Aku akan melindungi dirimu segenap jiwa dan ragaku, Tuan Putri. Percayalah, cinta sejati tidak akan pernah meninggalkan tambatan hatinya." Al menggenggam jemari Hanna dan saat ini mereka sedang berhadapan.
Hanna sendiri terlihat baper, dia merasa jika ucapan tulus yang terlontar dari bibir Al bukan hanya sekedar dialog dongeng tetapi mewakili kata hatinya. Hanna bisa menyimpulkan itu karena mengingat perilaku Al padanya selama ini, sangat baik dan peduli.
"Aku sangat mencintaimu, pangeran. Tetaplah disampingku dan jangan pernah pergi," Hanna memeluk tubuh Al, dia berharap jika Al mengatakan cinta padanya hari ini juga karena saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
Semua penonton bertepuk tangan tetapi tidak dengan Mella, dia merasa kesal karena penampilan Hanna berjalan dengan lancar. Dirinya dan ketiga temannya berlalu pergi dari gedung aula. Begitupun dengan Anjani, dia bertepuk tangan malas dan terpaksa. Dirinya kesal dengan sikap manis Al kepada Hanna.
Saat semua beranjak pergi keluar dari aula, Hanna menarik lengan Al.
"Kak, ada yang ingin aku katakan."
Al mengerutkan dahi. "Ada apa? Kamu ada masalah?"
Hanna tersenyum tipis. "Ya, masalah hati." jawabnya.
"Masalah hati? Apa maksudmu Hanna? Aku tidak mengerti,"
"Kak, jujur selama ini aku sangat tertarik padamu. Aku memiliki perasaan istimewa untukmu,"
"Perasaan istimewa? Apa itu, Hanna? Langsung saja ke points pentingnya." Al semakin bingung dan kurang peka.
"Aku mencintaimu, kak. Perasaanku ini tulus dari hati, apa kakak tidak merasakan hal yang sama denganku?" Hanna memutuskan untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam, dirinya tidak bisa diam saja karena takut Al diambil orang lain.
Al terkejut dengan penuturan Hanna, dia membenarkan ucapan Anjani satu minggu yang lalu. Dia tidak menyangka jika sikap dan perilakunya akan membuat seseorang menjadi salah paham seperti ini.
•
__ADS_1
•
TBC